Oleh:

Richadiana Kadarisman Kartakusuma M.Hum

(Peneliti Arkeologi pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional)

1. Pendahuluan

Hampir dipastikan bahwa pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat berbagai daerah di Indonesia terutama yang berkaitan dengan sejarah kebudayaan masih sangat sedikit. Barangkali hanya kehidupan masyarakat dan kebudayaan Jawa yang telah agak banyak diungkapkan. Hal itu antara lain sebagai akibat cukup banyaknya bahan, ruang dan fasilitas yang tersedia melakukan telaah mengenai masyarakat dan kebudayaan Jawa, dibandingkan bahan mengenai masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di Nusantara lainnya.

Akibatnya peneliti, terutama peneliti asing di masa lalu bahkan hingga kini lebih banyak mencurahkan perhatian dan minatnya tentang masyarakat dan kebudayaan Jawa.

Kenyataan tersebut membawa pengaruh ditemukannya data dan sumber maupun bahan-bahan baru untuk dikaji masyarakat dan kebudayaan Jawa.[1] Dampak lebih parah, minat dan perhatian terhadap sejarah kebudayaan Jawa kerap diinterpretasi hanya kebudayaan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tanpa “engah” jikalau dalam perjalanan sejarah kebudayaan Jawa, juga ada Jawa Barat yang justru menyimpan peristiwa kebudayaan, yang nyata dan tegas mengawali dan melandasi peradaban Jawa sekarang. Mungkin karena Jawa Barat kerap populer dengan sebutan Sunda, maka jika seseorang membicarakan Jawa secara umum (terutama oleh pihak di luar Pulau Jawa) seakan telah termasuk Sunda, mungkin itu sebabnya sejarah kebudayaan Sunda teramat jarang disentuh dan diminati, secara khusus.

Kenyataannya, meskipun dapat dikatakan ‘tidak terlalu banyak”, tulisan tentang sejarah kebudayaan Tatar Sunda (Jawa Barat) memiliki kadar kesejarahan dengan nilai kajian cukup tinggi, dan telah diawali oleh para ahli baik dalam maupun luar negri. Diantaranya tulisan K.F.Holle dan Hageman ketika mereka bertugas di Perkebunan Teh Waspada, Garut-Jawa Barat. Hasil karyatulisnya banyak berkenaan dengan bahasa, naskah karyasastra dan naskah prasasti.

Bahkan di dalam tulisannya mengenai Prasasti Kawali (1867) menghimbau agar para pengkaji dan masyarakat luas memberi perhatian lebih kepada prasasti-prasasti sebagai data ‘otentik’ yang sarat mengandung informasi penting di dalam rangka mengupas dan mengungkap sejarah kebudayaan Sunda. Dan ternyata satu abad kemudian, himbauan Holle tersebut berhasil dan memperoleh tanggapan positip. Sebagaimana terbukti hadirnya karangan Suhamir (l961), disusul Atja (1972), Atja dan Saleh Danasasmita (l981, l986) dan Ayatrohaedi (l987, l9880.

Di sini peran Holle sebagai sarjana asing (Belanda) yang sangat perhatian terhadap ‘Kasundaan’ tidak dapat diabaikan begitu saja, bahkan Pleyte yang justru membuat pedoman penulisan bahasa Sunda dengan aksara Latina (1882), jasanya yang lain memperkenalkan cara penulisan sesuai kepada patokan ilmiah internasional. Berkat jasa Pleyte juga, Muhammad Musa (1870) kemudian hadir sebagai pengarang Sunda pertama yang mencantumkan nama tonggak Kesusastraan Sunda Baru.

Sarjana asing (Belanda) yang juga turut meninggalkan jejak cukup dalam adalah Hageman. Ia menyusun sejarah Sunda (1867-1867) menggunakan sumber sejarah, tradisi, naskah karyasastra, dan bukti lain yang telah ditemukan dan sudah dikenal pada waktu itu. Dalam hal ini Hageman adalah yang pertama menyatakan bahwa pada tahun 1337 A.D., di Galuh (Ciamis sekarang) telah ada pengaruh Islam dan diantaranya adalah keberadaaan seorang Haji Purwwa. Asumsi Hageman ternyata sesuai dengan berita yang tercatat di dalam naskah karya Pangeran Wangsakerta (1677-1698).

Pada abad ke-20 muncul Meijer, Grashuis, Oosting, dan Brumund. Kecuali Brumund, tiga pengkaji yang disebutkan terdahulu secara umum hasil karyanya lebih ditekankan kepada permasalahan bahasa dan sastra Sunda berdasarkan data dan sumber di lingkungan tempatnya bermukim. Meijer menyumbangkan dua tulisan mengenai bahasa dan sastra Sunda daerah Banten Selatan (1789; 1891); Grashuis menyusun tata bahasa dan bacaan bahasa Sunda (1873; 1881; 1891); Oosting (1876;1880) membahas dua karyasastra yang dikenal masyarakat Sunda kala itu; sementara Brumund (1868) menulis tentang Hinduisme yang berkembang di Jawa, termasuk yang berkembang di Tatar Sunda.

Sarjana asing lainnya yang menonjolkan kajian tentang kasundaan adalah Coolsma menyusun Kamus Sunda–Belanda (1884), tahun 1904 menyelesaikan karya monumental mengenai Tata Bahasa Sunda, disusul tahun l911 bersama Albers menyelesaikan Kamus Belanda-Sunda.

C.M. Pleyte adalah ahli Prasejarah yang memulai kegiatan ilmiah dengan penuh dedikasi terhadap Kebudayaan Sunda sehingga digelari ahli Kasundaan. Sejak Pleyte itulah tonggak ilmiah Sunda mulai tegas. Jasa Pleyte (1913) lainnya adalah menghadirkan sejumlah karya signifikan yang sangat beragam tentang hal hal yang bertaut dengan kebudayaan asli Sunda, baik mengenai kesussastraan (cerita pantun) maupun yang berkaitan dengan sejarah. Hasil karyanya terutama mengenai Pantun Sunda, salah satu bentuk sastra lisan yang oleh Haji Hasan Mustafa dianggap merupakan kebudayaan asli Sunda terbit tahun 1911–1916. Pleyte juga menyoroti Kasundaan dari segi antropologi (l911-1913;1914 dan 1916). Selanjutnya mengenai kepurbakalaan Sunda berturut Perquin (1927); Moquette (1933); Steinmetz (1899;1940); N.J. Krom (l914;1923;1931); J.Ph.Vogel (1925); Smith (1925); Koorders (l927); van Tricht (1928); Coster-Wijsman (1929); H.Kern (1940); Eringa (l949); Geise (l952) dan J. Noorduyn (l962; 1966; 1982).

