oleh: Rihadjana Kartakusuma

Ajaran Sunda mah teu benten wae sareng filsafat kehidupan ti rerehan Timur umumna (red: Ajaran Sunda tidak berbeda dengan filsafat kehidupan dari belahan dunia Timur lain umumnya). Filsafat itu sendiri secara garis besar menggambarkan seseorang yang bertanya, berjalan mengenali dirinya dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, filsafat berkembang dan tumbuh sejalan dan sesuai dengan lingkup kebudayaan dan lingkungan di mana seseorang itu berada. Dalam pengertian seluas-luasnya, karena sifat filsafat adalah neuleuman dugi ka jeroerona (red: menyelami sampai ke dalam-dalamnya) layaknya seseorang mengupas buah mangga, mulai mengupas kulitnya, lalu dagingnya hingga ke biji yang kerap disebut benih awal, sehingga kerap diterapkan menjadi ajaran yang erat pertaliannya kepada kepercayaan, keyakinan—yang oleh penganutnya kemudian disebut ageman atau agama.

Di Tatar Sunda, salah satu ajaran filsafat keagamaan tersebut diwujudkan secara nyata pada sejumlah artefak kontekstual (tidak bertulisan) dan artefak tekstual (bertulisan) yaitu di Situs Astanagede di Kawali (Ciamis). Isinya berupa pengalaman keagamaan Rahiyang Wastu Kancana, bertapa Bhaga, hingga mencapai kesempurnaan bersatu dengan Sang Cipta (Hiyang).

Pada praktiknya, Situs Kawali merupakan satu-satunya situs yang merepresentasikan ajaran Sunda. Hal ini terlihat dari :

1) bentuk bangunannya yang berpola teras berundak dengan punden,

2) dibentuk dari batu yang alami (mengimposisi),

3) menempati suatu bukit/pasir dengan merujuk ke Gunung Sawal.

Variabel tersebut jelas dan tegas menyatakan bahwa Situs Kawali memang situs pusat upacara keagamaan yang disebut Kabuyutan dengan pemujaan pokok kepada leluhur (buyut) yang diagungkan dengan istilah Hiyang.

Inti pemikiran ajaran tersebut digoreskan pada enam batu berbentuk alami dan secara garis besar tercermin dalam kalimat: “… Pakena keureuta bener, pakna gawe rahhayu, pakeun heubeul jaya dina buana, pakeun nanjeur na juritan ….”

Inti dari menjalankan benar tersebut diungkapkan dalam kalimat “bati peureu tinggal nu atis tina rasa” tergores nyata dalam prasasti (Prasasti Kawali I, II, dan III; lihat koleksi foto di Tangtung Sunda).

Betapa singkat memang kalimat tersebut tetapi mengandung makna teramat dalam:  sebagai himbauan seorang raja agung yang paling saleh di antara raja-raja lain pada masanya untuk berperilaku benar yang direalisasikan dengan menjaga lingkungan, agar tidak dirusak/dieksploitasi (bhaga neker bhaga angger bhaga nincak bhaga rempag), juga tidak berkata sembarangan (haywa dicawuh-cawuh), dan memusnahkan warisan leluhur (haywa diponah-ponah) sebab perilaku teersebut bukan hanya merugikan sesama dan lingkungan tetapi juga diri sendiri (malindes ka diri sorangan – cilaka ku polah sorangan; ulah botoh bisi kakereh). Karena manusia pada dasarnya berada dalam harmoni dengan alam dan seluruh tata dunia ini (buana) yang ada, yang berarti di sana terkandung tata juga (praktik ajaran telah saya posting di discussion board TangtungSunda, berjudul “Situs KAWALI”, silakan baca).

Ajaran Rahiyang Wastu sangat bertumpu pada harmoni dan kesatuan harmoni, yaitu masuk ke dalam realitas itu sendiri, menjadi satu dengan realitas dan secara mendalam atau dari dalam seseorang menerima realitas itu apa adanya. Ini tercermin dalam karakter artefak-artefak Kawali dengan segenap aspek yang begitu mengimposisi kepada alam, sangat natural, dengan tanoa mengeksploitasi apa pun yang diciptakan di dalam lingkungan alam dan tempat di mana seseorang berkebudayaan.

