ku: Mama Mughni Shiddiq

Islam berarti tunduk atau patuh dan berserah diri. Islam juga berarti sentosa, damai, atau selamat. Oleh karena itu, orang yang berserah diri, tunduk dan patuh kepada Allah, maka ia dikatakan sebagai muslim. Hanya kebanyakan manusia zaman ini, mereka hanya mengaku muslim atau mengaku beragama islam, akan tetapi mereka tidak mau tunduk dan patuh kepada peraturan yang dibuat Allah. Oleh karena itu mereka disebut “Muslim abangan”. Abangan dalam istilah jawa digunakan terhadap pemeluk islam dijawa yang kurang memperhatikan perintah-perintah Allah dan kurang teliti dalam memenuhi kewajiban-kewajiban agamanya.

Adapun definisi islam menurut istilah selain dari yang disebutkan dimuka, ialah menurut harun nasution, bahwa islam adalah agama yang diwahyukan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad saw, sebagai rasul.

Namun ada sekelompok orang yang mengartikan bahwa islam itu bukan agama tetapi islam adalah hukum, karena agama itu berasal dari bahasa sangsakerta, A=tidak GAMA=KACAU, dan adapun ayat “sesungguhnya din yang diridhoi Allah hanyalah islam” din menuruk kelompok ini (an-nadhir) adalah hukum dan islam adalah selamat, maka hukum yang selamat adalah hukum yang berlandaskan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

islam ini langsung diberikan Allah, sebagaimana firmannya:

“Hari ini telah kusempurnakan agamamu, dan telah kucukupkan ni’mat-Ku untukmu, dan aku rela islam sebagai agamamu.”

Pada era globalisasi ini, banyak manusia tidak memperhatikan dasar, prinsip, dan syari’at agama. Hidup mereka hanya terukur oleh materi belaka. Mereka anggap bahwa agama itu sudah kuno, warisan tempo dulu. Perhatian mereka hanya tertuju pada uang, jabatan, dan kekayaan. Padahal pada fitrahnya manusia itu membutuhkan agama. Ada beberapa alasan mengapa manusia membutuhkan agama:

· Latar belakang fitrah manusia.

Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia adalah melatarbelakangi terhadap kebutuhan manusia terhadap agama. Oleh karenanya, ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan itu memang amat sejalan dengan fitrahnya. Dalam konteks ini Allah berfirman:

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetapkanlah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrahnya itu.” (QS. AL-Rum: 30)

Sejalan dengan itu, istilah insan yang digunakan al-Qur’an untuk menunjukan manusia, mengacu kepada informasi yang diberikan al-Qur’an, menurut Musa Aay’ari, insane adalah manusia yang menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya.. insane adalah ciptaan Tuhan yang sempurna bentuknya dibandingkan makhluq ciptaan Tuhan yang lainnya, seperti; binatang, tumbuh-tumbuhan, malaikat, dan lain sebagainya., isnsan juga dilengkapi dengan kemampuan mengenali dan memahami kebenaran dan kebaikan yang terpancar dari ciptaan-Nya. Musa Asy’ari mengatakan bahwa pengertian manusia yang disebut insan karena menunjukan lapangan manusia kegiatan manusia yang luas adalah terletak pada kemampuan menggunakan akalnya dan mewujudkan pengetahuannya dalam kehidupan kongkret. Berbeda dengan kata basher yang digunakan al-Qur’an untuk menyebut manusia dalam pengertian lahiriahnya yang membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, hidup, kemudian mati.

Jadi, seandainya ada manusia yang tidak beragama dan tidak mempercayai adanya tuhan, maka ia telah menentang fitrahnya sebagai manusia.

Bukti bahwa manusia memiliki potensi untuk beragama ini dapat dilihat dari segi historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitive yang kepadanya tidak pernah datang risalah mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan.

· Kelemahan dan kekurangan manusia

Disamping manusia memiliki kesempurnaan, manusia juga memiliki banyak kekurangan. Dalam al-Qur’an nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi untuk melakukan kebaikan dan keburukan.

“Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketaqwaan.” (QS. Al-Syams: 7-8)

Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia melalui nafs menangkap makna baik dan buruk, serta mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Walaupun al-Qur’an menegaskan bahwa nafs berpotensi positifr dan negatif, namun pada hakekatnya potensi positif manusia lebih kuat, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Beberapa keburukan yang cenderung ada pada manusia, dzalim, melampaui batas, sombong, ingkar, dan khianat. Karena itu manusia harus bisa menjaga kesucian nafs, untuk menjaganya ini manusia harus mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan bimbingan agama,n maka disinilah letaknya kebutuhan manusia terhadap agama.