Perlu pula dicatat bahwa ada seorang sarjana pribumi yang pertama berjasa menyumbangkan pemikiran tentang Sunda adalah Hoesein Djajadiningrat, yakni disertasi tentang Sejarah Banten (1913). Meskipun dalam beberapa hal, Pleyte mengkritik terhadap karya ilmiahnya itu, namun karya Hoesein sangat penting karena Hoesein lah yang pertamakali melakukan ulang bina sejarah berdasarkan sumber sejarah sekaligus merupakan bukti diri pelopor sosok intelektual pribumi Sunda yang cemerlang pada masanya. Pada tahun 1916, Ardiwinata menerbitkan Elmoening Basa Soenda (tata bahasa Sunda) terdiri dari dua jilid.[2] Disusul Memed Sastrahadiprawira, sosok tokoh Sunda yang tertarik pada sejarah di dalam posisinya sebagai sastrawan. Di samping menulis Kesusastraan Sunda juga menampilkan Roman Sejarah.[3]

Sejumlah pribumi yang patut disebut penggerak bidang kajian Kasundaan abad ke-20 adalah Suhamir (l943; 1961), Atja (l967; 1970; 1972; 1973; 1981; 1985; 1988), Ayiprosidi (l962; l982; l985; l987), Saleh Danasasmita (l974;1981;1987) dan tulisan dengan Anis Djatisunda (1987; 1988), Yus Rusyana (1975; 1978; 1982), Edi S. Ekadjati (1979; 1982; l985; 1989; 1990), Uka Tjandrasasmita ((1976;1984), Hasan Muarif Ambary (1978; 1984; 1988), Ayatrohaedi (l964; 1974; 1985; 1986; 1987; 1988;1989;1990), Yudistira K. Garna (1988), Teguh Asmar (1974), Dudu Prawiraatmadja (l978;1980), Prawirasumantri (1981;1983), E. Hermansumantri (1979), dan Fatimah Jayasudarma (1987). Kendati mungkin hasil pemikirannya dapat dikatakan banyak menyumbangkan data dan sumber bagi kajian Sunda, namun karya-karya mereka lebih cenderung berupa artikel, dengan fokus pilihan dan minat pada salah satu bidang kehidupan yang tengah menggejala pada masanya, dan tidak dikaitkan ke dalam konteks yang disebut “sistem”.

2. Pokok Permasalahan

Meneliti kehidupan masyarakat dan kebudayaan Sunda pada periode “sebelum hadir inovasi Islam muncul” berbagai permasalahan baik menyangkut segi ilmiah maupun yang tidak ilmiah. Masalah pertama adalah seputar pengertian masyarakat dan kebudayaan Sunda itu sendiri, apakah masyarakat dan kebudayaan Sunda harus diartikan sebagai semua bentuk masyarakat dan kebudayaan yang pernah hadir di kawasan kebudayaan Sunda sekarang, atau terbatas sejak mulai lahir nama Sunda itu sendiri?

(Kata) Sunda pertama kali disebutkan di dalam Prasasti Kebon Kopi B dikeluar-kan tahun Candrasangkala i Kawihhaji Panca Pasagi.[4] Prasasti ini dipahatkan pada bongkah batu alam dengan aksara Sunda Kuno dan bahasa Malayu Kuno. Yang mengumumkan tentang seorang Rakryan (bangsawan) Juru (mengetuai) peristiwa menghambat (Pangambat) pada Kawihaji Panca Pasagi sehingga memulihkan kedaulatan (barpulihkan) Raja Sunda (Haji Sunda). [5]

Tujuan isi prasasti ini sangat penting, berkenaan dengan pengumuman untuk memperingati pemulihan (kedaulatan) raja Sunda atas keberhasilan seseorang yang berkedudukan sebagai Rakryan Juru Pangambat. Namun sejauh itu apa, siapa dan bagaimana yang diterangkan dalam prasasti masih menjadi polemik, di dalam kaitan antara tokoh dan peristiwa yang dimaksudkan di dalam prasasti. Apa yang dapat diuraikan hanya sebatas kepada kata atau istilah rakryan yang merupakan gelar kebangsawanan (keluarga) kerajaan yang erat hubungannya dengan wilayah kekuasaan, gelar bengkok (lungguh atau apanage). Sementara itu Juru merupakan sinonim kata tuha artinya ketua; sementara pangambat, kata jadian berimbuhan dari kata dasar ambat yang dapat diuraikan [pa]-ng-[ambat]. Kata ambat sepadan dengan kata heumbat (Bahasa Sunda), atau hambat (Bahasa Indonesia). Maka Rakryan Juru Pangambat adalah bangsawan yang saat itu mengetuai peristiwa “menghambat”.

Lalu siapa dan apa yang dihambat tidak disebutkan, namun tersirat ditunjukkan penggunaan jenis bahasa pengantarnya yakni bahasa Malayu Kuno. Persoalannya adalah mengapa prasasti itu ditulis dengan menggunakan bahasa pengantar Malayu Kuno? Mengapa dipilih dan ditempatkan di situs Kebonkopi, yaitu situs dimana terletak prasasti dari masa Tarumanagara, disebut Prasasti Kebonkopi A, lebih dahulu ditemukan dari periode lebih tua, digoreskan dengan menggunakan aksara (pasca Pallawa ata yang hadir sesudah Palawa, atau Palawa muda?) dan bahasa Sanskrta ?

Mungkinkah dua prasasti memiliki hubungan erat satu dan lainnya? Ataukah juga berhubungan kepada salah satu prasasti dari kawasan pemangku budaya bahasa Malayu Kuna, yakni Prasasti Kotakapur (Bangka), dari Kerajaan Sri Vijaya (G.Coedes 1918; G.Ferrand 1919; N.J.Krom 1926). Prasasti ini dituliskan dengan aksara Pallawa Muda, dan bahasa Malayu Kuno dan sebagaimana kebiasaan prasasti-prasasti dari masa yang lebih tua, hampir selalu bercampur kosakata Sanskerta. Isinya antara lain berbunyi:

“… tathapi niwunuh sumpah, tuwi mulam yam manyuruh marjjahati, yam marjjahati yam watu nipratistha ini tuwi niwunuh ya sumpah talu muah yam mulam sarambhara uram drohaka tida bhakti tida tattwarjjawa diy aku dhawa muatnya niwunuh ya sumpah…// sakawarsatita 608 dim pratipada suklapaksa wulan waisakha, tatkalanya yam mammam sumpah ini, nipahat di welanya yam wala sriwijaya kaliwat manapik yam bhumi jawa tida bhakti ka sriwijaya //0//

Pada tahun 608 Saka (686 AD) Sri Vijaya mengeluarkan prasasti yang ditujukan kepada Jawa yang durhaka kepadanya (di dalam upaya menundukkan Jawa) disertai dengan kalimat mengutuk, menyumpah dan melaknat, karena Jawa dianggap menampik dan tidak berbakti kepada kedaulatan Sri Vijaya. Prasasti yang ditemukan di Karangbrahi ini kontemporer dengan masa berlangsungnya (akhir) Kerajaan Tarumanagara di kawasan Tatar Sunda. Sejalan dengan berita Carita Parahiyangan, kemungkinan periode sekitar abad ke-7 AD, Tarumanagara dipegang oleh seorang tokoh yang disebut Tohaan di Sunda (Tarusbawa). Sejauh-mana peristiwa itu terjadi kaitan peristiwa tersebut dengan sosok Rakryan Juru Pangambat dan berita prasasti dari Sri Vijaya tetap masih belum jelas dan membuka peluang untuk dibahas.

