Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan “Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan. At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di ‘Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun.
Pada tahun 1186 (1772 – 1773), dia menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji, dan meneruskan belajar di Makkah dan Madinah. Di dua kota Haramain ini, dia lebih banyak memfokuskan diri untuk berguru kepada banyak tokoh tarekat sufi dan mengamalkan ajarannya.
Di antara tarekat yang dipelajarinya, misalnya Tarekat Qadiriyah, Thaibiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Di Madinah dia belajar langsung kepada seorang tokoh sufi, Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, pendiri tarekat Sammaniyah, yang mengajarinya ilmu-ilmu rahasia batin. Kemudian dari Makkah dan Madinah, dia menuju Kairo dan menetap untuk beberapa lama di sana. Pada tahun 1196 (1781 – 1782), atas saran dari seorang syekh sufi yang baru dikenalinya, dia kembali ke Tilimsan untuk mendirikan tarekat sendiri yang independen. Di sana at-Tijani mengadakan khalwat khusus, yakni memutuskan kontak dengan masyarakat sampai mendapatkan ilham (fath/kasyf).
Dalam fath yang diterimanya, dia mengaku bahwa hal itu terjadi dalam keadaan terjaga. Ketika itu, Nabi SAW mendatanginya dan memberitahukan bahwa dirinya tidaklah berhutang budi pada syekh tarekat mana pun.
Karena menurut dia, Nabi sendiri-lah yang selama ini menjadi pembimbingnya dalam bertarekat. Selanjutnya, Nabi SAW menyuruh dia untuk meninggalkan segala sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya berkenaan dengan tarekat. Bahkan dia juga diberi izin untuk mendirikan tarekat sendiri disertai wirid yang mesti diajarkan kepada masyarakat, yaitu istighfar dan shalawat yang diucapkan masing-masing sebanyak 100 kali.
Setelah kejadian itu, ia kembali ber’uzlah di padang pasir dan berdiam di oase Bu Samghun. At-Tijani tampaknya menghadapi tekanan dari kaum otorita Turki. Di tempat inilah ia menerima ilham yang terakhir (1200/1786).
Dalam fath ini Nabi SAW memberikan tambahan wirid, yaitu tahlil yang harus diucapkan sebanyak 100 kali. Nabi SAW juga mengatakan bahwa at-Tijani adalah penunggu yang akan menyelamatkan hamba Allah yang durhaka. Pada tahun 1213/1798, dia meninggalkan ‘uzlahnya dari padang pasir dan pindah ke Maroko untuk memulai menjalankan misi yang lebih luas lagi, dari kota Fes. Di kota ini dia diterima baik oleh penguasa Maulay Sulaiman dan tetap tinggal di sana sampai wafatnya pada 22 September 1815, dalam usia 80 tahun.
Meskipun dia banyak bertarekat dan menjadi muqaddam khalwatiyah (at-Tijani mempunyai silsilah Khalwatiyah), tetapi pada perkembangan selanjutnya, yakni setelah menjalani hidup sufistik secara ketat dan keras, dia kemudian mendirikan tarekat yang independen, yang diyakini atas izin Nabi SAW.
Tarekat yang didirikan at-Tijani ini agak unik dan sedikit banyak berbeda dengan tarekat-tarekat lain terutama soal silsilahnya. Misalnya dari Syekh Ahmad, sang pendiri, langsung kepada Nabi SAW, melintas jarak waktu 12 abad. Begitu juga anggota tarekat ini bukan hanya tidak dibenarkan untuk memberikan bait ‘ahd kepada syekh mana pun, tetapi juga melakukan dzikir untuk wali lain dan dirinya serta wali-wali dari tarekatnya. Menurut at-Tijani, Tuhan tidak menciptakan dua hati dalam hati manusia, dan oleh karenanya tak seorang pun dapat melayani dua orang mursyid sekaligus.
Lagi pula, bagaimana mungkin seorang salik akan bisa sempurna menempuh suatu jalan, sedangkan pada waktu bersamaan ia juga sedang menampuh (mengambil) jalan lain?
Sejak tinggal di kota Fes ini, at-Tijani lebih berkonsentrasi pada pengembangan tarekatnya sendiri. Sebagai seorang syekh tarekat yang berpengaruh dia berkali-kali diajak oleh penguasa negeri itu untuk bergabung dalam urusan politik. Namun, dia tetap menolak. Sikapnya inilah yang membuat dia semakin disegani, dicintai, dan dihormati, baik oleh penguasa setempat maupun oleh masyarakat sekitarnya. Lebih dari itu, pihak penguasa Maulay Sulaiman, meski permintaannya ditolak, tetap memberikan berbagai hak istimewa kepadanya.
Masuknya at-Tijani ke Indonesia
Tarekat ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1920-an, setelah disebarkan di Jawa Barat oleh seorang ulama pengembara kelahiran Makkah, Ali bin Abdullah at-Tayyib al-Azhari, yang telah menerima ijazah untuk mengajarkan tarekat ini dari dua orang syekh yang berbeda. Dan, pada tahun-tahun berikutnya, beberapa orang Indonesia yang belajar di Makkah menerima bai’at untuk menjadi pengikut Tarekat Tijaniyah dan mendapat ijazah untuk mengajar dari para guru yang masih aktif di sana. Ini terjadi setelah serbuan Wahabi kedua terhadap Makkah pada tahun 1824, dan kebanyakan tarekat lain tidak dapat lagi menyebarkan ajaran pengkultusan terhadap para wali, tampaknya masih dapat ditolelir. Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh tarekat-tarekat lain. Gugatan keras dari kalangan ulama tarekat itu dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Tarekat Tijaniyah beserta keturunannya sampai tujuh generasi akan memperlakukan secara khusus pada hari kiamat, dan bahwa pahala yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih, sama dengan membaca seluruh al-Quran sebanyak 1000 kali. Lebih dari itu, para pengikut Tarekat Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru tarekat lain, yang dalam pandangan syekh pesaingnya dianggap sebagai praktik bisnis yang culas. Meski demikian, tarekat ini terus berkembang, utamanya di Cirebon dan Garut (Jawa Barat), Madura dan ujung Timur pulau Jawa sebagai pusat peredarannya. Penentangan ini baru mereda ketika Jam’iyyah Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah menetapkan keputusan setelah memeriksa wirid dan wadzifah tarekat ini. Dan tanpa memberikan pernyataan-pernyataan ekstremnya tarekat ini bukanlah tarekat sesat, karena amalan-amalannya sesuai ajaran Islam. Sepanjang tahun 80-an tarekat ini ngalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di Jawa Timur. Respons terhadap perkembangan yang dicapai tarekat ini menyebabkan pecahnya kembali konflik dengan para guru dari tarekat lain. Akar konflik ini lebih tertuju kepada persaingan keras untuk mendapatkan murid dan perasaan sakit hati di kalangan sebagian guru yang kehilangan banyak murid berpindah ke Tarekat Tijaniyah. Kepindahan murid-murid dari tarekat lain ke Tarekat Tijaniyah ini berarti hilang pula murid-murid dari tarekat lain. Karena Tarekat Tijaniyah sama sekali tidak membolehkan para pengikutinya untuk berafiliasi lagi kepada syekh tarekat yang dianut sebelumnya. Banyak orang-orang yang menghujat Thariqoh at-Tijani, salah satunya adalah Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz yang mengatakan bahwa “Tharekat Tijani adalah tharekat Bid’ah, kaum muslimin tidak boleh mengikuti tharekat ini, dan thoriqoh lain yang diadakan oleh manusia”.