· Tantangan manusia

Manusia dalam hidupnya selalu menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam seperti syetan dan hawa nafsu, ataupun dari luar yang berupa rekayasa-rekayasa dan upaya manusia yang sengaja ingin menjauhkan manusia dari Tuhan. mereka mengeluarkan biaya yang banyak agar orang mengikuti keinginannya, berbagai bentuk budaya, hiburan, dan sebagainya. Guna menjauhkan manusia dari Tuhannya. Untuk itu, metode atau upaya mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat dalam menjalankan agama.

Agama adalah kebutuhan vital bagi manusia. Karena agama sanggup menciptakan hubungan harmonis antara makhluq dengan penciptanya, dan antara makhluq dengan makhluq. Agama pula yang mampu membersihkan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia seperti membunuh, berzina, memakan yang bukan haknya. Disini agama bukan berarti mengekang fitrah manusia , misalnya: memerlukan makan dan minum, memerlukan hubungan biologis, dan sebagainya, tetapi agama itu mengaturnya. Agar manusia merealisasikan fitrahnya itu untuk mencapai keridhoan Tuhan.

Agama pula yang menanamkan cinta keadilan dan kebenaran. Serta saling mencintai. Sebagaimana yang disbutkan dalam sebuah hadits “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai saudaranya sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Hadits ini menggambarkan bahwa islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sebenarnya. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan dan bukan hal-hal lain, sehingga betul-betul merupakan persaudaraan yang murni.

Begitu banyak keutamaan agama yang sanggup menciptakan setiap individu bermoral, keluarga harmonis, masyarakat adil dan makmur, dan kemajuan yang pesat.

Namun yang jadi soal, agama apakah yang mampu membuktikan itu semua? Agama itu adalah islam.

Islam datang dengan membawa aqidah dan syari’at sebagai pedoman hidup untuk manusia. Dari bidang akidah, islam berbicara tentang:

· Allah. Dia adalah Tuhan yang Maha Hidup, tiada sekutu bagi-Nya, dia tak pernah beristirahat sekejap mata pun dan tak pernah tidur. Dalam sebuah hikayat disebutkan bahwasanya nabi Musa pernah bertanya kepada Allah “Ya Allah, kenapa engkau tidak pernah tidur?” maka Allah menyuruh nabi Musa memegang sebuah mangkok sambil berdiri, dan jangan tidur sekejap mata pun. Maka nabi Musa melaksanakan perintah Allah, ketika nabi Musa memegang mangkok itu nabi Musa tertidur, dan akhirnya mangkok itu pecah. Maka Allah berfirman: “Hai Musa seandainya Aku tidur, maka dunia ini akan hancur seperti mangkok itu.”.

Adapun sifat Allah itu ada 20, salah satunya adalah wujud (ada), qidam (terdahulu), qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri) dan lain sebagainya. Sifat –sifat ini tidak dimiliki oleh manusia dan manusia tidak bisa untuk mengikutinya. Berbeda dengan af’al-Nya Allah yang harus kita ikuti seperti ar-Rahman (Maha pengasih), dengan memberikan kasih sayang kepada manusia yang lalai, yaitu dengan mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah dengan cara memberikan nasihat dan wejangan dengan cara lemah lembut. Nama Allah yang lain seperti ar-Rahim (Maha Penyayang), kita harus mengikuti akhlaq Allah ini dengan tidak meninggalkan orang yang membutuhkan pertolongan kecuali ia memberikan bantuan kepadanya sebatas kemampuannya.

· Wahyu dan proses penurunannya. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad secara berangsur-angsur. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah secara mutawatir agar mudah dimengerti oleh manusia. jika Allah menurunkannya langsung, maka manusia akan susah untuk menerimanya, dikarenakan al-Qur’an adalah perkara yang baru bagi mereka (bangsa arab).

· Nabi-nabi dan rasul. Nabi dan rasul itu berbeda, jika nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu dari Allah namun tidak diwajibkan untuk menyebarkannya, jika rasul wajib untuk menyebarkannya. Seperti nabi Muhammad saw. Beliau ditugaskan oleh Allah untuk menyampaikan ajaran-Nya seperti nabi dan rasul sebelumnya, tapi perlu ditegaskan disini, nabi Muhammad itu bukan pendiri islam dan bukan pengarang agama islam serta islam itu bukan pendapat nabi Muhammad, akan tetapi nabi Muhammad hanyalah seorang rasul, pembawa dan penyampai agama islam, dimana agama islam itu adalah wahyu dari Tuhan

“Muhammad itu hanyalah seorang rasul (utusan), sungguh telah lalu sebelumnya beberapa orang rasul” (QS. Ali Imran:144)

“Dan dia (Muhammad) tiada berkata menurut kemauan hawa nafsunya. Perkataannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An-Najm:3-5)

Namun ada suatu kekeliruan di barat, mereka menyebut islam dengan “Muhammadanisme” dan “Muhammedan”. Hal ini terdapat, seperti judul buku “Muhammadanism” yang dikarang oleh H.A.R. Gibb.