Nama Sunda yang kedua kalinya disebutkan di dalam Prasasti Sanghiyang Tapak, 932 Saka atau 1030 A.D. dikeluarkan oleh Sri Maharaja Jayabhupati dari Parhajian ri Sunda, ditemukan di situs Cibadak, Sukabumi. Situs inilah yang mengecoh para ahli dengan menghadirkan asumsi bahwa daerah itu merupakan wilayah inti Kerajaan Sunda ketika muncul abad ke-11 A.D. Sejak abad ke – 11 A.D. nama Sunda ditemukan dalam sejumlah sumber dan data sejarah di luar Tatar Sunda . Diantaranya, Prasasti Horren[6] (Kadiri, Jawa Timur) menyebut Sunda; Berita Cina menyebutkan Sunda dengan lafal (idiolek) mereka Sin-t’o; kemudian pada masa jauh kemudian sumber Eropa juga menyebutkan adanya kerajaan yang bernama Çumda.

Carita Parahiyangan (1580) yang menyiratkan bahwa Sunda telah ada sejak masa yang paling tua sebelum abad ke -11 AD. Diawali oleh cerita seorang pemuda berasal dari kerajaan Galuh dan menjadi menantu Tohaan di Sunda (yang dipertuan di Sunda). Ia adalah Rakean Jambri yang bergelar resmi Harisdharmma telah menggantikan tahta sang mertua sebagai penguasa Sunda. Demikian para ahli sejarah dan peneliti sepakat bahwa Rahiyang Sanjaya yang disebut-sebut di dalam Carita Parahiyangan adalah tokoh sejarah yang benar-benar nyata dan pernah hidup. Kaitannya dengan berita Prasasti Sthirengga (Canggal, Wukir- Sleman) tahun 654 Saka (732 AD.), yang mengumumkan bahwa Sanjaya adalah penguasa penuh seluruh Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur).

Dua sumber sejarah tersebut bersesuaian dengan berita tulisan dari Pangeran Wangsakerta yang menyebutkan bahwa Sanjaya adalah putra Sena (raja Galuh) dan Sannaha yang didudukkan sebagai ahli waris Kerajaan Medang (Jawa Tengah). Ditambah kedudukannya sebagai menantu Tarusbawa, maka Sanjaya resmi sebagai ahli waris sah atas tahta kerajaan Galuh, Kerajaan Sunda dan Kerajaan Medang (Mataram). Sanjaya bertahta di Kerajaan Sunda selama sembilan tahun (645-654 Saka/723-732 AD). Maka tegaslah tahun 732 AD. Sanjaya penguasa Mataram dengan pusat Medang ( i mdang i bhumi Mataram).

Jikalau berita tersebut diterima, maka Kerajaan Sunda telah ada sekurang-kurangnya pada paro akhir abad ke-7 AD. Sejalan berita naskah Wangsakerta bahwa kerajaan tersebut menyatakan diri merdeka dan berdaulat penuh, segera setelah Linggawarman (raja terakhir Tarumanagara 666-669 AD) meninggal. Kerajaan Sunda yang semula merupakan bawahan Tarumanagara, menyatakan kemerdekaannya tahun 669 AD, disusul Kerajaan Galuh pada tahun 670 AD.

Masalahnya adalah benarkah perjalanan sejarah Tatar Sunda sedemikian adanya? Sejauhmana warisan budaya berupa data kepurbakalaan, sumber naskah karyasastra, naskah prasasti, tradisi lisan (yang diketahui menjadi ciri dan karakteristik masyarakat Sunda) serta berbagai sumber lainnya berperan dalam upaya mengulangbina masyarakat dan kebudayaan Sunda?

Selain berkenaan dengan masa awal dan akhir perjalanan, sejarah kebudayaan Sunda tetap menyimpan “misteri”, banyak yang belum diungkap dan terungkapkan dan patut dikaji. Belum ada ketegasan batasan antara warisan budaya Prasejarah, budaya Klasik dan budaya Islam. Kendatipun dari sejumlah data yang telah ada lebih memperlihatkan kecenderungan kontinuitas bukan diterjemahkan sebagai studi-studi tertentu sebagaimana kenyataannya sekarang, terlebih lagi dalam khazanah sejarah kebudayaan Sunda. Mengingat bahwa setiap aktivitas kebudayaan tidaklah selalu berlangsung di dalam tenggang dan kurun waktu sama atau sejajar dengan berlangsunganya aktivitas budaya di daerah-daerah lainnya di Nusantara.

Layaknya etnis-etnis di Nusantara lainnya, maka etnis Sunda pun memiliki azas dasariah sebagai landasan pokok pengalaman pengetahuan sesuai kepada ruang lingkup dan lingkungan kebudayaannya (ekosistem). Secara langsung dan tidak langsung keberadaannya berkaitan dan berhadapan ke permasalahan pokok antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Namun permasalahan pokok yang paling utama adalah kurang tersedianya informasi, ruang dan waktu dan fokus penelitian maupun kajian tentang Sunda. Diantaranya asumsi-asumsi yang dibangun semata tidak berlandaskan kepada pokok ideologi Sunda, tetapi digeneralisasi secara umum. Adanya pernyataan tentang “tidak adanya bangunan candi pada masa Hindu-Buda (Klasik) di Tatar Sunda”.

Jikalau dipandang sepintas karya monumental pusat upacara keagamaan, khususnya yang dikatagori “candi” di Sunda sangat sedikit. Namun hal tersebut tidak berarti bahwa urang Sunda tidak memiliki bangunan (karya monumental) pusat upacara keagamaan. Dalam hal ini konsep bangunan pusat upacara keagamaan harus dikembalikan kepada konsep azas dasariah tadi. Bahwa “tidak adanya bangunan candi di Sunda” semata ditujukan kepada jenis dan gaya bangunan pusat upacara keagamaan yang secara fisik menampilkan pengaruh Hindu-Buda.

