Dalam masyarakat, disitulah tempatmu, wahai mubalighul Islam ! disitu awal hidupmu dan disitu pula kesudahan hayatmu. Saya jarang melihat ulama atau mubalighul Islam yang bias menjadi parlementarir yang baik, yang dapat diketengahkan. Mubaighul Islam seperti H. Zainal Abidin Ahmad, adalah seorang parlementarir yang boleh dibanggakan. Tapi jangan lupa, beliau sejak muda telah menjuruskan minat dan mengembangkan bakatnya dalam soal-soal politik Islam. Beliau ahli teori ideology Islam sejak Partai Islam Indonesia dahulu. Jadi beliau bukanlah “politisi mendadak”.
Yang banyak saya lihat adalah Ulama atau Mubalighun Islam yang kesasar, salah jalan. Beliau-beliau itu diangkat oleh partainya menjadi anggota parlemen yang terhormat. Karena telah menjadi anggota parlemen, berubahlah sikap, berubahlah pakaian, dan berubah pula kelakuan.
Akan tetap memakai sarung, awak malu, karena sarung tidak cocok lagi dengan kedudukan sebagai anggota parlemen. Digantinya dengan celana pantaloon. Karena tidak biasa memakai pantaloon, canggung juga kelihatannya Kiyai kita ini.
Biasa dalam masyarakat memakai peci dan sorban, karena sudah menjadi anggota parlemen, sorban dan peci harus ditinggalkan, dan kini Kyai kita telah terbuka tendanya.
Kalau dahulu member fatwa haram hukumnya berjabatan tangan dengan wanita, dan tidak boleh bergaul bebas dengan kaum hawa, kini telah lancer saja, segala boleh karena “darurat”, sebab kini telah menjadi anggota parlemen.
Saudara mau tahu apa kerjanya dalam parlemen?
Masuk ke ruang sidang, tanda-tangani daftar hadir, duduk sebentar mendengarkan orang lain, masuk ke loby minum kopi, ambil naskah parlemen di box, lantas pulang k penginapan. Naskah itu tak pernah dibaca karena tidak mengerti, setelah banyak, jual ke tukang loak.
Saya sama sekali tidak menghina ulama dan mubalighul Islam. Yang saya katakana adalah fakta, bukan fantas atau khayali. Dengan pasti saya katakana, Kyai atau mubaligh yang digambarkan diatas, bukan tempatnya menjadi anggota parlemen. Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa yang menyerahkan suatu urusan kepada bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya!”
Saya lebih menghormati seorang Kyai yang tekun menghadapi pesantren dan masyarakat daripada seorang anggota parlemen yang mentereng tampaknya, tapi kosong isinya. Saya menyerukan kepada partai-partai Islam, agar mereka meninjau kebijaksanaan yang ternyata salah itu.