Oleh: Emha Ainun Nadjib

Salah satu ‘ijaz Al-Qur’an ialah bahwa sistematikanya tidak dapat dirumuskan. Kita bisa misalnya, menyusun klasifikasi per-disiplin : ada ayat hukum, ayat ekonomi, ayat moralitas, ayat astronomi atau biologi. Ibarat samudra, kita ambil satu ember airnya untuk kita masukkan ke dalam tabung yang berbeda-beda sesuai dengan approach yang kita gunakan. Besok pagi kita akan menemukan suatu kenyataan bahwa pengisian tabung itu bisa kita tukar dan balik atau kita campurkan sekaligus. Kita mungkin akan mengatakan bahwa Al Qur’an adalah suatu dimensi petunjuk yang multikompleks, kamil, paripurna namun sesungguhnya lebih dari itu.

Al Qur’an itu tiada ‘jarak’nya dengan Allah : dan kita menyebut Allahu Akbar. Akbar bukan Kabiir. Bukan saja Maha Besar, melainkan lebih dari Maha Besar. Jika kita mampu membayangkan yang lebih besar lagi dari batas besar yang bisa kita capai, maka Ia lebih besar. Jika Maha Besar itu seolah-olah bisa kita ‘fahami’ dengan rasa-pengertian kita, maka Ia lebih lagi. Kata Maha itu, meskipun tidak terbayangkan, namun ia memberi kesan statis, tetap, atau berhenti. Tetapi Lebih Besar, memberi kesan dinamis, hidup, bergerak. Suatu keterus-menerusan dan ketiada-terbatasan. Dengan permenungan tertentu kita barangkali mampu menggapai taraf demi taraf kebesaran, tetapi kita akan ‘lenyap’ di satu level tertentu, sebab kita tidak akan bakal mencapai ruang dan tak akan dipeluangi waktu untuk mengejar yang lebih Besar dan terus Lebih Besar.

Maka demikianlah, karena laa roiba fiihi ( (Al-Baqoroh 2) AlQur’an adalah wahyu Allah, kita tak perlu ‘heran’ apabila ia senantiasa lebih dari segala yang pernah kita tafsirkan, kita mafhumi, kita simpulkan atau kita duga-duga. Allah menganugerahkan kita pamungkas dari segala kitabullah ini kepada kita, suatu jenis makhluk yang ahsani taqwiim (At-Tien 4), yang dulu diprotes penciptanya oleh para Malaikat karena “akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah (Al-Baqoroh.30). Terhadap hal tersebut sejak semula jelas pernyataan Allah tentang keterbatasan kita. JawabNya atas protes itu : “Sesungguhnya Aku. mengetahui apa yang engkau tidak ketahui” (Al-Baqoroh 30).

Malaikat, yang ghoib, dan wajib kita percayai bahwa ia ghoib, sama sekali tak mengetahui apa yang Allah ketahui. Maka kita, jenis makhluk yang berdaging tulang ini, sekurang-kurangnya tak lebih dari itu. Maka demikian pula terhadap Al Qur’an : tetap berlaku keterbatasan kita. Dengan demikian sesungguhnya alangkah menggairahkan untuk menjadi seorang mu’min: betapa melimpah rahasia Allah yang bisa kita dambakan dan kita yakini. Ayat-ayatNya yang di suatu hari terasa seperti gamblang, temyata mengandung keghoiban, sedemikian rupa sehingga kita akhimya mengalami bahwa itulah satusatunya ruang untuk berislam, sumeleh, pasrah dalam arti yang seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang multi kompleks, yang gamblang namun tetap ghoib dan menyimpan misteri, yang ghoib namun juga bisa gamblang.

