Oleh: Sanghiang Mughni

  1. Manusia sebagai pribadi

Dalam hal hidup bersama agar tidak berjauhan dengan keluarga, yaitu “bengkung ngariung, bongkok ngaronyok”, jika semula pepatah ini begitu sangat dipegang teguh, kini bergeser kepada harus berusaha agar tetap hidup tak berkekurangan sehingga tetap dapat hidup bersama. Jika semula perlakuan orang lain, walaupun tidak wajar, harus diterima dengan sabar, maka kini bergeser menjadi perlakuan orang lain harus diterima sepanjang hal itu wajar. Jika kita semula harus ramah dan memuliakan terhadap tamu, baik dikenal maupun tidak, maka sekarang kita menjadi berhati-hati kepada tamu yang dikenal maupun tidak, karena bisa saja dia itu hanya akan menyusahkan bahkan penipu.

  1. Manusia sebagai masyarakat

Pada aspek pandangan hidup manusia sebagai masyarakat, terhadap anggota yang jatuh miskin, pandangan semula adalah bagaimana pun mereka harus dibantu, kini bergeser menjadi sewaktu-waktu perlu dibantu, tetapi jangan sampai terus menggantungkan diri kepada orang lain. tentang kewajiban anak kepada orang tua, jika semula seorang anak dalam mengabdi pada orang tua adalah menuruti segala perintah dan naihatnya, serta mengikuti apa pun keinginannya, dengan memegang prinsip ‘Indung tunggul rahayu, bapa tangga darajat’, kini bergeser menjadi bukan menuruti segala keinginan, melainkan hidup baik, tidak melupakannya, dan menghargai jasanya. Tentang tugas istri kepada suami, jika semula istri mengganggap sumai sebagai junjunan, telah berubah menjadi pandangan bahwa antara suami dan istri harus ada perlakuan seimbang, dan saling menghargai hak masing-masing.