hana nguni hana mangke –tan hana nguni tan hana mangke–aya mah baheula henteu teu ayeuna– henteu mah baheula henteu teu ayeuna– hana tunggak hana watang– hana ma tunggulna aya tu catangna…
Ungkapan wasiat Galunggung yang memiliki arti, tiada masa kini tanpa ada masa lalu, masa kini adalah peninggalan masa lalu, menjadi penutup Pantun Buhun yang dibawakan Ki Odo D. Widjaya (68), bersamaan dengan suara ayam jantan bersahutan pertanda hari akan berganti pagi.
“Urang ulah mopohokeun sajarah, taya lain sajarah baheula bisa dijadikeun titincakan pikeun lalampahan ayeuna, isuk jeung pageto. (Kita tidak boleh melupakan sejarah, tiada lain sejarah dulu dapat dijadikan pegangan hidup untuk hari ini, esok, dan lusa),” tutur Ki Odo, diiringi gesekan rebab Ki Daum dan jentreng kecapi Ki Juhari, yang usianya tidak jauh berbeda.
Pantun Buhun Gunung Salak dibawakan Ki Odo, didampingi Ki Enur Martawijaya Kusumah (118) kuncen Gunung Salak, Sabtu (10/1) malam hingga Minggu (11/1) pagi, merupakan seni tutur yang harus selalu dihadirkan setiap kali digelar Seren Taun di Kampung Adat Pasir Eurih Sindangbarang, Desa Sindangbarang, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.
Cerita Ciung Wanara yang dibawakan berisikan asal mula beubeutian (tumbuhan umbi-umbian-red.) berikut sifat-sifat manusia umumnya di muka bumi ini yang harus dijadikan cerminan ataupun pegangan hidup bagi siapa pun. Dalam setiap bagian cerita diawali rajah –rajah pamuka, rajah pamudah, dan rajah panutup– diceritakan Raja Galuh Prabu Barma Wijaya Kusumah memiliki dua istri. Istri pertama, Dewi Naganingrum, maupun istri keduanya bernama Dewi Pangrenyep dalam keadaan tengah mengandung.
Saat waktu melahirkan tiba, Dewi Pangrenyep melahirkan anak laki-laki dan diberi nama Hariang Banga. Hanya selang tiga bulan, Dewi Naganingrum dibantu Dewi Pangrenyep juga melahirkan seorang anak laki-laki. Namun, karena sifat iri dan dengki terhadap Dewi Pangrenyep, bayi Dewi Naganingrum digantikan dengan anak anjing. Sementara bayi yang sebenarnya dimasukkan ke dalam keranjang dan disertakan sebutir telur dihanyutkan ke Sungai Citanduy.
Dewi Naganingrum diusir dari istana Galuh. Sementara jabang bayi ditemukan Aki dan Nini Balangantrang di daerah Geger Sunten dan setelah beranjak besar diberi nama Ciung Wanara (Ciung=burung, Wanara=monyet, Sunda-red.). Selain diceritakan pertarungan ayam jago milik Ciung Wanara– yang merupakan hasil tetasan telur yang dulu disertakan dalam keranjang saat dihanyutkan– dengan ayam milik ayahnya, hingga Ciung Wanara mendapatkan bagian kerajaan dan juga diaku anak, juga diceritakan upaya-upaya Aki Nini Balangantrang dalam mengolah tanaman yang ditanami tujuh macam umbi-umbian.
Di sini Ki Odo dengan piawai menceritakan bagaimana tata cara menanam umbi-umbian yang dilakukan Aki Nini Balangantrang. Selain itu, diceritakan juga bagaimana Aki Nini Balangantrang melestarikan hutan sepanjang Sungai Citanduy hingga ikan dengan mudah didapat. “Namun, manusia kini sudah begitu tamak serta serakah, apa pun yang tampak dan tersedia dikuasai tanpa mau memeliharanya. Akhirnya, bencana datang dan yang disalahkan bukan diri sendiri, tapi alam yang disalahkan,” ujar Ki Odo.
Bukan tanpa alasan Seren Taun Guru Bumi kali ini diadakan lebih menekankan pada sisi moral dan lingkungan hidup. “Karena masalah moral saat ini semakin dikesampingkan, kalah dengan kepentingan pribadi. Demikian pula halnya dengan lingkungan, terus mengalami kerusakan karena sifat serakah manusia yang selalu menginginkan sesuatu dengan cara mudah tanpa memerhatikan kelestarian lingkungan,” ujar Pupuhu Kampung Adat Pasir Eurih Sindangbarang, Ahmad Mikami Sumawijaya.
Selain menampilkan Pantun Buhun Gunung Salak, Seren Taun Guru Bumi Pasir Eurih, Sindangbarang, juga menampilkan Ketuk Tilu Buhun, Marebutkeun Dongdang, dan Majiekeun Pare ke Leuit. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Seren Taun Guru Bumi kali ini tanpa dihadiri sesepuh ataupun pupuhu kampung adat dari daerah lain. Hal ini disebabkan sejumlah kampung adat di Jawa Barat sejak akhir Desember lalu hingga pertengahan Januari ini tengah menggelar acara serupa.