Lihat dan bacalah AlQur’an yang amat luar biasa itu, yang terbagi menjadi bagian-bagian, tetapi antara bagian-bagiannya itu saling merangkum, bagian yang satu merangkum bagian yang lain, bagian yang lain merangkum bagian yang satunya, bagian yang ini mengandung bagian yang itu, demikian pula sebaliknya. Bagian-bagian yang tidak parsial, tidak sektoral. Bagiannya mengandung keseluruhannya, keseluruhannya mengandung bagian-bagiannya. Bagian-bagiannya adalah keseluruhannya, kemenyeluruhannya adalah bagian-bagiannya. Sungguh Allah tidak menggertak-sambal ketika ia menantang kaum Musyrikin, jika mereka ragu akan Al Qur’an (juga mungkin menantang keraguan yang kita Kaum Muslimin alarm sendiri), untuk membuat satu ayat saja yang semisal Al Qur’an. Lihat dan bacalah Al Qur’an yang tiada suatu gejala kehidupan dan gejala sejarah pun yang tidak disebutnya, diperingatinya, serta dituntutnya untuk selamat. Ia sedemikian menyeluruh. Jadi sesungguhnya apa yang saya tulis ini sekedar, dengan segala keterbatasan, semacam menjilat amat sedikit rasa asin dari samudera. Surat Al-Baqoroh biasa juga disebut sebagai Fusthaathul-Qur’an, puncak Bacaan Agung, karena secara eksplisit pokok tuntutan syariat: yakni perintah-perintah yang menyangkut rukun Islam, Qishash, furgon yang memilahkan hal-hal yang halal dan haram, aturan-aturan tertentu dalam perhubungan ekonomi, perkawinan dan kekeluargaan, bukan sampai soal anak yatim, perang dan sihir.

Tuntunan tersurat ini menjadi alasan yang membuat ‘Sapi Betina’ ini menjadi puncak Al Qur’an, dan dalam pandangan kita sering dikatakan bahwa surat-surat lain tak mengandungnya. Apa yang terjadi sesungguhnya ialah bahwa Al-Bagoroh menyodorkan kepada kita paket-paket hukum tertentu, sedangkan dalam surat-surat lain banyak bisa dijumpai filsafat dan hakekatnya. jika kita bersedia melihat tuntunan-tuntunan itu tidak terutama sebagai dogma, melainkan sebagai anugerah Allah yang tetap mengandung rahasia, maka latar filsafat dan hakekat di balik setiap aturan tersebut juga selalu bisa kita temui tidak usah di surat lain. Umpamanya pada ayat 276 Allah menjamin akan memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dewasa ini watak perekonomian di sekitar kita penuh nilai riba dan kita mungkin saja secara sistemik memiliki keterlibatan di dalamnya. Seringkali kita lantas menyaksikan pemandangan ekonomi yang membikin kita sedikit patah hati terhadap jaminan Allah itu, dan barangkali diam-diam kita tengah menuju kearah berkurangnya keyakinan kita terhadap statemen Allah. Dalam situasi seperti ini kita harus tetap berikhtiar menguak rahasia pemyataan Allah itu.

Sebutlah barangkali kita-kita yang belum menyesuaikan diri dengan konsep Allah tentang kesuburan sehubungan dengan Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Kite ‘bingung’ berada di tengah kehidupan mana “yang tak jujur makmur, yang jujur terkubur”. Dalam fase proses ‘kebingungan’ itu Allah langsung menyodorkan ayat berikutnya (277): bahwa yang (benar-benar) beriman, beramal sholeh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, akan mendapat pahala di sisi Tuhannya. Langsung pula Allah melipur hati kita: Tak ada kekhawatiran kepada mereka dan tak pula mereka bersedih hati. Artinya, jika masih juga bingung dan nelangsa, hendaknya ia mempertanyakan kembali imannya, amal-sholehnya,sembahyang dan zakatnya. Yakni kesetiaan dan stamina intensitas amal-amal baiknya itu.

