tahlilanOleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Kata-kata “Tahlilan” sudah tidak asing lagi di telinga kaum nahdiyin, sesuai kebiasaan, tahlilan ini dilakukan jika ada seorang muslim yang meninggal dunia. Mulai dari hari pertama sampai ketujuh, kemudian hari keempat puluh, seratus, dan seribu. Dengan tujuan mendo’akan mayit agar diampuni Allah dan dirahmati Allah.
Ada beberapa kebiasaan dalam tahlilan, yaitu:
Membaca surat-surat dalam al-Qur’an, seperti al-Fatihah, al-ikhlas, al-Falaq, an-Nas, al-Baqarah, ayat kursi, dan lain sebagainya.
Membaca shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW
Memohonkan ampun kepada Allah, bagi seluruh orang-orang mu’min dan muslim, yang yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia.
1. Membaca hailalah atau kalimat “Laailaha illallah”
2. Terakhir adalah pembacaan do’a, bagi seluruh kaum muslimin khususnya bagi si mayit.
3. Dan yang paling terkhir adalah keluarga  si mayit selalu memberikan bingkisan baik berupa makanan ataupun barang 4. seperti sajadah, tasbih, dan kopiah, kepada para “Peserta Tahlilan”. Atas nama si mayit.
Kita akan mengupas ini semua satu persatu.

Membaca surat-surat al-Qur’an.

Banyak sekali riwayat yang menerangkan tentang keutamaan membaca al-Qur’an, salah satunya  adalah “Barang siapa yang ingin berbicara langsung dengan Allah, maka hendaklah ia membaca al-Qur’an” (al-Hadits). Dalam hadits lain juga beliau bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari al-Qur’an, maka baginya sebuah kebaikan, sedang sebuah kebaikan adalah dilipatkan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi aku mengatakan Alif itu adalah sebuah huruf, Laam adalah sebuah huruf, dan Miim adalah sebuah huruf juga.”(at-Tirmidzi)

Membaca shalawat atas Nabi Muhammad

Shalawat kepada Nabi Muhammad adalah salah satu ungkapan cinta kepadanya. Bershalawat adalah ibadah yang sangat berbeda dengan ibadah lainnya, kenapa seperti itu?, ketika Allah memerintahkan shalat kepada kita, apakah Allah shalat?, ketika Allah memerintahkan Haji kepada Kita, apakah Allah pergi Haji?. Inilah bedanya dengan shalawat, sebelum Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bershalawat, maka Allah terlebih dahulu membaca shalawat kepada Nabi, setelah itu baru Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-ya. Allah berfirman dalam surat al-Ahzab:56, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad. Dengan mengucapkan Perkataan seperti:Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi.

Memohon ampunan kepada Allah bagi si mayit

Alangkah sombongnya kita jika tak mau memohon ampunan Allah, Rasulullah pun yang sudah dijamin masuk Syurga, beliau tetap memohon ampunan kepada Allah. Memohon ampun kepada Allah jangan hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk orang lain, agar kita tak disebut sebagai orang yang “Bakhil”. Makanya jika kita memohon ampun, biasanya menggunakan kalimat “Allahummaghfir lil mu’minin wal mu’minat, wal mslimin wal muslimat al ahyai min hum wal amwaat” (Allah. Ampunilah dosaku, kemudian dosa segenap kaum mumin dan mu’minat, muslim dan muslimat, baik yang masih hidup ataupan yang sudah meninggal). Allah berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr:10)

Membaca kalimat “Laailaha illallah”

Rasulullah bersabda, “sebaik-baik dzikir adalah laailaha illallah” karena dengan membaca kalimat ini berarti kita telah berikrar bahwa tak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dan bahwa Allah lah satu-satunya illah.

Membaca Do’a

Kenapa kita harus berdo’a? karena kita adalah makhluq yang begitu lemah, mahkluq yang begitu tak berdaya. Oleh sebab itu kita memerlukan bantuan dan pertolongan Allah, dalam pemenuhan kebutuhan kita. Allah berfirman, “Bedo;alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan permohonan kalian”. Jangan hanya berdo’a untuk diri sendiri, tapi juga berdo’a untuk saudara-saudara kita kaum muslimin, terutama bagi yang telah wafat. Rasulullah pernah mendo’akan salah seorang sahabatnya yang sering bercanda, sehingga beliau selalu dibuatnya tertawa. Ketika dia meninggal dunia, beliau berdo’a “Allah.. tertawakanlah sahabatku ini, sebagaimana dia sering membuat aku dan sahabat-sahabatku tertawa.”

Bersedekah atas nama si mayit.

Yang jadi permsaalahan disini adalah, apakah akan sampai jika kita bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal? Rasululah bersabda, “Bersedekahlah untuk dirimu sendiri dan untuk orang-orang matimu walaupun hanya dengan seteguk air. Jika engkau tidak dapat itu, maka dengan sebuah ayat dari al-Qur’an, jika engkau tidak mengetahui sesuatu dari al-Qur’an, maka do’akanlah supaya mendapat ampunan dan rahmat, karena Dia benar-benar telah menjanjikan pada kamu untuk dikabulkan.” Dalam hadits lain, Rasulullah pernah ditanay oleh sahabatnya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan aku ingin bersedekah atas namanya, tapi dia tidak pernah berwasiat untuk hal ini, apakah sedekahku ini akan sampai kepadanya?” maka Rasulullah bersabda, “Ya.” (HR. Bukhori)
Setelah melihat uraian di atas, yang jadi masalah adalah bahwa ada sebagian kaum muslimin yang melarang kegiatan “Tahlilan” ini, mereka menganggap bahwa tahlilan adalah sesuatu yang diada-adakan yang berarti Bid’ah, dan ini dianggap menyimpang dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Saya mengakui bahwa Tahlilan memang tidak ada sejak zaman Rasulullah, namun hanya dari segi bentuknya saja, tapi isi dari Tahlilan itu sudah diajarkan oleh Allah dan kemudian Rasul-Nya, seperti membaca al-Qur’an, membaca shalawat, memohon ampun, membaca dzikir, dan berdo’a. Nah jika ada saudara-saudara kita yang membid’ahkan tahlilan ini, kenapa mereka tidak membid’ahkan Kuliah juga? Apakah sejak zaman Rasulullah sudah ada, bahwa menuntut ilmu itu harus mengisi dulu registrasi, kemudian harus isi absen, terus harus mengerjakan tugas, dan harus wisuda? Ini semua tidak ada sejak zaman Rasulullah, namun isi dari kuliah yakni “Menuntut ilmu”, itu sudah diajarkan oleh Allah dan kemudian Rasul-Nya. Jadi apa bedanya Tahlilan dan Kuliah..?