Situs Kawali menyiratkan ajaran tetapi dalam bentuk penawaran pasif—diam dan seakan tidak kentara—begitu pun cara menghayatinya, karena inti persoalan seseorang manusia di dalam upaya merealisasikan harmoni tersebut bertakhta di dalam hati masing-masing.

Pakena keureuta bener pakena gawe rahhayu pakeun heubeul jaya dina buana pakeun nanjeur na juritan” menyiratkan ajaran untuk mengontrol diri bahwa setiap tindakan di dalam hidup manusia selalu mengandug atau tidak terlepas dari akibat, dan akibat inilah yang menentukan lingkaran berputar menuju kebahagiaan. Sebaliknya, duka dan sengsara adalah sumber ketidakbahagiaan manusia, maka seseorag harus memperhitungkan langkah-langkahnya sebaik-baiknya (ulah botoh bisi kakereh).

Semakin seseorang mampu menguasai sumber kesengsaraan (berupa keinginan dan nafsu yang bertumpun pada pancaindriya dan Sembilan lubang pelepasannya [digoreskan pada Batu Tapak Anggana]), maka realisasinya adalah kesadaran tinggi dengan masuk ke dalam diri kita sendiri (wanoh ka diri, wanoh kanu ngajadikeun tur ngalahirkeun diri, yakni indung/bhaga).

Kesadaran dan mengontrol diri inilah sumber keselamatan (pakena gawe rahhayu) yang harus dilakukan selama hidup, sebab seorang manusia di dunia selalu bergerak maju dan tidak ditentukan oleh patokan-patokan tertentu, melainkan terus maju dan bergerak hingga mengenal pengalaman-pengalaman yang sejati pada dirinya (bati peureu tinggal nu atis tina rasa).

Mengenal jati diri melalui akal budi dan intuisi yang lahir dan berkembang dalam proses berjuang (nanjeur na juritan), hadir berhadapan dengan berbagai benda materi, lingkungan masyarakat, alam dan diri (Sanghiyang Lingga Bingba= yang mewujud). Dengan demikian, akal budi dan intuisi (Batu Tapak Anggana) merupakan kunci yang mampu menguak semua ruang-ruang tertutup. Artinya, akal budi harus seimbang dengan ketajaman intuisi dan dipersatukan dalam takhta hati. Karena itu, proses belajar dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah menjadi bijaksana, menghayati kehidupan dengan lebih baik karena hidup di dunia adalah seni yang sulit serta membutuhkan refleksi sepanjang hidup (batu pangeunteungan).

Manusia dalam keberadaannya adalah bagian dari alam semesta (pancaindriya) yang secara bersama-sama membentuk kesemestaan sebab manusia dan semesta berasal dari Dzat yang sama (pancabudhi indriya dan panca karma indriya), Yang Satu, di samping menyadari keunikan keberadaanya di tengah-tengah alam semesta ini, juga memahami dirinya sebagai perwujudan di alam semesta (Sang Hiyang Lingga Hiyang), yakni swayambhuwa – sambhawa, ambu – Ibu.

Proses perilaku rasa cinta dan harmoni yang berakar kepada alam tempatnya berpijak (ambu rarang) , alam tempatnya berperilaku (ambu tengah), alam tempatnya berpulang (ambu ruhur) disebut mayang sagara pamulangan.

Harmoni – kesadaran – kontrol diri yang menjadi patokan ajarannya adalah sederhana, tenang, lembut, sebab kekuatan sejati bagi Rahiyang Wastu adalah kelembutan di tengah kesemestaan dengan penekanan sikap tidak memaksa melainkan menghimbau, berangkat dari kesadaran. Hidup ini maya dan kesementaraan layaknya buih dan gelembung air yang segera akan lenyap bersama kotoran lalu terendapkan ke dasar (layaknya lanau/peureu di dasar danau) sehingga menampilkan kebeningan yang hening di permukaan “bati peureu tinggal nu atis tina rasa“.