Kita memang seringkali bersikap konsumtif terhadap jaminan-jaminan Allah. Padahal jaminan itu memerlukan kreativitas kita : artinya kita harus mengasah radar rokhani kita dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, baru kemudian berjanji Allah itu pantas untuk kita kenyam. Sikap konsumtif itu nampakjuga pada kebiasaan banyak Muslim yang karena berbagai konditioning lingkungan ia tidak meletakkan Al Qur’an sebagai buku pokok atau literatur utama di tengah tumpukan buku-buku bantu yang bisa diperoleh di toko-toko buku atau di Universitas dan Sekolah. Ibarat batu permata rokhaninya kurang digosok sehingga tidak cukup mengkilat untuk mampu memantulkan cahaya Allah.

Ayat 1 Al-Baqoroh, adalah suatu isyarat. Alf Laam Miim. Para Ulama menyerahkan artinya kepada Allah, sementara Ulama lainnya mencoba menafsirkannya. Ada yang menyebut itu adalah nama Surat, yang lainnya berpendapat itu semacam atraksi untuk menarik perhatian pembacanya, lainnya lagi menganggap itu suatu petunjuk bahwa bukan tidak ada maksud Allah untuk menurunkan Al Qur’an dalam Bahasa Arab, bukan Bahasa Jawa.

Tentu saja allohu a’lamu bishshowaab. Namun yang jelas : ia adalah suatu misteri, suatu rahasia. Tidak jelas rahasia macam apa, tapi jelas bahwa rahasia tersebut adalah rahasia. Mengapa ia suatu isyarat? Karena jika sebuah rahasia terang-terangan dijadikan intro (ayat pertama) dari Surat terpanjang ini, tentulah itu suatu tuntunan implisit bahwa memang demikian banyak rahasia yang sebaiknya kita’survey’ di dalam ayat-ayat AlQur’an. Kita tidak paham apa Alif Laam Miim, tetapi kata ayat 2 : Tak ada keragu-raguan padanya, ia adalah petunjuk bagi orang-orang bertaqwa.

Adakah kita diberi petunjuk melalui rahasia? Ya, kata ayat 3, apabila kita adalah benar-benar orang-orang yang beriman kepada ghoib, yang mendirikan sembahyang serta menafkahkan sebagian rejeki. Dan kita tahu, yang ghoib, yang menurut para ahli Islam adalah segala sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh pancaindera, temyata bukan hanya para Malaikat, hari Akhirat dan lain-lain. Kita bisa membaca dan menuliskan Alif Laam Miim, namun ghoiblah yang dikandungnya. Maka sungguh mengherankan mengapa kita amat rajin menelusuri rahasia Al Qur’an. Maka sesungguhnya justru rahasia Alif Laam Miim itulah yang merangsang gairah, semangat dan tenaga setiap Muslim untuk dengan penuh sukacita dan rasa cinta meneruskan membaca ayat-ayat selanjutnya dan seterusnya, agar ia bisa bergabung dengan rahasianya.

Di bagian atas telah saya sebutkan tentang tidak ada satu gejala kehidupan pun yang tidak terangkum dalam Al Qur’an, kemudian diperingatkannya dan diberinya tuntunan. Artinya ayat-ayat Al Qur’an itu selalu aktual. Meskipun ia dulu memang diturunkan berdasarkan suatu proses kesejarahan tertentu, konteks sosiologis dan asbabun-nuzul tertentu, tetapi bukan Al Qur’anlah namanya apabila sesudah lewat suatu era sejarah tertentu lantas ia pun ikut lewat dan kehilangan aktualitas. Membaca dan menerapkan (dalam rasa dan pikiran) ayat demi ayat Al-Baqoroh umpamanya, kita segera akan bertemu dengan berbagai potret kehidupan masa kini yang sering kita alami, kita libati, dan kita amati.

