kelas 1 aliyah, aku diminta oleh ustaz dari OPMA untuk mengikuti perlombaan Dakwah Sunda tingkat Jawa Barat. Dan aku mewakili Kabupaten Garut, aku sendiri kaget ketika disuruh lomba, karena jangankan se-Jawa barat, se-RT pun aku belum pernah. Aku memang sering ceramah, tapi aku tak pandai mengikuti lomba ceramah. Namun kawan-kawanku memberiku dorongan agar aku mau mengikutinya, lumayan buat pengalaman kata mereka.

Perlombaan ini diadakan di Hotel Sabda Alam Cipanas Garut, aku pergi ke sana menggunakan motor vespa bersama kang Apip salah seorang kakak kelasku. Sesampainya di sana aku langsung diberitahu bahwa kamarku no 21. Tapi ketika aku datangi, ternyata kamar 21 itu tidak ada, karena di Sabda Alam hanya sampai kamar 20. Aku bingung, harus tidur dimana? Karena waktu perlombaan itu 2 hari. Dalam kebingungan itu, aku melihat sesosok wanita berkerudung dari kejauhan, semakin dekat semakin jelas terlihat wajahnya, ternyata itu Marwi Handayani, dia adalah teman sekelasku, sekaligus pacarku (hehe..), dan dia ternyata adalah salah satu peserta lomba dakwah juga. aku menceritakan persoalanku kepadanya, bahwa aku tidak punya kamar, dia pun menyuruhku diam sementara di dalam kamarnya, sebelum aku mendapatkan kamarku.

Di dalam kamar hotel itu kami bercengkrama, layaknya suami istri yang sedang bulan madu. Tapi Allah masih menjaga kami dari dari perbuatan biadab, jangankan berlaku kurang ajar, menyentuhnya pun aku tak berani. lama kelamaan Marwi pun merasa risih dengan keberadaanku di kamarnya, dia tidak bisa membuka kerudung, dan tidak bisa bebas menikmati fasilitas hotel. Marwi pun mengusirku dari kamarnya. Dengan terpaksa aku diam dulu di mushala hotel, sambil menunggu kamar bagianku.

Esok harinya ketika Lomba Dakwah mulai dilaksanakan, kami para peserta menontonnya dengan serius, sambil mempersiapkan diri kami untuk tampil. Kebetulan aku mendapatkan giliran tampil esok hari, aku pun merasa jenuh melihat lomba dakwah ini. Akhirnya aku meminjam kunci kamar Marwi, untuk nonton TV. Marwi pun meminjamkannya.

Saat asik menonton TV Marwi datang, kami pun mengobrol tetang persiapan-persiapan untuk tampil. Tapi ketika sedang enak-enaknya mengobrol, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar, maka aku langsung pergi ke kamar mandi (jiga na pilem) untuk sembunyi. Marwi pun membukakan pintu kamar, ternyata yang datang adalah dua orang peserta wanita yang ingin berkenalan dengan Marwi. Mereke begitu asiknya mengobrol, tapi sudah hamper setengah jam aku bersembunyi di kamar mandi. Akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar kamar mandi, kemudian aku mendatangi Marwi dan dua orang perempuan itu, aku mengenalkan diriku kepada mereka setelah itu langsung keluar kamar.

Dua orang wanita itu menasehati Marwi, “Kenapa kalian ini santri, tapi berduaan di dalam kamar yang tertutup.? Itu tidak baik” ucapan itu membuat Marwi sakit hati dan malu. Aku merasa bersalah dengan perbuatanku ini, aku langsung meminta maaf  kepada Marwi. Setelah kejadian itu beberapa hari Marwi tak menghubungiku, karena dia masih marah dengan kejadian di Sabda Alam.