Persoalannya menyangkut kepada istilah candi itu sendiri. Istilah yang lahir dari sarjana dengan kedudukannya sebagai orang asing atau berada di luar pemangku budaya Sunda. Asumsi yang tidak menyentuh “meaning” – perasaan bahasa yang melandasi idea pemangku budaya bersangkutan. Ironisnya asumsi sarjana kolonial inilah yang diacu banyak kalangan ilmuwan di Nusantara, seluruh warisan aktivitas budaya karya monumental khususnya bangunan keagamaan periode Klasik digeneralisasi begitu saja dengan istilah Candi. [7]

Selaras kenyataan bahwa sebagian besar tampak fisik warisan budaya berupa teras-teras berundak, sehingga bagi mereka para ahli kerap terkecoh, menganggap bahwa karya monumental tersebut bukan dari periode Klasik melainkan sepenuhnya berasal dari tingkat budaya tradisi Megalitik pada periode Prasejarah. Bahwa landasan konsep Sunda, istilah yang digunakan masyarakat Sunda untuk bangunan suci keagamaan ataupun hal-hal bersifat suci lainnya dipakai istilah khas Sunda, yaitu kabuyutan. Kendatipun mungkin digunakan istilah yang mengesankan “berbau” Hindu-Buda. Namun sejauh pemakaiannya hanya sebatas meminjam istilah yang sedang “nge-Trend’.

Sejumlah data dari masa Sunda Kuno membuktikan bahwa tidak satupun diantara sumber-sumber tertulisnya menyebutkan istilah candi bagi bangunan-bangunan pusat upacara keagamaan. Istilah yang dipakai Urang Sunda untuk menyebut bangunan aktivitas keagamaannya adalah kabuyutan. Mengapa seakan terdengar demikian berbeda? Barangkali harus mengulang pernyataan yang pernah disampaikan oleh C.M.Pleyte (l909:35; cf Saleh Danasasmita 1974):

“Hinduisme i.e. Sivaism made its entry into the Pasundan but wether it ever became popular is rather doubtful, as not more about half a score of images belonging to the Sivaitic pantheon have been discovered, whilst such temples and monasteries as abound in Middle and Eastern Java sought for in vain. It is fair to conclude therefore, that while a few of the native princes did perhaps adopt the foreign religion, the bulk of the population remained true to their original creed founded on animism and ancestor worship”.

Suatu fakta bahwa pengaruh Hindu-Buda di Nusantara tidak membawa perubahan yang bersifat kwalitatif melainkan hanya sebatas pada tingkat kwantitatif saja. Sekaligus membuktikan kemandirian Sunda, suatu sikap yang hanya terjadi dan dimiliki suatu bangsa yang bermental kuat karena telah memiliki landasan pengetahuan tinggi pada masanya. Juga karena konsep yang melandasi pemikiran yang direpresentasikan oleh Urang Sunda ke dalam wujudnya yang nyata (simbol-simbol), sangat khas Sunda dan yang membedakan dirinya dengan konsep pemikiran lainnya.

Persoalan paling mendasar yang juga sepatutnya dihadirkan adalah tentang Masyarakat dan Kebudayaan Sunda itu sendiri. Persoalan yang seakan nampak “sepele” namun menyangkut pengertian identitas infinitif dan definitif yang justru kurang diperhatikan, apakah pengertian Masyarakat dan Kebudayaan Sunda tersebut berkenaan kepada pengertian berlaku di masa kini, yang sedang berlangsung, hanya mencakup individu atau kelompok suku bangsa (etnis) dan kebudayaan yang mendiami wilayah Jawa Barat? Ataukah mencakup sejumlah daerah lain, terutama Jawa Tengah bagian barat yang nyata menghubungkan dirinya dengan tradisi Sunda:

  1. banyak sekali istilah nama dan tempat di daerah Jawa Tengah yang memperlihatkan unsur-unsur budaya Sunda. Terutama tempat-tempat dengan nama-nama Ci-, Pasir-, dan Dayeuh-, memberi petunjuk di masa lampau daerah tersebut pernah memiliki hubungan sangat erat dengan daerah kebudayaan Sunda. Lebih tegas di daerah-daerah itu dikenal bentuk seni, tradisi dan kepercayaan masyarakat yang sama dengan wilayah budaya Sunda yang lain. Selain pemakaian bahasa Sunda, dikenal cerita pantun dan pengakuan terhadap sosok peran Prabhu Siliwangi dan Ciung Wanara,
  1. berkenaan dengan unsur dan kandungan budaya yang direkam dalam berbagai naskah karyasastra. Diantaranya Sang Hiyang Siksa Kanda Ng Karesian (disingkat SSK) selesai disusun taun 1518 AD. Naskah ini, oleh Suhamir (l961) dinyatakan “Ensiklopedia Sunda”, secara faktual dan aktual dipergunakan sebagai sumber pertama menelaah dan mengungkap lebih mendalam kandungan budaya masyarakat. Isi SSKK antara lain tentang peristiwa keagamaan, kesenian, bahasa, kehidupan ekonomi, masyarakat, politik, mata pencaharian dan tingkat pengetahuan Sunda pada waktu itu. Namun memperoleh gambaran dan keterangan yang terkandung sepenuhnya dalam SSKK, harus dibuktikan dengan menggunakan berbagai sumber sejarah, bahan-bahan kajian lainnya dan berlangsung di dalam penelitian yang bernuansa multidisiplin,
  1. kapan sebenarnya rentang waktu yang ditempatkan atau yang dianggap mencakup pengertian sejarah kebudayaan Sunda terutama sebelum inovasi Islam itu? Daerah atau wilayah mana saja yang tercakup ke dalam kebudayaan Masyarakat Sunda sebelum inovasi Islam? Bagaimana dan apa saja yang termasuk khazanah kandungan budaya Sunda?
  1. menyangkut sumber-sumber atau sekumpulan sumber yang sengaja harus dibatasi atau yang sifatnya terbatas dalam bidang-bidang yang sangat relevan; maupun sumber-sumber secara terbuka saling melengkapi dan saling menunjang antara satu dan lainnya.

3. Lingkup Pembahasan Tentang Kisunda

Kajian tentang Kisunda agaknya tidak dibatasi hanya pada data arkeologi, naskah prasasti dan karyasastra, tetapi juga menyangkut antropologi budaya yang melibatkan data etnografi, tradisi atau historiografi tradisional dan sastra lisan atau tutur.

Di dalam hal ini, data arkeologi digunakan sebagai data utama karena bagaimanapun penelitian ini berlandaskan kajian arkeologi. Kendati pengalaman penelitian seringkali membuktikan data arkeologi sedemikian jauh tidak dapat ditampilkan sebagai fakta dengan tanpa ditunjang dan dibantu ilmu lain. Sehubungan itu dipergunakan sumber dan data lainnya (terutama naskah sejarah) dalam upaya mengungkap apa yang sesungguhnya tersirat dibalik tampak fisik data arkeologi yang terselubung kebisuan itu, diatasi melalui kajian terhadap naskah karyasastra dan naskah sejarah, kedua jenis data itu menyimpan dan merekam khazanah budaya bersifat abstrak menyiratkan inti agama, filsafat, gagasan, wawasan individu masyarakat yang bersangkutan sekaligus mencerminkan “perasan bahasa” dan “emosi keagamaan” pemangku budaya.

