Strategi kebudayaan masyarakat Sunda, tercermin dalam pribahasa sunda yang terkenal yaitu “silih asih, silih asuh, silih asah”

1. Silih asih
Silih asih dimaknai dengan merespon cinta kasih Tuhan, melalui cinta kasih kepada sesame. Dengan ungkapan lain, silih asih adalah memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Dan inilah yang melahirkan persamaan dalam masyarakat. Mereka saling menghormati dan saling menyayangi satu sama lain tanpa ada sedikitpun penghalang. Tak ada perbedaan diantara yang kaya maupun yang miskin, mereka semua setara.
Jika ada diantara mereka yang didudukan paling tinggi atau dianggap superior, inilah yang disebut Prof. Dadang Kahmad sebagai syirik social. Karena ketika ada manusia yang dianggap tinggi, berarti mendudukan manusia sejajar dengan Tuhan. Dan ketika ada manusia yang dianggap rendah, maka mereka telah mengganggap dirinya sejajar dengan Tuhan.

2. Silih asuh
Selain itu, dalam masyarakat sunda, kepentingan kolektif maupun pribadi sangatlah dijunjung tinggi melalui saling control, tegur sapa ketika bertemu, dan mau saling menasehati, dan ini tercermin dalam sebuah pribahasa sunda “nulung kanu butuh, nalang kanu susah, ngahudangkeun kanu sare, mere kanu daek, ngajait kanu titeuleum, nganteur kanu sieun, nyaangan kanu poekeun”. Hal ini dikembangkan melalui budaya ‘silih asuh’ sehingga dalm masyarakat sunda, sangat jarang terjadi konflik dan kericuhan. Tetapi ketika ada kelompok lain yang mengganggu ketenangannya, maka mereka bangkit melawan secara serempak sebagaimana halanya lebah.

3. Silih asah
Masyarakat sunda dahulu, mereka mewujudkan silih asah dengan saling mengembangkan diri, dengan saling mendukung ketika orang lain membuat sebuah kreativitas, dan mereka saling memajukan dalam hal ilmu pengetahuan. Tanpa ada rasa benci dan dengki.
Kini budaya ‘silih asih, silih asuh, silih asah’ telah hilang akibat pengaruh udaya ‘deungeun’ (asing). Kini kita lebih mengutamakan diri sendiri dibandingkan orang lain, kini kita selalu berfikir, biarlah orang lain sengsara, yang penting kita senang. Oleh karena itu, margilah kita kembali kepada khittah kita, kemali kepada jati diri kita sebagai orang sunda, yang menjunjung tinggi prinsip ‘silih asih, silih asuh, silih asah’.