Kesadaran yang membuka peluang memasuki kebenaran, direalisasikan melalui laku tapa sehari-hari itu, juga bergantung kepada kemampuan, kebutuhan, dan kapasitas seseorang. Sedangkan laku tapa yang dilakukan Rahiyang Wastu sangat khusus, yakni hingga mencapai kebenaran tertinggi menuju apa yang disebut Mukta atau Moksa yang dapat dilakukan dengan melalui 10 tahapan (La KasagnaMala Kasada) dalam keterbatasan, yakni:

1) tahapan ketika seseorang masih terpusat pada empirik dan menikmatinya;

2) seseorang tidak lagi berfikir tentang empirik melainkan masuk ke dalam pengalaman tersebut;

3) antusias terhadap pengalaman itu hilang;

4) rasa nikmat dan kenyamanan hilang karena konsentrasi murni dan absolut, meski pun mungkin    objek konsentrasi masih menjadi pusat mengatasi keterbatasan;

5) mulai melihat ruang-ruang tak terbatas melainkan masih sebatas bayangan;

6) kesadaran yang tak terbatas;

7) kekosongan;

8) kondisi yang tanpa persepsi maupun non persepsi dengan kedamaian dan ketenangan sebagai faktor dominan yang menyertai kesadaran;

9) berhentinya persepsi (fungsi kognitif) dan fungsi efektif;

10) mencapai kesempurnaan mutlak.

Semua tahapan ini tergambarkan jelas dalam karya sastra keagamaan Sewa Ka Darma, yang menguraikan tahapan ajaran dengan mengutamakan tapa mencakup moralitas dan konsentrasi yang diarahkan ke tingkat lebih tiggi yaitu kebijakan transendental. Semua laku tapa adalah proses perenungan segala gejala yang teramati dengan tujuan akhir: membawa kesadaran masuk ke dalam hakikat segala sesuatu hingga menemukan kebenaran sejati: Sang Sadhujati.

Kesadaran “bukan sesuatu” adalah aliran unit kesadaran individual yang reflex, layaknya megupas sesuatu hingga ke benihnya. Pada tataran ini, manusia adalah pusat yang disetarakan kepada jangka ning jagat, jangka alam semesta, dan peredaran seluru alam semesta . Maka tapa adalah upaya bagaimana manusia memapankan dirinya secara terus menerus, dengan memahami kedudukan saya, mengerti tugas saya, dan fungsi saya di dunia dan dalam kehidupan yang tiga (Tri Tangtu).

Karena itu, titik tolak ajaran Sunda Wiwitan – Rahiyang Wasti adalah Sang Kala- alam semesta. Maka ajaran tersebut juga berarti pengalaman hidup adalah juga mengalami akan hal-hal yang kelihatan dan hal-hal yang tidak kelihatan. Manusia adalah jiwa alam, demikian juga alam adalah Jiwa manusia yang dapat menyatu dalam tataran kebenaran tertinggi: Mukta – Nirwana, yakni bersatu dengan Hiyangnya.

Letak Kabuyutan Kawali

Situs Kawali terletak pada lahan geologis paling tua, yaitu Gunung Sawal, yang di masa lalu merupakan kompleks gunung api tua yang tdak aktif lagi. Gunung ini meliputi: Gunung Manglayang, Gunung Sinambat, Gunung Kawah, Gunung Kawali beserta dengan kandera-kalderanya. Situs Kawali sendiri menempati bekas kaldera Gunung Kawali itu sendiri yang terletak di kaki timur Gunung Sawal.

Kompleks Gunung Sawal merupakan hulu Ci Muntur yang alirannnya mengalir dari barat ke utara menuju hilir dan bertemu Ci Tanduy di situs Patimuan (Karangkamulyan), selanjutnya mengalir ke timur dan bermuara di Teluk Pangandaran (Sagara Anakan). Jadi, Situs (Kabuyutan) Kawali menempati pertemuan sungai-sungai besar yang berasal dari hulu (girang). Pemilihan lahan yang tidak acak melainkan berlandaskan kepada keyakinan Sunda (bukan Hindu, bukan Buddha).

Situs Kawali secara administratif terletak di Kampung Indrayasa Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, dengan ketinggian pada permukaan laut (dpl) 375 m. Situs ini diapit oleh dua sungai yakni Ci Kadongdong di utara dan Ci bulan di selatan yang selanjutnya alirannya bertemu di tenggara (Selacai).

