Dalam proses penyebara agama Islam di tatar Sunda, tidak seluruh wilayah Tatar Sunda menerima sepenuhnya. Di beberapa tempat –meski dalam lingkup kecil- terdapat komunitas yang bertahan dalam ajaran leluhurnya sepeti komunitas masyarakat Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang dikenal dengan masyarakat Baduy. Mereka adalah komunitas yang tidak mau memeluk Islam dan terkungkung di satu wilayah religious yang khas, terpisah dari Muslim-Sunda dan tetap melanggengkan ajaran Sunda Wiwitan.
Dasar religi masyarakat Baduy dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah kepercayaan yang bersifat monotheis, penghormatan kepada roh nenek moyang, dan kepercayaan kepada satu kekuasaan, yakni Sanghyang Keresa (Yang Mahakuasa) yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Ghaib) yang bersemayam di Buana Nyuncung (Buana Atas). Orientasi, konsep, dan pengamalan keagamaan ditujukan kepada pikukuh untuk mensejahterakan kehidupan diJagat Mahpar (dunia ramai). Dalam dimensi manusia sakti, Batara Tunggal  mempunyai keturunan tujuh orang batar yang dikirimkan ke dunia melalui kabuyutan, titik awal perjalanan dan tempat akhir kehidupan.
Dalam pelaksanaan ajaran Sunda Wiwitan di Kanekes, tradisi religious diwujudkan dalam berbagai upacara yang pada dasarnya mempunyai empat tujuan yaitu; 1. Menghormati para karuhun atau nenek moyang, 2. Mensucikan Pancer Bumi atau isi jagat dan dunia pada umumnya, 3. Menghormati dan menumbuhkan atau mengawinkan Dewi Padi, dan 4. Melaksanakan pikukuh Baduy untuk mensejahterakan isi jagat. Dengan demikian mantera-mantera yang diucapkan sebelum dan selama upacara berisikan permohonan izin dan keselamatan atas perkenan karuhun, menghindari marabahaya, serta perlindungan untuk kesejahteraan hidup di dunia damai sejahtera.
Masuknya agama Islam ke Tatar Sunda menyebabkan terpisahnya komunitas pengaut ajaran Sunda Wiwitan yang taat dengan mereka yang kemudian menganut Islam. Masyarakat penganut Sunda Wiwitan memisahkan diri dalam komunitas yang khas di pedalaman Kanekes ketika agama Islam memasuki kerajaan Pakuan Padjajaran. Secara sadar, masyarakat Kanekes dengan tegas mengakui bahwa perbedaan mereka dengan masyarakat Sunda lainnya di luar Kanekes hanyalah dalam system religi, bukan etnis. Mereka menyebut orang Sunda yang di luar Kanekes dengan sebutan Sunda-Eslam (orang Sunda yang beragama Islam).
About these ads