Tuty Alawiyah, S.Pd

Perbedaan linguistik  semata-mata merupakan suatu cerminan perbedaan sosial, dan selama masyarakat memandang laki-laki dan perempuan berbeda—dan tidak setara—maka perbedaan dalam bahasa laki-laki dan perempuan akan terus ada. (Coates, 1986, Vi dalam Graddol & Swann, 1989, 13).
A.    Pendahuluan
Kajian relasi bahasa dan jender merupakan salah satu topik yang sensitif dalam sosiolinguistik karena tidak hanya berkaitan dengan kategori linguistik semata tetapi menyangkut kehidupan sosial laki-laki dan perempuan.
Perselisihan tentang bahasa yang bias jender ini tampaknya tidak pernah kunjung selesai karena kebanyakan perempuan (terutama kaum feminis) merasa bahwa  stereotipe-steretipe yang ditujukan kepada mereka berkaitan dengan tuturan dan penggunaan bahasa jarang berpihak kepada perempuan. bahkan secara ekstrem kaum feminis menuduh bahwa bahasa secara sistematis dibiaskan oleh dan untuk kepentingan laki-laki.
Tuduhan tersebut bukan tanpa alasan. Hasil serangkaian penelitian yang panjang baik yang dilakukan oleh para linguis maupun feminis terutama dalam dasawarsa terakhir terhadap berbagai bahasa di dunia menunjukan bahwa memang tuturan dan penggunaan bahasa perempuan dan laki-laki secara sistematis berbeda. Jika memang itu kenyataannya, maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa perbedaan-perbedaan semacam itu ada. Dan apakah itu menjadi persoalan?. Jika itu memang menjadi persoalan, lalu apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikannya.

B.    Pembagian Jender Melalui Bahasa
Bahasa Sebagai Identitas Personal dan Sosial
Pemahaman tentang relasi bahasa-jender bisa dimulai dengan memahami sebuah gagasan dalam bidang linguistik  yang membuat batasan yang jelas antara bahasa sebagai sebuah fenomena sosial dan bahasa sebagai sebuah tuturan individu. Pada tataran kognitif, bahasa merupakan hal yang bersifat pribadi yang merupakan wahana pemikiran internal dan hasrat pribadi. Namun secara simultan, bahasa juga memiliki sebuah eksistensi  di luar dirinya. Sebuah identitas sosial dari individu. Graddol dan Swann ( 2003) mengelaborasi identitas sosial bahasa ini dengan menyebut bahwa bahasa  mempunyai keadaan pra-ada dan terus ada walaupun kita sudah tidak ada. Bahasa jauh lebih besar dari kita, mencakup kata-kata dan struktur gramatikal yang tidak kita sadari. Bahasa merupakan sumber daya publik, seperti persediaan air, yang melayani sebuah komunitas tutur dan menjadi alat komunikasi diantara berbagai individu-individu yang diperlukan untuk pelestarian sosial.
Walaupun sifat personal dan sosial bahasa  telah menjadi kesepakatan dikalangan para linguis, namun  pada perkembangan selanjutnya objek kajian bahasa lebih difokuskan pada bahasa sebagai sebuah fenomena sosial dengan pertimbangan bahwa untuk memahami makna dari serangkaian kata-kata tertentu individu harus terlibat dalam apa yang Saussure sebut sebagai “ kontrak sosial” yang mengikat seluruh anggota dari sebuah komunitas tutur.  Hal ini disebabkan karena pada hakekatnya hubungan antara kata tertentu dengan maknanya bersifat arbiter dimana makna sebuah kata adalah sebuah konvensi  yang mengikat para anggota  komunitas tutur yang bersangkutan.
Sebagai sebuah fenomena sosial, maka bahasa merupakan salah satu alat untuk mengkomunikasikan identitas sosial seseorang– termasuk  identitas jender. Melalui bahasa verbal seseorang dapat mengkomunikasikan identitas jender dan mengetahui identitas jender orang lain.
Namun kemudian persoalannya adalah dalam setiap komunitas  sosial tertentu selalu muncul kelompok yang merasa dominan dan merasa berwenang untuk memvalidasi makna dan memaksakan makna tersebut kepada kelompok lain.   Dari sinilah kemudian dimulai praktek-praktek penandaan terhadap bahasa yang digunakan oleh kelompok yang dianggap tidak dominan sekaligus dibuatlah stereotipe-stereotipe untuk melanggengkan ketidakdominanan kelompok tersebut.