Ketika di ayat-ayat awal Allah berfirman dan memberikan gambaran tentang golongan mu’minin, nafiqiin, musyrikiin dan kaafiriin : kita begitu karib dengan deskripsi. Rasanya yang digambarkan Allah itu baru berlangsung tadi pagi, tujuh abad sesudah ayat itu diturunkan, dan di suatu tempat dan lingkup yang kita kenal sebagai ‘dunia modern’.

Membaca Al-Baqoroh ayat 11, tidaklah tertera di kesadaran kita hipokrisi politik dewasa ini dengan segala anasir dan variabeinya? Itu siapa tahu barang kali juga menyangkut sebagian pemimpin Kaum Muslimin sendiri, atau justru kita sendiri yang sedikit banyak juga memiliki saham di dalam ‘dosa bersama’ penumbuhan ‘kemunafikan struktural’ meskipun mungkin kita tidak menyadarinya, seperti yang disebut oleh ayat 12?

Pernah kita memiliki sahabat-sahabat, kenalan-kenalan, gagasan-gagasan yang kita jumpai di mass media, di forum-forum diskusi, seminar, pidato-pidato, puisi-puisi, atau dalam obrolan-obrolan lepas sehari-hari, yang sesungguhnya dideskripsikan Allah melalui Al-Baqoroh ayat 13? Tidakkah getaran kenyataan yang diungkapkan Allah tersebut kita rasakan kemarin, hari ini, di lingkungan yang karib dengan kesibukan kita, bahkan juga justru di dalam diri kita sendiri? Kemudian kita sendiri jugakah, atau handai tolan kita, atau pemikiran-pemikiran lingkungan yang sering kita dengar, kita baca, kita jumpai, yang sesungguhnya dimaksud oleh ayat 18?

Apakah kita takut mati? Artinya mungkin juga takut pada ‘kematian kecil’? Takut kelaparan? Takut soal jaminan hari depan, sehingga lebih mempercayakannya kepada ‘buah-buah khuldi’ yang dilarang Allah, dibanding mempercayakannya kepada kesetiaan terhadap hukum-hukumNya? Apa gerangan konsep kita tentang kematian? Etos mati yang bagaimana yang hidup dan kita imani selama ini? Sesuaikah ia atau bertentangankah ia dengan tuntunan Allah di ayat 94 umpamanya?

Apakah kita merasa kecut karena “tidak mungkin melawan arus”? Apakah kita ‘terpaksa’ menjadi munafiq kemudian setengah mati berusaha menyembunyikan kemunafikan itu dengan menyodor-nyodorkan alasanalasan apologetik dan artifisial untuk dijadikan topeng yang kita pakai di panggung pementasan yang sarat hipokrisi ini? Apa artinya gerangan resiko miskin, kelaparan, sedikit takut, dikucilkan, ‘buntu masa depan’?

Apa gerangan makna’kesengajaan cobaan’ Allah itu, kemudian isyarat bahagia bagi mereka yang terus setia bersabar, seperti yang diungkapkan oleh ayat 155? Apa pula arti bimbingan Allah agar kita mengucapkan “Sesungguhnya segala sesuatu adalah milikNya dan akan kembali kepadaNya” (ayat 156) apabila kita menerima musibah-musibah apa pun, tidak hanya ‘kematian’ ? Dan jika selama ini kita memakai tradisi mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun” setiap kali ada ikhwan kita yang meninggal dunia, marilah kita pertanyakan kembali sesuai dengan konsep Allah kah pengertian kita tentang ‘musibah’ dan’mati’.

Jangan-jangan apa yang biasanya kita anggap musibah sesunggahnya justru bukan musibah menurut pengertian Allah yang mestinya wajib kita tiru. Jangan-jangan apa yang kita takutkan dari kematian bukanlah sesuatu yang selayaknya kita takutkan berdasarkan konsep Allah. Ayat 216 memperingatkan kita akan hal ini. Mengapa, dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak ‘mendialektikkan’ pengalaman-pengalaman kita dengan rahasia ayat ini. Bahkan di dalam surat lain Allah mengemukakan bahwa ‘keburukan maupun ‘kebaikan’ yang menimpa kita dariNya, kedua-duanya adalah cobaan.