Di Situs Kawali terdapat sejumlah kepurbakalaan (warisan budaya) berupa kontekstual (tanpa tulisan) dan tekstual (mengandung tulisan), sebagai berikut:

1.       situs yang merupakan bangunan teras berundak terdiri dari lima teras dengan elevasi tipis sekitar 5 derajat orientasi ke arah tenggara – timur

2.       pada teras pertama (tertiggi) terdapat punden (tersuci) yang dihubungkan oleh semacam paved-stone menuju ke teras dua

3.       pada teras dua terdapat batu jungjung (stoneseat) = batu pelinggih = takhta kedatangan, yakni Prasasti Kawali I, Prasasti Kawali II, Prasasti Kawali III, sejumlah menhir (batu tegak/Batu Tapak)

4. pada teras tiga terdapat 5 buah menhir, Prasasti V (Batu Panyandungan), Prasasti VI (Baru Panyandaan), Batu Pangeunteungan.

Prasasti-Prasasti Kawali

1.       Prasasti Kawali I
a.nihan tapak walas
nu siya mulia tapa
bagja prebu raja wastu
mangadeg di kuta kawa
li nu mahayu na kadatuan
surawisesa nu marigi sa
kuliling dayeuh nu najur sakala
desa aya ma nu pandeuri pakena
gawe rahhayu pakeun heubeul ja
ya dina buana

b.haywa diponah ponah
haywa dicawuh cawuh
bhaga neker bhaga angger
bhaga nincak bhaga rempag

2.       Prasasti Kawali II
aya ma
nu ngeusi bha
ga kawal ba
ni (/bari) pakena keu
reuta bener
pakeun nanjeur
na juritan

3.       Prasasti Kawali III
bani (bati) peureu ti
nggal nu atis
tina rasa aya ma nu
neusi dayeuh iweu
ulah botoh
bisi kokoro

4.       Prasasti IV (Batu Tapak)
anggana

5.       Prasasti V (Batu Panyandungan)

sanhiyang li-

ngga hiyang

6.       Prasasti VI (Batu Panyandaan)
sanghiyang li
ngga bingba

Isi Pesan Warisan Budaya Kabuyutan Kawali

Secara keseluruhan (berdasarkan isi prasasti-prasastinya) menerangkan bahwa situs Kawali merupakan tapak tilas Yang Mulia Prabu Raja Wastu, raja yang pernah bertahta di Galuh dengan pusatnya di Kawali dengan kadatuan (istana) bernama Surawisesa. Raja yang sangat AGUNG ini menitipkan kepada generasi sesudah beliau (nu pandeuri/ yang akan datang) agar situs Kawali ini dijaga dan dipelihara, jangan dirusak dan diperlakukan semena-mena baik dalam ucapan maupun perbuatan karena tempat ini merupakan Tapaa Walas Tapa beliau sehingga bersatu (Panyandungan) dengan Hiyang. Kepada yang berkehendak (tanpa paksaan) mengikut pengalaman yang ditempuh oleh Prabu Raja Wastu yakni pengalaman keagamaan dengan selalu bersandar pada leluhur (Batu Panyandaan) hendaknya menjaga perilaku denngan selalu berpijak dan melaksanakan jalan benar (pakena keureuta bener) dan keselamatan serta kedamaian bagi sesama (pakena gawe rahhayu). Perilaku menyelamatkan segala cobaan kehidupan (nanjeur na juritan) agar kebenaran selalu menang di dunia. Bagaimana cara agar kebenaran menang di dunia? Ini tersirat dalam Batu Tapak yang bergoreskan prasasti pendek berbunyi “anggana”.

Batu Tapak oleh sebagian besar penduduk disebut Kolenjer atau Kalender karena sepintas mirip Palintangan (seperti kalender tradisional Jawa, Bali, maupun etnis-etnis tradiosional lainnya di Nusantara).

Apa sebenarnya Batu Tapak Anggana itu? Batu Tapak bentuknya sangat alami, seperti halnya prasasti-prasasti Kawali lainnya, pada batu ini bergoreskan 45 buah kotak yang terbagi 5 dan 9; di sebelah kiri gambar kotak terdapat sebaris kalimat “anggana” dan di bagian luar kanan gambar kotak dipahatkan sepasang telapak kaki dan cap tangan kiri. Batu Tapak Anggana merupakan semacam Yantra (alat untuk konsentrasi pada saat manekung) dengan konsep asli ajaran Sunda. Anggana itu sendiri artinya tubuh; maka kotak 45 buah tersebut melambangkan 5 (panca) indriya dengan 9 (lubang pelepasan) yang di dalam bahasa Sunda disebut cungap. Oleh karena itu, di dalam karya sastra keagamaan Sewa Ka Darma, manusia dan tubuh manusia (anggana) tiada lain merupakan wujud yang sangat kompleks layaknya kota dengan 9 pertahanan dan 9 gerbang masuk “Kota dengan 9 Gerbang”. Namun artefak-artfak di Situs Kawali lebih merupakan lambang yang bersifat kognitif (tersirat) yang baru dapat dipahami secara mendalam (verstehen) jika dibandingkan dengan sumber dan data lainnya yang sezaman.

