Sekelompok orang-orang musyrik berkumpul di hijr Ibrahim disamping ka’bah. Mereka mengkhawatirkan Muhammad yang semakin berani menyiarkan agamanya dan menghina agama serta berhala-berhala yang mereka sembah. Muhammad bahkan berani menyebut para pembesar Quraisy sebagai orang-orang yang tidak berakal.

Akhirnya, diambil kesepakatan bahwa mereka harus bersatu. Skenarionya, ketika Muhammad memasuki masjidil haram, mereka akan menyerangnya bersama-sama, menusuk dan memukulnya hingga ia tewas. Kesempatan ini membuat mereka lega.
Mereka mengira tidak ada yang mengetahui rencana matang itu. Tetapi Allah berkehendak menggagalkan tipu daya mereka. Fatimah az-zahra. Ternyata mendengar apa yang mereka rencanakan. Ia segera berlari pulang, dipeluknya ibunya, dengan air mata yang bercucuran, Khadijah mengajaknya menemui Rasulullah.
Rasulullah menghadapi istri dan putri beliau dengan tenang. Beliau bertanya-tanya apa yang terjadi, Fatimah pun bercerita.
”orang-orang Quraisy telah menyusun rencana untuk meembunuh anda. Kalau anda terlihat oleh mereka, mereka akan segera melakukannya. Setiap orang telah mengetahui bagaimana yang harus dipertanggung jawabkannya dari darahmu”
Rasulullah tidak terkejut mendengar berita itu. Beliau menyuruh untuk membawakan air untuk berwudhu. Melihat ketenangan wajah Ayahnya, Fatimah pun ikut merasa tenang. Diambilkannya air sebagaimana diperintahkan ayahnya.
Setelah berwudhu, Rasulullah segera keluar menuju ka’bah. Beliau terlihat begitu agung dan berwibawa. Tatkala orang-orang kafir itu melihat Rasulullah, seketika itu wajah mereka menjadi pucat. Mereka menundukan kepala, tidak berani memandang Rasulullah yang berjalan menuju mereka. Semua rencana-rencana yang mereka sepakati seakan-akan tidak pernah ada. Semua diam tidak mampu bergerak, Rasulullah terus berjalan dengan tenang.
Begitu tiba dihadapan mereka, Rasulullah membungkuk dan meraup segenggam pasir dari tanah. Pasir itu beliau lemparkan kepada mereka sambil berkata.
”terhinalah wajah-wajah kalian.”
Setiap orang yang terkena lemparan itu tewas terbunuh pada perang badar dalam keadaan kafir.
Rasulullah pun pulang, disambut dengan gembira oleh Fatimah dan Khadijah. Yang sejak lama menunggu beliau dengan cemas.