Oleh Luthfi Assyaukanie

Hijab atau pemisah dalam salat adalah salah satu problem teologis yang sampai hari ini masih terus diperdebatkan kaum Muslim. Film itu membawa pesan yang jelas, bahwa aturan hijab adalah buatan ulama dan para imam yang kepalanya terlalu banyak dipenuhi khayalan-khayalan tentang perempuan. “Hijab diperlukan karena perempuan mengganggu salat kita,” kata imam tua yang terus menggerutu. Serial komedi situasi “Little Mosque on the Prairie” (Mesjid Kecil di Padang Rumput) yang penayangan perdananya dilakukan pertengahan Januari silam di stasiun televisi Kanada, CBC, menuai sukses luar biasa. Komedi yang judulnya diambil dari drama sangat populer tahun 1980an, “Little House on the Prairie” itu ditonton tak kurang dari 2,5 juta orang. Untuk ukuran sebuah serial baru di Kanada, angka itu cukup fantastis. Tak pernah ada pemutaran perdana tayangan serial sejenis yang mendapat perhatian begitu besar.

“Little Mosque” atau “Mesjid Kecil,” memang sudah lama dinanti banyak orang. Tak hanya di Kanada, di Amerika Serikat, koran-koran besar seperti the New York Times dan the Washington Post telah jauh-jauh hari mengulas film itu dengan sangat antusias. Film itu memang tidak ditayangkan di Amerika Serikat. Tapi, sejak penayangan perdana dan copy-nya menyebarluas di internet, banyak orang Amerika berharap bahwa serial komedi itu juga ditayangkan di stasiun TV mereka.

Saya menonton dua episode pertama serial itu, lewat Youtube, sebuah situs internet yang memuat klip-klip video pilihan. Ada banyak klip serupa di sana, dan rata-rata, satu klip “Mesjid Kecil” episode perdana telah ditonton oleh sekitar 70 ribu orang, padahal klip-klip itu baru mampir di Youtube kurang dari seminggu. Saya menduga akan ada jutaan orang yang akan mengakses klip-klip itu dalam waktu dekat.

Menepis Streotip

“Mesjid Kecil” adalah komedi situasi (sitcom) yang dibuat dengan sangat apik. Temanya mengangkat kehidupan sebuah masyarakat Muslim di sebuah kota kecil Kanada bernama Mercy. Di kota ini, selain komunitas Muslim, ada komunitas Kristen yang hidup berdampingan secara damai. Mesjid kecil yang menjadi fokus film ini adalah sebuah serambi milik gereja yang disewa seorang Muslim keturunan Libanon bernama Yasir Hamoudi (dimainkan oleh Carlo Rota, pernah membintangi “Queer as Folk” dan “Mission to Mars”).

Banyak kritikus film mengomentari bahwa sitcom itu cukup mengena dalam menyentil streotip-streotip tentang Islam yang selama ini beredar di tengah masyarakat Barat. Setelah peristiwa 9/11, Islam memang menjadi sebuah stigma di mata orang-orang Barat. Media massa dan film selama ini begitu gencar mengaitkan Islam dengan terorisme atau Islam dengan kebodohan dan keterbelakangan. Tapi, dalam komedi ini, semua citra itu dijawab dengan sentuhan-sentuhan humor yang cerdas dan memikat.

Pada episode pertama, misalnya, seorang anak muda ganteng yang akan menjadi imam di mesjid kecil harus berurusan dengan polisi, karena di airport, ia dicurigai berbicara lewat telepon dengan ibunya dan melontarkan kata-kata “suicide.” Kata itu tidak ada sangkut-pautnya dengan aksi terorisme, karena sang anak muda sebetulnya sedang menenangkan ibunya yang khawatir bahwa dengan menjadi imam, karirnya tak akan hancur.

Kritik terhadap sikap xenofobia terhadap Islam terlihat dalam sebagian besar adegan episode perdana itu. Ketika baru memulai menjalani karirnya sebagai imam (dimainkan dengan bagus oleh Zaib Shaikh, pernah membintangi “A Man for All Seasons” dan “Julius Caesar”), anak muda itu harus berhadapan dengan koran dan radio yang menuduhnya sebagai “teroris.” Semua tuduhan itu tentu saja berangkat dari kesalahpahaman dan kegilaan media Barat untuk mengaitkan Islam dengan terorisme.

