Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

“Apabila salah seorang diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya, dan apabila masih tidak mamp, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)


Dalam syarah imam Nawawi dijelaskan, bahwa yang disebut dengan kemungkaran adalah segala sesuatu yang dilarang oleh syari’at, yang hukumnya haram.kemungkaran yang harus diubah adalah kemungkaran yang terlihat oleh mata. Jika tidak terlihat oleh mata namun diketahui, maka ini termasuk dalam pembahasan ini.

Kalimat “hendaknya ia merubahnya” dipahami sebagai perintah wajib bagi segenap kaum muslimin. Karena di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah telah ditetapkan perintah wajib untuk amar ma’ruf nahi munkar.

Namun amar ma’ruf dan nahi munkar yang dibebankan kepada kaum muslim, jika ia telah melaksanakannya, tapi orang yang diberi peringatan tidak mau melaksanakannya, maka pemberi peringatan telah terlepas dari celaan.Allah berfirman: “Tiadalah kewajiban seorang Rasul melainkan hanya menyampaikan”(QS. 5:9)

Hadits di atas menunjukan, bahwa dalam ber amar ma’ruf nahi munkar ada beberapa tingkatan, ini sesuai dengan kemampuan dan kedudukan orang yang memberi peringatan tersebut. Sebagaian ulama berpendapat bahwa merubah dengan tangan adalah kewajiban para penguasa, megubah dengan lisan adalah bagi para Ulama, dan merubah dengan hati adalah untuk seluruh orang yang beriman.

Bagi para penguasa merubah suatu kemunkaran adalah dengan cara menangkap dan menghukum pelaku kejahatan, jika telah jelas buktinya. Dan bagi para ulama adalah dengan memberi nasihat serta peringatan dengan lemah lembut dan bijaksana, baik melalui media seperti TV, mimbar, radio, dll. Ataupun menasihatinya secara langsung. Dan adapun bagi orang beriman secara umum adalah dengan cara mengingkarinya dalam hati, yakni meyakini bahwa perbuatan itu salah.

Orang yang melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, tidak harus telah mengerjakan seluruh perintah agama, den menjauhi seluruh laranganya. Ie tetap wajib melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar walaupun perbuatannya sendiri menyalahi hal itu. Hal ini karena seseorang harus melakukan dua perkara, yakni menjalankan amar ma’ruf nahi munka kepada diri sendiri, dan kepada orang lain. Jika yang satu dikerjakan, bukan berarti yang lain tidak.

Ini selalu terjadi di masyarakat, contoh: ketika seorang pemabuk melihat orang-orang yang sedang mabuk, dia tidak mau menasehatinya, karena dia berfikir “Masa aku harus melarang mereka mabuk, sedang aku sendiri seorang pemabuk.”. kalau semua masyarakat berfikir seperti ini, maka akan sulit untuk melaksanakan amar ma’ruf an nahi munkar.

Jika seseorang masih merasa dirinya belum baik, maka bukan berarti ia harus membiarkan suatu kemunkaran yang ada dihadapannya. Jadikanlah nasihatnya itu sebagai cambuk untuknya, agar ia pun merasa malu, dan akhirnya mau melaksanakan apa yang ia perintahkan kepada orang lain. Walaupun idealnya, orang yang memberikan nasihat itu adalah orang yang baik, yang mau menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Sekarang saya akan membahas syarat-syarat yag harus dimiliki oleh orang yang hendak ber amar ma’ruf nahi munkar. Menurut al-Faqih, syarat rang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar ada 5 yaitu: 1. Mempunyai ilmu, 2. Ikhlas karena Allah, 3. Ramah dan penuh kasih sayang, 4. Sabar, 5. Ia berusaha untuk melakukan apa yang ia suruh kepada orang lain.

v                 Mempunyai ilmu,

Seorang yang memberi nasihat kepada orang lain harus mempunyai ilmu, karena kalau orang yang bodoh manamungkin ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan ilmu seseorang dapat menasehati orang lain secara bijaksana, dan tanpa menyinggung orang yang diberi nasehat. Sepert kisah Hasan dan Husein, suatu saat Hasan dan Husein melihat orang yang sedang berwudhu, namun orang itu melakukan kesalahan dalam berwudhu tersebut, Hasan dan Husein ingin menasehati orang itu, namun bagaimana caranya agar tidak menyinggungnya. Akhirnya hasan dan husein memiliki ide, mereka berdua berwudhu dihadapan orang itu sambil berkata, “Paman tolong lihat wudhu kami, mana yang benar dan mana yang salah.” Maka orang itu merasa malu, kepada mereka berdua, “wudhu kalian yang benar, sedangkan wudhu saya salah.”

