Sebelum Umar bin Khathab masuk Islam, dia sangat sedih ketika sesam anggota masyarakatnya yang telah masuk Islam lebih dulu pergi menuju Abasania (Habasyah) untuk berhijrah. Sesudah mereka disiksa dan di aniaya. Selalu ia memikirkan hendak mencari jalan untuk menyelamatkan mereka dari keadaan demikian. Ia berpendapat keadaan ini baru akan dapat diatasi apabila ia segera mengambil tindakan tegas. Ketika itulah ia mengambil keputusan akan membunuh Rasulullah. Selama ia masih ada, Quraisy tak akan pernah bersatu. Pikirnya.

Suatu pagi ia pergi dengan pedang terhunus ditangan hendak membunuh Rasulullah dan beberapa orang sahabat beliau yang sudah diketahuinya mereka sedang berkumpul di Darul Arqam di Safa. Jumlah mereka hamper empat puluh orang laki-laki dan perempuan. Sementara, dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah yang lalu bertanya,
“Hendak kemana anda?”
Di jawab oleh Umar, “Aku sedang mencari Muhammad, dia adalah orang yang telah meninggalkan agama leluhur dan memecah belah Quraisy. Menistakan lembaga hidup kita, menghina agama dan sembahan kita, aku akan membunuhnya!”
Nua’im berkata, “Anda menipu diri sendiri, Umar. Anda kira Abdu-Manaf akan membiarkan anda bebas berjalan di bumi ini jika sudah membunuh Muhammad? Tidakkah lebih baik anda pulang dulu menemui keluargamu dan luruskan mereka!”
“Keluargaku yang mana?” Tanya Umar
Kawannya itu menjawab, “ipar dan sepupu anda Said bin Zaid bin Amr, dan adikmu Fathimah binti Khathab. Mereka sudah masuk agama Islam, dan menjadi pengikut Muhammad. Mereka itulah yang harus anda hadapi.”
Umar kembali pulang hendak menemui adik dan iparnya. Ketika itu disana ada Khabbab bin al-Arat yang sedang memegang lembaran-lembaran al-Qur’an sambil membacakan kepada mereka surah Taha. Begitu mereka merasa ada Umar datang. Khabbab bersembunyi di kamar mereka dan Fathimah menyembunyikan kitab itu. Setelah berada dekat dari rumah itu, Umar masih mendengar bacaan Khabbab tadi, dan sesudah masuk langsung ia menanyakan,
“Saya mendengar bisik-bisik suara apa itu?”
“Saya tidak mendengar suara apa-apa” jawab Fathimah.
“Tidak!, saya telah mendengar bahwa kamu berdua sudah menjadi pengikut Muhammad dan agamanya!” kata Umar. Ia berkata begitu sambil menghantam Sa’id bin Zaid keras-keras
Fathimah yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras. Melihat tindakan Umar yang demikian, mereka berkata,
“Ya. Kami sudah masuk Islam, kami telah beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Sekarang lakukan apa saja sekehendak anda.”
Melihat darah yang mengucur di muka adiknya itu, Umar merasa menyesal, dan menyadari apa yang telah diperbuatnya.
“Kemarikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi, saya akan melihat apa yang diajarkan Muhammad!” kata Umar
“Kami khawatir akan anda sia-siakan” jawab Fathimah
Umar berkata, “Jangan takut.!”
Ia bersumpah demi dewa-dewanya, bahwa ia akan mengembalikannya bilamana sudah selesai membacanya.”
Kitab itu diberikan oleh Fathimah, sesudah sebagian dibacanya, ia berkata,
“Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini.”
Mendengar kata-kata Umar itu Khabbab yang sejak tadi bersembunyi keluar dan katanya,
“Umar. Demi Allah saya sangat mengharapkan Allah akan memberikan kehormatan kepada anda dengan ajaran rasul-Nya ini. Kemarin saya mendengar Rasulullah berdo’a, ‘Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau dengan Umar bin Khathab.’. berhati-hatilah Umar!”
Ketika itu juga Umar berkata, “Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad, saya akan menemuinya dan akan masuk Islam.”
Dijawab oleh Khabbab, “Beliau dengan para sahabatnya di sebuah rumah di Safa.”
Umar mengambil pedangnya dan pergi langsung mengetuk pintu dimana Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berada.
Mendengar suaranya, salah seorang diantara mereka mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Umar yang sedang menyandang pedang. Ia kembali ketakutan sambil berkata kepada Rasulullah,
“Ya Rasulullah, Umar bin Khathab datang membawa pedang.”
Tetapi Hamzah bin Abdul Muthalib menyela, “izinkan dia masuk, jika tujuannya baik, Kita sambut dengan baik, kalau tujuannya jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri.”
Rasulullah berkata, “Izinkanlah dia masuk!”
Sesudah diberi izin, Rasulullah berdiri menemuinya di sebuah ruangan. Digenggamnya baju Umar kemudian ditariknya kuat-kuat seraya berkata,
“Ibnu Khathab, apa maksud kedatanganmu? Rupanya anda tidak akan berhenti sebelum Allah mendatangkan bencana kepada anda.”
Umar berkata, “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menyatakan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah.”
Ketika itu juga Rasulullah bertakbir, yang oleh sahabat-sahabatnya sudah difahami bahwa Umar masuk Islam.