Selain perkataan syeikh Abdul Aziz, Ibnu Taimiyah pun membid’ahkan bahkan mengkafirkan semua thoriqoh sufiyah.1 (I’tiqad ahlussunnah wal jama’ah)
Setiap tarekat memiliki satu atau lebih doa kekuatan khusus, misalnya Hizb al-Bahr milik Tarekat Syadziliyah, Subhan ad-Daim Isawiyah, Wirid as-Sattar milik Khalwatiyah, Awrad Fathiyyah milik Hamadaniyyah, dan lain-lain. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal. Mengenai Shalawat Fatih, at-Tijani mengatakan bahwa dirinya telah memperintahkan untuk mengucapkan doa-doa ini oleh Nabi SAW sendiri. Meskipun pendek, doa itu dianggap mengandung kebaikan dalam delapan jenis: orang yang membaca sekali, dijamin akan menerima kebahagiaan dari dua dunia; juga membaca sekali akan dapat menghapus semua dosa dan setara dengan 6000 kali semua doa untuk memuji kemuliaan Tuhan, semua dzikir dan doa, yang pendek maupun yang panjang, yang pernah dibaca di alam raya. Orang yang membacanya 10 kali, akan memperoleh pahala yang lebih besar dibanding yang patut diterima oleh sang wali yang hidup selama 10 ribu tahun tetapi tidak pernah mengucapkannya. Mengucapkannya sekali setara dengan doa seluruh malaikat, manusia, jin sejak awal penciptaan mereka sampai masa ketika doa tersebut diucapkan, dan mengucapkannya untuk yang kedua kali adalah sama dengannya (yaitu setara dengan pahala dari yang pertama) ditambah dengan pahala dari yang pertama dan yang kedua, dan seterusnya.Tentang Jauharat al-Kamal, yang juga diajarkan oleh Nabi SAW sendiri kepada at-Tijani, para anggota tarekat ini meyakini bahwa selama pembacaan ketujuh Jauharat al-Kamal, asalkan ritual telah dilakukan sebagaimana mestinya, Nabi SAW beserta keempat sahabat atau khalifah Islam hadir memberikan kesaksian pembacaan itu. Wafatnya Nabi SAW tidaklah menjadi tirai yang menghalangi untuk selalu hadir dan dekat kepada mereka. Bagi at-Tijani dan anggota tarekatnya, tidak ada yang aneh dalam hal kedekatan ini. Sebab wafatnya Nabi SAW hanya mengandung arti bahwa dia tidak lagi dapat dilihat oleh semua manusia, meskipun dia tetap mempertahankan penampilannya sebelum dia wafat dan tetap ada di mana-mana: dan dia muncul dalam impian atau di siang hari di hadapan orang yang disukainya.
Bantahan terhadap orang yang menyesatkan at-Tijani
Selain orang-orang yang telah membantah dan menghujat thoriqoh at-Tijani, saya juga ingin mengutip tanggapan dari KH. Ikyan Badruzzaman, “Masalah yang terpenting dalam beberapa sanggahan terhadap Thariqat Tijaniyah adalah tentang : keunggulan maqam kewalian Syekh Ahmad al-Tijani, keistimewaan Thariqat Tijaniyah, dan keistimewaan pengamal Tijaniyah. Dalam melihat tiga hal di atas, ada beberapa kelemahan dari para penentang Thariqat Tijaniyah Kelemahan dimaksud adalah : (1) Tidak tuntasnya mereka dalam membaca dan memahami ungkapan-ungkapan Syekh Ahmad al-Tijani dan ajaran Tijaniyah, (2) Pemahaman mereka terhadap pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-tijani lebih bersifat tekstual, sedangkan kalimat-kalimat ungkapan Syekh Ahmad al-Tijani banyak yang harus difahami berdasarkan pendekatan kontekstual, dan (3) mereka penentang Tijaniyah tidak mempelajari langsung dari guru-guru Tijaniyah, tetapi mereka mempelajarinya melalui pemahamannya sendiri sehingga penafsiran pemikiran mereka yang dominan lebih cenderung kurang relevan, menjadi subjektif dan bias. Tiga kelemahan para penentang dalam melihat Thariqat Tijaniyah sebagaimana disebutkan, memunculkan polemik. Sampai sekarang pertentangan dalam Thariqat Tijaniyah belum berakhir terutama melalui buku-buku yang diterbitkan dari Kerajaan Saudi Arabia, yang diikuti oleh majalah al-Risalah yang terbit di Solo. Untuk dapat mengikuti dan atau memahami dengan baik dan benar mengenai persoalan tadi, ada tahapan-tahapan pemikiran yang harus dilalui. Lantaran penilaian, pengertian dan pemahaman yang didapat dari tahapan pemikiran akan menjadi pintu masuk dalam memahami pernyataan dan fatwa-fatwa Syekh Ahmad al-Tijani, tahapan dimaksud adalah :
Tahapan pertama, pemahaman tentang al-Haqiqat al-Muhammadiyah dan atau masyrab al-Nabawi yang melekat dalam diri Khatm al-Nabiyyin yakni Nabi Muhammad saw., sebagai sumber kenabian seluruh para nabi. Seluruh para nabi sejak Nabi Adam as., hingga Nabi Isa as., mengambil cahaya kenabian dari Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu seluruh nabi hanyalah melakukan peran kenabian Nabi Muhammad saw., sebelum lahirnya jasad beliau. Berdasarkan hadis “kuntu Nabiyyan wa Adamu Bain al-Mai’ wa al-Thin”. Tahapan ini perlu dipahami terlebih dahulu sebagai bahan perbandingan memahami khatm al-Wilayah. Tahapan berikutnya memahami dan meyakini tentang khatm al-Wilayah dan atau masyrab kewalian yang melekat dalam diri seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm, sebagai sumber kewalian seluruh wali-wali Allah. Seluruh wali-wali Allah sejak Nabi Adam hingga akhir zaman mengambil cahaya kewalian dari wali khatm ini, oleh karena itu seluruh wali hanya melakukan peran kewalian seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm; yang menurut Ibn Arabi “… wa kadzalika khatm al-Awliya kana waliyyan wa Adamu bain al-Mai’ wa al-Thin”. Tahapan pemikiran ini merupakan hal yang sangat mendasar untuk bisa memasuki dan memahami pernyataan-pernyataan seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm. Apabila pada dataran ini belum dipahami, maka sangat sulit untuk bisa memahami pemikiran dan pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani sebagai wali yang mengaku memperoleh maqam wali khatm. Sebab pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani yang terkait dengan keunggulan dirinya muncul dalam kapasitasnya sebagai wali khatm. Keunggulan yang melekat dan dimiliki syekh Ahmad al-Tijani sebagai wali khatm