Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

 

Kesombongan telah menjalar di setiap lidah, telinga, mata, dan hati para manusia. Kelakuan yang padahal brengsek seperti ini terus dipelihara dan diikuti, tanpa mau melawannya. Manusia sombong dengan lidahnya dengan selalu menghujat, menghina, menggunjing keburukan manusia lain, dia lupa bahwa dirinya pun begitu banyak kekurangan. Dia lebih asik mengata-ngatai orang lain daripada mengatai diri sendiri. Pantas pribahasa mengatakan “gajah dipelupuk mata engkau tak melihatnya, sedang semut di sebrang lautan, engkau mampu melihatnya”
Kesombongan dengan telinga, mereka lebih mau mendengar perkataan orang yang punya jabatan, yang punya pegaruh, yang banyak harta, serta orang-orang yang mereka sukai dan hormati, tapi mereka tak mau mendengar orang yang tak punya jabatan, tak punya pengaruh, dan tak punya harta benda, serta orang yang mereka benci. Ketika yang berkata adalah orang yang mereka sukai dan hormati, mereka mau mendengarkan dan bahkan mau mengikutinya, sedangkan jika yang berbicara adalah orang yang mereka benci dan tak mereka sukai, mereka akan segera mengerutkan dahi, dan tak mau mendengarkan, bahkan mungkin sambil meludah. Pantas sang guru besar berkata yaitu Sayyidina Ali Karramallahu wajhah “dengarkan apa yang dikatakannya, tinggalkan siapa yang mengatakannya” karena apabila kita melihat siapa yang mengatakannya, takut didahului oleh rasa cinta dan hormat, maka walaupun yang diucapkannya itu salah, maka kita akan membenarkannya serta mengikutinya, atau walaupun kita tahu apa yang diucapkannya itu salah, maka kita akan mencari-cari dalil/alasan bagaimana membenarkannya. Dan jika kita melihat siapa yang mengatakannya, takut didahului oleh rasa benci. Walaupun yang dikatakannya itu benar, maka kita tak mau mendengarkannya, apalagi mengikutinya.
Kesombongan dengan mata, ia tak mau menjaga penglihatannya dari segala sesuatu yang dilarang Tuhan, dia anggap semua itu sebagai “Takdir Tuhan”. Ketika dia melihat ketidakbenaran, dia diam, ketika dia melihat ketidakadilan, dia diam, ketika dia melihat ketertindasan, dia diam. Kalo diam melulu apa bedanya dengan patung..?. bolehlah kita tidak peka terhadap prustasi atau kesedihan, tapi kalau kita tidak peka ketika melihat ketidakbenaran, itu tidak baik.
Kesombongan dengan hati ia perlihatkan dengan terus menerus mengurusi otak, mengurusi nalar intelektual, tanpa memperdulikan hati. Mereka lupakan segala penyakit hati yang sedang menjalar dalam tubuhnya, dengki, iri, congkak, benci, serta ujub mereka biarkan mengalir dalam tubuh, hati dan darah mereka. Pantas saja kalau kecerdasan intelektual mereka itu tak sampai mempengaruhi kepada kebaikhatiannya, serta moralitasnya. Yang korupsi itu kan orang pintar?, yang jadi mafia kampus kan orang pintar?, yang suka menindas kan orang pintar?. Ini adalah potret orang-orang yang melupakan hatinya. Nabi Muhammad bersabda dalam sebuah haditsnya, “Di dalam tubuhmu ada segumpal daging, yang apabila ia baik, maka akan baik pula jasadmu, dan apabila dia buruk, maka akan buruk pula jasadmu (Moral), segumpal daging itu adalah Hati.”