Bahasa Mencerminkan dan Menciptakan Pembagian Jender
Apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan bukanlah sebuah fakta biologis, tetapi lebih dari itu merupakan fakta psikologis karena kemudian seseorang itu akan diklasifikasikan ke dalam satu dari dua kelompok sosial. Banyak sekali konsekuensi sosial, ekonomi, dan politis yang timbul dari keanggotaan ini.  Perempuan maupun laki-laki baik sebagai orang dewasa maupun ketika masih anak-anak diperlakukan dengan cara-cara yang secara sistematis berbeda (baik oleh perempuan maupun laki-laki). Mereka memiliki pengalaman yang berbeda di sekolah, di tempat kerja, maupun di rumah. Mereka diarahkan untuk mengikuti pola tutur yang telah disepakati dalam mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman tersebut. Mereka diarahkan dan diharapkan mengerjakan hal-hal yang berbeda. Perbedaan-perbedaan  ini tampak telah menjadi bagian yang alami dan nyata dari keberadaan kita yang seringkali luput dari kesadaran kita.
Realitas di atas menunjukan bahwa sejatinya bukanlah bahasa yang menciptakan pembagian sosial melainkan perilaku linguistik yang seksislah yang menciptakan pembagian dan ketidaksetaraan tersebut. Dengan  kata lain, bahasa diimplikasikan secara kuat dalam konstruksi dan pelestarian pembagian sosial dan ketidaksetaraan.

C.    Apakah Bahasa itu Seksis?
Seksisme: Sejumlah Kualifikasi
Perselisihan tentang bias jender baik dalam sistem abstrak maupun penggunaan bahasa diyakini sebagai bukan merupakan sifat hakiki bahasa melainkan ditimbulkan oleh nilai-nilai masyarakat. Secara ekstrem kaum feminis menuduh bahwa sistem bahasa dibiaskan oleh laki-laki dan cara mereka menggunakan bahasa tersebut mereproduksi stereotipe-stereotipe sosial yang mengkelaskan perempuan sebagai subordinat. Walaupun stereotipe tersebut bersifat spesifik budaya(cultural specific). Sebagai contoh, dalam budaya Malagasy ( wilayah Madagaskar dan pulau-pulau di sekitar lautan India) laki-laki cenderung memilih diam ketika  mereka terlibat dalam debat publik, sementara perempuan cenderung konfrontatif. Ini berbeda dengan budaya barat dimana debat publik sudah lazim didominasi laki-laki. Yang menarik adalah walaupun pola perilaku tutur kedua masyarakat tersebut berbeda namun  tetap saja norma laki-laki yang lebih dihargai oleh masyarakatnya sementara norma perempuan hanya dipandang sebagai pengecualian dari semua norma yang berlaku secara umum.
Ada banyak premis tentang dominasi laki-laki dalam bahasa dan salah satunya disebabkan karena sampai saat ini kebanyakan laki-lakilah yang telah menulis tata bahasa dan menyusun kamus dimana makna-makna  tertentu lebih diutamakan dari pada makna-makna yang lain, dan dimana kutipan-kutipan (terutama) dari para penulis laki-laki digunakan untuk memvalidasi makna-makna tersebut.
Kedua, lembaga-lembaga sosial seperti media massa dan system pendidikan ikut beranggung jawab dalam menyebarkan makna “ kaum laki-laki” tersebut manakala lembaga-lembaga tersebut melayani kepentingan laki-laki (lebih dari kepentingan perempuan). Namun demikian, mengingat sifat makna yang merupakan sebuah konvensi maka kecenderungan yang bisa diamati adalah bahwa mayoritas penutur bahasa (perempuan maupun laki-laki telah berperan melestarikan persepsi” laki-laki” dalam bahasa.