Tidak dipungkiri bahwa dalam perjalanan penelitian tidak jarang terbentur kenyataan bahwa memanfaatkan data dan sumber sejarah belum berarti sepenuhnya dapat menjawab permasalahan seperti yang diharapkan. Betapapun terekam dan tersimpan dalam naskah (sumber) tertulis tidak juga berarti sama dengan budaya masyarakat yang bersangkutan.

Sebagian budaya milik masyarakat justru diperlihatkan dalam kehidupan masyarakat tertentu yang bermukim di daerah terpencil dengan jarak cukup jauh dari jangkauan situs ditemukannya naskah sumber itu, menyebabkan kurang sekali tersentuh budaya dengan luar. Mereka inilah yang disebutkan sebagai pelaku yang dalam kehidupan sehari-harinya setia menjalankan warisan budaya sebagaimana direkam dan diberitakan sumber naskah bersangkutan. Dalam pengertian individu/ kelompok masyarakat yang masih dikatakan “asli”.

Dalam hal-hal tertentu kajian menggunakan data etnografi sebagai bahan perbandingan agar memperoleh gambaran yang benar-benar lengkap dan menyeluruh, yang dapat digolongkan :

  1. kelompok masyarakat pemangku tradisi dan budaya “asli” antara lin di-antaranya masyarakat Kanekes di Banten Selatan, masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya, masyarakat Cigugur di Kuningan dan masyarakat Majenang di Banjar (Ciamis).
  1. hasil penelitian di situs Pasir Angin, Ciampea membuktikan kehidupan pada masa nirleka (prasejarah) dan berlanjut hingga abad ke-9 —10 AD. Tradisi budaya Prasejarah yang berlangsung jauh hingga runtuhnya Tarumanagara pada periode Hindu-Buda. Fakta kondisi masyarakat Sunda ternyata telah berada pada era (abad, masa) sejarah sejak sebelum hadir Tarumanagara, yakni sejak zaman nirleka (Prasejarah).[8]

Kehidupan masyarakat Sunda pada waktu itu berpegang pada tatacara dan pola hidup yang berlangsung sebelumnya. Bukan “keajaiban” jikalau setelah Kerajaan Sunda dikalahkan Islam (sekutu Banten-Demak) di berbagai daerah Sunda ditemukan sejumlah karyasastra yang benar-benar samasekali tidak ber-nafaskan Islam.[9]

Kajian tentang kebudayaan Sunda yang menjadi perhatian meliputi kurun waktu abad ke-7 hingga akhir abad ke-16 A.D. Kurun waktu tersebut didasarkan kepada catatan rekaman sejarah yang berhasil ditemukan. (Hingga) Demikianlah abad ke-7 ditandai mulai redupnya pamor Tarumanagara, seiring hadirnya Kerajaan Sunda.[10] Batas kajian diambil hingga akhir abad ke-16 A.D. didasarkan kepada catatan sejarah yakni mulai pudarnya kerajaan Sunda yang ditandai oleh burak Pajajaran, masa perkembangan masyarakat Sunda dapat dikatakan beralih ke corak Islam.

Dengan demikian pokok kajian secara langsung melibatkan kebudayaan dan menghubungkan kajian sumber sejarah, data arkeologi dan antropologi. Dengan sendirinya kajian memadukan metode-metode sejarah yang berhubungan kepada sumber, teknik-teknik arkeologi yang berhubungan kepada data fisik, ditunjang oleh konsep-konsep antropologi yang berhubungan kepada budaya.[11] Paduan tersebut diharapkan menghasilkan suatu penelitian yang memberikan paparan lengkap dan utuh, sekurang-kurangnya berlandaskan kepada semua sumber dan data yang dikaji.

Sesuai yang dipaparkan, kajian dan penelitian ini bertujuan membuat uraian utuh dan padu mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan Sunda. Fokus utama kajian abad ke-7 hingga akhir abad ke-16 dengan menggunakan berbagai sumber sejarah, naskah karyasastra, ditunjang data arkeologi etnografi.

Agar tujuan tersebut tercapai, digunakan tahapan dan cara kerja, metode penelitian, kajian lapangan, pengolahan dan penafsiran data, dan penyajian tulisan yang layak terbit dan publikasi untuk panduan Urang Sunda khususnya sebagai pemilik sah warisan budaya leluhurnya. Hasil kajian diharapkan membuka gerbang khasanah kebudayaan Sunda yang telah sekian lama “terkunci rapat” untuk selanjutnya disuguhkan kepada masyarakat luas tentang apa dan bagaimana sesungguhnya Sunda.

Berpegang kepada Koentjaraningrat (l986) bahwa pada dasarnya setiap kebudayaan di dunia memiliki variabel yang bersifat universal, dan dipastikan bahwa setiap wujud dan unsur budaya tersebut merupakan dayacipta pendukung budaya sebagai tool of making animal di lingkungan kebudayaannya. Setiap wujud dan unsur kebudayaan selalu telah disertai makna pencipta atau pembuatnya, sehingga apa yang diciptakannya mencerminkan mental template yang mutlak mencirikan kekayaan dan pengalaman bathin para pemangku kebudayaan bersangkutan. Oleh sebab, kendati mungkin saja secara fisik, sedikit-banyaknya memperlihatkan ada kemiripan, namun tidaklah selalu “harus dianggap sama ataupun dipersamakan” begitu saja.

Lewis R.Binford menegaskan bahwa unsur makna sangat berperan sebagai faktor utama, yang menghadirkan ciri pribadi dan yang membedakan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya. Makna merupakan batiniah yang setara dengan meaning dan yang menjadi inti terdalam (core), serta bersifat mental template itu senantiasa berada dalam tataran konteks fungsional yakni komponen religi dari suatu sistem. Maka religi di sini, tidak sekedar yang disebut “agama” melainkan mencakupi partwhole (seluruh aspek) sistem kepribadian individu atau   kelompok masyarakat. [12]

Sebagaimana hakekat kebudayaan di dunia, memiliki azas dan menempuh cara dalam mengalienasikan dirinya. Membicarakan masyarakat dan kebudayaan Sunda berkaitan kepada permasalahan epistemologis fundamental, yakni menyoroti Urang Sunda (anthropos)(?) menata dan melangsungkan kehidupan dalam suatu ekosistem (oikos), termasuk merepresentasikan pengalaman (ethnos) (?) pengetahuannya serta menghadirkan dayacipta (teknos) (?) ke dalam bentuknya yang nyata. Namun apa yang dihadirkan (representasi) ke dalam realitasnya selalu terdiri dari materi yang bersifat sensorable message (nampak dan dapat diraba) dan materi yang bersifat unsensorable message (gagasan, ide, daya cipta); yang manakala dihadirkan akan menampilkan simbol-simbolkhas kepribadiannya.

