UNIGA (Universitas Garut) mengadakan sebuah lomba debat dengan tema “Menuju Garut yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun ghafur”. Antar SMA/sederajat, setiap sekolah mengirim perwakilan 3 orang. Aliyah al-Musaddadiyah pun menjadi salah satu peserta lomba tersebut. Aliyah al-Musaddadiyah baru memiliki 2 orang perwakilan, dan sedang mencari 1 orang lagi. Maka pilihan sekolah jatuh kepadaku, untuk mengikuti lomba debat. Tapi aku menolak, biar aku berikan kesempatan ini kepada Adi Sunarto, tapi aku juga akan ikut ke UNIGA.
Dalam lomba itu dimeriahkan oleh penampilan Grup Nasyid The Fikr, salah satu grup nasyid dari Bandung yang sangat terkenal diantara pecinta nasyid. Grup nasyidku pun sering membawakan lagu mereka. Ketika The Fikr tampil, mereka menawarkan kepada para penonton, siapakah diantara kami yang mau request lagu?, maka aku melihat diantara mereka tidak ada yang berani mengacungkan tangan. Dengan rasa ragu aku mengacungkan tangan meminta agar mereka menyanyikan lagu “Pengharapan”. Aku kira mereka akan menyanyikannya sendiri, tapi mereka menyuruhku untuk naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu “Pengharapan” bersama mereka.
Keringat keluar dari tubuhku, tapi aku memberanikan diri untuk menyanyikan lagu tersebut. Personil The Fikr menyuruhku untuk menjadi vocal, dan mereka menjadi becking vocal. Aku lebih terkejut lagi, tapi ketika para penonton memberiku semangat dengan tepuk tangan, akhirnya aku siap untuk bernyanyi.
Selesai bernyanyi aku di kroscek oleh para personil The Fikr, ditanya orang mana? Sekolah dimana? Dan banyak lagi. Kemudian foto bareng serta diberi sebuah pin The Fikr. Saat itu aku senang sekali, karena bisa bernyanyi dengan The Fikr.