Amsal Lumpur
Emha Ainun Nadjib
Bismillah Korban Lumpur bangkit, Bismillah Sidoardjo Bangkit, Bismillah Indonesia Bangkit
Kalau kiblat pertemuan ini adalah atau hanyalah tumpukan uang cash & carry atau pilihan mengambil rumah, maka yang duduk di tengah tepatnya adalah makelar atau broker. Tetapi kalau yang hadir dalam pertemuan ini adalah manusia-manusia berakal dan bernurani yang sedia dan ikhlas memasuki skala nilai yang lebih luas, lebih cerdas dan lebih mulia-maka di ruangan ini terdapat kemungkinan makna hidup yang membuat saya tertarik untuk duduk di sini.
Kalau yang hadir dalam pertemuan ini adalah
•    manusia-manusia yang punya cita-cita yang tidak picisan, yakni yang kepalanya dipenuhi tidak hanya  oleh gambar lembaran uang dan uang dan uang; tetapi manusia-manusia
•    yang berpikir jauh ke depan,
•    yang punya cita-cita,
•    yang memiliki visi kemanusiaan dan kebudayaan,
•    yang memiliki gagasan membangun masyarakat baru di atas reruntuhan,
•    yang berpikir tidak hanya sebagai individu korban Lumpur yang kebetulan bergabung sementara waktu karena sama-sama berkepentingan terhadap uang, namun juga
•    berpikir sebagai rakyat Sidoardjo yang bermartabat, yang
•    berpikir sebagai bangsa Indonesia yang ditantang untuk bangkit, yang
•    berpikir sebagai Mandataris Tuhan yang ditunggu hasil karya besarnya oleh sejarah – maka kebanggaan dan kebahagiaan yang saya dapatkan dengan duduk di sini.
Dengan sungguh-sungguh dan memohon ridlo Allah saya ingin kemukakan bahwa peristiwa Lumpur Sidoardjo adalah uji coba terakhir bagi bangkit tidaknya bangsa Indonesia dari keterpurukan dan kebodohan yang berkepanjangan.
Bahwa kasus Lumpur adalah amsal dari Tuhan, bahwa Sidoardjo adalah medan uji kebangkitan bagi korban Lumpur dan rakyat Sidoardjo khususnya serta bangsa Indonesia pada umumnya. Lumpur Sidoardjo adalah Pusat Jaring Surabaya Raya yang insyaallah diamanati oleh Tuhan untuk menjadi titik sumber kebangkitan Nusantara Raya.
Hari ini sampai 5-7 tahun ke depan adalah era penentuan bagi kebangkitan atau semakin hancurnya seluruh ummat manusia di bumi dan khususnya bangsa Indonesia. Kalau Amsal Lumpur ini bisa diatasi dengan kedewasaan, kasih sayang kemanusiaan, cinta uluhiyah, partnership sejarah, kematangan manajemen budaya dan peradaban, pembelajaran politik dan kenegaraan-maka Kebangkitan Indonesia tinggal selangkah lagi di depan kita.
Tetapi kalau Amsal Lumpur kita perlakukan dengan bekal pandangan sempit, berpikir dangkal, egoisme dan emosi, dengan egosentrisme kepentingan sepihak, dengan konsentrasi untuk hanya nafsu materialisme, dengan syahwat penguasaan dan kekuasaan-maka fantadhiris-sa’ah: tunggu waktu kehancuran demi kehancuran, dalam berbagai bentuk, bagi yang menang atau yang kalah, bagi yang di tangannya tergenggam uang banyak atau sedikit, siapapun dia.
Lumpur bukan benda terkutuk. Lumpur adalah salah satu kandungan bumi yang menyangga kehidupan dan penghidupan ummat manusia. Lumpur adalah ciptaan Tuhan yang disediakan untuk menjadi fasilitas dan rekanan kerja peradaban manusia. Lumpur diletakkan oleh Tuhan pada posisi untuk mensupport manusia, patuh dan melayani manusia.
Jika kemudian Lumpur menjadi penghancur kehidupan manusia, penenggelam dan pemusnah rumah-rumah dan kebudayaan manusia-maka yang harus melakukan perubahan bukanlah Lumpur, tetapi manusia. Yang harus dikritik, didandani, diperbaiki, dibangunkan, dihidupkan kembali dan dibangkitkan-adalah manusia. Dan karena Mandataris kuasa Tuhan di bumi bukanlah Lumpur melainkan manusia, maka manusia sendirilah yang berposisi mengkritik dirinya sendiri, ndandani, memperbaiki, membangunkan, menghidupkan kembali dan membangkitkan kembali dirinya sendiri. Lumpur Sidoardo bukan bermakna hanya Lumpur dari perut bumi Sidoardjo.
Lumpur Sidoardjo Amsal Indonesia adalah juga sangat jelas menggambarkan kenyataan bocornya akal bumi manusia Indonesia, bocornya akhlak dan perilaku bangsa Indonesia, bocornya pagar-pagar nilai, konstitusi, norma, nurani, akal, suroso atau dhomir, bocornya segala tatanan secara hampir total pada kehidupan seluruh Bangsa Indonesia.
Pertemuan hari ini diikuti hanya oleh sebagian korban Lumpur, sebagian masyarakat Sidoardjo dan sebagian dari Bangsa Indonesia. Karena tidak mungkin ada ruang pertemuan yang bisa menampung seluruh korban Lumpur, seluruh masyarakat Sidoardjo dan seluruh Bangsa Indonesia.
Demikianlah juga dulu Gadjah Mada dengan timnya, berjumlah tak lebih banyak dari jumlah peserta pertemuan ini. Demikianlah juga hanya sejumlah peserta pertemuan ini pulalah jumlah aktivis Serikat Dagang Islam, jumlah pelaku Sumpah Pemuda, jumlah pemuda-pemuda yang menculik Bung Karno untuk dipaksa memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Demikian pulalah hanya 1% dari penduduk bumi yang menguasai seluruh keuangan dunia. Hanya 300 manusia unggul di belakang Kongres dan Pemerintah Amerika Serikat yang malang melintang menguasai milyaran penduduk dunia. Hanya 10 Konglomerat yang memegang kendali keuangan seluruh Uni Eropa. Hanya Muhammad SAW dibantu Abu Thalib pamannya yang merintis penyelenggaraan Peradaban Cahaya yang sampai hari ini menjadi “kuda hitam” peradaban dunia, yang dikagumi para Malaikat, yang ditakdhimi para Aulia, disegani oleh Iblis dan Setan, serta yang sudah sangat siap melayani Dajjal di akhir adegan peradaban ciptaan Allah.
Setiap peserta di pertemuan ini silahkan memilih posisi untuk sekedar menjadi penagih hutang, penuntut uang, tukang kutuk dan tukang melaknat yang hanya punya sangka buruk dan kebencian, budak kekuasaan dan materi; ataukah menjadi pejuang kehidupan, pejuang kebangkitan, perintis kebangkitan masa depan bagi seluruh bangsa sampai ke penyiapan dan jaminan kesejahteraan bagi anak cucu.