Dalam sebuah wawancara dadakan, seorang wartawan bertanya pada keluarga Hamoudi, “apa hubungan kalian dengan al-Qaeda,” yang dijawab oleh Rayyan, anak perempuan Hamoudi yang modern dan cerdas, “apa hubungan Anda dengan jurnalisme?” Di mata orang Barat, Islam dan al-Qaeda punya kaitan erat, sama eratnya kaitan antara wartawan dan jurnalisme.

Merombak Tabu

Menepis streotip Islam bukanlah satu-satunya misi dari sitcom garapan Zarqa Nawaz, penulis skrip dan produser film keturunan Pakistan itu. Komedi itu juga berusaha membidik komunitas Islam lewat dialog-dialog dan aksi-aksi yang menyentil. Nawaz yang hidup di tengah keluarga Islam konservatif tahu betul bagaimana kaum Muslim menjalani kehidupan mereka, dan bagaimana cara terbaik untuk membenahinya.

Dialog-dialog dan aksi-aksi yang menjewer kaum Muslim bisa disaksikan pada episode kedua berjudul “The Barrier” (rintangan). Episode ini mengisahkan perdebatan kaum Muslim soal apakah perempuan dan laki-laki harus dipisah dengan hijab dalam salat berjamaah. Imam tua (dimainkan oleh Manoj Sood, “Romeo Must Die”) bersikeras harus ada hijab (penutup). Sementara imam muda cenderung menolak hijab dengan alasan bahwa “di masjidil haram tidak ada hijab.”

Pandangan imam muda itu didukung oleh Rayyan, yang membuat Imam tua marah dan serta-merta menjambaknya. “Anda tidak boleh menyentuh saya,” kata Rayyan, yang cepat disadari sang imam yang langsung meminta maaf. Ini benar-benar khas problem kaum Muslim. Mereka rela berantem dan melukai orang lain demi sebuah pendapat yang sesungguhnya masih diperdebatkan.

Akhirnya, hijab yang menjadi rintangan dan bahan percekcokan itu dibongkar. Amaar, sang imam muda, menemukan sebuah hadis dalam Kumpulan Bukhari, bahwa hijab itu tak pernah dikenal pada zaman Nabi. Sebagian besar orang akhirnya bisa menerima pandangan yang melegakan itu.

Hijab atau pemisah dalam salat adalah salah satu problem teologis yang sampai hari ini masih terus diperdebatkan kaum Muslim. Film itu membawa pesan yang jelas, bahwa aturan hijab adalah buatan ulama dan para imam yang kepalanya terlalu banyak dipenuhi khayalan-khayalan tentang perempuan. “Hijab diperlukan karena perempuan mengganggu salat kita,” kata imam tua yang terus menggerutu.

Selain soal pembatas dalam salat, adegan-adegan lain seperti jilbab, aurat perempuan, dan makanan, juga diangkat dalam episode kedua itu. Nawaz tampaknya tak akan kekurangan bahan untuk mengeksplorasi persoalan-persoalan kontroversial dalam kehidupan kaum Muslim. Orang Islam adalah komunitas yang paling sulit ketika bergaul dengan masyarakat Barat. Aturan-aturan yang begitu pelik, yang sebagian besar sebetulnya adalah karangan para ulama, diangkat dalam sitcom ini secara jenaka.

Menonton dua episode itu, saya berpikir bahwa sitcom ini sarat dengan misi pembaruan pemikiran Islam. Semangat utama film ini jelas sekali; selain menghapus streotip-streotip tentang Islam, ia mencerahkan dan menyadarkan kaum Muslim akan pentingnya rasionalitas dalam beragama. Doktrin agama yang dianut secara membabi-buta tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kebencian, permusuhan, dan kebodohan yang tak berujung.

Saya berharap film ini segera diputar stasiun TV kita, dan semoga ada sineas kita yang mau mengikuti langkah brilian Zarqa Nawaz, dengan membuat film-film Islam yang bermutu tinggi.