mengantarkan pada keunggulan ajaran thariqatnya, yakni Thariqat Tijaniyah. Keunggulan ajaran Thariqat Tijaniyah yang diajarkan wali khatm mengantarkan keunggulan ummat Islam yang mengikuti ajarannya. Dengan demikian pemahaman dan penerimaan terhadap pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani tentang maqam kewaliannya merupakan syarat mutlak untuk bisa memahami terhadap pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani, baik tentang dirinya, ajaran thariqat dan pengikutnya. Oleh karena itu sepanjang teori kewalian khususnya teori wali khatm belum diterima, terlebih pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani terhadap maqam ini, selama itu pula Thariqat Tijaniyah akan terus dipermasalahkan dan tidak akan ada ujungnya. Namun apabila ada kelompok ummat Islam yang memahami wali khatm sekaligus menerima dan meyakini terhadap pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani terhadap maqam wali ini, hemat saya tidak ada yang perlu dipersoalkan, karena persoalan tersebut merupakan hak intelektual seseorang dalam mengimani masalah kewalian sebagai mana paparan al-Qur’an dan hadis. Sungguhpun demikian dalam penyelesaian polemik tentang Thariqat Tijaniyah tidak sederhana, sebab pembahasan al-Haqiqat al-Muhammadiyah dan Khatm al-Wilayah termasuk pada wilayah pemikiran dan ummat Islam khususnya kaum tarekat yang mempunyai kemauan dan kemampuan memasuki wilayah ini sangat terbatas, keterbatasan ummat Islam khususnya pengikut tarekat wali Allah dalam memahami wali ini akan melihat bahwa pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani tentang wali khatm dianggap asing dan akan semakin mengagetkan apabila dihadapkan dengan pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani, yakni tentang keunggulan dirinya, thariqat dan muridnya dan akan muncul kebingungan ketika lebih banyak melihat pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani. Oleh karena itu sepanjang ummat Islam khususnya kaum tarekat belum mamahami apalagi menerima dan taslim terhadap penagakuan Syekh Ahmad al-Tijani, terhadap wali khatm, selamanya akan terus bertabrakan dan atau bersebrangan dengan pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani tentang wali khatm. Dan mereka akan menganggap sebuah hal yang aneh kelompok ini tidak akan aman dari mengkritik terhadap Syekh Ahmad al-Tijani. Disarankan kepada intelektual Thariqat Tijaniyah yang menggeluti dunia keilmuan untuk lebih banyak mengkaji dan mensosialisasikan teori wali Khatm. Hal ini bisa dilakukan melalui hal-hal berikut : pertama memasukan teori kewalian menjadi Silabi Mata Kuliah Tasawuf; kedua, menyelenggarakan seminar tentang teori kenabian dan teori kewalian diluar kalangan ahli Tijaniyah, terutama dikalangan Perguruan Tinggi; ketiga mengembangkan pusat kajian tasawuf yang berkedudukan di Jakarta. Hal ini diharapkan untuk lebih bisa menyelesaikan masalah Thariqat Tijaniyah secara bertahap, khususnya yang berkembang di Indonesia. Sebab hemat saya penyelesaian masalah Thariqat Tijaniyah, mesti dilakukan melalui pendekatan ilmiyah, melalui kajian tasawuf terutama teori kenabian dan kewalian. Sebab ada hal yang menarik dari Syekh Ahmad al-Tijani, beliau menggabungkan dua sisi dari tasawuf yang berkembang dalam sejarah Pemikiran Islam yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Sungguhpun secara amaliyah, hemat penulis Thariqat Tijaniyah dengan wirid istighfar, shalawat, dan dzikirnya merupakan hal yang disepakati oleh seluruh ummat Islam bahwa wirid tersebut merupakan amalan yang diperintahkan oleh Qur’an dan hadis. Persoalan ajaran Thariqat Tijaniyah tidak hanya sampai disitu melainkan menembus memasuki wilayah tasawuf falsafi terutama menyangkut hakekat nabi Muhammad saw., dan wali khatm. Hal ini hanya akan bisa diselesaikan melalui pendalaman tentang teori kenabian dan kewalian.1 (thariqoh mu’tabaroh di Indonesia)
.dalam istilah tasawwuf ada istilah barzakhiah,yakni bertemu secara langsung dengan Rasulullah saw. Dan barzakhiah ini tidak aneh dalam dunia tasawwuf. tanpa bermaksud membela tarekat ini dengan mempertanyakan kembali, apakah betul pengajaran Nabi SAW melalui mimpi atau secara langsung itu berarti mengurangi kesempurnaan kenabiannya? Bukankah substansi dari pengajaran itu lebih tertuju kepada perintah bershalawat yang masih dalam bingkai pesan kenabian (syari’at), dan bukan merupakan hal yang baru? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda bahwa mimpi seorang mukmin seperempat puluh enam dari kenabian? Menyangkut pahala pembacaannya, bukankah rahmat dan anugerah Allah yang tak terhingga akan tercurahkan kepada umat Islam yang senantiasa mewiridkan shalawat kepada sang hamba paripurna, kekasih dan pujaan-Nya, Muhammad Rasulullah SAW?. Dan perlu diketahui pula bahwa NU pernah membahas Thariqat Tijaniyah dalam dua kali muktamarnya: Muktamar III dan VI. Muktamar III memutuskan keabsahan (kemu’tabaran) Thariqat Tijaniyah dan muktamar VI menguatkan hasil keputusan muktamar III. Hasil keputusan kedua Muktamar itu menetapkan bahwa (1) Thariqat Tijaniyah mempunyai sanad Muttasil kepada Rasulullah saw., bersama bai’ah barzakhiyah-nya.(2) dapat dianggap sebagai thariqat yang sah dalam Islam,
Wallahu a’lam bil muradih……




55 tanggapan kepada “Tarekat at-Tijani diantara pecinta dan penentang”
mugni labieb
Mei 24th, 2010 pada 20:13
setahu saya NU tidak mengesahkan tarekat attijaniyah yang mutasil pada nabi.kalau memang mengesahkan terus pengambilan dari mana,semua ada historisnya,dan bisa buat totok ukur untuk mempercayai atau menguatkan pendapat.
memang ada yang sebagian para kiyai yang sengaja mencantumkan tarikat attijaniyyah dalam buku hasil muktamar,itu saja karna sebagai para kiyai mearsa tidak enak aja.tetapi bukan hasil muktamar.