**
Berbagai jenis buah-buahan, tanaman palawija, padi, dan sebagainya, terlebih dulu diarak keliling lapangan. Sebelumnya, juga dilakukan kegiatan ritus Majiekeun Pare (memasukkan padi ke dalam lumbung adat) yang diberi nama Ratna Intan dan padi yang dimasukkan adalah jenis Pare Abah dan Pare Ambu. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Sang Rama (pamangku-red.) kemudian diikuti oleh kokolot.
Meskipun hujan turun deras, kemeriahan acara penutupan Seren Taun tidaklah berkurang. Berbagai kesenian Sunda ditampilkan, seperti rempak kendang, reog anak-anak, angklung gubrag cipinang, pencak silat, dan sebagainya. Warga -baik penduduk setempat maupun tamu yang datang dari berbagai daerah- menyaksikannya sampai selesai.
Budayawan Sunda Anis Djatisunda mengatakan, Seren Taun yang diadakan di Pasir Eurih sebagai bentuk ikatan emosional penduduk setempat terhadap berbagai tradisi dan budaya Sunda yang ada dan tumbuh pada masa lalu. “Ikatan emosional tersebut divisualisasikan dalam bentuk kegiatan Seren Taun,” ujarnya.
Warga setempat yang turut serta dari berbagai kegiatan sejak Senin (5/1) lalu, merupakan refleksi nyata bagaimana ikatan emosional terhadap nilai budaya dan tradisi itu tumbuh. Semua kegiatan, termasuk kesenian yang ditampilkan, dibawakan langsung oleh penduduk setempat. Baik itu dari kalangan orang tua, remaja, maupun anak-anak. “Sebulan menjelang Seren Taun, latihan menari dan lainnya dilakukan secara rutin,” kata hulu atau panitia Seren Taun, Surya.
Keinginan bersama dalam memvisualisasikan tradisi terlihat nyata dalam Seren Taun tersebut. Hujan lebat yang membasahi lapangan tidak menjadi penghalang. Begitu pula dengan masyarakat yang menyaksikannya. Semua larut mengenang masa tradisi masa lalu dan seolah-olah memimpikan untuk hadir dalam situasi saat sekarang.
Menurut Anis Djatisunda, nilai positif dari Seren Taun adalah menjadi penetrasi budaya asli terhadap gempuran budaya asing yang merasuk masyarakat dewasa ini. Masyarakat perdesaan tak luput dari serangan yang saban hari diantarkan melalui layar televisi, radio, dan sebagainya. “Penetrasi budaya menjadi hal yang penting dari kegiatan Seren Taun tersebut,” ucapnya.
Anis Djatisunda berharap, Seren Taun bukan sebatas seremonial belaka. Untuk itu, perlu independensi dalam penyelenggaraannya. “Karena masyarakat setempat sudah memiliki akar emosional. Kegiatan ini dapat membentuk watak generasi muda saat ini, sepanjang kegiatan bisa dijaga independensinya,” ujarnya.
Selain soal membentuk watak sebagai penetrasi budaya, sejauhmana relevansi Seren Taun dengan kondisi sosial masyarakat saat ini? Seperti dijelaskan Pupuhu (pemangku adat) Kampung Budaya Sindang Barang Ahmad Mikami Sumawijaya, Seren Taun adalah kegiatan kesenian dan ritus adat sebagai salah satu ungkapan rasa sujud syukur kepada Tuhan yang mahakuasa atas segala nikmat dan limpahan berkah dari hasil bumi yang dirasakan para petani di wilayah Tamansari, Kab. Bogor.
“Acara ini kami namakan Seren Taun Guru Bumi. Dan ini sudah yang keempat kalinya digelar oleh warga di sini, sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada para petani di desa ini,” kata Ahmad.
Di sini letak kerisauan yang disampaikan Surya warga asli Sindang Barang. Lahan pertanian yang ada di daerah tersebut semakin berkurang. Bahkan, penduduknya hanya sekitar 20 persen yang hidup dari pertanian. “Sejak tahun 1979, banyak lahan pertanian yang dijual dan masyarakatnya hidup bukan lagi dari pertanian, tapi dari usaha nonpertanian,” ujarnya.
Bukan saja itu, para generasi muda Sindang Barang, sebagian besar tidak tertarik untuk menjadi petani. “Minim sekali anak muda sekarang menjadi petani. Bahkan, dikhawatirkan ke depan tidak ada lagi yang mau bercocok tanam,” kata Surya.
Apa yang disampaikan Surya sebagai gambaran kegiatan Seren Taun belum menyentuh secara optimal terhadap realitas yang terjadi di daerah tersebut. “Kegiatan Seren Taun hanya untuk menjaga dan memelihara tradisi yang ada sehingga tidak punah dimakan zaman,” ucap Surya.
Kegiatan Seren Taun yang telah dilakukan keempat kali, patut mempertimbangkan persoalan sosial yang saban hari menyelemuti masyarakat. Dengan demikian, kehadiran kegiatan Seren Taun bukan menjadi seremonial tahunan dalam menggali dan memelihara tradisi Sunda, tetapi lebih dari itu. Yakni, selain bisa menjadi pembentuk watak dan perilaku generasi saat ini, juga bisa memberikan dorongan untuk hidup dan senang mengeluti dunia pertanian. (Retno H.Y./Irwan Natsir/”PR”)***


Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa 13 Januari 2009