Semua itu adalah petunjuk bagi kita untuk merevaluasi berbagai gagasan dan anggapan, sangkaan kita tentang pengalaman sehari-hari, namun sekaligus bisa juga membimbing kita di dalam menilai kembali konsep-konsep masyarakat kita tentang kemajuan, kemakmuran, perkembangan, pembangunan, dan seterusnya.

Kontekstual dengan itu, adalah metafora Allah tentang ‘absurditas’ watak manusia ketika Ia menceritakan Bani Israil dan Isa as. dalam hal perintah mencari dan menyembelih sapi. Tergambar di situ betapa manusia memiliki kecenderungan untuk menciptakan kesukaran dan problemnya sendiri. Manusia, masyarakat dan kebudayaannya seringkali gagal memilahkan antara butuh dan mau. Kebutuhan dan kemauan. Kalau diterobos lagi : antara keperluan yang murni dengan nafsu. Baik yang tercermin secara individual maupun yang terkandung dalam gagasan-gagasan suatu sisitim bersama, dalam keputusan politik, kebijakan ekonomi, atau pemilihan pola kebudayaan.

Maka pentingnya mempertanyakan kembali anggapan-anggapan, sangkaan-sangkaan tentang kemajuan, modernitas, sukses dan peningkatan. Kita lihat misalnya menyangkut etos innovasi : gairah terhadap sesuatu yang baru dan terus baru lagi. Suatu denyut hidup di mana seseorang atau suatu masyarakat senantiasa memperbaharui diri, senantiasa ‘lahir kembali’, senantiasa yughoyyiru maa bianfusihim, untuk mengarah ke ‘kiblat’, yakni baitullah dalam arti yang kualitatif-essensial. Jadi usaha innovasi itu suatu mekanisme taqorrub. Cuma taqorrub ke mana dan ke apa, itu yang menjadi soal. Selama ini yang kita bisa saksikan dalam dunia ilmu pengetahuan, kesenian, serta berbagai kegiatan adab-budaya masyarakat, kita dipimpin oleh suatu ‘penguasa sejarah’ untuk mentaqorrub tidak ke Allah. Kita, seperti Bard Israil, cenderung menciptakan problemproblem kita sendiri, mengotak-atik suatu gagasan yang kita sangka itu suatu innovasi padahal semu dan mubadzir.

Sementara itu, tidak seperti Bani Israil, sesudah bertanya tentang sapi apa wamanya apa, hakekatnya bagaimana : kita tidak lantas sungguh-sungguh mencarinya, untuk kita sembelih. Di Surat Al-Baqoroh sapi betina itu adalah lambang subordinasi manusia terhadap kebendaan. Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Sedangkan kita, kalau tak salah lihat, cenderung semakin memelihara sapi itu, ‘sapi-sapi modern’, untuk kita sembah, meskipun mulut kita mengaku bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan kita.

Dalam persoalan ini, Al-Baqoroh telah jauh-jauh hari memberi kita alarm. Demikianlah, tentu dengan rasa was-was, sesungguhnya apa yang telah saya paparkan ini sekadar menjilat rasa asin samudera. Sungguh Maha Kaya Allah, yang ilmuNya hanya bisa saya cicipi amat sedikit namun yang amat sedikit itu pun sudah sangat menguras keringat jiwa dan raga, serta mampu merenggut seluruh energi kebahagiaan kita. Ayat terakhir Al-Baqoroh menuntun kita: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Ia memperoleh pahala dari kebajikan yang diperjuangkan serta dari keburukan yang dikerjakannya. Mereka berdoa : Wahai Tuhanku, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah. Wahai Tuhan kami janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami sesuatu yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang ingkar”.

About these ads