Oleh : Dra. Akmaliyah, M.Ag
A. Beberapa Masalah Aktualisasi Potensi Perempuan
Beberapa masalah aktualisasi potensi perempuan diantaranya ialah masalah psikologis perempuan,  kurangnya penguasaan nilai-nilai Islam yang akan dijadikan sebagai dasar pijakan aktualisasi potensi perempuan sendiri dan sumber semangat bagi perempuan untuk mengaktualisasikan potensinya itu. Masalah aktualisasi potensi perempuan yang lain ialah budaya masyarakat dan kondisi sosiologis yang senantiasa berkembang. Hambatan atau masalah psikologis dan penguasaan nilai-nilai Islam pada perempuan dapat dikelompokkan dalam suatu hambatan dari dalam diri perempuan itu sendiri. Sedangkan masalah budaya masyarakat, dan kondisi sosiologis yang senantiasa berkembang, adalah merupakan hambatan yang datangnya dari luar diri perempuan.
Hambatan yang ada pada diri perempuan atau masalah dalam diri (internal problem) perempuan adalah merupakan sumber utama yang harus lebih dahulu diantisipasi, karena dari sinilah berawal hambatan aktualisasi potensinya Itu.
Dengan kesadaran perempuan memecahkan masalah dari dalam dirinya sendiri itu, maka akan semakin mudah untuk mengatasi hambatan yang datangnya dari luar diri perempuan. Kesadaran dari dalam diri perempuan untuk mengaktualisasikan potensinya dan berupaya keras memecahkan hambatan aktualisasi potensinya yang ada tepat dan efektif bagi langkah awal kelangsungan aktualisasi potensinya.
Jika hambatan dari dalam diri perempuan sendiri telah mampu disadari dan mencoba diatasi oleh perempuan, maka hambatan atau masalah aktualisasi potensi perempuan yang datang dari luar dirinya akan segera dapat diadaptasi dan diselesaikan untuk dicarikan jalan keluarnya yang terbaik.
Masalah yang datangnya dari luar diri perempuan berupa budaya masyarakat dan kondisi sosiologis, yang senantiasa berkembang dan mengalami perubahan. Tergantung pada kenginan dan kebutuhan masyarakat.
Budaya masyarakat lebih menganggap perempuan tidak berdaya dan menetapkan agar perempuan dapat selalu bersikap “halus” dan menuruti perilaku dan peraturan masyarakat pada perempuan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang perempuan.
“….meskipun perempuan dan lelaki dilahirkan dengan potensi yang sama, namun lingkungan sosial budaya dan cara pengasuhan anak cenderung mengembangkan dalam diri masing-masing anak sikap dan sifat yang oleh lingkungan sosial budayanya diharapkan daripadanya karena ia perempuan atau lelaki. Sehingga dikebanyakan lingkungan budaya berkembang pengertian tentang apa yang pantas dilakukan perempuan atau lelaki”.1
Selanjutnya Saparinah Sadli mengemukakan tentang pendidikan orang tua terhadap perempuan:
“….terungkap bahwa orang tua lebih protektif terhadap anak perempuan daripada terhadap anak lelaki. Anak dari keluarga yang lebih protektif terhadap anak perempuannya dapat menimbulkan perasaan pada anak-anak perempuan bahwa ia, dibandingkan dengan anak laki-laki, adalah kurang mampu dan membutuhkan dukungan yang lebih banyak dari orang lain”.2
Kondisi sosiologis yang berkembang saat ini pun, belum cukup memberikan jaminan bagi perempuan untuk mengaktualisasikan potensinya secara optimal. Misalnya soal tidak berimbangnya perempuan yang memperoleh pendidikan dibandingkan laki-laki, pada hal jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki.
Menurut laporan Panitia Nasional Tahun Wanita Internasional Tahun 1975 mengungkapkan :
“Wanita yang buka aksara jumlahnya dua kali pria buta aksara; ketelantaran pendidikan wanita lebih besar dibandingkan dengan prianya, wanita 55,33% dan pria 55,01%; pada usia perguruan tinggi lebih sedikit wanita bersekolah daripada pria”. 3
Dalam bidang ekonomi, meskipun telah banyak perempuan mendapatkan lapangan pekerjaan, namun masih terdapat praktek diskriminasi, yang membedakan perlakuan kepada pekerja perempuan daripada perlakuan pada laki-laki.
“Upah yang lebih rendah, jaminan kesejahteraan yang berbeda; fasilitas-fasilitas yang tidak sama dengan kaum pria, misalnya kendaraan, perumahan dan sebagainya, persyaratan penerimaan bekerja yang tidak sama, misalnya kalau wanita ditanya apakah ia sudah berkeluarga, dan jika sudah bagaimana mengurus anak-anaknya bila bekerja; terdapat jenis pekerjaan tertentu yang tidak dapat/sulit diraih oleh wanita”.4
Menilai kenyataan itu, maka penguasaan nilai-nilai Islam yang benar dan aplikasinya yang tepat, masyarakat dapat menciptakan budaya dan kondisi sosiologis yang Islami. Karena, “Islam memberikan konsep masyarakat yang bebas dari ekspoitasi, penindasan, dominasi dan ketidakadilan, dalam bentuk apa pun”.5
Dengan demikian akan tercipta suatu masyarakat yang diidamkan dan kondusif bagi aktualisasi potensi perempuan. Hal itu akan mendukung realisasi potensi perempuan. Hal itu akan mendukung realisasi atau suatu bukti kesadaran perempuan tentang potensinya dan perlu dan manfaatnya aktualisasi potensinya itu. Perempuan akan mempunyai kesempatan dan berusaha meraihnya bagi aktualisasi potensinya itu. Karena, sebagaimana diungkapkan Arief Budiman berikut ini :