Bukti-Bukti Lintas Budaya
Kata  Ganti Orang Ketiga dalam Bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab
Dalam hampir semua kebudayaan, sejak seorang anak dilahirkan kita perlu mengetahui apakah dia itu laki-laki atau perempuan, dan kebutuhan untuk membedakan kedua jenis kelamin ini tercermin didalam leksikon.
Bahasa Inggris yang diklaim para penuturnya sebagai bahasa internasional mempunyai banyak istilah yang membedakan orang berdasarkan jender (“ girl”, “ boy”, “man”, “ woman”). Begitu pula dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita, ada istilah -istilah yang secara spesifik merujuk kepada laki-laki atau perempuan ( “ pria” , “wanita”, “ putra”, “ putri”, “ raja”, “ratu”). Istilah-istilah netral  jender seperti “ child/anak”, “adult/orang dewasa”, jarang digunakan untuk seseorang yang diketahui jenis kelaminnya. Walaupun dalam beberapa aspek, bahasa Indonesia lebih netral jender dibanding bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, penutur tidak harus membuat  suatu pilihan kata ganti” dia laki-laki” atau “ dia perempuan” ketika merujuk kepada orang ketiga.  Berbeda dengan istilah  he atau  she dalam bahasa Inggris yang membuat orang yang kita bicarakan tampak jelas jenis kelaminya.
Dalam bahasa Arab, kita tidak hanya mengenal identitas jender pada kata ganti orang ketiga (Ga’ib) dimana istilah  huwa  secara eksklusif merujuk kepada laki-laki dan hiya  kepada perempuan, namun juga pada  kata ganti orang kedua (Dlamir Mukhathab) baik tunggal maupun jamak. Bahasa Arab menggunakan istilah anta untuk merujuk kepada orang kedua tunggal laki-laki dan anti untuk orang  kedua tunggal perempuan. sementara istilah  antum digunakan untuk merujuk pada kata ganti orang kedua jamak laki-laki dan istilah antunna untuk orang kedua jamak perempuan.
Ternyata istilah-istilah yang bias jender tersebut tidak hanya ditemukan dalam ketiga bahasa tersebut diatas, namun didalam hampir semua bahasa di dunia, khususnya  yang termasuk dalam famili bahasa Semit ( Semitic language family), seperti bahasa Ibrani, Suryani, Persia, tidak terkecuali bahasa-bahasa Eropa. Contoh yang paling jelas adalah kata ganti Tuhan (God) dalam Alkitab semuanya menggunakan bahasa Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “ He” (Umar, 2001, hal.208).

Kodifikasi Formal dalam Bahasa Inggris Sebagai Penanda Identitas Jender
Dalam bahasa Inggris, ketika sepasang kata yang merujuk pada jenis kelamin yang berbeda disebutkan misalnya  lion dan lioness (singa jantan dan betina, dan dog dan bitch (anjing jantan dan betina), maka salah satu anggota pasangan itu kerapkali berfungsi sebagai istilah yang lebih netral. Kata dog mungkin merujuk pada anjing jantan namun telah menjadi istilah umum untuk anjing yang tidak diketahui jenis kelaminya. Sebaliknya, kata bitch secara eksklusif merujuk pada anjing betina. Kata-kata seperti bitch dan lioness kerap disebut kata-kata tidak hanya ditandai secara semantik tetapi juga secara formal yakni kata-kata yang diturunkan dari istilah yang “netral” (lion dan dog) melalui penambahan sebuah awalan atau akhiran.
Kata-kata “ eksklusif feminim” tersebut kerapkali memiliki konotasi-konotasi tambahan. Kata Manageress, misalnya, memiliki konotasi status rendah: seseorang bisa menjadi manageress sebuah tempat cuci pakaian atau toko kue, tapi tidak mungkin untuk sebuah bank atau sebuah perusahaan internasional.
Contoh lain, pengunggulan pemakaian simbol man (man-hour, manpower, stateman, foreman, dll) menunjukan bahwa performa dan superioritas laki-laki dijunjung tinggi sementara kaum perempuan secara efektif tertelan di balik terminology ‘  generik’ tersebut.
Kaum feminis mengeluhkan bahwa kesenjangan-kesenjangan sistematis yang ada dalam bahasa Inggris tersebut menjadikannya sulit untuk mengungkapkan pengalaman perempuan. selain itu, perbedaan-perbedaan dalam makna mencerminkan perbedaan-erbedaan peran sosial yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki.

