Setelah selesai nyantri di Pondok Pesantren al-Qur’an al-Falah, yang dipimpin oleh KH. Q. Ahmad Syahid, aku memutuskan untuk meneruskan menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Garut, pimpinan Prof. KH Anwar Musadadad, yang sudah lama wafat. Pertama kalinya aku menginjakan kaki di Garut, yang begitu beda dengan Bandung. Di Garut aku masih bisa melihat pepohonan yang rindang, sawah yang menghampar luas, serta udara yang sangat sejuk.

Di pesantren al-Falah, yang sangat diperdalam adalah al-Qur’an, sehingga tidak sedikit pesantren al-Falah mengeluarkan jebolan-jebolan yang jago ngaji. Sebut saja Muammar ZA, Nanang Qosim, Mariah Ulfah, H. Mu’min Ainul Mubarok, dan mungkin salah satunya adalah Abdul Mujib, salah seorang dosen Fakultas Dakwah UIN Bandung. Mereka adalah Qari-qari tingkat nasional dan internasional. Sedangkan al-Musaddadiyah adalah pesantren yang memperdalam Bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan Bahasa Arab.