Yunus Hamid
Januari 26th, 2012 pada 23:50
Saya ragu dengan NU anda. Jika para Kyai (peserta mu’tamar) mencantumkan Thariqah Tijani kerena rasa tidak enak saja, sementara menurut kamu Tijani itu sesat. maka secara terbuka kamu nganggap para Kyai NU peserta Mu’tamar itu (yang didalamnya ada KH Hasyim Asy’ari) tergolong Ulama culas alias penakut dan tidak amanah dengan tugasnya yang wajib berkata benar walaupun terasa pahit bahkan dihadapan penguasa dzalim sekalipun. apakah para pendiri dan kyai NU separah itu akhlaknya?…
Muhammad Jawa
Juni 18th, 2010 pada 09:29
Bismillahirrahmanirrahiim. Setelah sya membaca paparan diatas,, sgatlah jelas bagi sy bahwa tarkat tijani ini adlah trekat yg sgat sesat dan menyesatkan ummat,, bagaimana mungkin org yg berakal bisa membnarkan trkt tijani yg bathil ini,, melalui tulisan ini sy menghimbau kpd seluruh kaum muslimin supaya menjauhi ajaran sesat ini,. jika ingin slamat dunia dn akhirat,, maka tempuhlah apa apa yg menjadi pijakan Rasulullah dg para sahabatnya dan ulama ulamak terkemuka ditengah ummat ini yg sgat jelas ini
Hizhib Mughni
Juni 20th, 2010 pada 08:44
Terima kasih atas vonisnya mas..! semoga nanti di depan Tuhan kita bisa berdiskusi lebih jauh masalah Tarekat Tijani ini, dan biar Tuhan sendiri yang memutuskan sesat atau tidak. selama saya menjadi pecinta tarekat Tijani, tak ada yang janggal dan tak ada yang menyalahi aturan syariat, karena memang saya sudah mengetahui kemana arah setiap ucapan Sayyidi Syeikh Ahmad Tijani. saya tak ingin menjadi manusia yang hanya melihat teks tanpa mengetahui konteksnya kemana. semoga kita selalu dalam bimbingan Tuhan Yang Agung, Yang mengetahui siapa sesungguhnya yang tersesat dari jaln-Nya.
Riedha Binti ChaLieLy At-TidjaNi
Juli 19th, 2011 pada 15:22
Very good…!!!
hanya orang2 yang kurang memahami TijaniLah yang mengatakan Thariqoh ini sesaT..mereka terjebak pada pengetahuan dangkal tentang pemahaman mereka terhadap thariqoh ini..saya heran,,dari sisi mananya mereka memahami bahwa thariqah ini sesat..?? bisa jeLaskan …!! atau mungkin anda (para penentang) kurang betul-betuk paham syariat islam dan ajaran2 yang terkandung dalam tijanyah..???
Meskipun ini adalah perbedaan,,tapi bukan sepantasnya anda menjustifikasi Thariqah tijany itu sesat,,justifikasi anda hanyaLah berdasarkan Dangkalnya pemahaman anda..!!
Nomaden
Agustus 21st, 2012 pada 08:24
Salam mas… klo saya boleh bertanya… saya ingin tahu apakah ulama/imam/pemiimpin kelompok anda (Tarekat At-Tijani ) memperbolehkan jamaahnya MEROKOK.. ?? karena saya melihat foto2 di blog anda… manggambarkan demikian…?? sy tidak ingin memvonis paling tidak menjadi tolak ukur saya dalam menilai apa yang anda jalani dan kaji… terimah kasih…
yadi
Desember 7th, 2011 pada 10:37
Jangan suka sesaat menyesatkan, emang nya loe udah yakin kaga tersesat, semua kita ini sedang sesat, dan berusaha keluar dari kesesatan. memang loe pnya alat ukur kesesatan ya, jadi berani – beraninya menuduh sesat. jangan merasa benar sendiri mikir baik – baik pnya otak engga loeh.
Yunus Hamid
Januari 27th, 2012 pada 00:28
Jika anda menjatuhkan vonis sesat pada Thariqah Tijani, tolong tunjukkan letak kesesatan dan tolok ukurnya!… apa pada amalannya yang terdiri dari : istighfar, shalawat dan dzikir Laailaaha illallah. atau pada bagian apa?… sekedar perlu anda tahu, pengamal Thariqah Tijani di berbagai belahan dunia bukan orang orang kroco mas. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Mekah 2 tahun sebelum wafatnya, beliau mengambil bai’at Tijani dari 1, Sayyid Muhammad Bal Hasan Al Jakkani dari Agadir Maroko dan 2. Sayyid Idris Al Iraqi dari kota Fes Maroko. kamu tahu Syeikh Yasin Al Padangi Mekah yang terkenal dengan pemangku sanad terbanyak di dunia, dia juga Tijani, salah satu muridnya Almarhum KH. Muhammad Tijani Jauhari Pengasuh PP Al Amin Prenduan Madura.
Pembawa Thariqah Tijani ke Indonesia sekitar tahun 1920 adalah Sayyid Ali At Thayyib As Sufyani dari Madinah, beliau salah satu Ulama yang menjadi Rujukan dalam Madzhhab Syafii di Madinah. dan masih banyak ulama besar kaliber internasional seperti Sayyid Muhammad Al Hafidz Al Mashri At Tijani yang saat ini di lanjutkan oleh putranya Sayyid Ahmad Al Hafidz Al Mashri At Tijani, keduanya ulama yang mencapai derajat mufti. juga Mufti Negeria Sayyid Ibrahim Al Husaini adalah pengamal Thariqah Tijani.
Saran saya selaku sesama muslim yang dianjurkan agar saling berwasiat dengan haq dan sabar. hendaknya dalam masalah agama, terutama masalah thariqah yang didalamnya banyak masalah pelik yang tidak terjangkau oleh pemahaman orang awam. hendaklah berhati hati dalam berkomentar, jangan ukur orang lain dengan ukuran pribadi kita sendiri. bagi kita berenang melintasi selat Madura atau selat sunda adalah mustahil, tapi ada orang lain yang mampu. demikian juga jika kita bicara masalah pengalaman dan ahwalul bathiniyah. bertemu Rasulullah SAW dalam sadar bagi orang awam seperti kita rasanya sangat sangat mustahil, tapi bagi mereka yang memang bekerja dan bertugas pada bidangnya, apanya yang tidak mungkin?..
Jadi jangan hanya berbekal secuil artikel tersebut diatas, lalu serta merta menvonis sesat. jangan… berbahaya mas, ingat hadits Nabi Muhammad SAW, mengkafirkan orang yang tidak kafir, kafir sendiri lho.., demikian juga menvonis sesat orang yang tidak sesat ya sesat sendiri kan?… semoga Allah SWT membuka hati kita semua dengan cahaya kebenaran bi syafaati Rasulillaahi SAW.
sam
Maret 31st, 2012 pada 07:40
maaf,, dari sisi mana anda mengatakan sesat????
ahmadsyahid
Oktober 14th, 2010 pada 04:44
blog sufi yang penuh dengan cinta, tawadu dan iman, blog yang bagus.
Sanghyang Mughni Pancaniti
Oktober 15th, 2010 pada 01:43
cinta, tawadhu, dan iman adalah harapan saya yang belum terwujud..
terima kasih sudah berkunjung mas..
Ahmad Fathul Majid
Oktober 28th, 2010 pada 12:32
Alhamdulillah,,
Like this bangged dech..
Syuaidi
Desember 29th, 2010 pada 07:34
untuk pembaca semoga hatinya di buka oleh Allah.
http://www.attijany.wordpress.com
semoga bermanfaat.
Sanghyang Mughni Pancaniti
Desember 30th, 2010 pada 15:31
makasih mas info blognya. menambah khazanah keilmuan saya tentang tarekat Tijani.
