Lolosnya Isa Al Masih dan pematahan kaki yang berarti tidak dilakukannya pemastian kematian karcna para serdadu sudah yakin Isa Al Masih telah meninggal merupakan suatu pertolongan Allah atas hambaNya. Pingsannya Isa Al Masih telah dilihat oleh para serdadu sebagai kematian lsa Al Masih. Kronologis peristiwa yang diung-kapkan oleh Bibel justru menunjukkan hahwa saat itu Isa Al Masih belum meninggal. Namun, kebenaran ini justru ditolak oleh umat Kristen demi konsep Ketuhanan Yesus yang dirumuskan dalarn Konsili Nicea tahun 325 M. Sebab konsep Ketuhanan itu mengharuskan adanya proses “evolusi Ketuhanan Yesus” sebagai berikut: penyaliban, mati, bangkit (hidup kembali), duduk di surga di sebelah kanan Allah (Markus 16:19), dan (menjadi) Tuhan.

Al-Qur’an sendiri secara gamblang menjelaskan bahwa Isa Al Masih tidak mati dibunuh pada kayu salib.

“Dan lantaran perkataan mereka yang mengatakan: Sesungguhnya kami telah membunuh Isa Al Masih anak Maryam rasul Allah itu. Padahal sebenarnya mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya (hingga mati), melainkan hanyalah diserupakan saja pada mereka … “. (An-Nisa’ / 4 : 157).

Prof. Dr. KH. Hasbullah Bakry, SH. dalam bukunya “Isa dalam Al Qur’an Muhammad dalam Bible”. (Firdaus), cet. 8, hal. 45 dan 47 menyatakan penafsirannya tentang QS An Nisa’/4:157.

“Kalimat “Ma qotaluhu wama sholabuhu” yang berarti: “Mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya” haruslah diartikan sebagai penguat (kalimat) satu dengan yang lain. Ma qotaluhu artinya mereka tidak membunuh Isa dengan jalan apa saja (di sini membunuh berarti umum). Ma sholabuhu mereka juga tidak membunuhnya dengan penyaliban. Disini membunuh dengan cara khusus yakni dengan penyaliban (kruisiging).”

Penyaliban artinya memakukan orang dengan membentangkan kedua tangan pada kayu yang bersilang sehingga mati. Kalau tidak sampai mati namanya bukan penyaliban, tetapi hanya terserupa saja sebagai penyaliban.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa lsa Al Masih tidak disalib, tetapi yang disalib sampai mati adalah Yudas Iskariot alias Yahuda Askhariyuti. Pendapat seperti ini sulit dipertanggungjawabkan sebab Al-Qur’an sama sekali tidak pernah menyebut atau mengkisahkan nama tersebut.

Lantas dari mana umat Islam mengenal nama Yudas Iskariot? Jawaban atas pertanyaan ini bisa kita baca lewat keterangan Prof. HAMKA:

“Mereka menerima riwayat dari orang­-orang Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam. Satu riwayat yang dinukilkan Ibnu Jarir menyatakan bahwa rupa Isa disamakan kepada Yahuda (Yudas) itu sendiri, sehingga dialah yang ditangkap dan dialah yang disalib.”

….. Adapun riwayat-riwayat ini diterima oleh sahabat Rasulullah dan penafsir sesudahnya ialah orang-orang ahlul kitab yang masuk Islam, diantaranya Wahab bin Munabbih.

Jadi, jelas bahwa umat Islam mengenal  Yudas dari ahlul kitab, bukan dari Al-Quran.

Mempertanyakan kebangkitan dan Kenaikan Isa Al-Masih

Kata Pengantar:
Muhammad Imaduddin Abdulrahim

Penulis
Hj. Irena Handono

Design Cover

Yunus Wibisono

Setting

Lutfi Fuadi

Penerbit

BIMA RODHETA

© HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Cetakan:

I : September 1997;

II : Maret 1999;

III : Mei 2001;

IV : September 2001;
V : Februari 2002;

VI : Mei 2002; VII : Februari 2004

About these ads