Diharapkan, dengan munculnya kesadaran ini maka pembebasan kaum perempuan dari ketergantungannya tidak saja terjadi dalam alam kesadaran, tapi juga mereka mau bekerja untuk mengubah kondisi-kondisi sosial yang membuat mereka terbelenggu”.6

Untuk lebih jelasnya, kesadaran perempuan-perempuan itu untuk mengaktualisasikan potensinya. Akan tetapi juga membutuhkan budaya masyarakat dan kondisi sosiologis yang kondusif. Dimana tidak terdapat lagi perlakuan diskriminatif pada perempuan, bahkan memberikan kesempatan yang sama dalam segenap aspek kehidupan bagi perempuan, bagi kehidupan bermasyarakat secara terbatas, maupun kehidupan bermasyarakat secara luas, dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kesempatan yang sama dan perlakuan yang baik bagi perempuan diharapkan akan merupakan salah satu jalan keluar bagi merealisasikan kesadarannya untuk mengaktualisasikan potensinya dengan baik dan benar. Tetapi harapan itu seringkali sulit untuk menjadikannya sebuah kenyataan. Pada akhirnya kesadaran perempuan akan senantiasa bertahan dengan perjuangannya terus menerus.
Serbagai contoh, suatu perjuangan perempuan dalam menyuarakan hak-hak :
“Sosok inang desa sungapa yang memprotes P.T. Indrayon yang menguasai tanah adat komunitas mereka, …… atau sosok Marsiapan, buruh pabrik jam di Sidoarjo yang baru-baru ini diketemukan tewas terbunuh di tenah kegairahannya memperjuangkan hak ekonomi kaum buruh”.7
Meskipun perjuangan perempuan-perempuan itu menemui “kegagalan”, tetapi dapat dimengerti bahwa kesadaran telah tumbuh dan memacu semangat untuk memperjuangkan hak-hak kemanusiaannya yang wajar. Dan bagaimanapun, kesadaran yang tumbuh itu telah memberi arti untuk siap menghadapi budaya masyarakat dan kondisi sosiologis yang menghambat aktualisasi potensinya sebagai manusia.
Salah satu upaya menumbuhkan kesadaran itu ialah melalui pendidikan. Untuk itu, Islam mewajibkan perempuan untuk memperoleh pendidikan dan menurut Ilmu, sebagaimana halnya kaum laki-laki.

B. Faktor-faktor Pendukung

a. Kondisi Psikologis
Keadaan struktur dan fungsi fisik (biologis) perempuan memang berbeda dari laki-laki, tetapi keadaan perempuan. Sehingga tidak akan menimbulkan suatu kondisi psikologis yang tidak sehat dan menghambat aktualisasi potensinya.
Karena struktur dan fungsi fisik perempuan itu berbeda dari laki-laki, memang secara otomatis juga berpengaruh pada kondisi psikologis yang berbeda pula. Tetapi perbedaan itu tidak merupakan suatu hal yang prinsipil, dengan demikian tidak diharapkan hal itu dapat menghambat aktualisasi potensi perempuan.
Untuk menumbuhkan kondisi psikologis yang sehat agar dapat mendukung aktualisasi potensi perempuan, maka perempuan harus menyadari dirinya dan menerima perbedaan struktur fisik dan fungsinya secara wajar dan tidak memandang perbedaan itu secara berlebihan.
Dalam hal ini, Yohana mengemukakan suatu upaya pengembangan diri perempuan di saat menghadapi problem psikologisnya, yaitu agar perempuan menerima dirinya sebagaimana adanya, terbuka terhadap pengalaman, latihan asertif, kemudian tahu apa yang dikehendakinya, dan bersedia menggunakan kesempatan yang ada, berani mempertahankan haknya, dan menggunakan kewajibannya sebagai aset, punya cara tertentu untuk menjadi kesehatan fisik maupun mental, punya pendukung sosial yang kuat, berani menunjukkan kemampuannya dan berani beda dari orang lain, serta meninggalkan kepercayaan diri melalui latihan-latihan yang tersedia.8
Sedangkan menurut Saparinah Sadli,” …. Secara psikologis kemandirian adalah salah satu ciri dari pribadi yang matang (nature personality)”. 9 Jadi, kondisi psikologis dari pribadi yang matang — baik laki-laki maupuna perempuan — adalah yang memiliki trait (sifat) kepribadian berupa kemandirian.
Kemandirian pada perempuan merupakan kondisi psikologis yang dapat menunjang aktualisasi potensinya, karena kemandirian itu adalah merupakan salah satu komponen dari “need for achievewent”
“Ditinjau dari segi psikologis kemandirian merupakan salah satu komponen dari need for achievewent (N-Ach) atau hasrat berprestasi. Lain komponen dari N-Ach adalah : sikap kompetitif, sikap asertif dan sikap mendominasi. Orang dengan N-Ach. Yang  tinggi adalah orang yang mempunyai harapan tinggi untuk dapat sukses dalam hidupnya”.10
Dengan kemandirian dalam artian psikoligis itu, perempuan akan memiliki atau menunjukkan perilaku yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan bermanfaat bagi masyarakat. Karena dengan demikian perempuan dapat menunjukkan perilaku positif untuk mengaktualisasikan potensinya.
“Bila kemandirian dalam artian psikologis diterapkan pada perilaku perempuan pada umumnya maka ini berarti bahwa kemandirian akan ditemukan pada perempuan yang telah mengembangkan ‘need for achievewent’ nya. Perilaku akan ditandai oleh adanya ‘traits’ seperti : senang untuk berprestasi, mempunyai sifat ‘agency seperti, terdorong untuk mengembangkan potensi dan percaya diri atau mempercayai penilaian diri sendiri, serta berani mempertanggung jawabkan pilihan dan keputusannya”.11
Dengan kondisi psikologis yang sehat dapat menampilkan suatu mental yang sehat. Dengan mental yang  sehat itu perempuan dapat mengaktualisasikan potensinya seoptimal mungkin.
“Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala kondisi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan penyakit jiwa’ 12