Seksime di Eropa: Kategorisasi Jender dalam Bahasa Jerman
Bahasa Jerman merupakan salah satu bahasa Eropa yang memiliki jender gramatikal dimana kata benda dikategorikan kedalam dua atau tiga kategori; maskulin dan feminim, atau maskulin, feminim dan netral. Biasanya kata-kata yang merujuk pada perempuan memiliki jender feminim dan yang merujuk pada laki-laki memiliki jender maskulin—walaupun dalam beberapa aspek ada pengecualian-pengecualian.
Kalau  dalam bahasa Jerman “matahari” berjender feminim dan “bulan” berjender maskulin, kita tidak bisa melihat alasan logis kenapa kata-kata tersebut  dikategorikan demikian. Namun demikian, yang bisa kita amati adalah bahwa bentuk sebuah kata akan mempengaruhi kategorasasi tersebut. Kata yang berakhiran chen atau lein misalnya, secara gramatikal bersifat netral.
Kategorisasi jender dalam bahasa Jerman seringkali bukan karena bentuk katanya yang berbeda melainkan kata sandang definitif maupun non definitif yang disandangkan kepada kata tersebut memperjelas apakah kata tersebut merujuk kepada laki-laki atau perempuan (die Abgeordnete/wakil perempuan & der Abgeordnete/wakil laki-laki). Adakalanya sebuah akhiran ditambahkan pada kata-kata maskulin untuk menghasilkan sebuah bentuk feminim (die Studentin/siswi & der Student/siswa). Dari contoh tersebut, tampak jelas bahwa sama halnya seperti bahasa Inggris, bentuk feminim dalam bahasa Jerman berasal dari bentuk maskulin yang ditandai secara semantik dan secara eksklusif hanya merujuk ke perempuan sementara bentuk maskulin selain merujuk ke laki-laki juga digunakan sebagai bentuk yang netral jender. Hal ini memperkuat asumsi bahwa perempuan dikecualikan secara permanen dari laki-laki.

Kata-Kata Untuk Perempuan dan Laki-Laki dalam Bahasa Lebanon dan Jepang
Seperti mungkin dalam kebanyakan masyarakat yang lain, dalam masyarakat Lebanon perkawinan merupakan salah satu penyebab perempuan menghilang dalam bahasa laki-laki. Seorang perempuan yang sudah menikah biasa dipanggil dengan nama suaminya (mart Joorj atau Mrs. Smith dalam bahasa Inggris) atau kadangkala dikaitkan dengan putra tertuanya (imm Yusuf). Sebaliknya laki-laki tidak disapa dalam kaitannya dengan istri atau putrinya.
Selain masalah penyebutan diatas, sama halnya dengan bahasa Jerman, bahasa Lebanon juga memilki jender gramatikal dimana kata kerja mempunyai bentuk maskulin dan feminim pada bentuk orang kedua dan ketiga,  dan seperti telah menjadi sebuah konvensi bahwa bentuk feminim berasal dari bentuk maskulin yang ditambah sebuah akhiran.
Kasus yang sama terjadi dalam bahasa Jepang dimana penyebutan mencerminkan posisi sosial laki-laki dan perempuan. sebutan informal kanai  (seseorang yang tinggal di rumah) atau  sebutan formal Uti no yatu untuk seorang istri, menempatkan perempuan pada posisi inferior karena kedua istilah itu biasa digunakan untuk seorang inferior.
Sementara suami disebut dengan istilah shugin (tuan) dan uti no hito (orang rumahku) namun  berbeda dengan yatu, hito tidak mempunyai konotasi status rendah dan sudah tidak dipergunakan lagi.
Saat ini ada kecenderungan kaum muda Jepang lebih memilih menggunakan kata-kata serapan waifu (dari bahasa Inggris) dan furao (dari bahasa Jerman) yang keduanya bermakna “istri” dan hazu yang bermakna “suami”. Menurut Motoko Lee (1976) pemakaian kata-kata serapan ini mungkin merupakan tanda keterdidikan dan kecanggihan dan mungkin juga sebagai kesadaran akan pentingnya hubungan egaliter antara suami istri.

