Judul Buku:

Aku Melawan Teroris

Penyusun:

Imam Samudra

Penerbit: Jazeera

PO Box 174 Solo,
E-mail : jazeera@telkom.net

September 2004

Sedari awal telah kukatakan kepada segenap Tim Pengacara Muslim (TPM) bahwa, tidaklah layak aku menulis autobiografi, karena memang tidak layak. Orang-orang yang ditakdirkan telah ditinggikan dan diharumkan namanya oleh Allah semisal Syaikh Usamah bin Ladin, atau Syaikh Maulawi Mullah Umar, dan tokoh-tokoh mujahidin lainnya –hafizhahumullah– itulah yang patut ditulis dan dikenang biografi mereka.

Di sisi lain, kita punya kewajiban mematahkan street judgment yang selalu menyeret para mujahidin –dengan serangkaian aksi jihad mereka– ke dalam satu posisi yang amat sangat terpojok. Serangkaian aksi jihad mereka selama ini dianggap terjadi karena faktor kemiskinan, kekumuhan, keterpinggiran, ketertutupan (eksklusif), ketertinggalan, keterbelakangan, ketidaktahuan, kebodohan, bahkan ‘kesesatan’ dalam memahami dienul islam. Maka berpadulah antara keengganan menulis autobiografi dan kewajiban memberikan penjelasan dalail (dalil-dalil) syar’i operasi jihad semisal Jihad Bom Bali kepada kaum Muslimin.

Hal lain, kemasyhuran adalah suatu perkara yang wajib dicurigai. Betapa naifnya seorang muslim yang dikaruniai Allah kemampuan beramal jihad, sementara pada akhir kehidupannya terdapat pernik-pernik sum’ah (popularitas) dalam hatinya. Ia mati dengan membawa syirik kecil. –naudzu billahi min dzalik–. Inilah yang saya maksud dengan ‘biografi setengah hati’, biografi yang tak utuh, yang diiringi oleh kekhawatiran akan hari pertanggungjawaban kelak. Ada pula faktor-faktor lain yang tidak perlu kuceritakan disini.

Alhamdulillah, di atas segalanya, hal yang bagi saya cukup penting dan bermakna ialah bahwa naskah asli buku ini ditulis dengan tinta yang halal, di atas kertas yang halal pula, dengan perantaraan Pak Qadar, Pak Michdan dan saudara-saudara se-islam di TPM. Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara.

Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, sebenarnya ingin kusampaikan pesan terutama generasi muda islam bahwa ilmu hacking dan membaca Kitab Kuning –yang selama ini dipahami secara antagonis–, adalah sama-sama harus dikuasai atau minimal dimengerti. Akan semakin bagus jika memahami ilmu bombing atau jurus-jurus fighting dan killing yang digunakan untuk jihad fie-sabilillah. Maka, dalam pertempuran akhir zaman yang sudah di ambang pintu ini, berusahalah untuk menjadi preacher (ustadz/ da’i), hacker, bomber dan fighter atau killer! Demi Izzul Islam wal Muslimin. La Hawla wala Quwwata illa Billah. Allaahummaj’alna minhum. Untuk membaca buku ini klik Download