Ruang lingkup pembicaraan Masyarakat dan Kebudayaan Sunda tidak sekedar melengkapi telaah yang telah ada (dan dirasakan sangat kurang), juga menempatkan fakta yang telah ada dengan fakta yang belum terungkapkan secara saling menunjang dan terpadu. Karena itu   pokok yang dibahas bertumpu kepada kajian yang dititikberatkan kepada sumber sejarah data arkeologi dan antropologi (mencakupi kehidupan keagamaan dan kebudayaan dan kehidupan sosial dan ekonomi). Ke dalam pengertian selua2snya menempatkan masyarakat (Urang) Sunda secara lebih utuh, sesuai proporsi dan proses pengalaman kebudayaannya. Dengan berlandaskan kepada empat poros fenomen budaya, yaitu anthropos, oikos, teknos dan ethnos.[13]

Demikian maka anthropos adalah Urang Sunda sebagai individu yang bukan sekedar pendukung tetapi faktor sentral pelaku budaya seutuhnya dengan kekhasannya mencipta dan yang akan membedakannya dengan individu atau kelompok masyarakat lainnya. Termasuk kemampuan (daya) kreativitas mengolah alam menjadi lingkungan kebudayaan; Oikos adalah universum kosmis, wadah Urang Sunda melangsungkan proses pembudayaannya di dalam suatu ekosistem. Ekosistem tidak hanya sekedar sarana kelangsungan hidup, juga medan (palagan) yang memungkinkannya menjadi wadah berjuang menuangkan karya-karyanya serta terciptanya hubungan struktural manusia dan lingkungannya. Teknos adalah perpanjangan tangan Urang Sunda di dalam mengolah dan mengerjakan dunianya. Termasuk pencerminan perilaku yang dipahami sebagai perkembangan kebudayaan kolektif sebagai hasil interaksi pribadi-pribadi/anggota masyarakat.[14] (etnos-nya mana?)

Mengaplikasikan empat poros fenomen budaya sesuai kepada judul yang di-ajukan dilakukan secara dialektis antara subyek yang sadar (materi fisik) dan subyek yang tidak sadar (materi non fisik), sebagai hubungan sebab-akibat terjadi-nya peristiwa (fenomena kebudayaan). Di sini dialektis merupakan “pisau analitis” (metode) dan pandangan individu peneliti (etik) dalam mengkaji objek ditelitinya (emik).[15]

Dialektis merupakan paradigma arkeologi konteks atau interpretif yang digunakan untuk memahami record di masa lalu, direalisasikan dengan melalui emphatetic-approach, suatu cara yang dikenal dalam hermeneutic circle.[16] Menurut pandangan ini, semua gejala dipahami dalam konteks luas dimana kekhususan peristiwa tidak ”minded” dan terikat kepada hanya satu metode saja, secara kaku dan beku. Interpretasi terhadap fenomena atau gejala peristiwa tidak seharusnya mandeg tertutup dan selalu bergantung dalil atau teori. Namun secara terus me-nerus diuji dan dianalisa hingga ke titik “yang tidak bisa dipertanyakan lagi dalam lingkaran yang tidak terputus-putus”.[17]

Di negara-negara lain di dunia terutama yang mengembangkan disiplin Arkeologi diberlakukan sesuai fakta yang ditemukan di lapangan, temuannya lebih menampakkan data etnografis. Kebanyakan daripadanya berlangsung dari periode Prasejarah (yang dianggap belum menghasilkan sumber tertulis), hingga periode Sejarah (telah menghasilkan sumber tertulis) yang dikenal dengan sebutan periode Klasik (dalam batasan universal).

Sedangkan di Indonesia, Arkeologi dikenal dengan sebutan Ilmu Purbakala atau Oudheid-kunde. Maka kajian Arkeologi di Indonesia (terutama bagian barat), khususnya periode Sejarah atau periode Klasik ditandai oleh inovasi Hindu-Buda (dari India). Oleh karena itu periode Klasik selalu dipertautkan kepada periode Hindu-Buda.

Dalam periode Klasik yang oleh sebagian para sarjana kerap disebut masa Hindu-Buda itu, bukti-bukti warisan budaya dan sejarah yang ditemukan, sebagian besar berupa tinggalan keagamaan, baik yang berupa benda fisik termasuk ke dalam data artefak kontekstual (kepurbakalaan: bangunan, arca, benda-benda upacara) juga data artefak tekstual, kerap disebut sumber sejarah yakni naskah keagamaan (karyasastra), dan naskah politis (dokumen prasasti).

Kenyataan bahwa data kontekstual merupakan data “bisu” dan hanya dapat dibaca dengan mengungkapkan makna yang terkandung didalamnya ditunjang oleh data sumber tekstual (data tertulis). Dengan sendirinya penafsiran atas artefak kontekstual selalu bersandar kepada penjelasan-penjelasan dari sumber-sumber tertulis (tekstual). Dalam kaitan ini sumber tertulis memberikan keterangan atas hasil kesenian (artefak-artefak seni) kuna mengenai pemikiran, secara khususnya gagasan-gagasan keagamaan yang melandasi karya-karya seni itu. Sumber tertulis, disamping meletakkan suatu karya ke titik waktu tertentu, juga membantu pembahasan mengenai pencapaian mutu tertentu yang menandai karya-karya tertentu atau karya-karya dari masa tertentu (Sedyawati 1944).

Berangkat dari pemikiran itu, suatu fenomena atau peristiwa (part) hanya dapat dijelaskan jikalau peneliti menempatkan fenomena dalam keseluruhan konteksnya (part). Dengan demikian, fenomena budaya yang diteliti memberikan pemahaman baru serta membuka peluang mengubah konteks pemahaman umum. Sebelum sesuatu fenomena budaya diterangkan dalam bentuk yang lebih fisik (erklaren) maka terlebih dahulu dipahami atau dihayati (verstehen) batiniahnya agar yang nanti dijelaskan, keterangannya “benar-benar” sesuai landasan makna yang diacu oleh si pemangku budaya yang tengah diteliti. Artinya sesuai kondisi situasi pemikiran dan pengalaman atau gagasan pemikiran pemangku budaya. Sebagaimana diungkapkan Ch.Dowson (cf., Noerhadi Magetsari 1980:498):

“…We cannot understand the inner form of the society unless we understand the religion. We cannot understand its cultural achievement unless we understand the religious beliefs that lie behind them. In all ages creative works of a culture are due to a religious inspiration and deicated to the religious end…”

Nyata bahwa dari berbagai hasil penelitian mengenai masyarakat dan kebudayaan Sunda di masa lalu, sebagian besar yang masih dapat dilihat adalah warisan aktivitas keagamaan. Sekaligus menunjukkan bahwa faktor keagamaan sangat besar peranannya dalam kehidupan masyarakat. (saya kurang paham maksud tulisan paragraf ini?). Dengan demikian pokok pertama dibicarakan dalam kajian ini adalah hal-hal berkaitan dengan faktor-faktor keagamaan. Melalui bahasan kehidupan keagamaan diharapkan dipahami peranan kehidupan keagamaan masyarakat dan kebudayaan Sunda khususnya sebelum inovasi Islam.

