oleh: Muhammad Zuhri

Di tengah kemelut perkembangan sains dan teknologi yang menawarkan kesejahteraan hidup umat manusia di satu sisi, dan mengancam kelestarian alam pada sisi lain, muncul sebuah gagasan besar untuk mengidiologisasikan globalisasi. Pada saat yang sama timbul pula berbagai pembahasan tentang ajaran tasawuf, jalan hidup dan kebijakannya di forum diskusi, penerbitan buku dan media massa, seolah sebuah jawaban yang dilemparkan dari sebuah dunia jauh, dunia masa silam, yang wujud faktualnya semakin langka di abad kita. Umat manusia berjalan dan terus berjalan menyusuri lorong kemungkinan yang bisa dikuakkan, hingga melewati batas yang semestinya didapatkan, tanpa menemukan titik terang yang memberikan makna hakiki dari kehadirannya.
KETELANJURAN

Nasibnya persis seperti Musa Alaihissalam dan Yusa’ bin Nun ketika mengembara mencari tempat pertemuan dua samudera. Mereka mesti mengalami kebablasan terlebih dahulu sebelum akhirnya menarik mundur langkah yang diambilnya (Lihat QS. Al-Kahfi, ayat 60-64). Fenomena tsb mengisyaratkan telah sampainya manusia modern pada puncak kesadaran mereka akan makna keberadaannya yang bukan anak struktur, melainkan sebagai subjek sejarah yang bertanggung jawab terhadap diri dan semestanya.

Rupanya mereka telah terpanggil oleh rabbul ‘alamin untuk memerankan managerial-Nya di muka bumi lewat situasi khauf, yaitu situasi ketakutan yang memuncak karena terancam kemusnahan akibat hasil karyanya sendiri (Lihat QS. Ar-Rum, ayat 41). Mereka terpaksa harus memilih salah satu dari dua kemungkinan, yaitu siap hancur bersama prasangkanya tentang kenyataan, atau mengakui kelemahan dirinya sebagai hamba (Lihat QS. Al-Kahfi, ayat 29).
TANDA KEGAGALAN

Di dalam situasi dilematis seperti itu, tiada pilihan yang paling aman daripada menempuh jalan khayal. Dan bangsa-bangsa maju itu pun menciptakan new image of man sebagai kompensasi dari sikap skeptisnya. Sayangnya image mereka tentang Superman, Superboy, Rambo, dan Ninja, tak mampu menciptakan situasi sakinah, bahkan memancing timbulnya rasa cemas, curiga dan counter-kekerasan dari pihak yang merasa dirugikan (Peristiwa Teluk dan Korea).

Sejarah telah membuktikan bahwa umat manusia tak lagi membutuhkan kekerasan dari luar untuk dapat melejit ke langit ketinggian, tetapi mereka butuh situasi damai yang memungkinkan berlangsungnya evolusi spiritual di dalam diri mereka. Era kehidupan itulah yang ditawarkan oleh Rasulullah SAW sebagai ‘jihad akbar’, manakala proses revolusi fisik telah purna. Kemudian lorong tersebut menemukan identitasnya sebagai Jalan Kebenaran (tasawuf) yang ditempuh oleh Para Sufi dari zaman ke zaman.

Kiranya tak akan menyimpang dari jalan lurus yang telah direntangkan oleh Rasulullah SAW, bila mereka yang telah mencapai situasi “Bebas Dari” kendala alami kemudian meningkatkan pendakiannya menggapai “Bebas Untuk” memberi makna kehadiran mereka di tengah lingkungan umat. Dengan demikian status Hamba Allah yang telah dicapai dengan ketaatan nya kepada Tuhan akan mendapatkan fungsinya dalam ikut menentukan warna kehidupan umat manusia di dunia (kekhalifahan).

Perspektif kekhalifahan inilah yang vacum di benak bangsa-bangsa maju ketika mereka tampil mencanangkan ide globalisme. Mereka terlalu dini mengklaim dirinya sebagai polisi yang berhak membatasi bangsa lain. Ambisinya untuk menjadi pihak penentu dan kebijakannya yang rendah di dalam memperlakukan manusia sebagai benda mati yang dapat diproses secara kilat dengan sains dan teknologi, mengandaikan kementahan spiritual mereka sekaligus meramalkan kegagalannya di dalam memandu umat manusia menuju masyarakat global yang diharapkan. Mereka dihadapkan pada masalah keutuhan umat manusia yang tak pernah tuntas (the unfinished universe) tanpa sistem yang memadai.
NAMA TUHAN KESERATUS

Pada saat itulah kita perlu mengkaji-ulang Jalan Sufi yang pernah berhasil melahirkan individu-individu besar yang berkualitas universal. Tak berlebihan bila kita katakan, merekalah yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai pionir globalisasi daripada manusia modern yang tak pernah menemukan hakikat dirinya. Ini berdasarkan kenyataan bahwa mereka lebih tulus dalam menyikapi sesama manusia, tanpa pamrih selain Ridla Allah, dan tak mengenal putus asa di dalam ibadahnya mengembangkan kualitas hidup umat manusia.

