Terlahir dari keluarga Tionghoa, tetapi karena politik yang sama sekali tidak dipahaminya, Bu Ru Liang (baca: Pu Ju Liang) muda harus mengganti namanya menjadi Soeria Disastra. Karena politik pula ia harus berpisah dengan teman-temannya karena sekolahnya yang khusus untuk etnis Tionghoa harus ditutup. Ia harus ikut menanggung dosa sejarah karena tidak bisa menyembunyikan ciri-ciri fisiknya. Padahal, tanpa ganti nama sekalipun, selama ini ia sudah merasa sebagai urang Sunda. Pengakuannya itu bukan sekadar basa-basi. Jejak langkah Soeria selama ini diperlihatkan melalui berbagai kegiatan kebudayaan sehingga ia merupakan penyebar virus kebudayaan Sunda di kalangan etnis Tionghoa Priangan. Lewat kegiatan itu, ia berusaha membangun sebuah dunia baru di kalangan etnis Tionghoa sehingga terjalin ikatan kekeluargaan lebih erat dengan masyarakat sekitar.

Sejak 1995, Soeria mendirikan Paduan Suara Kota Kembang Bandung, yang hingga kini tetap eksis. Bersama dengan Presiden Komisaris Bank NISP Karmaka Suryaudaya, ia mendirikan Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan sejak 24 Juli 2002. Melalui lembaga tersebut, keduanya mengetuk pintu hati kedua etnis yang sama-sama hidup di Bumi Pasundan. ”Kami lahir dan dibesarkan di sini, berusaha di sini, dan mungkin menutup mata di sini,” katanya diselingi bahasa Sunda.
Menurut dia, organisasi etnis Tionghoa yang paling sehat adalah organisasi yang mengedepankan prinsip berbaur dengan etnis non-Tionghoa. ”Baru kemudian bisa betul-betul jadi satu keluarga,” tambahnya.
Paduan suara
Paduan Suara Kota Kembang Bandung, yang beranggotakan sekitar 100 orang, merupakan salah satu pintu masuk Soeria untuk menyebarkan virus budaya Sunda di kalangan etnis Tionghoa di Bandung. Kegiatan itu sekaligus untuk mendorong terjadinya pembauran. Para anggota adalah alumni Sekolah China Chiau Chung, tempat Soeria pernah menimba ilmu. Usia para pesertanya rata-rata 40-70 tahun.
Walau terdapat peserta yang tergolong sudah manula, semangat mereka tetap tinggi. Selama 15 tahun ini mereka tetap gigih berlatih pada tiap Rabu malam, menyanyikan lagu-lagu Sunda dan lagu China. Bahkan, dalam berbagai kesempatan, mereka berani tampil di depan publik untuk memperlihatkan kepiawaiannya, seperti di berbagai gedung kesenian di Bandung dan tempat lainnya.
Bahkan, saat membawakan lagu ”Lemah Cai” dan ”Hariring Bandung” saat pembukaan pameran buku di Gedung Landmark Bandung, mereka memesona hadirin. Lagu puji-pujian terhadap Indonesia yang menjadi Tanah Air-nya dan senandung Kota Bandung sebagai tempat kelahirannya itu membuat haru pendengar. Lagu itu merupakan pencerminan kerinduan isi hatinya yang terpendam bahwa mereka juga merupakan bagian dari etnis Sunda di Bumi Parahyangan.
Seolah mewakili perasaan saudara-saudaranya, dalam bukunya, Senja di Nusantara, ia secara terbuka mengungkapkan kegalauan hatinya. Di buku kumpulan esai, puisi, dan cerpen itu dia menulis, Selama puluhan tahun, orang-orang Tionghoa di Indonesia begitu tidak dikenal, begitu tidak dipahami dan begitu banyak disalahpahami (Menjadi Perambah Zaman Baru). Padahal, masa kanak-kanaknya dihabiskan bersama teman- teman sebayanya dari etnis Sunda di daerah Cicadas, sebuah daerah yang tergolong kumuh. Ia menggemari komik, buku-buku sastra Sunda, dan kesenian Sunda. Semasa mudanya, ia juga penggemar wayang golek.
Kelompok kesenian ini merupakan cara Soeria membuka pintu dengan etnis Sunda dan yang lainnya. Pada setiap pagelaran, Paduan Suara Kota Kembang Bandung selalu berusaha berkolaborasi dengan kelompok atau komunitas kesenian Sunda lainnya. Lewat panggung terjalin rasa kebersamaan. Soeria lebih dikenal di kalangan para pegiat dan pelaku seni dan budaya Sunda.
Kegiatan sastra
Peminat sastra ini juga menaruh perhatian dengan mendorong kehidupan sastra Sunda. Dulu, ketika majalah Seni Budaya asuhan Tatang Benyamin Koswara, putra sulung tokoh legendaris karawitan Sunda, Koko Koswara atau Mang Koko, tiap tahun Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan menyerahkan hadiah untuk cerpen terbaik yang dimuat majalah itu.
Lewat lembaga ini, Soeria dan Karmaka Suryaudaya menyelenggarakan kegiatan untuk mendorong penulisan sastra Sunda. Dengan kerja sama Paguyuban Pangarang Sastra Sunda (PPSS), Penerbit Kiblat Buku Utama, Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan menyelenggarakan sayembara menulis esai kritik buku kumpulan cerita pendek mini Ti Pulpen tepi ka Pajaratan Cinta. Kegiatan ini didukung sejumlah media Sunda, seperti majalah Mangle, Cupumanik, Seni Budaya, dan tabloid Galura. Karya-karyanya dalam bentuk terjemahan pernah mengisi majalah Sunda Cupumanik yang saat itu diasuh Ajip Rosidi dan Hawe Setiawan.
Karena menguasai bahasa Mandarin, ia juga menjadi pelaku sastra Tionghoa dengan mendirikan Perhimpunan Penulis Yinhua (Tionghoa-Indonesia) untuk menampung minat sastra masyarakat Tionghoa. Rubriknya di Harian Internasional tampil seminggu sekali.
Di antara kesibukannya berwiraswasta, ia menyempatkan diri menerjemahkan karya-karya sastra penulis Tiongkok. Salah satu bukunya, Tirai Bambu, merupakan antologi puisi Tiongkok-Indonesia. Bahkan, dia baru menyelesaikan menerjemahkan kumpulan 65 puisi Tiongkok modern Salju dan Nyanyian Bunga Mei karya Mao Ze Dong (1893-1976).
Soeria menilai, puisi Tiongkok modern memiliki beberapa persamaan dengan puisi modern di Indonesia.
HER SUGANDAPengurus Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat

Soeria Disastra, Penyebar Virus Sunda
Senin, 11 Januari 2010 | 03:30 WIB
HER SUGANDA