Lebih lanjut Zakiah Daradjat menambahkan :

“Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sunguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan bahagia di akhirat”13.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa kondisi psikologis yang sehat merupakan faktor pendukung bagi aktualisasi potensi perempuan. Kondisi psikologis yang sehat dan berlandaskan pada nilai-nilai Islam (keimanan dan ketaqwaan) akan memberikan arti bagi aktualisasi potensi perempuan. Baik arti bagi dirinya sendiri juga bagi masyarakatnya, di dunia maupun di akhirat.

b. Budaya Masyarakat dan Kondisi Sosiologis
Secara struktural dan fungsional potensi fisik (biologis) perempuan berbeda dari laki-laki. Tetapi perbedaan yang esensial adalah ketaqwaannya di hadapan Allah. Al-Qur’an surat Al-Hudjurat (49) : 13:
“Sesungguhnya yang paling mulia diantaramu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa”.14
Dengan pemahaman itu, maka perempuan sendiri juga masyarakat tidak menganggap diri perempuan itu rendah. Dengan demikian, masyarakat juga dapat memperlakukan perempuan secara adil.
“Menurut R.A. Kartini :
“Anakku, laki-laki maupun perempuan akan aku adjar, supaya menghargai pandang-memandang sama rata machluk yang sama, dan didikannya akan kusamakan benar; yakni tentu sadja masing-masing”15
Masyarakat juga perlu menyadari keberadaan perempuan dan potensi yang dimilikinya. Dengan potensi itu perempuan akan memberikan manfaat dan arti selain bagi dirinya, juga bagi masyarakatnya.
R.A. Kartini mengungkapkan pula :
“Persamaan itu djadi soko guru peradaban : bukan karena perempuan jang dipandang tjakap untuk itu, melainkan oleh karena saja sendiri jakin sungguh bahwa dari perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh jang besar, jang besar akibatnya, dalam hal membaikkan maupun memburukkan kehidupan, bahwa dialah jang paling banjak dapat membantu memadjukan kesusilaan manusia” 16

Budaya menyarakat dan kondisi sosiologis yang mendukung telah memberikan tempat bagi kiprah kemasyarakatan perempuan :
“Untuk memberi kesepatan dan tempat kepada wanita terjun dalam masyarakat, adanya organisasi kemasyarakatan, keagamaan, sosial, khusus untuk wanita atau bukan adalah sangat membantu. Hal ini juga tidaklah menjadi masalah di Indonesia, semuanya telah dapat berjalan dengan baik dan lancar. Organisasi wanita di Indonesia telah maju dan bekerja secara efisien.”17

Secara perorangan, perempuan juga telah mendapat kesempatan memperoleh pendidikan tinggi, dan melakukan berbagai profesi karena keahiannya. ”…. sekarang ini kaum wanita sudah tampil ke depan dan mereka sudah banyak memasuki berbagai profesi karena keahliannya seperti menjadi guru/dosen, pengusaha, menteri, hakim dll…18