Kisah ini menunjukan salah satu cara dakwah yang bijaksana, tanpa menyinggung dan tanpa memarahi.

v                 Ikhlas karena Allah.

Ketika dia melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, maka ia harus ikhlas, artinya ia hanya mengharapkan ridho dan pahala dari Allah, tanpa embel-embel yang lain. Dan bukan mengharapkan pujian dari manusia atau pamrih kepada manusia. Jika seseorang telah melakukan kebaikan tanpa keikhlasan, maka kebaikannya itu akan ditolak. Seperti kisah yang diceritakan Ikrimah r.a. bahwa ada seorang laki-laki yang melewati sebuah pohon yang disenbah, maka ia pun marah dan bergegas pulang mengambil kampak dan menaiki keledainya menuju pohon itu hendak menebangnya. Ditengah jalan dihadang oleh iblis yang menyerupai manusia dan bertanya kepadanya, “mau kemana kamu?” ia menjawab, “aku melihat ada pohon yang disembah, maka aku berjanji kepada Allah.” Iblis bertanya kepadanya, “Apa urusanmu dengan pohon itu?, biarlah orang yang menyembah ohon itu semakin jauh dari Allah SWT.” Maka terjadilah perkelahian anatara lelaki itu dan Iblis, hingga akhirnya Iblis pun kalah. Akhirnya iblis berkata, “pulang sajalah, dan setiap hari aku akan memberimu uang empat dirham, setiap hari kamu bias mengambil dibawah tikar.” Ia berkata kepada iblis, “benarkah apa yang engkau katakana?” iblis menjawab, “Ya aku jamin, kamu akan mendapatkan uang empat dirham setiap hari.”. maka lelaki itu pulang ke rumahnya, dan mendapatkan apa yang dijanjikan oleh iblis tersebut selama dua sampai tiga hari. Setelah itu ia tidak mendapatkan uang lagi.. kemudian ia mengambil kampak dan menaiki keledainya untuk menebang pohon yang selalu disembah itu. Iblis pun menghadang lagi, hingga akhirnya terjadilah pekelahian sengit, namun kali ini lelaki itu kalah, ia pun terheran-heran dan kemudian bertanya kepada Iblis, “Mengapa ketika pertama kali aku berkelahi denganmu, dengan mudahnya aku dapat mengalahkanmu, namun sekarang malah aku yang kalah?”, iblis menjawab, “semula kamu akan menebang pohon tersebut dengan niat karena Allah ta’ala, yang seandainya seluruh iblis yang ada di bumi dan langit hendak menghalangimu, maka mereka tidak akan mampu. Sedangkan sekarang engkau hendak menebang pohon tersebut, karena engkau tidak mendapatkan uang lagi. Maka seandainya kamu meneruskan niatmu itu, niscaya kami akan menebas lehermu.” Akhirnya lelaki itu pulang dengan perasaan bersalah kepada Allah.

Alangkah pentingnya ikhlas ini, karena ikhlas merupakan ruh nya ibadah, seperti badan tanpa ruh berarti mati.