Abdul'aziz al suheriy
Januari 23rd, 2011 pada 03:56
Allahu Akbar !!!
i like it …. suatu saat nanti kita akan tau akan kebenaran semua ini …. Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammad …
agstya
Maret 16th, 2011 pada 01:55
makash mas atas infonya tentang attijani semoga kita semua mendapt syafa”at beliau dan ROSULULLOH MUHAMMAD SAW,AMIN.YA ROBAL ALAMIN SHOLALLA ALA MUHAMMAD WA ALA ALI MUHAMMMAD
Muhamad fauzan attijani
Januari 14th, 2012 pada 13:40
Sudah bnyk bukti dri pengamal tharekat tijani dsaat sakaratul maut dmudahkan allah…Semua itu menunjukkan tarekat tijani adalah tarekat yg hak…Wkt muqadam ustad abdurahman dpalangkaraya mw wafat .Beliau dlm keadaan sujud dwkt sholt zhuhur dbulan ramadan…Dan bnyk lg ikhwan tarekt dwkt wafat na menunjukkan dlm husnul khatimah
achmad cholidin attijani
Mei 20th, 2011 pada 12:54
siapa yg brani mnghina tarekat attijani mskpun dy kyai sdah haji brapa kli jgn hrp mndpt kan syafaat rosul dam baux surga imam haramain yg hafal bribu2 hadist g brani menghina taqekat attijani pa lg kamu yg hna mangx siapa kmu ?
Penting kali yah
September 13th, 2012 pada 18:31
Lah kamu sendiri emng siapa??? tuhan ya bisa seenak ngomong jidat nya,… mana hadist nya, mana ayat Al’-Qur’an nya klo menghina tarekat “sesat” attinjani gk bkal mndapat syafaat rosul dan baux surga….!!! Ngarang yah kamu???
achmad cholidin attijani
Mei 20th, 2011 pada 15:01
orang atthjani g btuh pngkuan dari org NU cz kbxkan pr khabaib tdk sdkt yg d khdiri oleh dtu*x SAW. scra yaqdhoh lamanamah .
Zumar Achmad
Oktober 30th, 2011 pada 08:42
Bgi Sy ssuatu yng menjadi keyakinan Mutlak itu g btuh pengakuan kebenaran dri luar. Krna tidk akan ktemu klo org yng djelaskan itu tdk paham2 juga,
abdoel wahab
November 7th, 2011 pada 15:02
Untuk mereka yg memvonis tarekat attijani “sesat” :
Sebenarnya terlalu terburu buru vonis sesat kalian itu untuk tarekat tijaniyah yg memuliakan Muhammad saw. bukan kah hakim yg paling adil nanti adalah Muhammad saw ? yg apabila tidak diakuiNya ummatNya maka tidak akan selamat.
abdul alam bin ahmad tohir
November 10th, 2011 pada 11:51
trimakasih….sampai saat ini..saya beranggapan bahwa ..tarekat..adalah sebuah metode untuk dekat kepadaNYA…dan memahami perintahNya…
yadi
Desember 7th, 2011 pada 10:46
Mempelajari tarekat sama dengan mendekatkan diri kapada Alloh. Apapun tarekatnya kita harus sling menghargai satu dengan yang lainya. tidak boleh ada yg merasa paling benar, dan tidak boleh pula menyalahkan tarekat yg lain. bagi yg mempunyai informasi tentang tarekat atijaniah diwilayah tangerang selatan tolong beri tau sy, krna saya memang dari dulu mencari mursid dari atijani tapi belum ketemu. thanks for all ikhwan.
Ubaidillah bin Abdurrohman
Desember 23rd, 2011 pada 09:13
Ass, untuk muqoddam di Tangsel ana belum mengetahui, tapi bila antum berminat mengamalkan thariqah At-Tijani,silahkan kirim email ke email : mambaulhikmah@ymail.com
tijaniyahtangsel
Maret 26th, 2012 pada 15:06
ass.uNtk saudara ikhwan tijani yang ingin mencari tentang tarekat tijaniyah di tangsel kirim email ke budakregaz@yahoo.com.sekian trima ksh…
Alfa El-Baidhowi
Desember 7th, 2011 pada 19:33
dalam ajaran thoriqot apapun sangat tidak mengajarkan untuk mengatakan sesat suatu thoriqot. dalam Attijany sendiri sangat mengharamkan pengikutnya mencaci ulama/wali allah.hak priogratif untuk mengatagorikan sesat adalah hak Allah,S.W.T kita sebagai manusia tidak pantas mengatakan seperti itu. semoga kita wahai pecinta ATTIJANY dan SAYYID AHMAD ATTIJANY dapat berkumpul dengan beliau kelak dihari qiyamat. Amiin ya robbal Alamiin…
irwan ramdhani
Desember 18th, 2011 pada 09:42
Assalamu’alaikum…ikhwanulmuslimin…mgkn udah cukup bagi qta yg hidup pda jaman skarng berpegang pada al-quran dan al-hadist…beliau para sufi dan ulama besar yg mendirikan torikoh” pun sama” berpegang teguh kepada al-quran dan as-hadist..
m.jumadi.af
Januari 4th, 2012 pada 00:38
ass…. wr. wb. yang paling utama adalah ukhuwah islamiah… jangan saling menjatuhkan antar umat beragama, apa lagi kita sampai membunuhnya. karna dalam islam tidak ada ajarannya… islam adalah jalan keselamatan kita… waallahu a’lamu bissowaab….
Zainal Ashom
Februari 3rd, 2012 pada 00:20
selogan kembali pada Al qur,an dan Al hadits selalu diteriakkan oleh orang orang yg pada haqiqatnya menginjak injak Al qur,an dan Al hadits.contoh orang orang yg melontarkan kata bid’ah pasti dia sendiri yg berkecimpung dlm bid’ah.karena di dunia ini tak kan ada seorang malingpun yg mau dipanggil maling ia gak?jd dizaman akhir ini kita sudah pasti dihadapkan pada orang orang yg tidak ber’ilmu tp bertahta hingga pd giliranya berfatwa dg fatwa tanpa ilmu maka masyarakat yg jadi korban.oleh karenya wahai saudaraku ikhwanul muslimin bertaubatlah kembali pada firman Allah masuklah islam secara kulluh jg separuh separuh.Al qur’an telah memperingti surat sajadah ayat 25 Allah ber firman:Sesungguhnya tuhanmulah yg akan memisahkan [menghukumi] besok di hari qiyamat tentang perbedaan di antara kalian[ Qs.As sajadah] nah coba kita renungi firman tadi kalau kita orang islam dan iman pada Al Qur’an tentu kita tidak mau dan seharusnya malu pada Allah kalau kita mendahului dan merebut tugas Allah.kenapa kita kesusu menghukumi orang laen dg kalimat sesat,kafir dll padahal Allah dg tegas menyatakan beliau sendiri yg akan menghukumi jadi sebagai oarang yg ber iman pantas gak kita merebut dan mendahului tugas Allah sebagai HAKIM YG ADIL besok di hari qiyamat.oleh karenanya renungkan dan hayati firman tadi i.Allah jd orang selamat.Wallahu ‘a’lam bis showab.