Pemilihan nama ini, bukan saja tidak tepat tapi juga secara prinsipil, telah dapat mengubah pengertian, bahwa agama islam adalah paham Muhammad, dan lebih dari itu mengandung arti pemujaan terhadap Muhammad. Mereka mengambil pengertian dari agama lain, sebagaiamana perkataan “Kristen” dan kekeristenan yang mengandung pemujaan terhadap Yesus Kristus.

· Malaikat dan masalah Ruh. Malaikat adalah makhluq Allah yang terbuat dari cahaya. sifat malaikat itu tunduk dan patuh kepada segala perintah Allah. Jumlah malaikat itu sangat banyak, namun yang wajib kita ketahui ada 10 yaitu: Jibril, Mika’il, Izrail, Israfil, Munkar, Nakir, Rakib, Atid, Malik, Ridwan. 10 malaikat ini memiliki tugas yang berbeda. Seperti Jibril tugasnya adalah menurunkan wahyu, atau Izra’il bertugas untuk mencabut nyawa. Dan seterusnya.

Adapun Ruh saya serahkan kepada Allah.

Dan adapun batasan-batasan yang mengarahkan pada pembentukan moral mulia dan keharmonisan manusia, Islam sangat perhatian sekali terhadap pembinaan moral ini, Dalam sebuah hadits disebutkan “agama (islam) itu ialah budi pekerti yang baik.”. menurut ajaran islam, akhlaq itu adalah agama. Akhlaqul karimah, budi pekerti terpuji, menjadi sifat dan perangai para nabi, shadiqin, dan para shalihin. Bagaimana mereka mempraktekannya kepada manusia seperti saling menghormati, saling menyayangi, dan saling menghargai. Ataupun kepada binatang,dan tumbuh-tumbuhan mereka menjaganya, dan memeliharanya.

Islam mengajarkan kepada kita agar memiliki budi pekerti yang baik, guna menciptakan ketenangan jiwa. Dalam Riyadlus Shalihin, terdapat pengertian tentang akhlaq

“ kebaikan itu merupakan akhlaq yang baik. Dan kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat mendatangkan ketenangan jiwa, dan menenangkan hati. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang dapat menimbulkan keraguan dan kebimbangan jiwa, dan dapat menimbulkan kegoncangan dalam hati.”

Perbuatan baik, sebagian daripada akhlaq. Dan kebaikan itu dapat menenangkan hati, menyejukan jiwa. Jiwa tenang berarti jiwa yang sehat. Sebaliknya perbuatan yang tidak baik, dapat menggangu jiwa dan meragukan hati. Hati yang senantiasa ragu, berarti hati yang tidak sehat. Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik. Sabdanya: “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia.”

Banyak ahlaq terpuji yang diajarkan oleh agama islam, antara lain:

* Keberanian dalam kebenaran.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang kafir yang mnyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan Allah dan tempatnya ialah neraka jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.”(al-Anfal:15-16)

* Pemurah

Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”(Ali Imran:92)

Rasulullah bersabda: “Berinfaklah kamu dan jangan menghitung-hitung, maka Allah akan menghitung-hitung pula terhadapmu, dan janganlah kamu bakhil, sebab jika kamu bakhil Allah akan bakhil terhadapmu.

* Adil

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah kamu karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(al-Maidah:8)

Rasulullah bersabda: “ada tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga lagi membinasakan, yang menyelamatkan adalah: berlaku adil padawaktu marah dan waktu suka. Dan takut kepada Allah baik dalam waktu sendirian maupun dikhalayak ramai, dan berlaku sederhana di waktu miskin dan pada waktu kaya.”

* Benar

Allah memberika pahala kepada orang-orang yang benar, sebagaimana firman-Nya:

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendakinya, atau menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(al-Ahzab:24)

Rasullullah bersabda: “usahakanlah supaya kamu benar walaupun dalam anggapanmu dalam sikap benar itu ada kebinasaan, sesungguhnya pada sikap benar itu ada keselamatan. Dan jauhilah sikap berdusta walaupun dalam anggapanmu dalam berdusta itu ada keselamatan, sesungguhnya kebinasaan itu terdapat dalam berdusta.”

* Menjaga amanat

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil, sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(an-Nisa:58)

Rasulullah bersabda: “Sampaikanlah amanat kepada orang yang mengamanatkan kepadamu, dan janganlah kamu berkhianat kepada orang yang khianat kepadamu,”

* Pemaaf

Allah berfirman: “Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan sesungguhnya perbuatan itu termasuk urusan-urusan yang diutamakan.” (asy-Syura:43)

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memberi maaf ketika ia mampu membalas, maka Allah akan mengampuni ia di saat kesukaran”

* Kasih sayang

Allah berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kamu sendiri, berat rasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayang”

* Tawadhu/tidak sombong

Allah berfirman: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanku.” (al-a’raf:146)

Rasulullah bersabda: “sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kamu semua bertawadhu’ sehingga tidak ada yang sombong terhadap lainnya dan seorang tidak menganiaya yang lainnya.”

