Sangat berbeda dengan komunitas penyuka seni tertentu, ibarat bobotoh sepak bola, pencinta seni Kuda Renggong selalu berupaya meluangkan kesempatan ke mana pun. Semisal masyarakat Kecamatan Ganeas, Sumedang Utara, Kab. Sumedang, selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan unjuk kebolehan Si Gatot Kaca, kuda milik Asep Supriyatna, saat tandang ke daerah lain. “Ini suatu keanehan. Kalau main di daerah sendiri paling banter hanya belasan atau puluhan orang, tapi kalau ke luar daerah sampai memaksakan diri berdesakan di bak truk,” ujar Imam (32) yang selalu diberi tugas mengoordinasikan kepergian pencinta Si Gatot Kaca.

SALAH satu atraksi pada “Festival Kuda Renggong 2007″ di Kecamatan Congeang Kab. Sumedang pertengahan bulan lalu. Kemahiran kuda renggong juga membangkitkan fanatisme serta kekeluargaan di antara komunitas.* RETNO HY/”PR”
SENIMAN merupakan makhluk sosial yang selalu berusaha berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakatnya. Semenjak kesenian ada, sejak itu pula tumbuh dan berkembang komunitas-komunitas yang tidak selalu berasal dari seniman dan keluarga seniman, melainkan juga masyarakat sekitar yang turut merasa memiliki juga menyenangi seni.
Namun, berangsur-angsur sejalan dengan semakin maraknya berbagai tawaran seni melalui media, terutama media televisi. Kesenian yang semula menjadi milik masyarakat semakin terpinggirkan. Bahkan tidak sedikit kesenian, khususnya yang berkembang di masyarakat saat ini secara perlahan, namun pasti memasuki masa kepunahan atau sama sekali sudah punah karena dilupakan oleh komunitasnya.
Tidak demikian halnya dengan seni Kuda Renggong yang menjadi ikon seni rakyat Kabupaten Sumedang Jawa Barat. “Di sejumlah kota kecamatan di Kabupaten Sumedang, seni Kuda Silat atau yang lebih dikenal dengan sebutan seni Kuda Renggong semakin banyak peminatnya,” ujar Dayat Hidayat, salah seorang Staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Sumedang, yang juga dikenal sebagai penggiat seni KudaRenggong.
Seiring dengan terus bertambahnya kelompok seni Kuda Renggong atau Kuda Silat yang jumlahnya di Kabupaten Sumedang sudah mencapai lebih dari 160 grup atau kelompok, ibarat jamur di musim hujan, jumlah komunitas penyenang maupun pendukung salah satu kelompok atau grup seni Kuda Renggong terus bertambah. “Ini suatu hal yang sangat menggembirakan, tetapi juga memprihatinkan,” ujar Sawardi (44) salah seorang pemilik Kuda Silat warisan dari kakeknya, Sarnadi.
Biasanya kelompok pendukung atau komunitas seni Kuda Renggong maupun Kuda Silat akan menggunakan nama kelompok atau grup seni Kuda Renggong ataupun Kuda Silat favorit mereka. Keberadaan mereka membuat kelompok atau grup sangat terbantu karena
keberadaan komunitas membuat pemilik grup atau kelompok Kuda Renggong tidak terlalu sulit untuk mencari yang mau menanggap mereka. Namun kurangnya pembinaan dan dukungan dalam suatu wadah khusus dari pemerintah daerah setempat, dikhawatirkan akan menciptakan persaingan kurang sehat di antara komunitas. Masing-masing komunitas akan berupaya untuk menjadikan kelompok atau grup yang mereka dukung selalu menjadi terbaik dalam suatukejuaraan atau festival yang secara rutin digelar.
Sangat berbeda dengan komunitas penyuka seni tertentu, ibarat bobotoh sepak bola, pencinta seni Kuda Renggong selalu berupaya meluangkan kesempatan ke mana pun. Semisal masyarakat Kecamatan Ganeas, Sumedang Utara, Kab. Sumedang, selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan unjuk kebolehan Si Gatot Kaca, kuda milik Asep Supriyatna, saat tandang ke daerah lain. “Ini suatu keanehan. Kalau main di daerah sendiri paling banter hanya belasan atau puluhan orang, tapi kalau ke luar daerah sampai memaksakan diri berdesakan di bak truk,” ujar Imam (32) yang selalu diberi tugas mengoordinasikan kepergian pencinta Si Gatot Kaca.