kang upiks
Juli 7th, 2012 pada 22:44
anda semangat sekali kelihatannya…………….tapi kelihatan sekali kalo anda suka sekali melempar kalimat dengan tanpa bukti. Saran saya sih…..hati hati. Semangat tanpa bukti hasilnya NGAWUR! Terbukti anda suka comot Al Qur’an tapi malah terpeleset. kALo omongan manusia dipelesetkan mungkin gak maslah. Tapi kalo Al Qur’an bisa jadi masalah! Coba anda baca baik baik Kata Kulluh yang anda tulis…….sudah betulkah? Maaf…..cuman sedikit koreksi, bukan menggurui apalagi sampe mengkafirkan!!
dizkmaron
Februari 8th, 2012 pada 21:36
sangattlah tidak menarik bila pembahaan ini yang berkmentar adalah dari luar sun /ufi karena tolak ukur keilmuannya tidak saama ,,, mhon untuk tariqah yang lain,,,, memberi komentar
Tapsirudin Udin
Februari 11th, 2012 pada 12:59
Bismillahirrokhmaanirrokhim, salam sejahtera untuk semua umat nabi Muhammad S.A.W , semoga kita dijauhkan dari segala mara bahaya dan fitnah baik di dunia maupun nanti di yaumil akhir kelak, semua thorikot yang mu’tabar dan banyak disepakati oleh para ulama adalah baik dan sangat bermanfaat bagi orang yang mengamalkannya, jadi yang terpenting dalam hal ini adalah hati. Semua torikot mengajarkan kasih sayang sebagaimana nabi Muhammad S.A.W telah mengajarkan kepada umatnya agar saling kasih mengasihi, jangankan kepada sesama umat muslim kepada non muslim yang tidak memusuhipun kita harus mengasihi dan menghormatinya, bahkan kepada tumbuhan dan hewan serta yang ada dialam umat islam harus punya rasa kasih. Dalam dunia ini ada pecinta dan penentang, tapi satu yang harus kita ingat SELAMA KITA MASIH DALAM SATU AJARAN DAN SATU NABI YAITU AJARAN ISLAM DAN MEYAKINI NABI MUHAMMAD ADALAH NABI TERAKHIR MAKA KITA WAJIB BERSAUDARA., mencinta ataupun menentang sesuatu haruslah karena ALLAH S.W.T, PERBEDAAN ADALAH HAL BIASA, TAPI MENCACI MAKI SESAMA UMAT ISLAM HARUSLAH DIBINASAKAN, WAWLAHU A’LAM BISSHOWAB
Amir Saripudin ikhwan Tijani Panghegar Bdng
Februari 18th, 2012 pada 10:12
Sudah bukan saatnya kita sesama muslim untuk saling mencaci, saya sangat sedih sekali melihat umat yang memponis saudaranya sendiri disebut sesat, kapir, padahal mereka sama umat nabi SAW, adapun soal perbedaan janganlah dijadikan sesuatu yang akan memecah belah umat, yang penting saat ini bagaimana supaya islam ini jaya seperti jaya islam pada zaman Rasulullah, cobalah fikirkan itu !…banyak saudara kita yang jauh dari ajaran islam walaupun mereka mengaku sebagai orang islam, banyak saudara kita yang belum masuk islam padahal merekapun sama umat nabi Muhammad SAW yang belum adanya hidayah untuk mengenal islam, itu semua adalah tugas kita sebagai orang muslim, kita harus mempunyai rasa risau akan umat bukan sebaliknya memvonis dan menghujat sesama umat, yang akhirnya yang tertawa terbahak2 adalah musuh islam……Wallahu’alam..
mahmud
Februari 27th, 2012 pada 15:33
ass,ana mo tanya tolong kasih tau ana,ada talim yanh membahas tentang ilmu tijjaniyyah,ana tinggal di jkt utara sblm dan ssdhy ana mohon maaf,wss,salam attijaniyyah
kang rus
Maret 5th, 2012 pada 11:18
untuk orang yg merasa dirinya baik, yang berani menghujat…… belajarlah dulu kepada orang yang lebih berilmu sebelum anda mengatakan sesuatu itu menurut pandangan anda sendiri…….
Abdullah
Maret 20th, 2012 pada 10:35
Assalaamualikum Wr Wb,
Saudaraku….suatu pemahaman dalam ajaran agama setiap pemeluknya memang sangat berbeda – beda,tetapi janganlah perbedaan itu kita jadikan suatu lahan perselisihan,hujat menghujat,saling menyesatkan,memperdebatkan yang ujung – ujungnya (hakikat) menimbulkan benih – benih kebencian yang membakar amal dan ibadah kita.Sebaliknya suatu perbedaan tadi diberikan oleh Allah SWT kepada setiap hambanya agar setiap hambanya saling hormat -menghormati,saling mengingatkan,toleransi,tolong – menolong dan saling menyayangi dan mengasihi dengan penuh ikhlas dan sabar.Kita sebagai hamba Allah yang penuh dengan keterbatasan ilmu hanya bisa menerima dengan ikhlas dengan segala ketentuanya dan mengamalkannya ilmunya dalam kehidupan dunia ini sesuai dengan batasan – batasanya,kalaupun terjadi sesuatu dalam mengamalkan ilmu Allah SWT ini terjadinya suatu yang janggal dalam kebiasaan pemahaman kita bukan berarti ajaran yang baru ini salah ( sesat ),karena sungguh jalan untuk mendekatkan diri kepada Dzat Allah SWT sangatlah banyak dan luas.
Pesan saya setiap pemahaman ilmu agama adalah upaya pendekatan diri hamba kepada Dzat Allah SWT untuk memohon ridhonya dan pembuktian diri akan cintanya kepada Allah SWT.Setiap cara – cara pendekatan seorang hamba ini saya berharap jangan diperdebatkan walupun cara -cara ini tidak sama/sepaham dengan cara – cara yang kita lakukan.Sesungguhnya kebenaran adalah hanya pada Allah SWT jadi biarlah Dia(Allah SWT) sendiri yang menentukan.Terima kasih….