Inilah antara lain daripada akhlaq yang diajarkan oleh islam yang langsung dicontohkan oleh nabi Muhammad.

Adapun pada masalah sosial, islam mencurahkannya dalam beberapa aspek:

· Aspek keluarga

Menurut ajaran islam, keluarga itu erat sekali hubungannya dengan perkawinan. Dan karena perkawinan maka terbentuklah keluarga. Jelasnya, dasar utama terbentuknya keluarga karena ada ikatan perkawinan Allah berfirman dalam surat ar-Rum ayat 71:

“Dan diantara kekuasaan-Nya. Ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.”

Dari firman Allah itu dapat diambil kesimpulan bahwa perkawinan menurut islam bertujuan.

1. Membina kehidupan yang tentram, tenang, dan bahagia.

2. Membina sikap yang rukun, damai, penuh rasa cinta mencintai dan penuh kasih sayang.

3. Supaya memperoleh keturunan yang sah, untuk melanjutkan generasi.

Namun secara garis besarnya, islam menuntunkan agar dapat dibina keluarga yang penuh tanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap diri masing-masing, bertanggung jawab terhadap keluarga, dan bertanggung jawab terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Untuk memberikan garis-garis kepemimpinan dalam keluarga, dan cara-cara memimpinannya, telah ada garis-garis di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“laki-laki menjadi pemimpin kaum wanita, karena karunia Tuhan melebihkan yang satu dari yang lain. Dan karena mereka (Laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri, di balik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara mereka.”(an-Nisa:34)

Dijelaskan dalam hadits: “Laki-laki yang paling baik adalah yang amat baik kepada istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku. Tidak ada yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidak ada yang menghina wanita kecuali orang yang hina pula.”

· Aspek kemasyarakatan.

Agama islam adalah agama yang universal dan lengkap. Bukan saja mengatur urusan ubudiyah, hubungan manusia dengan Tuhannya, melainkan juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia, dan mengatur pula penguasaan alam seisinya untuk dipergunakan dan dimanfa’atkan untuk kepentingan maslahat umat.

Islam juga mengatur kehidupan seimbang antara kepentingan jasmaniah dan rohaniah, antara dunia dan ukhrowi, dan antara kehidupan sekarang dan hari esok.

Untuk mencapai itu semua, maka oleh Islam, kehidupan ini diatur dalam bidang-bidang, dan masing-masing bidang hendaknya dihadapi oleh ahlinya. Garis-garis pembidangan itu, telah diberikan oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Ketika kamu berada dalam daerah urusan agama, maka serahkanlah kepadaku. Dan ketika kamu berada dalam daerah urusan duniawimu, kamu lebih tahu tentang duniawimu.”(HR. Muslim)

.tetapi urusan duniawi itu tidak bertantangan dengan ajaran islam. Dan islam menyerahkannya kepada manusia, seperti dalam bertani dang sebagainya.

Diantara etika kemasyarakatan dalam ajaran islam adalah soal sopan santun, adab masuk rumah, serta upaya mencegah kemungkinan terjadinya zinah.

Alangkah indahnya agama yang di bawa Rasulullah ini, agama yang mengajarkan manusia saling berkasih sayang, agama yang mengajarkan manusia saling menghormati, dan agama yang menjunjung tinggi akhlaqul karimah.

Adapun masalah dunia, manusia berbeda pandangan, ada sebagian manusia memandang bahwa bahagia itu kenikmatan materi dan penguasaan harta benda semata. Sementara kelompok lain ada yang mengasingkan diri dari kenikmatan materi dan memutuskan hubungan dengan dunia.

Kedua pandangan diatas jelas salah, dan nyata tidak sesuai dengan pembawaan manusia, serta menentang dedikasinya sebagai makhluk pembuat kebaikan di muka bumi. Pandangan pertama yang terfokos pada kenikmatan materi, amatlah bertentangan dengan eksistensi dirinya sebagai manusia. Karena dunia ini hanyalah sementara dan akan rusak karena hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat kelak. Adapun kelompok yang ke dua, karena mereka lari dari kenyataan dalam artian meniggalkan jalur hidup wajar dan memotong kebutuhan hidup. Padahal dunia ini adalah jalan untuk menuju akhirat.

Adapun kenahagiaan menurut pandangan islam, ketika dia mencapai kesuksesan yang hakiki yakni “ketika kita ridho terhadap diri kita, ketika orang lain ridho terhadap diri kita, dan Allah pun ridho terhadap diri kita”.