Sangat beralasan jika kemudian di sejumlah daerah di Kab. Sumedang tumbuh komunitas seni Kuda Renggong atau Kuda Silat. Bahkan kini mulai juga tumbuh di Kab. Majalengka, Garut, dan sebagian Kota dan Kab. Bandung pinggiran. Mereka berasal dari berbagai profesi, mulai dari buruh tani, bandar beras, pedagang, hingga pegawai negeri sangat Menyukai gerakan kuda kala melakukan gerakan yang sebenarnya sulit dilakukan oleh binatang yang memiliki tubuh besar.
“Ada kepuasan tersendiri bila kita melihat langsung dari dekat kuda kesayangan kita melakukan gerakan-gerakan yang sangat lincah. Rasanya kurang puas kalau sekadar mendengar dari mulut orang lain dibanding kita melihat langsung,” ujar Amid (55) yang mengaku sudah menyenangi atraksi seni Kuda Renggong sejak masih kanak-kanak dan selalu memaksakan diri mengikuti kuda kesukaannya tampil di daerah-daerah.
**
ADA fenomena sangat menarik, di saat komunitas penyuka seni atraksi Kuda Renggong atau Kuda Silat, kekompakan serta jalinan kebersamaan di antara pemilik, grup atau kelompok seni Kuda Renggong atau Kuda Silat semakin erat. Hal ini diperlihatkan dengan rutinnya digelar acara latihan bersama atau sekadar berkumpul saling bertukar cerita dan pengalaman.
Seperti saat mengisi waktu sebelum digelar Festival Seni Kuda Renggong dan Kuda Silat di Kecamatan Congeang Kab. Sumedang beberapa waktu lalu. Antara pemilik satu dengan lainnya saling mengunjungi tempat kuda ditambatkan atau tengah dipersiapkan.
“Di sini tidak ada rahasia-rahasiaan, semuanya serbaterbuka dan saling memberitahukan karena yang dibutuhkan dalam kesenian ini bukan metode melatih yang baik, tetapi yang dibutuhkan adalah keuletan saat melatih,” ujar Ujang Amin (41) pemilik kuda bernama Si Ringgo.
Hal menarik lainnya adalah, suka tidak suka siapa pun yang mau turut serta menyaksikan, pergi bersama menggunakan kendaraan bak terbuka (biasanya truk). Untuk menunjukkan identitas, biasanya mengenakan kaus berlogo kelompok. “Bahkan tidak sedikit di antara kelompok yang mengenakan kampret dan ikat kepala atau topi koboi,” ujar Ujang.
Selain itu, kaum ibu biasanya dengan sukarela membawa bekal makanan untuk dimakan bersama-sama. “Pokoknya tidak ada orang yang merasa terpaksa atau dirugikan karena kita bersama-sama untuk kesenangan bukan untuk hal yang susah,” tambah Ujang.
Bagi sejumlah anggota komunitas seni atraksi Kuda Renggong atau Kuda Silat, merupakan suatu kebanggaan tersendiri bila mereka mampu mengantarkan kuda jagoan mereka menjadi juara ataupun tampil unggul dibandingkan dengan kuda lain. Kebanggaan lain yang muncul adalah di kala mereka ikut menari mengikuti irama kliningan, tanji, atau jidur.
Terkadang orang merasa segan atau hormat kepada seseorang yang mampu melakukan tarian atau ngibing mengikuti irama musik. “Sangat jarang seseorang, apalagi anak-anak muda saat ini mampu ngibing, apalagi ibing pencak saat kuda jagoan mereka tampil diiringi irama tanji atau jidur,” ujar Rukman (52).
Ya, saat ini lebih banyak anak-anak muda yang menyenangi irama musik aliran pop atau dangdutan. Itu pun bukan menari mengikuti irama musik, tapi hanya menggoyangkan badan tidak beraturan. Jadi, komunitas penyuka Kuda Renggong maupun Kuda
Silat tidak semata-mata turut melestarikan seni atraksi Kuda Renggong atau Kuda Silat, tetapi lebih dari itu. Mereka melestarikan rasa kebersamaan ditopang berbagai atribut budaya kasumedangan sebagaimana pertamakali seni Kuda Renggong dan Kuda
Silat diperkenalkan Kanjeng Pangeran Aria Suriaatmaja (1882-1919), yang menitipkan kuda sumbawanya ke Sipan seorang pengurus kuda pamong praja yang tinggal diDusun Cikurubuk, Desa Cikurubuk, Kec. Buahdua, Sumedang.

“Jadi sangatlah disayangkan kalau pemerintah kurang begitu memerhatikan nasib kelompok seni Kuda Renggong atau Kuda Silat,” ujar Rukman. (Retno HY/”PR”)***