Sanghiyang Siksa Kanda Ng Karesian (SSKK) merupakan salah satu sumber sejarah penting dan lengkap mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan Sunda hingga awal abad ke-16 A.D. Berkenaan dengan kehidupan keagamaan, kemasyarakatan dan ekonomi, bahkan ada keterangan yang ber-kenaan dengan perencanaan keluarga dan pelestarian lingkungan;

Kabuyutan Ti Galunggung sedemikian jauh tidak memperlihatkan adanya sentuhan budaya Islam, isinya semata ajaran dan pandangan hidup yang dilandasi agama yang ketika itu dianut masyarakat SundaDisamping tetap kuatnya bertahan keyakinan dan kepercayaan Asli Pribumi yang dikenal sebelumnya. SSKK juga menyiratkan bahwa pada masa itu di kalangan masyarakat Sunda telah terjadi pengaruh Hindu-Buda.[18] Sejauhmana pengaruh tersebut masuk dalam kebudayaan Sunda, ditegaskan di dalam SSKK bahwa: “batara bakti di hiyang” artinya batara (dewa) tunduk kepada Hiyang (Leluhur) (Atja dan Danasasmita 1981; Ayatrohaedi 1987;1988;1995; 2001). Suatu penegasan yang tajam bahwa Hiyang merupakan pokok pemujaan yang tertinggi dan tetap kuat serta tidak tergantikan (ini apa?) oleh pengaruh luar.

Sepanjang bahan yang telah terkumpul pembicaraan ini adalah upaya mengungkapkan dan memerikan bagaimana masyarakat Sunda (sebelum Islam) melaksanakan ajaran kehidupannya sesuai lingkungan kehidupan sehari-hari. Selain berdasarkan keterangan yang diuraikan di dalam naskah keagamaan, juga dibandingkan kepada tata cara kehidupan masyarakat yang secara ketat melaksanakan ajaran Sunda (wiwitan) yang pada beberapa tempat tertentu, dan ada yang tetap berlangsung hingga kini.

Ditengarai bahwa di dalam kehidupan keagamaannya. sehari Urang Sunda yang sudah beragama Islam, pada prakteknya mereka mengaku beragama Islam atau dalam keadaan sebaliknya. Namun nampak di dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak meninggalkan warisan tradisi budaya yang telah diwarisi turun temurun sebagai “adat dan tradisi masyarakat Sunda sebelum Islam” Agama di masa lalu besar pengaruhnya dan menduduki peranan utama terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Namun sejauh kekuatan pengaruh terbentur masalah “Mengapa di daerah budaya Sunda jarang sekali ditemukan bangunan suci yang tertunya bernilai seni dari masa atau periode sebelum Islam?”.

Dari temuan hasil penelitian yang telah ditampak-ungkapkan ditemukan data kepurbakalaan berupa karya monumental bangunan suci. Namun dari sebagian besar yang nampak lebih berlandaskan khas Ki Sunda dan sebagian kecil saja memperlihatkan pengaruh luar budaya Sunda. Data kepurbakalaan tersebut tersebar tidak hanya di wilayah yang telah dimengerti sebagai kawasan budaya Sunda, tetapi juga di luar kawasan budaya Sunda. Inilah saatnya asumsi dan pernyataan “klise” itu dipertanyakan ulang kembali dan diungkapkan dengan menjawab dan menampilkan tentang bagaimana, apa dan siapa sesungguhnya Ki Sunda. Terutama sehubungan dengan generalisasi terhadap interpretasi budaya-budaya yang berkembang sesuai tingkat, kondisi dan situasi data dan sumber yang ditemukan dan diterjemahkan sebagai periode Hindu-Buda di Tatar Sunda.

Selain kepurbakalaan yang menarik dibahas adalah berkenaan dengan bahasa, bertumpu kepada seberapa jauh bahasa Sunda berperan di dalam kehidupan masyarakat Sunda sebelum Islam? Temuan sejumlah naskah dokumen prasasti demikian pula naskah keagamaan yang menggunakan bahasa yang bukan Sunda masih memerlukan penafsiran khusus atas peran dan bahasa di kalangan masyarakat Sunda. Sesuai kenyataannya mengapa naskah naskah Serat Sewa Ka Darma (1434 AD) ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno. Jenis dan gaya bahasa di daerah-daerah yang di masa lalu diasumsi termasuk ke kawasan budaya Sunda?

Gaya bahasa Sunda yang hingga kini dianggap “Bahasa Sunda bercampur Bahasa Jawa” ditengarai tetap dipergunakan hingga awal hadirnya pengaruh Islam, dijadikan bahasa pengantar resmi pesantren-pesantren di daerah-daerah yang termasuk wilayah inti Kebudayaan Sunda. Gaya bahasa tersebut digunakan di beberapa daerah seperti Kuningan, Cirebon, Banten, Majenang dan Banjar (Kabupaten Ciamis) (Ayatrohaedi 1978).

Mengenai khasanah kemampuan ilmu pengetahuan masyarakat Sunda di masa lalu diutarakan ke dalam beberapa naskah. Disebutkan bahwa masyarakat Sunda sebelum Islam telah mengenal stratifikasi sosial yang melibatkan sejumlah pakar yang ahli dalam bidangnya (profesional sesuai kondisi saat itu). Keahlian nyata yang dapat diselaraskan kepada tujuh unsur kebudayaan di dunia secara universal ditegaskan Koentjaraningrat. Terutama yang menonjol adalah tatacara bercocok tanam dan ekonomi (cara menghitung harga dan mengukur luas tanah); juga sistem kemasyarakatan, mata pencaharian, sistem perekonomian dan teknologi.

Pembicaraan tentang sistem kemasyarakatan melibatkan hal-hal yang berkenaan dengan struktur masyarakat, sistem kekerabatan dan pelapisan sosial yang berlangsung pada waktu itu. Meskipun dasar konsepnya sama namun karena pengaruh kekuasaan, maka pelapisan masyarakat pusat cenderung lebih rumit dibandingkan pelapisan masyarakat di daerah. Sehubungan dengan dikenalinya struktur masyarakat pusat dan struktur masyarakat daerah yang masing-masing memiliki suatu pelapisan masyarakat tertentu. Nampak dalam beberapa hal ada kesejajaran antara struktur masyarakat dan struktur kekuasaan. Petunjuk bahwa di wilayah budaya Sunda kala itu telah dikenal kekuasaan pusat dan sejumlah kekuasaan daerah, berhubungan dengan struktur pelapisan sosial banyak terekam dan tersirat dalam tradisi tutur (lisan) berupa pantun-pantun Sunda, sehingga dapat dipakai sumber penelaahan.

