Mughni Shiiddiq
Mughni Shiiddiq

Dalam majalah cupumanik, Ajip Rosidi mengingatkan para khatib. Menurutnya, dengan tidak menggunakan bahasa sunda dalam khutbahnya di tatar sunda, secara tidak langsung para khatib dan da’I punya andil besar dalam “Membunuh” Bahasa Sunda.

Para khatib dan da’I (orang sunda) termasuk pengurus masjid sepertinya noyod atau jorjoran memenuhi dalih bahwa tidak semua jemaah mengerti bahasa sunda. Atau mungkin tidak ingin dicap sebagai khatib atau da’I primordialisme, kedaerahan, atau sebutan lainnya yang intinya tidak memiliki rasa nasionalisme. Apakah untuk memperlihatkan rasa kebangsaan harus meninggalkan bahasanya (sunda) sendiri?. Menurut ajip Rosidi untuk memperlihatkan rasa kebangsaan tidak selamanya harus berbahasa Indonesia. Surat kabar bahasa sunda “Sipatahoenan” pada waktu sebelum perang pun digolongkan sebagai surat kabar nasional, sebab isinya memperlihatkan rasa kebangsaan. Terangnya, untuk jadi orang Indonesia tidak perlu berhenti menjadi orang sunda.

Di masjid-masjid yang ada di bandung sudah jarang kita dengar khutbah dengan menggunakan bahasa sunda. Sangat aneh, memang, bila sikap Ulama dan Khathib di masjid yang ada di lingkungan tatar sunda lebih cenderung tidak menggunakan bahasa sunda dalam khotbah jum’atnya. Tentu saja masih ada khatib yang menggunakan bahasa sunda dalam khutbahnya, tapi sayang hanya sebatas di daerah pinggiran, seperti parongpong, gunung halu, dan lain sebagainya. Padahal bila khutbah di tatar sunda disampaikan dengan bahasa sunda, sangat mungkin aan lebih meresap dan menyentuh relung hati yang paling dalam.

Agama tidak semata-mata urusan akal (logika), melainkan juga menembus batas rasa (emosi). Karena itu, akan lain gregetnya bila disampaikan dengan bahasa ibu. Benar, bahasa ibu itu penting. Nyatanya, UNESCO dan PBB yang bergerak di bidang pendidikan. Penghormatan itu ditandai dengan diperingatinya “Mother Tongue day” setiap bulan februari.

Kenyataan bahwa bahasa ibu akan lebih meresap kedalam batin orang banyak, sangat disadari oleh para pendeta dan pastor. Banyak diantara mereka yang mempelajari bahasa Ibu untuk kepentingan kebaktian dan missa. Kenyataan ini memang sangat kontras. golongan mayoritas tampak cenderung mengabaikan bahasa Sunda. Sebaliknya golongan minoritas justru menggunakannya. Janganlah heran bila dibeberapa daerah banyak gereja atu kelenteng di jawa barat yang justru aktif menggunakan bahasa sunda dalam seluruh kegiatan ibadahnya.

Melihat kenyataan semakin langkanya khotbah berbahasa sunda, kita akan teringat dan merindukan da’I atau khatib sekaliber KH. Drs. Abdul Ghazali (Alm) atau lebih terkenal dengan sebutan Kiai Ghozali. Bagi umat islam jawa barat, beliau adalah sosok mubaligh yang sangat dirasakan manfaat risalahnya melalui bahasa sunda. Beliau sangat piawai memanfaatkan psikologi massa dalam dakwahnya. Dengan bahasa sundanya yang khas, beliau telah diterima semua golongan. Tidak heran dari ke khasannya itu lahir suatu jargon melegenda seperti yang di ungkapkan oleh si Cepot. Karunya….nya.!

Selama puluhan tahun berkecimpung menyebarkan risalahnya. Kiai Ghozali tidak henti-hentinya menggunakan bahasa sunda. Beliau sering menyebut bahasa sunda dengan bahasa “padesaan”, malah mengaku bangga dirinya disebut “ulama padesaan”. Ulama yang setiap grak-gerik langkah serta ucapannya dimengerti dan dipahami oleh masyarakat pedesaan. Bahasanya tidak muluk-muluk, tidak untuk gagah-gagahan supaya member kesan hebat. Gaya bahasa Kiai Ghozali sangat realistis, beliau tampaknya sangat konsisten dan menyadari bahwa objek dakwah di jawa barat lebih di dominasi orang-orang yang mengerti dan memahami bahasa sunda.

Apakah benar masyarakat sunda sudah tidak mampu atau teu bareukieun deui menerima penerangan dalam bahasa sunda? Sehingga dalam acara-acara yang dihadiri mayoritas orang sunda harus menggunakan bahasa lain? Atau jangan-jangan rendahnya atau tiadanya kemauan para khatib dan da’i  (orang sunda) menyampaikan risalah dengan media bahasa sunda. Lantaran khawatir pesanan. Dengan menyampaikan risalah menggunakan bahasa sunda mereka merasa seolah-olah dibatasi ruang geraknya.