v                 Ramah dan dengan penuh kasih sayang

Seorang da’I (penyeru) harus ramah dan penuh kasih sayang kepada mad’u (yang diseru), sebagaimana pesan Alah kepada nabi Musa dan Nabi Harun, ketika diutus kepada Raja Fir’aun “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.”. Padahal Fir’aun adalah orang yang sangat jahat, sampai-sampai ia mengaku dirinya Tuhan, namun Allah menyuruh kedua nabi-Nya tetap berlemah lembut ketika menyeru Fir’aun. Apalagi jika hanya menasehati orang yang kesalahannya sedikit, dibandingkan Fir’aun. Seorang Da’i harus berkasih sayang jangan sampai kasar, apakah dengan menghina dan merendahkannya, abong-abong dia dikaruniai akhaq yang baik oleh Allah. Sifat kasih sayang ini dicontohkan oleh sayyidina Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah melewati sebuah pasar, disana beliau melihat seorang lelaki tua yang tidak bisa melihat, mulutnya sedang berkomat-kamit seperti orang yang berdzikir. Rasulullah lalu mendekatinya. Karena ingin mendengar apa yang lelaki itu ucapkan, ternyata lelaki itu sedang melantunkan, ”Muhammad gila… Muhammad gila….” Rasulullah hanya tersenyum dan tidak marah. Rasulullah berkata kepadanya, ”wahai kakek, ini aku bawa makanan, makanlah dulu…nanti engkau teruskan lagi apa yang kau ucapkan itu.” Rasulullah menyuapi lelaki itu dengan kasih sayang dan lemah lembut.  memberi makan kepada lelaki itu sampai beliau wafat.Ketika Rasulullah wafat. Abu bakar berkata kepada aisyah putrinya.”sepertinya, tidak ada sunnah nabi yang aku tinggalkan.”. ”ada.” sanggah Aisyah.Abu bakar bertanya ”apa itu wahai putriku.?” aisyah menjawab, ”Rasulullah selalu memberi makan kepada seorang lelaki tua yang beragama yahudi yang ada di ujung pasar.”.Tidak menunggu lama, abu bakar langsung pergi menuju pasar sambil membawa makanan, setelah menemukan lelaki itu betapa terkejutnya abu bakar ketika mendengar apa yang diucapkan lelaki tua itu. ”Muhammad gila…Muhammad gila…!” namun abu bakar tetap memberikan makanan itu dan menyuapi lelaki itu, namun ketika abu bakar menyuapinya lelaki itu bertanya, ” siapa kau?”  ”aku orang yang biasa memberimu makan..!”  ”bukan..! orang yang selalu memberiku makan setiap hari adalah orang yang begitu lembut dan penuh kasih sayang, sebetulnya siapa dia? Dan sekarang kemana dia?” abu bakar menjawab sambil menangis, ”dia adalah Muhammad Rasulullah. Dan dia telah wafat.” lelaki itu menangis, dan dia menyatakan keislamannya.

v                 Sabar

Sabar adalah modal utama dalam menyiarkan dakwah Islamiyah. Andaikata para Da’i tidak sabar dalam berdakwah, maka keputus asaan yang akan datang, akhirnya ia tidak mau meneruskan dakwahnya. Seorang da’i atau mubaligh harus sabar dalam menerima cacian, makian, dan kebencian dari orang-orang yang tidak suka pada dakwah tersebut. Rasulullah adalah orang yang paling sabar dalam berdakwah, walau beliau dilempari kotoran unta, diludahi, dan dianiaya oleh orang-orang kafir Quraisy, beliau tetap tabah. Kalau kata orang sunda ”teu unggut kalinduan, teu geudag kaanginan”. Dengan kesabaran beliau, Islam menjadi Agama yang paling besar di Dunia. Walaupun Rasulullah hanya berdakwah 23 tahun. Namun yang paling ditakutkan oleh para da’i sekarang, bukanlah takut dilempari kotoran unta, ataupun dianiaya, tapi yang paling mereka takutkan adalah dibenci orang. Contoh: ketika seseorang melihat sebuah kemungkaran, dia ingin sekali menasehatinya, namun ia takut dikatakan ”so alim”. Hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya. Oleh karena itu, kesabaran dalam menghadapi kebencian itulah yang harus dipupuk oleh para Da’i.

v                 Ia berusaha mau melakukan apa yang ia suruh kepada orang lain

Kala Rasulullah diisra’ dan dimi’rajkan oleh Allah, Rasulullah melihat orang yang digunting lidahnya, beliau bertanya kepada Jibril, ”siapakah dia wahai Jibril?” Jibril menjawab, ”Dia adalah umatmu, dia menyuruh oang lain berbuat baik, sedangkan dia sendiri tidak melaksanakannya,. Dan dia menyuruh orang lain menjauhi kemungkaran, namun ia sendiri mengerjakannya.”. hadits diatas menggambarkan orang yang selalu menyuruh kepada kebaikan, namun ia sendiri tidak mau melaksanakannya. Seharusnya sebelum ia menyuruh orang lain untuk shalat, maka ia harus shalat dulu. Dan sebelum ia menyuruh orang lain menjauhi zinah, maka ia harus menjadi orang yang pertama kali menjauhi zinah. Agar tidak tergolong kepada umat yang disebutkan dalam hadits di atas. Namun dalam konteksnya, walaupun kita belum mampu melaksanakan perbuatan tersebut, kita harus tetap amar ma’ruf nahi munkar. Dan jadikanlah apa yang kita katakan itu, menjadi cambuk bagi kita, hingga kita berfikir, ”ko aku menyuruhnya shalat, sedang aku sering meninggalkannya. Harusnya aku malu, sekarang aku akan rajin shalat.”

Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban semua orang yang mengaku beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dunia ini akan terus tegak berdiri, semasih kita mau melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Dan kita harus berusaha memenuhi syarat-syarat di atas, agar apa-apa yang kita usahakan itu diterima dan diridhoi Allah SWT. Amin.