Kondisi pribadi yang demikian tak mungkin terwujud tanpa pendadaran internal yang matang dan sarana teknis yang memadai. Dan kita pun segera memaklumi setelah kita menelaah respon mereka yang brilian terhadap informasi nabawi tentang nama-nama Tuhan. Pemandu mereka (Rasulullah SAW) telah mengajarkan 99 nama yang digunakan oleh rabbul ‘alamin untuk mencipta, memelihara dan mengembangkan semesta sampai mencapai kebulatan yang nyaris sempurna (unfinished; sifat bilangan 99). Tinggal satu nama yang tak diajarkan kepada mereka, yang harus ditemukannya sendiri lewat pengabdiannya sepanjang hidup. Itulah Sebutir Mata Tasbih yang terlepas dari untaiannya. Itulah ismulllahil a’zhom atau nama Tuhan yang keseratus, yang bila Allah dipanggil dengan nama tersebut, akan ditunaikan hajatnya.

Bila di dalam mencari nama Allah Yang Keseratus kita bersikap seperti mencari informasi keilmuan, maka dapat dipastikan kita akan gagal memperolehnya. Karena sebenarnya nama yang kita cari itu bukanlah sebuah obyek di luar diri kita, melainkan subyek pencari itu sendiri.
KEUTUHAN EKSISTENSIAL

Dengan aset 99 nama Allah Para Sufi mengembara dalam pengabdiannya untuk menggenapkan bilangan yang nyaris sempurna itu. Bila mereka berhasil mendapatkannya dalam wujud sifat kesadarannya sendiri, maka berubahlah sifatnya menjadi kudus, lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesamanya. Saat itu mereka berada dalam maqam sayidina Isa AS. Manakala mereka mendapatkannya dalam wujud zatnya sendiri, maka muncullah dari dalam dirinya keyakinan yang bulat, energik, kreatif dan pantang menyerah. Tentu saja berwujud hasil cipta yang berdaya mampu mengubah struktur dunianya. Itulah maqam tertinggi yang ditemukan oleh sayidina Muhammad SAW. yang meruang dan mewaktu.

Transformasi eksistensial dari individu kecil mencapai individu besar, dilukiskan oleh Muhammad Iqbal dengan tepat dan indah di dalam karyanya Asrari Khudi: “Kejadianku arca belum selesai, cinta memahat daku dan aku menjadi manusia.” Untuk mencapai kondisi kekhalifahan yang memadai di dalam memandu umat mencapai masyarakat global, kita tidak membutuhkan new image of man. Karena secara fitri umat manusia telah berada di sana (Lihat QS. Al- Baqarah, ayat 30), dan dalam kadar tertentu mereka telah terlatih merealisasi fungsi tersebut ke dalam lingkungan kecil kehidupannya. Misalnya perlindungan orang tua terhadap kelangsungan hidup keluarganya, sikap ramah dan manis terhadap yang lebih muda, upaya pengembangan kualitas hidup mereka dan pengorbanan yang ikhlas dari sang asyik kepada sang ma’syuk dan lain sebagainya merupakan aset fundamental yang diajarkan Allah lewat lingkung kehidupannya.

Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana sifat-sifat luhur yang sejak dini telah disemaikan oleh rabbul ‘alamin di dalam diri kita itu bisa tumbuh optimal dan mensemesta? Jawabannya adalah bagaimana kita bisa menemukan sebutir tasbih yang lepas dari untaiannya, yang tak lain menggarap diri kita sedemikian rupa sehingga layak untuk menggenapinya. Untuk itu kita tak perlu mengimport atau pun mengadopsi metodologi dari mana pun, apalagi dari zaman yang telah usang. Jalan sufi selalu kontekstual dan dituntut relevan dengan zamannya.

Jelasnya, kita tak butuh nama lain, kabilah lain, paradigma lain, sarana teknis lain, teknis dasar lain, dan bai’at lain, selain yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, yaitu Islam. Hanya dengan kembali kepada pokok ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, kita akan dapat merangkaikan kembali mata tasbih yang tersia-sia (diri kita) dalam untaiannya yang fitri.

Dengan demikian, kita berharap dapat menolong umat manusia dalam menyelesaikan karya agungnya, membangun ummatan wahidatan di atas bumi tercinta ini. Insya Allah.

Takwa dan Sikap Sederhana

Oleh: A. Mustofa Bisri

Takwa, seperti galibnya istilah popular yang lain, sudah dianggap maklum; karenanya jarang orang yang merasa perlu membicarakannya lebih jauh. Secara sederhana, takwa dapat diartikan sebagai sikap waspada dan hati-hati. Hati-hati menjaga agar tidak ada perintah Allah yang kita abaikan. Hati-hati menjaga agar tidak ada larangan-Nya yang kita langgar. Hati-hati menjaga agar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya tidak justru menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah Ia gariskan.