D.    Seksisme Bahasa dan Pengaruhnya Terhadap Peran Sosial Perempuan

Saling Pengaruh Antara Bahasa dan Struktur Sosial
Gagasan bahwa bahasa  lebih merupakan sebuah gejala daripada penyebab ketidaksetaraan sosial diyakini secara luas oleh para ahli bahasa dan juga feminis. Gagasan ini didasarkan pada suatu keyakinan mendalam di antara para ahli bahasa bahwa bahasa apapun (dalam pengertian struktur abstrak) dapat digunakan untuk menyampaikan segala pemikiran atau makna yang ingin dikomunikasikan oleh manusia.
Prinsip “ supreme effebility” yang dimiliki bahasa memungkinkan para penuturnya untuk mengkomunikasikan semua pemikiran mereka dan juga secara bebas bisa menerjemahkan makna-makna bahasa mereka ke dalam bahasa lain. Akan tetapi, seiring dengan munculnya kelompok-kelompok sosial tertentu maka bahasa pun secara terus menerus dikembangkan. Kosakata sebuah bahasa terus menerus bertambah dengan ditemukannya kata-kata baru, atau kata-kata lama yang diberi makna baru ataupun dengan penyerapan kata-kata dari bahasa lain. Ini semua bertujuan untuk memenuhi kebutuhan komunikatif para penuturnya. Maka ketika muncul kelompok-kelompok yang berfaham jenis kelamin, merekapun akan terus menerus mengembangkan bahasa untuk kepentingan faham yang mereka anut.
Keanggotaan dalam kelompok-kelompok tertentu inilah yang kemudian mengarahkan seseorang untuk mengikuti suatu pola tutur tertentu sebagai identitas kelompok mereka. Dalam pengertian ini, cara bertutur seorang individu terkait dengan keanggotaan kelompok atau jender mereka melalui proses sebab akibat. Ini mengindikasikan bahwa kedudukan seseorang ( baik laki-laki maupun perempuan) dalan suatu jaringan sosial akan mempengaruhi cara bertutur mereka, sementara pada saat yang bersamaan kehidupan sosial dan kepribadian mereka dibentuk oleh bahasa dan wacana dimana mereka terlibat di dalamnya.

Penindasan Linguistik Terhadap Perempuan
Ideologi jender yang dianut oleh sekelompok orang telah dijustifikasi sebagai suatu perangkat pemilah –pemisahan individu kedalam kelompok-kelompok dengan tujuan memberikan perlakuan yang secara sistematis berbeda kepada mereka.
Konsep ideologi inilah yang kemudian  mengklasifikasikan cara-cara bertutur, kualitas suara, aksen, dan perilaku percakapan(baik laki-laki maupun perempuan kedalam definisi sosial maskulinitas dan feminitas. Sebagai konsekuensinya,  gaya (style) berbahasa yang sesuai dengan logika feminitas dan maskulinitas ini telah menempatkan perempuan dan laki-laki dalam peran yang berbeda. Misalnya, perempuan harus mengambil peran pengasuhan yang lembut sedangkan laki-laki harus dominan dan agresif.  Sehingga telah dianggap sebuah kelaziman manakala kita menemukan pemandangan di dalam kelas ketika guru kerapkali memberikan penekanan pada tuturan yang ‘baik’ dan perilaku linguistik anak perempuan, sementara itu mentolerir perilaku linguistik yang gaduh dari anak laki-laki dan secara rutin memiliki sikap berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan di dalam kelas ketika mengajak atau merespon penuturan anak-anak.
Pada tingkat yang lebih luas, pemilahan berdasarkan ideologi jender inilah yang menjadi sumber utama penindasan linguistik terhadap perempuan. salah satunya dengan menghalangi perempuan untuk memperoleh ‘register bahasa yang tinggi’ (yang digunakan dalam kesusasteraan, politik, agama, hukum, dan sebagainya). Seperti yang dikutip Graddol & Swann dari sebuah esai Cora Kaplan:
Prasangka  tampaknya terus menerus ada dan tidak masuk akal, kecuali kalau kita mengakui bahwa penguasaan atas supremasi bahasa merupakan bagian penting dari kekuatan-kekuatan dominan, dan memahami penolakan atas akses bahasa umum merupakan  salah satu bentuk utama penindasan perempuan di dalam sebuah kelas sosial maupun dalam berbagai situasi lintas kelas.

