Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

kita semua akan tertarik pada peradaban dan khazanah kemanusiaan. Serta mengenai orang-orang dan karya-karya mereka yang menghuni bumi ini sebelum kita. Di Yunani ada tempat pemujaan di Delphi dengan keindahan artistic dan kepiawaian pembuatnya. Di Roma banyak museum-museum seni, arsitektur, biara, kastil dan istana. Di Cina dan Vietnam gunung-gunung diubah oleh tangan dan otak manusia menjadi candi-candi pemujaan untuk para Dewa dan biksu-biksu, Di Afrika ada tiga piramida besar yang terkenal, dan itu akan memubat kita takjub.

Tapi ketakjuban itu berubah menjadi kebencian setelah kita tahu, bahwa semua itu dibangung diatas keringat, air mata, dan darah para budak-budak yang tertindas. Seperti Piramida yang di Mesir, itu terbuat dari 800 juta keping batu yang diangkut oleh para Budak dari Aswan ke Kairo dari sebuah tempat yang berjarak 980 mil dari ibukota mesir itu, hanya untuk membangun sebuah tempat peristirahatan tubuh-tubuh Fir’aun yang dibalsem untuk dijadikan Mumi.pada sebuah sudut, ada goresan besar pada batu-batu piramida itu, ternyata itu adalah kuburan para budak yang dijejalkan di bawah piramida itu. Dari 3 ribu budak yang membawa bongkahan batu yang berta dari tempat berjarak ratusan mil itu, setiap hari mereka tertimbun batu-btu raksasa itu. Begitu tidak berartinya mereka dalam system perbudakan, sehingga jenazah-jenazah itu dilemparkan dan dikuburkan dalam satu tempat.

Mereka dan kita adalah sama, maka yang kita rasakan dari jiwa-jiwa yang tertindas di bawah piramida itu adalah hangat dan simpati. Setelah kita mengetahui asal muasal Piramida itu, maka kita akan menyadari, di balik kemegahan dan keagungan bangunan itu, kita betul-betul merasa asing dan jauh darinya! Dengan kata lain, ada rasa kebencian yang dalam pada monument-monumen peradaban megah sepanjang sejarah yang dibangun diatas tulang belulang para pendahuluku! Adalah mereka juga yang membangun tembok besar china. Yang lemah diantara mereka kini terkubur diatas himpitan batu-batu besar itu. Beginilah semua karya besar umat manusia telah dibangun dengan biaya darah dan daging nenek moyangku.

Ternyata peradaban tidak lebih dari sebuah kutukan. Kebencian ini kian membakar selama ribuan tahun penindasan terhadap nenek moyang kita. Kita sadar bahwa perasaan mereka yang terkubur itu sama dengan kita. Perbudakan tidak akan hilang, perbudakan itu tetap ada, dari satu bentuk ke bentuk lain.