peace
Maret 22nd, 2012 pada 21:54
Kalau lah saya yang awam ini melihat, tariqah ini melalui jalan yang berbeda dengan thoriqah2 sebelumnya…
Karena itulah thoriqah ini membuat kelompok exklusif dengan kelompok lainnya secara tak langsung menyatakan thorikat lainnya adalah batal ,
Padahal, seorang shufi pastilah menjaga , memelihara, mearahkan hatinya pada Allah SWT, dengan meneladani Rasulullah SAW^-^ akan menjadikan seorang mukmin cermin bagi mukmin lainnya^-^
Ngak ada alasan seorang shufi membentengi diri dengan yang lainnya kecuali memiliki hakikat pencarian berbeda^-^
Biarpun amalan dari segi lahiriah adalah sama, tapi hakikat diperhatikan tasawuf adalah arahnya.. arahnya kepada Allah sebagai hamba yang tunduk padaNya, bukan sebagai hamba tunduk pada UtusanNya^-^
Sehingga yang dirasakan hamba serasa (satu) dengan PenciptaNya, Karena SAng Pencipta bukanlah makhluk atau benda berbilang, karena di Esa, dapat dirasakan hamba yang semua dekat denganNya ^-^,
Lalu dimanakah utusanNya? UtusanNya adalah pemimpin yang membuat dekat semua yang mengikutinya dengan Allah SWT^-^
Semua datang dari Allah akhir kembali kepada Allah disisi tempat yang tinggi (mulia) ^-^
Semoga dipahami, dan direnungkan, dari saya yang awam dapat berpikir netral dapat direnungkan,.. walau mencintai tapi tak sempat bertariqah,
Seperti Uwais al-Qarny tak sempat bertemu Rasulullah SAW karena memelihara ibunya, tapi sangat rindu pada beliau^-^
Maaf bukanlah menyesatkan, tapi hanya untuk merenungkan secara arif, saat dan kemunculan thoriqah …. dimasa muncul pula pergolakan akibat gerakan wahabi…
Salam damai selalu
sam
Maret 31st, 2012 pada 07:44
walau saya masih belum masuk pada toriqoh manapun,,,, tapi saya sangat tertarik pada toriqah at tijani,,,,,,,
toni abu dzaar
April 26th, 2012 pada 15:26
shalawat faatih dlu, bru boleh coment……
hehe.
kang upiks
Juli 7th, 2012 pada 22:04
“Siapa yang mempelajari tasawwuf paginya, maka tidaklah dia ditemukan di sore harinya kecuali GILA,” (Imam Syafi’i, Imam mazhab terbesar di Indonesia).
Semua yang condong dengan tasawwuf, selalu berlindung pada kata-kata…..jangan mudah menyesatkan, jangan gampang menyalahkan, jangan enteng membid’ahkan, dll yang kesannya malah seperti dianya yang benar, paling alim, paling tahu, paling ngerti, paling bijaksana!! Sementara pada saat beersamaan dianya malah balik memfonis orang, wahabi lah dll bahkan berkomentar serampangan tanpa bukti sehingga menjurus fitnah!!!
Lucunya, kepada semua orang yang mengkoreksi selalu dikatakan bagaimana anda bisa berkomentar lha wong anda belum pernah masuk dan memahami jalan pikir dari sang pendirinya?? Masuk dulu, pahami, baru komentar kira kira begitulah ringkasnya. Buat saya ini hal yang lucu. Bagaimana mungkin orang yang mau berkomentar tentang kentut, harus campur dulu dengan yang kentut, kemudian jadi ikut ikutan kentut terus disuruh berkomentar tentang kentut????? Saya yakin, dia pasti akan berkomentar yang baik baik saja tentang kentut. Gimana tidak, lha wong sekujur tubuhnya udah bau kentut?
Saya orang gak tahu, tapi saya tahu pasti kalau anda semua udah pada tahu siapa tuh Imam Syafi’i. Dan saya tahu pasti pula, anda semua sudah tahu kapasitas beliau sehingga anda gak perlu menyeringai senyum mengejek dan memandang rendah ke saya. Toh saya sudah mengaku bahwa saya orang gak tahu. Tapi saya pengen tahu, gimana pendapat anda setelah tahu pendapat Imam Syafi’i seperti di atas?
Tentang wahabi, saya gak perlu menyarankan anda semua untuk baca-baca tentang mereka yang distempel wahabi. Tapi sekedar tahu, Muhammad bin Abdul Wahab orang yang namanya disandangkan pada gerakan pemurnian Islam wahabi, pernah menjawab semua pertanyaan tentang ajarannya dengan sebuah tantangan sederhana, yakni:
1. Kembali ke Al Qur’an
2. Kembali ke As Sunnah
3. Kembali ke Ijma
4. Bila tidak yang tiga di atas, MUBAHALAH jalan terakhirnya……
Begitu lugas dan tegas!! GAk plintat plintut, memutar mutar kata dengan menyandarkan jawaban pada hal hal yang gak jelas atas segala pemahaman yang dibawanya. Pertanyaannya, apa anda berani???
Sanghyang Mughni Pancaniti
Juli 14th, 2012 pada 23:53
@Kang Upiks:
Saya berani kembali ke tiga sumber hukum itu, saya sangat berani menerima tantangan dari syeikh yang namanya anda sebut. Saya akan kembali kepada al-Qur’an, Sunnah, juga Ijma. Tapi ada hal yang ingin saya tanyakan dulu, al-Qur’an dan Sunnah tafsiran siapa yang harus saya ikuti??? Agar saya tidak terjerumus pada lubang kesalahan dan kesesatan. Bukankah yang terjadi, satu ayat saja dari al-Qur’an, atau satu Sabda dari Sunnah, ribuan kepala telah mentafsirkannya? yang mana setiap tafsir itu bisa saja saling menyalahkan dan menampar tafsir lainnya.
Muhammad bin abdul Wahab punya pola pikir sendiri dalam mentafsirkan ayat, dan Ahmad Tijani pun punya pola pikirnya sendiri dalam mentafsirkan ayat. Lalu saya harus ikuti tafsiran siapa? tafsiran mana yang benar? yang selaras dengan maksud sabda Tuhan?
Waluyo Jati
Agustus 26th, 2012 pada 03:40
Perilaku adalah cerminan dari tingginya Ilmu seseorang. walaupun lulusan S1,S2 dll dari luar negeri Mesirkah itu?, Marokokah itu?… tp kalo perilakunya jahat (menyakiti) kepada sesama itu tandanya ilmu org tersebut masih Dangkal. perlu kita ingat bahwa Nabi besar Muhammad SAW. tidak pernah menghujat seseorang? malah seringnya di hujat dan di lempari batu dan kotoran betul ga? Emosikah beliau….? kemudian… pernahkah beliau mengunggulkan atau membanggakan dirinya? akulah Nabi Terakhir, Nabi yang lain lewatttt…..? sedangkan kita (manusia biasa) Nabi juga bukan…. dikatakan wali juga hanya sbg Wali Santri… eehhh… udah pada bangga dengan ajaran inilah, dari hadist inilah dari kyai inilah dari syech inilah…. kira2 bisa ketemu ujungnya ga ya…?
so mari kita ciptakan Islam yang damai… yang suka menghujat cepat2lah istighfar….agar diampuni Allah dan tidak menghujat lagi, yang di hujat juga Istighfar…. agar lebih sabar lagi….., ciptakanlah hubungan (Horizontal) dengan sesama manusia yang baik, karena ini merupakan hubungan yang sangat nyata bisa kita lihat dan kita rasakan… Ini aja lho msh susah hehehee rasional sekali ya kan? Apalagi hubungan kita dengan Yang Ghoib (Allah) bukankah lebih susah lg karena tidak terlihat… padahal Allah sangat dekat lebih dekat dari yang kita rasakan… yang tidak suka dengan toriqot Tijani mohon jgn memvonis sesat oke….toh tujuannya juga sama kembali kepada Allah yang menciptakan kita,betul ga? hehehe
akhirnya di Moment ini saya mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN….
terima kasih…. matur suwun yang punya blog… salam kenal dan terus berkarya Sob….^_^
ahmad hadi
September 7th, 2012 pada 09:43
Asalamualaikum saya sangat berterimakasih atasa rtikel diatas, dan sangat mebantu saya untk mengenal syeh ahmad tijani, semoga blog ini jg bermanfaat bagi yg lain, maklumlah bagi penentang dan penghujat, pendidikan agama dan pengetahuan mereka masih kurnang, dan merasa surga dan neraki milik meraka, hingga gampang sekali membi”dahkan, mengkafirkan dan menyesatkan orang.
hafidzapid
Oktober 7th, 2012 pada 16:06
Reblogged this on hafidzapid.
