Di pondok pesantren al-Qur’an al-Falah, para santri dibiasakan untuk belajar puasa sunat 40 dan 41. Puasa sunat yang diwariskan para Kyai dahulu. Untuk memudahkan dalam menuntut ilmu. Para santri selalu berbondong-bondong untuk meminta ijazah (izin) kepada Ayah (sebutan bagi pak kyai) agar bisa melaksanakan puasa 40 dan 41.

Aku pun mencoba untuk berpuasa 40 hari. Dalam menjalankan puasa ini, kami diharuskan membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sebanyak 1000X sebelum waktu shubuh tiba, jika waktu shubuh telah tiba, namun kami belum selesai membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sebanyak 1000X, maka kami harus menambahnya menjadi 3000X. maka tidak aneh jika santri yang sedang berpuasa suka membawa “Tasbe Jetrek” ke sekolah ataupun ke madrasah tempat mengaji. Untuk membaca basmalah sebanyak 3000X.

Empat puluh hari pun telah dilewati, aku bersyukur kepada Allah karena telah bisa menyelesaikan puasa 40 hari. Tapi aku belum merasa puas dengan puasa 40 hari ini. Aku langsung meminta ijazah kepada Ayah untuk melaksanakan puasa 41 hari, Ayah pun mengizinkanku untuk melaksanakan puasa 41 hari.

Puasa ini cukup menyiksaku, karena aku dilarang memakan sesuatu yang dibuat dari yang bernyawa, seperti susu, masako, roti, dan makanan yang berasal dari sesuatu yang bernyawa lainnya. Sehingga selama berpuasa itu aku hanya makan dengan sayur, pisang sale, tahu, tempe, serundeng, dan air putih saja. Tapi aku menjalaninya dengan sabar. Sampai akhirnya aku menyelesaikan puasa 41 hari. Aku pun meminta kepada ibuku agar membawa makanan yang banyak dari rumah, untuk dibagikan kepada teman-temanku, sebagai salah satu ucapan syukur kepada Allah.