Setelah sah menjadi santri al-Falah, aku merenungi diriku sendiri, yang begitu nakalnya. Aku bertekad untuk memperbaiki diri. Menurutku pesantren adalah tempat untuk memulai lagi kehidupan baru yang lebih baik, karena pesantren adalah sebuah tempat untuk melatih diri supaya mandiri.

Memang sungguh berbeda antara kehidupan di pesantren dengan di rumah. Ketika di rumah, aku hanya berteman dengan teman sekampungku, tapi saat di pesantren aku mendapatkan teman baru yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Garut, Subang, Purwakarta, Tasikmalaya, Cianjur, Bogor, Jakarta, Palembang, bahkan dari Madinah dan Mesir. Dan kalau di rumah segalanya sudah disiapkan oleh orang tua, tapi ketika di pesantren aku melakukan semuanya dengan sendiri. Mulai dari mencuci, menyetrika, mandi harus ngantri, serta tidur harus bertumpuk-tumpuk. Tapi aku senang menjalani semua ini, aku merasa terlahir kembali, dan aku begitu bersyukur kepada Allah, karena menakdirkanku untuk bisa hidup di Pesantren.