Ismail At
November 1st, 2012 pada 08:14
Alhamdulillah…subhanallah luar biasa komentar para umat nabi Muhammad saw diatas…
ada yag pro dan kontra…dan Alhamdulillah juga ana asal dari kalimantan Timur
semenjak mengamalkan amaliayah wirid Tarekat Atijani subehanallah berkat itu semua, Allah memberikan segala kemudahan yg luar biasa buat saya terutama ketentraman bathin buat saya dan keluarga saya…dan yg luar biasanya lagi… sesuatu yg datang yg diluar akal kita tapi nyata…subhanallah berkat saidi Syech Ahmad Atijani dan nabiallah Muhammad saw saya meyakini bahwa Tarekat Atijani ini sangat baik dan cocok untuk dijaman ini…
pesan saya rasakan apa yg kalian ikuti atau amalkan selama ini apakah sudah membuat kalian tentram hati dan keluarga jg apakah sudah merasakan…
(jika hati tentram istri dan anak InsyaAllah bahagia…jika semua bahagia InsyaAllah kemudahan dalam memenuhi kebutuhan keluarga akan tercukupi bahkan mungkin lebih)
salam dari kami ikhwan dan muhibbin Kaimantan Timur Kab.Paser Tanah Grogot
mohon maaf lahir dan bathin
Zainal
November 22nd, 2012 pada 01:48
Assalamu’alaikum. Para Saudaraku semua, Kita Jalani saja syariat islam dengan sesungguh-sungguhnya pengamalan, bersandar pada Al-Qur’an, Hadits dan Ijma Ulama. Ga usah saling sesat menyesatkan, kebenaran sejati hanya milik Alloh, Ilmu yang sebenarnya hanya Alloh Yang Maha Tahu. Kita jalani saja jalan ibadah yang sudah diajarkan oleh para Ulama dengan Ikhlas & Khusu’. jangan terfokus pada perbedaan kecil, fokuslah pada Banyaknya Persamaan diantara kita Kaum Muslimin. Sudah lelah rasanya kita Umat Islam terus berperang urat syaraf dengan sesama saudara sendiri, sedangkan para Kafir bersorak-sorai melihat kita saling menghujat dan bertengkar memperebutkan pepesan kosong.Wassalamu’alaikum
si gadiez kurma
Desember 9th, 2012 pada 12:46
boleh nanyak ga’??
ada ga’. komunitas thoriqoh attijani??
sandi arpand
Desember 11th, 2012 pada 15:59
Tharekat itu jalan, yang dituju hanya satu mengharapkan cinta Allah Swt.selama syariat ak tidak dilanggar, mau lewat jalan manapun silahkan, sesuai dgn keyakinan masing masing
hera
Januari 29th, 2013 pada 21:38
ane mau nanya neh.. apa ada hadist atau sumber Alquran dgn terminologi tasawuf, tarekat atau Sufi.. ini penting, karena aliran tarekat yg bertasawuf mengklaim sufisme adalah jalan ber-makrifat. sebelum berspekulasi lebih jauh… adakah dalil dan tuntunan nabi atau contoh2 dari generasi sahabat atau tabiin… kalo tidak ada dan meragukan… pantasnya kita menjauhi
Harun Tijani
Maret 13th, 2013 pada 01:25
Yang merasa sudah mempunyai amalan thoriqoh Tijaniyyah, saya sarankan utk mengamalkan saja dg tekun sampai akhir hayat; tidak perlu mengurusi orang2 yg tidak mengerti….. karena keberadaan mereka sama saja dgn ketiadaannya. Keberadaan orang2 seperti itu sama sekali tidak memberi manfaat dan ketiadaannya sama sekali tidak membuat kerugian atau pun kesedihan. Kita tetap mengamalkan ajaran Tijaniyah, bukan karena keberadaan orang2 seperti itu.. Kita tidak akan pernah percaya kpd orang yang menilai kebenaran HANYA berdasarkan akal/logika semata. Tapi kita HANYA percaya kepada orang yg menilai dan meletakkan kebenaran yang ada di balik tabir atau hijab. Mereka tdk akan pernah mengerti apa itu tabir atau hijab, karena kebenaran menurut mereka hanyalah apa yang nampak di mata dzahir dan logika. Mereka tdk mampu melihat kebenaran yg ada di balik yang dzahir. Apa mereka itu salah? TIDAK … karena hanya sampai disitulah kemampuan yang mereka miliki untuk mendaki kebenaran; mereka tidak mampu mendaki kebenaran yang lebih tinggi dan dalam…. Suatu hari nanti Wahhabi dan pengikutnya juga akan musnah seiring dengan datangnya Imam Mahdi as ……. Santai sajalah menjalani hidup ini; karena kita hidup dan ibadah bukan mengikuti ajaran Wahabi yang bakal musnah, tapi mengikuti ajaran Rasulallah SAW (yang ada di balik hijab) ………..
Mujiiburrohman al-idris
Maret 25th, 2013 pada 13:36
1) ISTAGHFIRUU ROBBAKUM..INNAHU KAANA GHOFAARO. 2) INNALLOHA WA MALAAIKATAHUU YUSHOLLUUNA ‘ALAN NABIYY… YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUU.. SHOLLUU ‘ALAIHI WA SALLIMUU TASLIIMA. 3) MAN QOROA LAAILAAHA ILLALLOH MARROTAN. DAKHOLAL JANNAH (hdst qutsi)
Mujiiburrohman al-idris
Maret 25th, 2013 pada 13:51
Maaf…saya belum msuk toriqoh at-thijaani. Tpi saya yakin., at-thijani bkan sesat.. “PELAJARI,KAJI,IKUT,JALANKAN,ISTIQOMAH,RASAKAN” baru anda ber komentar… Karna… Mungkin komentar anda justru yg menyesat kan., mohon ma’af jika saya salah… Semoga ALLOH mengampuni kedangkalan ilmu saya. AAMIIN
nardi
April 5th, 2013 pada 16:16
bahagia bertemu tijaniah…klo belum jumpa smoga sgera berjumpa
Hasanudin
April 18th, 2013 pada 12:40
Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Assalamualaikum.
Menurut pendapat saya pribadi semua manusia yg mengaku islam tida semua’y beriman dan bertaqwa kepada allah. Coba anda berpikir apakah pantas kita disebut orang yg beriman dan bertaqwa kepada allah? Membaca al Qur’an saja belum hafal makroj dan sifat hurufnya. Apalagi berdebat masalah tarekat, kalo mau tahu sesat atau tidaknya? Tanyakan saja langsung kepada yg membuatnya? Siapa? Hanya allah yg ahad.
Wassalamualikum