Namun demikian, perjuangan perempuan masih juga belum selesai. Kenyataan yang ada di masyarakat perlu terus menerus diperjuangkan. Untuk itu perjuangan kepentingan-kepentingan wanita dilindungi oleh undang-undang. Bahwa UU secara tersurat berusaha melindungi kepentingan-kepentingan wanita dengan sebaik-baiknya.19 Misalnya, undang-undang pelaksanaan di bidang pidana, perkawinan, pendidikan, politik, perburuhan dan sebagainya.
Dengan adanya undang-undang itu dan kesadaran, budaya masyarakat dan kondisi sosiologisnya yang baik dalam memperlakukan perempuan itu, maka perempuan diharapkan mampu mengaktualisasikan potensinya di segala bidang kehidupan.
Sehingga dengan demikian, jumlah perempuan yang lebih banyak dari laki-laki itu akan mampu memberikan manfaat, bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi masyarakatnya, dengan aktualisasi potensinya. Jumlah perempuan yang lebih banyak dari laki-laki, dan potensi yang dimiliki perempuan akan merupakan suatu yang berharga dan bernilai, serta tidak sia-sia adanya.

c. Penguasaan Nilai-Nilai Islam
Aktualisasi potensi perempuan perlu mendapat landasan nilai-nilai, agar aktualisasi potensi itu mengarah pada kebaikan dan kebenaran yang diharapkan dan membawa kebahagiaan diri perempuan sendiri juga kebahagiaan bagi masyarakat, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Untuk itu, perempuan perlu menguasai nilai-nilai keimanan dan ketawaan yang diajarkan Islam. Dengan nilai-nilai Islam yang dikuasai setiap individu (perempuan), maka diharapkan perempuan mampu mengaktualisasikan potensinya sesuai dengan wujud penciptaannya, fungsi dan peranannya. Penggunaan nilai-nilai Islam pada perempuan itu juga agar mampu menolak pemikiran yang dapat membahayakan dirinya dan masyarakatnya. Dengan potensi yang dimiliki dan teraktualisasi dengan baik dan benar, perempuan diharapkan dapat menyuguhkan pemikiran alternatif berdasarkan nilai-nilai Islam yang dikuasainya itu.
Menganal hal tersebut dikemukakan :
“Konfrensi menegaskan pentingnya peranan wanita dalam pembangunan keluarga dan masyarakat, dan berseru agar kaum wanita diperlengkapi dengan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan wujud penciptaan mereka dan peran fungsional mereka dalam kehidupan dan memperlengkapi mereka dengan ilmu pengetahuan Islam, sehingga dapat menangkap serangan pemikiran terhadap merka dan menjadikan mereka mampu melaksanakan tugas dakwaan kepada Allah” 20
Penguasaan nilai-nilai Islam oleh perempuan dalam kehidupan perempuan akan semakin memanfaatkan sikap dan langkah perempuan dalam mengaktualisasikan potensinya. Dengan nilai-nilai itu pula, perempuan mempunyai gambaran yang jelas, baik dan besar tentang aktualisasi potensi perempuan menurut Islam. Dan dapat memahami untuk apa aktualisasi potensinya itu.
Penguasaan nilai-nilai Islam juga akan melandasi kepribadiannya. Karena kepribadian merupakan mekanisme yang mengendalikan dan mengarah sikap dan perilakunya dalam mengaktualisasikan potensinya.
Menurut Zakiah Daradjat : “Secara umum para pakar kejiwaan berpendapat, bahwa kepribadian merupakan suatu mekanisme yang mengendalikan dan mengarah sikap dan perilaku”.21
Untuk itu, penguasaan nilai-nilai Islam oleh perempuan adalah perlu dan penting agar menjadi landasan dalam mengaktualisasikan potensinya dan menampilkan sikap dan perilaku Islami.
“Kepribadian terbentuk melalui semua pengalaman dan nilai-nilai yang diserapkannya dalam pertumbuhan dan perkembangannya, terutama pada tahun-tahun pertama dari umurmnya. Apabila nilai-nilai agama banyak masuk ke  dalam pembentukan kepribadian seseorang, maka tingkah laku orang tersebut akan banyak diarahkan dan dikendalikan oleh nilai-nilai agama “22

c. Faktor-faktor Penghambat

a. Kondisi Psikologis

Kondisi psikologis yang dapat menghambat aktualisasi perempuan dengan potensi yang dimilikinya ialah adanya anggapan perbedaan potensi fisik perempuan dengan laki-laki secara berlebihan dan tidak proporsional. Anggapan itu bermula dari masyarakat dan diperkuat dengan kepercayaan perempuan sendiri atau menerima anggapan itu.
Dalam menghadapi kenyataan yang ada pada masyarakat dan kenyataan pada diri perempuan sendiri, perempuan pada umumnya tidak mampu menolak anggapan penilaian serta ketetapan yang berlebihan itu.
Hal itu karena perempuan tidak cukup mempunyai kesadaran akan dirinya, pengetahuan dan nilai-nilai untuk merespon keadaan itu atau pengaruh yang datang dari luar dirinya. Sehingga hal itu dapat menimbulkan konfilik yang dapat memperburuk pengaruh-pengaruh pada kondisi psikologisnya. Konflik pada perempuan terjadi karena menurut suara hatinya, ia memiliki potensi, dan berhak untuk diaktualisasikannya, tetapi di sini lain ia menerima anggapan perbedaan fisiknya dengan laki-laki secara berlebihan.
Nilai-nilai moral bahwa ia “manut” terhadap nilai dan anggapan masyarakatnya tidak sesuai dengan perilakunya yang potensial dan menunjukkan sikap bahwa ia memiliki potensi dan berhak mengaktualisasikannya.
“Konflik terjadi apabila ada kebutuhan, dorongan, keinginan yang berlawanan yang berada pada diri seseorang. Atau konflik bisa terjadi apabila ada pertentangan antara nilai-nilai moral yang dimiliki seseorang dan perilakunya”23

