Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti
Segumpal rindu tiba-tiba menggebu, sekerat rasa ingin jumpa menggelora. Kepada Purnama. Ya, Purnama kekasihku. Sudah tiga hari ia pulang ke kampung halamannya di Cigendel, untuk bertemu Ibu Bapak dan sanak saudaranya. Memang, ketika ia hendak berangkat egoku mengigau, “Harusnya kau di sini saja, jangan meninggalkanku. Jangan kemana-mana.”. Akan tetapi aku harus merelakannya, aku harus bersabar untuk suatu saat berjumpa denganya lagi.
Aku sadar, meski Purnama terpental jauh ke kota untuk menjadi seorang Mahasiswa yang harus mumet oleh peraturan universitas, dan dia memilikiku yang bersedia menemani hari-harinya, dia tetaplah seorang manusia yang batinnya terus mendorong untuk mencari sumbernya sendiri. Sumber, asal-usul, dan mata air eksistensi itu adalah ibu bapaknya, sanak saudaranya, serta sekampung halaman dan handai taulan. Aku ikhlas, aku rela, membiarkannya pulang.
Kini, dari kejauhan, aku benar-benar merindukan kesederhanaannya, pengabdiannya, ucap tulusnya, tawa riangnya, isak tangisnya, bahkan manja dan marahnya. Oh Purnama.. Purnama. Aku ingin kau segera kembali, lalu kau membaca salah satu puisiku yang kubuat khusus untukmu,
Akan Kupersiapkan Semuanya
Kusiagakan diri
Kumantapkan hati
Kubaringkan fikirku
Kutegakkan rasaku
Kubebaskan muatanku
Kukalahkan iblisku
Kupatahkan budakku
Kutenangkan jantungku
Kutiiskan ubun-ubunku
Kulumpuhkan musuhku
Kubariskan tentaraku
Kuikhlaskan jasmaniku
Rohaniku
Sukmaku
Bathinku
Heningku
Ma’rifatku
Untuk suatu saat menjemputmu
Di singgasana cinta Sang Maha

