Ada kebiasaan yang tidak bisa aku lupakan ketika mondok di Pesantren al-Falah. Setiap ba’da shalat fardhu, para santri dibiasakan untuk tadarus beberapa ayat al-Qur’an, dan dilanjutkan dengan membaca wirid secara berjama’ah yang dipimpin langsung oleh Imam, baik oleh Ayah ataupun para ustadz.

Suatu saat setelah shalat shubuh, seperti biasa para santri membaca wirid yang langsung dipimpin oleh     Ayah. Dalam wiridan kami selalu membaca tawassul (Pembacaan al-Fatihah yang ditujukan bagi Rasulullah, para Sahabat, Dan Para Ulama). Kali ini ketika wiridan aku tertidur atau yang lebih terkenal “Nundutan”, sampai ketika Ayah membaca pada kalimat “Ila hadratin nabiyil musthafa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam” tiba-tiba aku mengikuti ucapan Ayah, padahal saat itu aku sedang “Nundutan”, tapi saat aku bukakan mata sambil mengikuti ucapan Ayah, seakan-akan aku berada di tempat lain, dan di depanku ada sesosok Pria yang memakai baju Ihram, berambut panjang ikal, sambil dikelilingi oleh orang-orang. Dia berkata kepada orang disampingnya sambil menunjuk kepadaku, “Ieu budak dimana ngadenge ngaran Kaula, sok langsung maca shalawat”. Lalu pria itu menyodorkan tangannya untuk aku cium, dan setelah aku cium tangannya, maka aku pun terbangun.

Aku berpikir, mungkinkah dia Rasulullah SAW?, karena kepada siapa lagi aku bershalawat jika bukan kepadanya. Dan memang aku sendiri merasa sudah terbiasa ketika mendengar nama Nabi Muhammad, aku langsung mengucapkan “Shalallahu alaihi wassalam”. Wallahu a’lam bishawab. Sampai saat ini mimpi itu aku jadikan cambuk untuk meningkatkan rasa cintaku kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.