Konflik yang berkepanjangan dan tak penyelesalannya, akan menimbulkan masalah kejiwaan perempuan dan memperburuk kondisi psikologisnya, yang akhirnya dapat menghambat aktualisasinya potensinya.
“Masalah kejiwaan menampilkan diri dalam berbagai bentuk, ada yang dalam ketidaktentraman batin, cemas, gelisah, takut, sedit, marah, bimbng, tertekan, frustasi, rasa rendah diri, rasa sombong, tidak percaya diri, pesimis, putus asa, apatis dan sebagainya”.24

Menurut Zakiah Daradjat, penyebab terjadinya masalah kejiwaan itu ada dua faktor. Faktor pertama dari dalam dirinya sendiri, dan kedua faktor dari luar dirinya, lebih jelasnya beliau mengemukan :
“Faktor penyebab terjadinya masalah kejiwaan itu banyak, diantaranya terdapat di dalam diri sendiri ….  faktor luar, diantaranya perubahan nilai dan keadaan sosial ekonomi yang menyebabkan orang kehilangan pegangan atau sulit menyesuaikan diri” 25

Maka, kondisi psikologis yang tidak sehat pada perempuan akan sulit menyesuaikan diri, baik kesulitan perempuan menyesuaikan dirinya dengan keadaan dirinya sendiri, maupun juga sulit menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan masyarakatnya. Dengan keadaan demikian itu perempuan menghadapi hambatan dalam mengaktualisasikan potensinya.

b. Budaya Masyarakat dan Kondisi Sosiologis
Pemahaman masyarakat tentang perempuan dan anggapannya tentang perbedaan struktur fisik dan fungsi biologisnya, tercermin dalam perlakuannya terhadapnya.
Perlakuan terhadap perempuan dari masyarakat dengan menekankan perbedaan fisik perempuan dari laki-laki secara berlebihan itu biasa dikenal dengan sebutan gender.
“Gender adalah segala sesuatu yang dilakukan atau dipikirkan orang sebagai lelaki dan perempuan. Jika perbedaan biologis merupakan landasan awal pembedaan, maka ciri-ciri berdasar gender dibentuk sepanjang sejarah oleh proses-proses selanjutnya dipertahankan serta diperbuat oleh kepercayaan kita dan praktek-praktek yang kita lakukan”26

Kemudiaan budaya masyarakat juga berkembang dalam bentuk memperlakukan (mendidik) perempuan, dimana hal itu untuk lebih menekankan keperempuanan seorang perempuan, dan lelaki-lakian seorang laki-laki.
“….meskipun perempuan dan lelaki dilahirkan dengan potensi yang sama, namun lingkungan sosial budaya dan cara pengasuhan anak cenderung mengembangkan dalam diri masing-masing anak sikap dan sifat yang oleh lingkungan sosial budayanya diharapkan daripadanya karena ia perempuan atau lelaki. Sehingga dikebanyakan lingkungan budaya berkembang pengertian lingkungan budaya berkembang pengertian tentang apa yang pantas’ dilakukan perempuan atau “lelaki”. 27

Pengertian tentang apa yang pantas bagi laki-laki dan perempuan itu menekankan adanya perbedaan kemampuan yang telah diketahui oleh umum. Yaitu kemampu rasionalitas yang menjadi milik kaum laki-laki, dan kemampuan perasaan (afeksi) bagi perempuan. Sehingga yang dinamakan prestasi adalah ukuran rasionalitas yang dimiliki kaum laki-laki, sedangkan kemampuan berprestasi perempuan dalam konteks afeksinya itu, dianggap bukan merupakan suatu prestasi.

“Sedangkan suatu pembagian tentang apa yang pantas bagi perempuan atau lelaki adalah : pengembangan sifat agentic bagi lelaki, dan sifat ‘communal’ bagi perempuan. Sifat agentik pada dasarnya merupakan orientasi terhadap kebutuhan orang lain, hubungan-hubungan interpersonal berdasarkan empati dan afeksi (dapat menghayati perasaan orang lain). Artinya : sejak kecil anak lelaki dan perempuan akan dituntut untuk konform terhadap definisi peran yang ditentukan baginya dan sesuai jenis kelamin. Meskipun perilaku prestasi biasanya ditentukan oleh apa yang dilakukan lelaki, maka perempuan yang mempunyai motivasi untuk mencapai (achieve) tujuan yang lain seperti mampu menyenangkan, membina keluarga yang harmonis, mengasuh anak-anak agar sehat, pintar dan soleh tidak selalu dinilai sebagai suatu prestasi”.28

