kujang
kujang

Kebudayaan sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Kebudayaan sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebaga kebudayaan raja-raja sunda atau tokoh yang diidentian dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini jadilah sosok  Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan orang sunda karena dianggap sebagai raja yang berhasil, dan mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Kebudayaan sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan tentang eksistensipun sering mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya?. Tentang hal tersebut, bila dikaji dengan tenang, sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa kemana kebudayaan sunda tersebut?

Tidak mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsure kebudayaan sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh yang paling jelas adalah bahasa sunda yang merupakan bahasa komunitas urang sunda, tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda sunda. Lebih memprihatinkan lagi, bahwa menggunakan bahasa sunda dalam komunitasnya sehari-hari terkadang diidentikan dengan ”keterbelakangan” atau “kampungan”, untukng saja tidak mengatakan primitive. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang sunda untuk menggunakan bahasa sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan rasa “gengsi” ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa sunda, termasuk untuk sekedar mengakui dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa sunda.

Kemampuan kebudayaan sunda untuk melakukan mpbilitas, baik vertical maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas sunda, di dalam komunitas sendiri, kebudayaan sunda seringkali terasa asing. Sebab itu kebudayaan sunda dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan sunda tidak saja jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur..

Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigm-paradigma baru, itikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Selain itu, kebudayaan sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya regenerasi. Budaya “Kumaha akang”, “teu langkung akang”, dan “Mangga tipayun”, yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang sunda, dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rntannya budaya sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya sunda gagap dengan regenerasi.