• Tak ada dosa apa pun dan tak ada kehilangan apa pun. Kecuali kita kini masih seorang purba yang melarang anak-anak kita main sepakbola hanya karena permainan itu milik belanda.
  • Menang debat belum tentu mengubah keadaan.
  • Kita memang bangsa besar yang luar biasa. Kita tersenyum, ada kepentingan atau tidak. Beda dengan di Jerman atau negara kapitalis lain. Di sana, kalau ada pelayan tersenyum, itu bukan menyenyumi anda sebagai manusia. Yang disenyumi adalah uang yang akan kau belanjakan.
  • Pikiran itu bekerja dengan sendirinya, seperti juga jantung dan usus. Bukankah seseorang tiba-tiba pada suatu malam sunyi memperoleh idea tau ilham? Atau mendadak terpikir sesuatu olehnya?
  • Kalau ia susah payah narik taksi sekedar untuk cari makan, alangkah ruginya ! hal demikian cukup dilakukan oleh ayam. Bukankah sambil menyetir taksi, dia bias merenungkan sesuatu hal, bias berdzikir dengan ucapan yang sesuai dengan tahap penghayatan atau kebutuhan hidupnya, bias mengamati macam-macam manusia, bias belajar kepada sebegit banyak peristiwa.
  • Kalian berbicara bahwa dunia sudah semakin rusak dan akan semakin rusak. Siapa yang merusak? Kalian sendiri.
  • Allah meninggikan langit dan meletakan perimbangan. Demikianlah hokum nilai Allah. Karena itu orang disuruh shalat, yaitu menyesuaikan diri dengan hokum keseimbangan itu.
  • Manusia tidak sempurna: dia harus selalu berendah hati dan siap mengakui kekurangan dan kelebihannya.
  • Atasan manusia hanyalah Allah. Hanya Allah atasan manusia. Bahkan malaikat disuruh bersujud kepada Adam.
  • Di Akhirat kelak, seluruh hakikat hidup kita mengemukakan dirinya secara jujur, tak bisa kita rencanakan, tak bias kita politisasi atau manipulasi.