Krisis kemanusiaan Israel
Emha Ainn Nadjib

Juga saya ingin memerhatikan gelagat, apakah dengan pengetahuan Israel yang
mumpuni tentang Indonesia itu akan membuat Israel sedemikian berani
“bermusuhan” dengan Indonesia, ataukah sebaliknya…” Saya tidak akan
memperpanjang tema ini, apalagi sampai surut jauh ke belakang pra-Nabi
Ibrahim,era Parikesit dan banjir Nuh yang menyusun kepulauan-kepulauan ,
dst.

Saya tidak mau merepotkan bangsa Indonesia yang selalu asyik dengan
keahliannya menikmati kehidupan apa adanya, untuk tenggelam dalam
penggalan-penggalan waktu, untuk berpikir sejengkal dan tidak memerlukan
orientasi futurologis yang agak sedikit panjang ke depan-justru karena
bangsa Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, sehingga tidak
memerlukan kesiapan apa pun untuk menghadapi apa pun. Setiap saat bangsa
Nusantara ini siapditabrakolehapa pun: bahkanoleh penderitaan dan kehancuran
yang seberapa parah pun.

Sekarang,dan itu sudah sejak lima tahun terakhir:
bangsa besar ini sibuk dengan tiga hal. Pertama,pemilihan pemimpin.Kedua,
pemilihan pemimpin.Ketiga, pemilihan pemimpin. Tanpa pernah benarbenar
peduli apakah pemimpin yang dipilihnya itu memang pemimpin, apakah pula
pemilihan dan pemilihan dan pemilihan itu lebih besar manfaatnya ataukah
mudaratnya.

*** Israel berani dan telah berhasil mempermainkan dunia, tetapi Indonesia
terbukti juga sangat berani dan sukses mempermainkan dirinya sendiri. Israel
setuju pada usulan PBB.Lumayan puas menempelengi harga diri Palestina dan
membunuhi ratusan warganya,sekarang Israel menjadi pihak yang memiliki
kearifan dan kemuliaan karena mau beristirahat menempeleng. Dia tidak
mendapat sanksi apa pun dari PBB,dari Negaranegara Arab,serta dari siapa pun
saja. Nanti kalau ritme sudah bergulir dan momentumnya tiba: tempeleng lagi.

Yang bingung di muka bumi karena dipermainkan oleh Israel bukan hanya Umat
beragama, bukan hanya PBB, dan siapa pun lainnya,
tapi bahasa dan kata juga kebingungan. Israel istirahat mbedil di puncak
“krisis kemanusiaan” Palestina. Dunia makna bingung tentang kapan Palestina
mengalami krisis kemanusiaan, karena dari sudut tafsir apa pun sesungguhnya
Israellah yang mengalami krisis kemanusiaan. Kita juga kebingungan.

Sebuah lembaga nasional berteriak,”Boikot Amerika Serikat!” Teriakan itu
disebar ke media-media sesudah diketik dengan alat bikinan Bill Gates atau
Steve Jobs, dan petugasnya karena capekmungkin delivery orderMcD.Kelompok-
kelompok berkumpul dengan idiom “Umat Islam”yang menyatakan bermusuhan
dengan Umat Kristen dan Yahudi.Jangan sampai kelompok Kristen yang gabung
dengan Hamas di Palestina serta orang-orang Yahudi warga Israel yang
antipenyerbuan Gaza mendengar idiom itu.

Semua negara-negara Arab sudah dikasih tahu sebelumnya bahwa Israel akan
menyerbu Palestina.Dan syukur alhamdulillah mereka tidak berbuat apa-apa
sehingga Perang Dunia bisa dihindarkan. Jangan terlalu setia, jangan terlalu
bermoral, demi supaya tidak terjadi global war yang menyengsarakan semua
makhluk. Israel sangat hafal mengamati “sela-sela air hujan”.

Orang sibuk Natal dan Tahun Baru, Obama sudah presiden tapi belum bertugas,
jadwal gencatan
senjata telah berakhir: maka sebuah “upper-cut” dahsyat dilayangkan ke dagu
Palestina. Manusia di gurun itu meraungraung, kita semua manusia di bumi
menangis, Chavez mengusir Dubes Israel, pemimpin-pemimpin kita melontarkan
rudal kutukan, dan kita rakyat militan berkumpul menyiapkan ilmu kebal
melawan peluru tentara Israel,kemudian minta Palestina memfasilitasi
keberangkatan kita ke medan perang.

Memfasilitasi itu tidak dijelaskan apakah berarti minta disediakan tiket
Jakarta-Cairo PP. Sekarang,karena senapan prajurit Israel dirundukkan dan
tidak dikokang lagi, segera kita dangdutan dan ngegosiptainment lagi. Nanti,
kalau suara bedil menyalak lagi, kita demo lagi sesaat. Dunia tidak
memerlukan penyelesaian tuntas dan mendasar atas permasalahan apa pun yang
menimpanya dan yang diciptakannya sendiri.(*)