Ketika masa bakti kakak kelasku telah habis, maka pondok bersiap untuk mengganti dengan kepengurusan baru, yang berasal dari angkatanku. Ketika itu dipilih 3 orang untuk menjadi calon Rois Am, yaitu Ari Kurniawan, Robi, dan aku sendiri. Aku tak tau kenapa aku dipilih menjadi calon Rois Am (Pemimpin Santri), padahal aku sendiri merasa tidak cocok menjadi pemimpin. Aku sadar aku nakal, kemudian sering debat dengan para ustadz.
Ketika waktu pemilihan Rois Am tiba, aku tak menyangka bahwa aku mendapatkan 80% suara, Robi 7% dan Ari 13%. Dan aku terpilih menjadi Rois Am, aku hanya bisa mengucap “Innalillahi wainna ilaihi raji’un”. Aku merasa mendapat tugas yang berat, yang akan aku pertanggung jawabkan di depan Pimpinan pondok, serta kelak dihadapan Allah SWT.
Setelah aku bertanya kepada teman-temanku, kenapa mereka memilihku, mereka menjawab bahwa aku adalah orang yang sangat dekat dengan para santri, dan tanpa pernah memilih-milih kawan. Aku pun berusaha untuk menjalani amanah ini sebaik mungkin.