Cerita pantun menyimpan gambaran bagaimana struktur kekuasaan dan pemerintahan dilaksanakan. Tokoh-tokoh cerita pantun umumnya digambarkan menunaikan tugas meluaskan kekuasaan negara, dan selalu berhasil, selanjutnya untuk sementara ia menjadi penguasa di daerah yang ditaklukan. Setelah kehidupan di daerah tersebut tenang dan damai maka kekuasaan dikembalikan kepada penguasa yang ditaklukan itu. Dengan catatan raja atau penguasa yang telah ditaklukan itu tetap mengakui kedaulatan pusat di daerahnya. Kekuasaan daerah penting pengaruh-nya terhadap kekuasaan pusat, pada saat setelah proses penaklukan kekuasaannya diserahkan dan dipegang langsung oleh kerabat pihak pusat, dan jikalau penguasa pusat meninggal maka kekuasaan pusat diserahkan kepada penguasa daerah penting itu. [19]

Struktur masyarakat dan pelapisan sosial masa kerajaan Sunda direkam di dalam SSKK, tentang tingkat-tingkat (hierarkis) kebaktian dan kedudukan dalam masyarakat memperlihatkan pejabat-pejabat yang langsung berhubungan dengan pelaksanaan kekuasaan tersebut. Ditunjukkan oleh adanya struktur hierarkis jabatan dengan istilah Wado, Nu Nangganan, dan Senapati, Mangkubumi dan Ratu.

Sistem perekonomian dan sistem mata pencaharian berkenaan dengan pelapisan atau pengelompokan masyarakat berdasarkan profesi yang dikenal da (?) berlangsung waktu itu. Baik sumber lokal dan berita asing sepakat bahwa situasi dan kondisi Kerajaan Sunda saat itu merupakan “negara” yang cukup terpandang pada masanya. Orang-orang asing datang ke “negara Sunda” secara berkala untuk tujuan berniaga. Tidak mengherankan jika di dalam naskah SSKK disebutkan di bandar-bandar utama Kerajaan Sunda terdapat sejumlah profesi yang berperan sebagai Jurubasa Darmamurcaya (Juru bahasa Penterjemah), karena banyaknya orang-orang asing dari berbagai bangsa dan negara baik dari berbagai daerah Nusantara maupun dari luar Nusantara (Cina, Arab, Parsi, India, Kmer, dan lain-lain).

Dari sekian banyak orang luar yang bertandang, bangsa yang cukup menonjol dengan memiliki kedudukan istimewa dan khusus bagi orang Sunda, yaitu Orang Jawa dan Cina.[20] SSKK juga menyebutkan sejumlah profesi lainnya yang berkecimpung di dalam bidang jasa: “wado, nu nangganan, mangkubumi, senapati, dalang, janggan, dan bujangga”.

Pembicaran segi teknologi berkenaan dengan peralatan dan perlengkapan hidup serta pengolahan sumber kehidupan. Berita Cina menyebut bahwa rumah penduduk Nusantara (baca: Sunda) umumnya dibuat dari bahan kayu, beratap rumbia atau ijuk, dan ada yang bertingkat; sumber-sumber lokal memberikan informasi bahwa peralatan Urang Sunda sehari-hari terbanyak ditemukan berupa kored, kujang, dan aseuk. Peralatan kegiatan berladang dan membuka hutan dihubungkan dengan profesi Pahuma, Paburu dan Pamatang, kaitannya dengan kehadiran Urang Sunda dengan ciri dan karakternya, sebagaimana dikisahkan carita pantun. Diantaranya Lutung Kasarung mengkisahkan Purbasari mengajarkan tatacara berhuma, bertenun, menangkap ikan.

Tatacara ini masih nampak menghidupi masyarakat Sunda tradisional Tetapi merekalah sebenarnya yang dapat disebutkan individu-individu penerus tradisi budaya dan adat istiadat nenek moyang dengan ciri kekhasan Ki Sunda. Adanya ciri yang diterjemahkan sebagai khas Ki Sunda, dan membedakannya dengan budaya lain, seharusnya diterjemahkan kepada kondisi, situasi dan sifat Urang Sunda.

Disinilah kenyataan menunjukkan bahwa kehidupan suatu masyarakat adalah suatu jalinan tiada terputus, tetapi saling sambung, suasana dan nafas baru yang mewarnai kehidupan masyarakat dan kebudayaan, tidaklah selalu harus diartikan bahwa tatacara dan pola hidup sebelumnya sudah tidak dianut lagi oleh masyarakat bersangkutan.

Para ahli yang berkecimpung dalam khasanah kebudayaan Sunda berulang-ulang menyebut bahwa KiSunda sangat akrab dan ketat dengan latar budaya berladang memberi peluang subur terhadap pertumbuhan dan perkembangan kultur Hindu dan Buda, namun sebaliknya tradisi megalitik tetap bertahan menjadi esensi bagi kehidupan spiritual masyarakat bercocoktanam (peladang). Berlangsung-nya tatacara dan pola hidup kelompok masyarakat Sunda tradisional yang cenderung merupakan komunitas tersendiri dan dalam lingkungan “agak terpencil” justru merupakan petunjuk bahwa tatacara dan pola hidup lama itu justru tetap kuat bertahan di tengah suasana dan maraknya nafas baru.

4. Pamungkas

Berpulang kepada inti pembicaraan jelaslah bahwa kalangeuan Ki Sunda ke dalam pengertian Sejarah Kebudayaan Sunda masih terpendam sepenuhnya menjadi selaksa permasalahan yang perlu diungkapkan dan ditampakkan seutuhnya. Ke dalam tatanan yang relevan seuai dengan kebutuhan dan kepentingan an budang kajian multidisipliner, ataupun wadah-wadah sosial budaya ebsgai wakil-wakil pemerhati warisan budaya serta yang benar-benar sadar dan “haus” untuk mengenal jati dirinya.

Salah satu faktor yang jelas turut mempercepat proses perkembangan kebudayaan, akan tetapi tidak banyak disadari adalah kegiatan pendidikan dengsan berbagai perangkatnya. Kendatipun mungkin pendidikan formal mendatangkan dampak sosial budaya yang tidak kecil, namun nampsknya tidak banyak orang yang menentangnya.

Sebaliknya orang percaya bahwa perkembangan pendidikan itu merupakan sarna untuk kesejahteraan hidup, meskipun mobilitas sosial sebagai salah satu akibat perkembangan pendidikan dapat mengancam kemampuan taanan soasial yang telah ada; orang cenderung untuk mencari kambing hitam lain yang menyebabkan keresahan dan ketegangan sosil dalam masyarakat bersangkutan.