Di negara-negara berkembang, penindasan linguistik terhadap perempuan tercermin dari angka melek huruf perempuan yang jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. Melek huruf merupakan syarat yang diperlukan untuk melaksanakan hak-hak demokratis mendasar dan untuk berperan serta dalam modernisasi dan inovasi. Pengingkaran hak-hak ini atas perempuan akan mempengaruhi ‘tingkat pengetahuan dan kesadaran mereka’ (Cameron, 1985, hal 148).
Sementara di negara-negara maju, pengingkaran linguistik terhadap perempuan bukan pada masalah melek huruf tetapi pada pengalaman mereka untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan bahasa yang pantas untuk berurusan dengan lembaga-lembaga dan birokrasi besar. Hal ini akan mengarah pada suatu kesan umum mengenai perempuan sebagai ‘komunikator yang buruk’ dan merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap kompetensi linguistik mereka.

E.    Reformasi Linguistik, Perlukah?
‘Penandaan sosial’ terhadap perempuan melalui tuturan mereka, bukan merupakan hakekat bahasa menurut pengertian struktur abstrak, melainkan dilekatkan dan diaktifkan pada wacana untuk kepentingan sebuah ideologi tertentu. Oleh karena itu, berbagai usaha untuk mengubah struktur bahasa ( misalnya, dengan cara menemukan istilah-istilah baru, atau melarang penggunaan kata-kata tertentu), tidak akan membawa pada kesetaraan linguistik antara laki-laki dan perempuan. Yang harus diubah ialah ideologi- ideologi yang menciptakan dan melestarikan perilaku linguistik yang opresif dan diskriminatif terhadap perempuan.
Sebuah tindakan kolektif diperlukan—melalui aktifitas yang membangkitan kesadaran kaum perempuan untuk terbebas dari cengkraman ideologi- ideologi  tersebut. Memberikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk memperoleh peranan yang lebih besar dalam menjalankan berbagai lembaga yang mereproduksi ideologi-ideologi semacam itu, serta melahirkan ideologi-ideologi tandingan. Ini merupakan sebuah tantangan yang menuntut kaum perempuan untuk mengusahakan cara-cara baru dalam bertutur dan berpikir.

F.    Wacana Penyimpul
Sejatinya bahasa merupakan suatu perangkat netral untuk mengkomunikasikan seluruh pengalaman dan pemikiran para penuturnya. Namun demikian, selain dimensi individu, dimensi publik yang ada dalam sebuah bahasa kerapkali dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk melanggengkan serta mencengkramkan dominasi kelompoknya terhadap kelompok lain.
Validasi dan pemaksaan makna yang “ berorientasi laki-laki” terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk penindasan linguistik yang membatasi perempuan untuk masuk ke dalam wilayah”register bahasa yang tinggi’ (kesusasteraan, politik, ekonomi, agama, hukum, dan sebagainya). Dengan kata lain, selain ‘ditandai secara semantik’ pada saat yang bersamaan perempuan juga ‘ditandai secara sosial’. Hal inilah yang berperan dalam melestarikan ‘persepsi laki-laki’ dalam bahasa yang dianggap sebagai norma umum, sementara perempuan hanya merupakan kekecualian dari norma tersebut.
Reformasi pada tataran ideologi menjadi sangat penting melihat kenyataan bahwa bahasa telah dibiaskan oleh dan untuk kepentingan laki-laki. Peranan perempuan yang lebih besar  di dalam lembaga-lembaga yang mereproduksi ideologi-ideologi tersebut merupakan salah satu cara untuk menciptakan kesetaraan linguistik antara laki-laki dan perempuan.

G.    Referensi
Graddol, D & J. Swann ( 1989). Jender Voices. Alih bahasa: M. Muhith. Pasuruan: Pedati.

Cipollone, N, Steven, H Keiser & S. Vaishth (1998). Language and Jender. The Ohio State University Press.

Eckert, P & Sally McC Ginet (1998). Think Practically and Look Locally: Language and Jender as Community-based Practice.

Nasaruddin Umar (2001) Argumen Kesetaraan Jender: Perspektif al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.

Lakoff, R. Talking  Like A Lady dalam Miller, S .(1989). The Written World: Reading and Writing in Social Contexts. New York: Harper & Row, Publishers, Inc.