Menurut Saparinah lebih lanjut mengemukakan, bahwa proses sosialisasi antara orang tua dan anak perempuannya dipengaruhi oleh falsafah hidup orang tua dan kuat lemah keterikatan pada tradisi nilai sosial yang berlaku. Lebih jelasnya beliau mengemukakan :

“Maka orang tua biasanya sangat menekankan pada apa yang pantas dilakukan perempuan, dan apa yang tidak pantas bagi perempuan, dan apa yang pantas dan tidak pantas berbeda antar suku, antar golongan dan antar budaya. Mengingat pluralitas masyarakat kita, maka dapat dibayangkan variasi sosialisasi yang diterapkan orang tua Indonesia pada anak-anak perempuannya”. 29

Salah satu kondisi sosiologis menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki. Dengan jumlah yang besar itu, perempuan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dengan potensi yang dimiliki, yang diaktualisasikannya dengan baik.
Namun dalam kenyataannya, jumlah perempuan belum menunjukkan keseimbangan dengan jumlah potensinya yang diaktualisasikan dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Dalam hal ini perempuan belum seluruhnya memperoleh hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan potensinya.
Dalam bidang pendidikan, misalnya perempuan belum seluruhnya mendapat kesempatan dan meraih pendidikan.
Demikian halnya dalam perundang-undangan, bahwa secara tertulis perempuan tidak boleh diperlakukan berbeda dari laki-laki. Namun kenyataannya perlakuan diskriminasi terhadap perempuan masih tetap.
“…. bahwa secara garis besarnya, hukum tertulis di Indonesia telah cukup baik menunjang kedudukan wanita Indonesia diantaranya para prianya. Meskipn begitu masih terdapat hal-hal yang tampak mencolok sebagai gambaran dari adanya diskriminasi antara pria dan wanita …”30

Jadi, dalam segala aspek kehidupan baik dalam aspek pendidikan, perburuhan (ekonomi), sosial dan politik dan lain sebagainya, perempuan masih harus dan perlu terus menerus melakukan perjuangan. Karena perkembangan nilai-nilai secara teoritis yang diakui dan diterima masyarakat belum sepenuhnya dipratekkan sesuai teori yang ada.

c. Penguasaan Nilai-nilai Islam
Pemahaman nilai-nilai Islam yang tidak memadai dan tidak dikuasai oleh perempuan, akan menimbulkan dilema dan konflik berkepanjangan bagi perempuan dalam upaya mengaktualisasikan potensinya. Karena perempuan tidak mengetahui dan menyadari sepenuhnya, bahwa Islam menjunjung tinggi berkat dan martabat perempuan, serta memberikan landasan dan semangat bagi aktualisasi potensinya itu.
Jika perempuan tidak menguasai nilai-nilai Islam juga akan membawa perempuan pada perilaku yang menyimpang. Misalnya, perempuan akan senantiasa terbawa arus kebutuhan dan kepentingan ekonomi dan mengikuti budaya masyarakat dan kondisi sosiologis yang tidak Islami, seperti perempuan menjadi pelacur atau menjual dirinya dan menukarnya dengan uang untuk menutupi kebutuhan ekonominya secara “instant”, tanpa susah payah untuk berpikir dan bekerja keras dengan halah. Atau perempuan membiarkan dirinya menjadi pameran dalam film-film nasional kita yang siap beradegan “panas” dan berani menunjukkan keindahan fisiknya yang dilarang agama (aurat), dan berbagai perilaku menyimpang lainnya.
Perilaku perempuan tersebut selain mengorbankan tugas dan fungsi kodratnya sebagai perempuan, juga telah menghancurkan tugas dan fungsinya kekhalifahan dan kehambaannya di hadapan Allah.
Penguasaan nilai-nilai Islam yang cukup pada perempuan sebenarnya akan menentukan hati perempuan dan menerima segala kekurangannya dengan ikhlas. Kemudian menyerahkannya kepada Allah. Al-Qur’an surat An-Nisa (4) : 32 menyatakan :
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi lelaki ada sebagian dari apa yang mereka peroleh/usahakan dan bagi perempuan juga ada bagian apa yang mereka usahakan dan bermohonlah kepada Allah dari karunia-Nya”.31
Nilai-nilai Islam dengan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits menururt aktualisasi potensi perempuan ke arah yang baik dan benar. Untuk itu, jika perempuan tidak menguasai nilai-nilai tersebut dengan baik dan benar, maka perempuan tidak mungkin mampu melahirkan hasil dari aktualisasi potensinya yang penuh dengan hidayah Allah.
Kurangnya (bahkan tiadanya) penegasan nilai-nilai Islam pada diri perempuan, akan membuat perempuan “tersebut” dalam mengaktualisasikan potensinya. Dan ia tidak akan mendapat petunjuk ke arah mana, dan bagaimana cara serta untuk siapa aktualisasi potensinya itu, sehingga kehidupan dan aktualisasi potensinya menjadi hampa dan tidak bermakna.
Keadaan itu akan menimbulkan keresahan bagi diri perempuan sendiri, juga keresahan bagi masyarakat luas. Karena dengan demikian perempuan terus menerus menghadapi konflik dan dilema yang disebabkan oleh nilai-nilai moral yang diketahuinya dari masyarakat bertentangan dengan perilakunya. “Konflik biasa terjadi apabila ada pertentangan antara nilai-nilai moral yang dimiliki seseorang dan perilakunya”.32
Perilaku perempuan yang merupakan dorongan dari dalam diri perempuan secara fitrah menunjukkan, bahwa perempuan adalah individu potensial dan berhak mengaktualisasikan potensinya.
Sedangkan nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat dan “dikonsumsi” oleh perempuan acapkali merupakan hasil interprestasi kaum laki-laki terhadap nilai-nilai Islam fundamental Al-Qur’an dan Hadits secara sepihak. Dan hal itu kemudian cenderung menjadi alat “menindas” dan membelenggu perempuan dan bukan untuk “membebaskan” perempuan sebagaimana yang diajarkan dan dibawa Islam bagi umat manusia seluruhnya.
Nilai-nilai itu diterima perempuan dan akhirnya menjadikan salah satu faktor penghambat aktualisasi potensinya secara optimal. Nilai-nilai “salah” itu diterima perempuan dan tidak ada pilihan lain, karena perempuan sendiri tidak dapat menghasilkan pemikiran alternatif yang relatif “benar”. Padahal, pemikiran alternatif sebagai suatu hasil interpretasi (ijtihad) perempuan itu juga diperbolehkan menurut Ajaran Islam.
Tetapi kenyataan telah membuktikan, bahwa laki-laki lebih berperan di sektor pemikiran alternatif itu dan melontarkan hasil pemikirannya secara sepihak.
“Tradisi Islam sampai masa sekarang, pada umumnya, sangat ketat berpegang pada patriarki, dan tidak mendorong tumbuhnya ilmuwan dari kalangan perempuan terutama yang ahli dalam pemikiran masalah keagamaan. Dengan demikian sumber-sumber yang menjadi landasan tradisi Islam, terutama Al-Qur’an, Hadits, dan Fiqh semuanya ditafsirkan oleh hanya laki-laki, yang menggenggam di  tangan mereka  tugas untuk mendefinisikan baik seara ontologis, teologis, sosiologis, maupun sekstologis tentang kedudukan perempuan Islam” 33