Ajaran Sunda yang tersurat di dalam Karyasastra Sewa Ka Darma (berbunyi “Nanu Namas Haba Jaja”) merupakan buku yang berumur sezaman dengan Kawali menerangkan bahwa manusia memiliki kodrat hidup di dunia sebagai makhluk ganda yang terdiri dari badan kasar dan badan halus. Karena itu, selama hidupnya manusia bergantung kepada dua badannya itu. Namun manusia pun memiliki intelektualitas atas dasar kemampuan dengan kadar yang berbeda-beda; demikian pula di dalam upaya untuk mencapai kesatuan dengan Sang Cipta diberi jalan tertentu sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri.

Selain itu, manusia juga memilki naluri pengenal dan akal, perasaan dan rasa keakuan (ego) yang seluruhnya diperoleh dan diwujudka ke dalam indriya (keinginan) disebut dasa indriya. Dasa indriya ini terbagi menjadi pancabudhi indriya meliputi pendengar, perasa, penglihat, pengecap dan pencium; dan pancakarma indriya yang meliputi penggerak mulut penggerak tangan penggerak kaki penggerak pelepasan dan penggerak bhaga (genital) dan purusa (laki-laki).

Batu Tapak Anggana mengambil ringkasnya (reduksi) seperti yang diterangkan Sewa Ka Darma, yakni bayusasanga, yang merujuk kepada pengertian manusia “kota dengan 9 gerbang” itu tadi. Kotak berjumlah lima disusun vertikal merupakan reduksi dasa indriya (panca budhi dan panca karma indriya). Kotak berjumlah sembilan disusun horizontal merupakan lambang lubang pelepasan dari tiap-tiap indriya; sepasang telapak kaki dan sebuah telapak tangan kiri mau tak mau mengharuskan seseorang berposisi cingogo-nagog yang merupakan lambang seseorang tatkala tengah neker.

Tangan kanan sengaja tidak dipahatkan karena secara nalar dipergunakan untuk mempelajari (sambil merujuk) gambar pahatan yang tampak dihadapannya sebagai proses tatkala seseorang memahami diri dan dirinya. Tujuan dan makna ajaran yang tergambar pada Batu Tapak Anggana tersiratkan dalam Prasasti Kawali I, II, dan terutama III yakni “bani peureu tinggal nu atis tina rasa … aya ma nu ngeusi iwe … ulah botoh bisi kokoro“.

Perilaku berpola tapa guna menghilangkan segala kotoran (noda, cela, onak, duri, dan nista) yang melekat pada fisik dan jiwa, layaknya melepas karat pada besi atau mengendapkan lumpur (lanau) di dasar sungai/ danau sehingga air yang emula keruh (rumeuk/butek) perlahan-lahan bening dan nampak ke permukaan, kian lama kian jernih dan bening tetapi juga tanpa rasa atau tawar, melambangkan Jiwa yang bersih sehingga ringan dan enteng menuju hakikat kehidupan yang sejati.

Inilah makna inti ajaran yang tersirat di Situs Kawali yang merupakan jejak laku tapa bhaga Prabu Raja Wastu (nihan tapak wakas …) hingga bersatu takhta dengan junjungannya yang dilambangkan Batu Jungjung. Persatuan dengan unsur tertinggi yang dipuja (Hiyang) adalah menhir Batu Panyandungan yang bertuliskan “sanghiyang lingga hiyang”.

Hiyang adalah unsur yang tanpa wujud “supranatural“, yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan melalui rasa yang telah “atis tina rasa”.

Bagaimana cara menempuh pengalaman Rahiyang Wastu?

