bahasa sunda
bahasa sunda

Bahasa adalah sesuatu yang hidup, dan sesuatu yang hidup akan mati. Mengapa bahasa bisa mati? Dua orang sarjana Amerika, Daniel Netle dan Suzzane Romaine, membahas masalah tersebut dalam bukunya “Vanishing Voices”. Menurut penelitian para sarjana tersebut, selama dua abad terakhir ini kemusnahan bahasa kian menghebat. Menurut perkiraan mereka sekarang di dunia ini ada 5.000-6.700 bahasa, dan paling tidak setengahnya akan mati dalam abad ke-21. Sekarang kurang lebih 60% dari bahasa yang masih ada dalam kondisi penuh resiko. Menurt para sarjana bahasa, bahasa mati tidaklah secar alami. Ada sarjana yang menggunakan istilah “Bahasa dibunuh” atau “Bahasa bunuh diri”. Glanville Price dalam bukunya “The Language of Britain” menyebut bahasa inggris sebagai bahasa pembunuh. Bahasa inggris di Brtania raya telah membunuh antara lain Irlandia dan bahasa Kornisy. Dan pembunuhan oleh bahasa Inggris kemudian menyebar ke seluruh Dunia. Bahasa di kepulauan Hawaii misalnya telah musnah digantikan oleh bahasa Inggris. Demikian pula diberbagai tempat lain telah terjadi pembunuhan bahasa oleh bahasa inggris.

Suatu bahsa bisa mati mendadak dan bisa juga melalui proses yang panjang sedikit demi sedikit. Bahasa yang mati mendadak bisa terjadi karena bencana alam, seperti dialami oleh bahasa Tembora dipulau Sumbawa yang pada tahun 1815 semua pecaturnya meninggal dunia akibat letusan gunung brapi. Begitu juga bahasa Yahi, salah satu bahasa orang Indian di Amerika, semua pecaturnya dibasmi oleh bangsa Eropa. Di Australia tadinya ada 250 bahasa suku Aborigin, dan sekarang sudah tidak tersisa lagi. Sekarang bagaimana dengan bahasa sunda?

Dengan analisis Netlle dan Romaine, maka kita melihat bahwa bahasa sunda sekarang sedang dalam proses kematiannya, karena kita saksikan orang Sunda secara perlahan-lahan sedang menjalankan pembunuhan terhadap bahasa sunda sebagai bahasa ibunya. Kita saksikan kian banyak orang sunda ynag tidak mau bercakap-cakap dengan bahasa sunda, walaupun dengan sesame orang sunda. Kita juga saksikan, umumnya kalau orang sunda mau bercakap-cakap tentang hal tertentu lalu beralih kode ke bahasa Indonesia atau bahasa lain. Bahasa Sunda dianggap tidak cukup tepat atau tidak cukup terhormat untuk menyampaikan pikirannya. Mereka lebih suka memakai bahasa Indonesia yang dianggap menjanjikan kemungkinan ekonomis lebih besar atau dengan bahasa Jakarta yang merupakan bahasa metropolitan yang dibayangkan penuh gemerlapan.

Kita juga saksikan bahwa lembaga-lembaga public seperti pengadilan, sekolah, masjid-masjid, pasar, tidak lagi menggunakan bahasa Sunda, atau kian sedikit mempergunakannya. Dan kita saksian terutama d kota-kota besar, orang tua yang keduanya orang sunda, sudah tidak berbahasa sunda lagi dengan anak-anaknya, walaupun misalnya mereka sendiri bercakap-cakap dalam bahasa sunda. Artinya mereka tidak mewariskan bahasa ibunya itu kepada generasi sesudahnya. Semua gejala yang terbiasa terjadi adalah proses kematian bahasa sunda.

Keadaan demikian kalau dibiarkan saja akan berakhir dengan kematian bahasa sunda, kecuali kalau ada perubahan sikap orang sunda sendiri terhadap situasi tersebut. Perubahan sikap terhadap bahasa yang dalam proses kematian, bahkan juga terhadap bahasa yang sudah mati, tidak mustahil dapat menyehatkannya kembali. Apakah kita akan membiarkan bahasa Sunda itu mati?