Tetapi pada akhirnya, berkat pendidikan yang diperoleh perempuan, Riffat menyatakan bahwa, perempuan mulai menyadari keadaan itu. Lebih jelasnya beliau mengemukakan :
“Saat ini, terutama akibat  tekanan undang-undang yang cenderung bersifat anti perempuan yang diberlakukan di sebagian dunia Islam, dengan kedok “Islamisasi”, perempuan yang beruntung mengenyam pendidikan dan mempunyai kesadaran, mulai melihat bahwa agama cenderung lebih menjadi alat untuk menindas bukan untuk membebaskan”.34

DAFTAR  RIWAYAT HIDUP

N a m a      : Dra. Akmaliyah, M.Ag
Tempat/Tgl. Lahir     : Tangerang, 1 November 1966
Alamat Rumah     : Komplek Griya Cempaka Arum Blok F2/19 Bandung
Pendidikan     :

a.    SD Negeri di Tangerang, tamat Th. 1980
b.    Madrasah Diniyah di Tangerang, tamat Th. 1980
c.    SMP Negeri di Tangerang, tamat Th. 1983
d.    Aliyah Pondok Pesantren  Darunnajah      di   Jakarta Selatan, tamat  Th. 1986
e.    FIAD Universitas Muhammadiyah Surabaya 2 Semester 1986/1987
f.    Fak. Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya, tamat, Th. 1991.

Pengalaman Tulis Menulis : Puisi :
Sandal Tua (Berita Buana, 1978, Musim Hujan (Bobo, 1980)
Pagi (Sahabat, 1981), Resah, dan Bagi Sepi yang Pernah Hadir (Zaman, 1983), Ibuku dan Dalam Sunyi dan Harapan (Pesan, 1984), Kamu (Panjimas, 1987).
Cerpen : Seindah Senyuman Ninik (Majalah Sekolah SMP, 1983)
Artikel : Eksistensi Kekhalifahan (Majalah Fak. Adab Qamah, 1989)
Reportase Majalah Kampus dan Berita Kegiatan Kampus (SKM Eksponen, Yogya 1990)
Kontribusi Pemikiran Wanita, 1992 di SM (Suara Muhammadiyah)

Pengalaman Organisasi :
a.    PD IPM Surabaya Dep. Ipmawati (1986/1987)
b.    PW IPM Jawa Timur Dep. Pengkajian dan Pengembangan Da’wah (1987-1989)
c.    Dep. Humas Senat Fak. Adab (1988)
d.    HMI Komisariat Adab Kabid UPW (1988)
e.    HMI Cabang Surabaya, Sek. Ekstern KOHATI/UPW (1989)
f.    Dewan Redaksi Majalah Fak. Adab Qimah (1989-1991)
g.    Dep. Humas Senat Fak. Adab (1988)
h.    Staf Humas Anggota Lingkaran Studi Meridian bekerjasama dengan Civitas Akademika Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (1992)
i.    Bidang Pendidikan Islam, LESISKA, 1992/1993