Pengalaman menerapkan kebenaran “pakena keureuta bener” dan kedamaian “pakena gawe rahhayu“. Denan segala kesadarannya Rahiyang Wastu menggambarkannya di Kawali bahwa sebelum manusia merenungkan dirinya (pada Batu Tapak Anggana) adalah sesuatu yang terbatas (jajanten ninggang wates). Maka dari itu, untuk menuju sesuatu “Yang Tak Terbatas” dimulai dengan yang terbatas yang lambat-laun pengabdiannya menuju ke tingkat yang lebih tinggi secara bertahap (Yana).Kuncinya adalah “konsentrasi utuh” terhadap segala sesuatu yang ada pada dirinya yang terbatas itu.

Di alam, untuk mengonsentrasikan pikiran terhadap sesuatu yang terbatas diperlukan suatu objek yang dapat ditangkap karena Hiyang tidak terbatas sifatnya sebagai “Sukma Yang Abstrak”;  maka itu ia sarana kongkrit untuk bertolak menuju ke “Yang Tanpa Wujud”. “Wujud Tertinggi” itu dilambangkan dengan bentuk yang sesuai kebutuhan, sesuai kepercayaan dan kemampuan manusianya.

Agar “Yang Tiada Wujud” itu dapat dibayangkan maka dibuat lambang batu tegak (menhir) yang lain, yakni Batu Panyandaan “sanghiyang lingga bingba“, yakni Hiyang di dalam wujudnya dina buana. Baik Batu Panyandaan maupun Batu Panyandungan dihadirkan bukan untuk disembah bendanya melainkan untuk membantu pikiran agar terkonsentrasi pada Makna Yang Tertinggi yang abstrak – universal – dan mengatasi segalnya (totalitas).

Batu Tapak Anggana inilah yang merupakan inti pemahaman atas perilaku manusia di dunia. Manusia yang mengkognisi kepada alamnya sesuai hakikat ajaran Sunda senantiasa menekankan orisinalitas manusia sebagai makhluk hidup yang tereduksi dan terintegrasi di dalam alam dan akhirnya kembali menyatu kepada alam “Mayang Sagara Pamulangan”.

Batu Tapak Anggana juga adalah yang sebenar-benarnya merupakan “pola denah Situs Kawali” itu sebagai Yantra dan Brahmasthana; maka dapat dikatakan bahwa teras (meski pun nampak sangat tipis perbedaannya jika tidak dilihat benar-benar) Situs Kawali berjumlah lima teras. Teras ke 4 dan ke 5 yang terletak sesudah teras ke-3 … “hilang lenyap terjahamankan Pagar Keliling buatan Pemda …” karena ketika dilakukan pemugaran tidak berpatokan pada konsep ajaran Sunda.

Seluruh teras dengan pola konsentris (5 teras) yang sangat tipis jarak dan elevasinya memang disengaja melambangkan betapa tipis sebenarnya batas antara raga kasar jeung raga badag (antara manusia dengan penciptanya), antara jagat gede dengan jagat kecil, antara kebenaran dan kejahatan, antara ego dan diri, ibarat “sagorolong jeruk nipis ” sehingga seakan hampir tiada batas. Namun, sekaligus ketipisan tersebut betapa sukarnya dilalui karena kuncinya harus mengerti mengalahkan diri hingga wanoh ka diri.

Ku ngajaga cungap-cungap panca indriya, mempertapakan bhumi tempat kita berbakti kepada hidup yang menghidupi, yang oleh orang Kanekes disebut “ngabaratakeun nusa telupuluh telu bagawan sawidak lima.”

Bhaga adalah genial wanita = rahim emas (hiranya garbha) = simbol bumi = pertiwi. Bumi dipersamakan sebagai Sang Dewi Ibu = Pohaci Sang Hiyang Asri = Dewi Kesuburan bagi seluruh umat di permukaan bumi, bukan sekadar bumi yang kita pijak melainkan bumi bawah bumi tengah dan bumi atas. Bumi itu adalah bumi bawah = cakra sasangggana manusia, di mana manusia dipangku di atasnya; bumi tengah di mana kita menjalani hidup = rawayan; dan bumi atas di mana inti sari manusia berpulang kelak = kalanggengan.

sumber : Tulisan hasil karya Richadiana Kartakusuma, disadur dari forum Tangtung Sundayana. tulisan merupakan makalah pada KIBS (KONGRES INTERNASIONAL BUDAYA SUNDA) ATAS KERJASAMA YAYASAN RANCAGE DAN TOYOTA FOUNDATION