Oleh: H. Rachmat

ki sunda

Sebelum masuk kedalam materi pokok, lebih dahulu saya ingin mengajak para ksatria sunda untuk tidak berhenti dan segan terus membicarakan dan memperjuangkan Ki Sunda. Etnis Sunda bukan muncul begitu saja, melainkan sengaja diciptakan oleh Allah. Bersama etnis-etnis lainnya dengan maksud saling mengenal. Yang paling mulia diantara bangsa-bangsa itu ialah yang paling Taqwa (QS. 49:13). Orang sunda mencintai Sunda dan segala yang berkait kepadanya, merupakan tanda syukur kepada penciptanya. Karena itu, perjuangan Ki Sunda memuliakan Sunda bisa menjadi Ibadah.

Bangkitnya Sunda akan merupakan suatu peristiwa yang besar dan pasti akan berawal dari wacana. Agar wacana kita bisa menjadi kenyataan yang menguntungkan, bukan hanya merebutkan paisan kosong mari kita arahkan wacana kita kesana. Mari kita samakan sudut pandang dengan menyepakati siapa sebenarnya yang dimaksud ki Sunda?, sedang dalam keadaan bagaimana sekarang ini, dan apa yang dikehendakinya?

Disamping banyak dari kita yang sudah bisa mendengar dan menggunakan kata “Ki sunda”, banyak yang bertanya-tanya mengapa memakai gelar “Ki” dan siapa sebenarnya ki sunda itu?. “Ki” adalah sapaan hormat kepada lelaki dewasa, tetapi berusia lebih muda dari penyapa. Saya yakin bahwa yang memberikan sapaan ini bukan berarti merasa lebih tua tetapi dengan tujuan menghormat.

Ada yang mengatakan bahwa “Ki Sunda” adalah seluruh orang sunda, namun sebetulnya “Ki Sunda” memiliki makna khusus yaitu sekelompok urang sunda yang mencintai sunda dan memperjuangkan kemuliaan Sunda. Merekalah yang lebih pantas mendapatkan kehormatan itu, mereka adalah elitenya Urang Sunda.

Sebelum Islam masuk ke tatar Sunda, urang sunda sudah mempunyai keyakinan dan filsafat hidup (Agama Sunda) yang monoteistis seperti intinya ajaran Islam. Maka jika Ki Sunda diartikan sebagai elite urang Sunda Yang pantas dihormati karena mencintai dan memperjuangkan kemuliaan Sunda sebagai tanda bersyukur kepada sang pencipta, Itulah Ki Sunda.

Adapun keadaan ki sunda sekarang adalah hampir punah, yang punah itu bukan elitenya, tetapi orang-orangnya. Bukan karena membelakangi Allah, akan tetapi karena waktunya sudah datanga. Kaus ketat yang lebih popular dari kebaya sunda dan kurangnya pemakai bahasa sunda dikalangan orang sunda sendiri. Kita tidak akan mempermasalahkan kaus atau kebayanya, tetapi kesannya. Sebab, kalau model dan bentuknya yang akan dipermasalahkan, apa yang akan kita katakana tentang rok dan blues? Yang bukan asli pakaian sunda tetapi sudah puluhan, bahkan telah ratusan tahun telah menjadi pakaian sehari-hari mojang-mojang sunda?

Sekarang apa yang dikehendaki Ki Sunda?. Ki Sunda dengan karakterisktik seperti digambarkan diatas tidak bisa bercita-cita menjadi bangsa yang termuia diantara bangsa-bangsa, paling sedikit diantara bangsa-bangsa pemilik NKRI tercinta ini. Sekalipun belum sampai ketujuan akhir, perjuangannya sendiri akan memberikan saham yang sangat besar dalam mencapai cita-cita PEMDA Jabar yang hendak menjadikan Jawa Barat Provinsi termaju dalam tahun 2010.

Perjuangan ini tida akan selesai oleh satu generasi. Tetapi segala perolehan satu generasi akan bernilai sangat tinggi bagi generasi-generasi berikutnya, sasaran antara yang kongkrit strategi yang harus dan bisa dicapai oleh generasi sekarang adalah mencegah perang saudara sekecil dan dalam bentuk apa pun, lewat jalan menyamakan persepsi, menyatukan segenap daya dan tenaga, mengordinasikan langkah, dan masing-masing tetap aktif dibidangnya masing-masing. Dengan jiwa Ki Sunda yang sebenarnya.