Dan tidak kalah penting dari itu semua adalah kehati-hatian menjaga keikhlasan kita. Kita perlu waspada dan hati-hati menjaga agar pelaksanaan perintah Allah maupun penghindaran dari larangan-Nya, semata-mata karena Allah. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah demi dan karena Allah; bukan demi nafsu dan keinginan diri kita atau karena dorongan pamrih-pamrih yang lain.

Kita hidup untuk beribadah, dan kita beribadah semata mengharap ridha Allah dan bukan mencari ridha dan kepuasan diri sendiri. Dalam ibadah mahdhah atau yang bersifat ritual, seperti sembahyang, berpuasa, dan sebagainya, ketulusan mencari ridha Allah ini mungkin relatif lebih mudah dibanding dengan ibadah yang bersifat sosial, seperti berbuat baik kepada sesama misalnya. Oleh karenanya, sudah sewajarnyalah apabila kita lebih berhati-hati dan terus mewaspadai ketulusan batin kita dalam hal melakukan ibadah-ibadah yang bersifat sosial itu.

Misalnya dalam melaksanakan ibadah sosial ingin memperbaiki keadaan dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air, untuk menciptakan Indonesia baru yang lebih baik, kita perlu pula terus mewaspadai niat batin kita. Kita perlu selalu bertanya kepada diri-diri kita sendiri, untuk apa sebenarnya kita berjuang. Kita berjuang untuk Tanah Air demi mendapatkan ridha Allah, ataukah sekedar untuk memuaskan nafsu dan kepentingan kita atau kelompok kita sendiri?

Getir rasanya dan sekaligus geli kita mendengar banyak orang yang meneriakkan slogan-slogan mulia, seperti akhlakul karimah; ukhuwwah islamiyah; membangun masyarakat yang beradab, dan lain sebagainya, namun dalam pada itu mereka sekaligus bersikap dan berperilaku yang tidak berakhlak, menebarkan permusuhan di antara sesama saudara.

Alangkah tertipunya mereka yang merasa diri dan bahkan mengaku-aku berjuang demi hal-hal yang mulia, seperti demi agama dan demi negara, tapi tindak-tanduknya justru menodai kemulian itu sendiri. Bahkan ada yang-na’udzubillah-meneriakkan asma Allah sambil memperlihatkan keganasannya kepada sesama hamba Allah.

Mereka itu umumnya tertipu oleh semangat mereka sendiri. Setan paling suka dan paling lihai menunggangi semangat orang yang bodoh atau kurang pikir, untuk dibelokkan dari tujuan mulia semula. Mereka yang katanya berjuang ingin menegakkan demokrasi, misalnya, karena terlalu bersemangat, tiba-tiba justru menjadi orang-orang yang sangat tidak demokratis; tidak menghormati perbedaan dan bahkan menganggap musuh setiap pihak yang berbeda. Demikian pula, mereka yang katanya ingin berjuang untuk agama, menegakkan syariat Tuhan, karena terlalu bersemangat, sering kali justru dibelokkan oleh setan dan tanpa sadar melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh orang yang ber-Tuhan dan beragama, seperti sudah dicontohkan di muka.

Lebih konyol lagi, apabila yang tergoda melakukan hal-hal bodoh semacam itu adalah mereka yang sudah terlanjur dijadikan atau dianggap imam dan panutan. Karena, para pengikut biasanya akan bertindak lebih bodoh lagi. Seorang panutan cukup memaki untuk membuat para pengikutnya membenci, seperti halnya guru cukup kencing berdiri untuk membuat murid-muridnya kencing berlari.

Biasanya, kekonyolan terjadi lantaran sikap yang berlebihan. Sikap berlebihan tidak hanya dapat membuat orang sulit berlaku adil dan istiqamah, tapi sering kali dapat menjerumuskan orang kepada tindakan yang bodoh. Berlebihan dalam menyintai atau sebaliknya membenci, acap kali membuat orang bersikap konyol. Bahkan, orang yang berlebihan dalam mencintai diri sendiri, dapat kehilangan penalaran warasnya, sebagaimana terjadi pada mereka yang mengangkat diri sebagai imam, nabi, bahkan titisan malaikat Jibril. Mereka yang berlebihan menyintai imamnya pun pada gilirannya juga kehilangan penalaran sehatnya.

Rasanya kita perlu membiasakan kembali sikap hidup sederhana, sebagaimana diajarkan dan dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka, kita dapat dengan lebih mudah berlaku adil dan istiqamah, dapat memandang sesuatu tanpa kehilangan penalaran sehat.