Sekarang sebagai Tenaga Pengajar pada Fak. Adab IAIN Bandung

CATATAN  KAKI
1.    Sukarno, Sarinah, Kewajiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia, Panitya Penerbit Buku-buku Karangan Presiden Sukarno, Tanpa Nama Tempat, 1963, Hal. 326.
2.    Saparinah Sadli, Op. Cit, Hal. 6
3.    Ibid, Hal. 9
4.    Nani Yamin, dan Joyce Astuti Ichsan dan Chila Rachman, “Wanita Islam dan Masalah Pelaksanaan Hukum di Indonesia”, Makalah dalam Seminar “Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Konstekstual “, INIS, Jakarta, 9-12 Desember 1991, Hal. 13
5.    Ibid, Hal. 12
6.    Asghar Ali, Op.Cit Hal. 88
7.    Arief Budiman, “Ketergantungan Perempuan dan Manisfestasinya: Kajian Pustaka”, Makalah dalam Lokakarya Nasional Citra Kemandirian Perempuan Indonesia Kelompok Studi Wanita Pusat Penelitian Universitas Brawijaya, Malang, 1991.
8.    Tati Krisnawaty, “Peluang Kerja Perempuan Miskin dan Strategi Survive, Beberapa Catatan”, Makalah dalam Seminar Nasional “Kemiskinan di Indonesia dalam Perspektif Perempuan “, LSPPA, Yogyakarta, 21 Agustus 1993, Hal. 1
9.    Yohana E. Prawitasari, Op. Cit, Hal. 1
10.    Saparinah Sadli, Op. Cit, Hal. 4
11.    Saparinah Sadli, Loc. It.
12.    Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, Cet. VI, CV. Haji Masagung, Jakarta, 1991 Hal. 28
13.    Ibid, Hal. 28-29
14.    Departemen Agama Republik Indonesia, Op. Cit. Hal. 847
15.    R. A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, diterjemahkan oleh Armijn Pane, PN. Pustaka, Jakarta, 1972, Hal. 73.
16.    Ibid, Hal. 96
17.    Baroroh Baried, “Konsep Wanita dalam Islam”
Dalam Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Konstektual, Lies M. Marcoes-Natsir dan Johan Hendrik Meulmen, INIS Jakarta, 1993, Hal. 40.
18.    Huzaemah, T. Op.Cit. Hal. 29
19.    Nani Yamin, Joyce Astuti Ichsan dan Chila Rachman, Op. Cit. Hal.29
20.    Rabithah Alam Islam, Op. Cit. Hal. 25
21.    Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, CV. Ruhama, Jakarta, 1994, Hal. 62.
22.    Ibid, Hal. 62-63
23.    Yohana E. Prawitasari, “Problema Psikologis Wanita Indonesia”, Makalah dalam Seminar dan Lokakarya Wanita dan Kesehatan, PPIP Duta Wacana, Yogyakarta, 2 Pebruari 1990.
24.    Zakiah Daradjat, Op. Cit. Hal. 45
25.    Ibid, Hal. 45-46
26.    Wardah Hafidz, Op. Cit, Hal. 16
27.    Saparinah Sadli, Op. Cit. Hal. 6
28.    Saparinah Sadli, Loc, It
29.    Ibid, Hal. 8
30.    Nani Yamin, Joyce Astuti Ichsan dan Chila Rachman, Op. Cit. Hal.10
31.    Departeman Agama Republik Indonesia, Op. Cit, Hal. 122
32.    Yohana E. Prawisastra, Op. Cit, Hal. 3
33.    Riffat Hassan, “Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam, Sejajar di Hadapan Allah?” dalam Ulumul Qur’an, No.4 Vol. 1, Januari – Maret 1410 H/1990 M. Hal. 49
34.    Riffat Hassan, Loc. It.

DAFTAR  PUSTAKA

BUKU
Adams Shilling, Nancy,   “The Social and  Political  Roles of  Arab Women :
A Study in Conflict”, dalam Women in Contemporary Muslim Societies, Jane I. Smith (E.d), Lewisburg Bucknell University Press, London University Press, 1980

Ali, Asghar, Islam dan Pembebasan, Diterjemahkan oleh Harun Salim HS,
LkiS, Yogyakarta, 1993

Arifin, H.M. Ilmu Pendidikan Islam, Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis
Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Bumi Aksara, Jakarta, 1991

Al Asqolany, Imam Ibnu Hajar, Fathul Baary, Syarhu Shahihul Bukhari, Jilid
IX, Darul Fikri, Tanpa Nama Tempat dan Tahun.

Baried, Baroroh, “Konsep Wanita dalam Islam”, dalam Wanita Islam
Indonesia dalam Kajian tekstual dan Kontekstual, Lies M. Marcoes-Natsir dan Johan Hendrik Meuleman (Red.), INIS, Jakarta, 1993

Betz, Nancy, E, dan Louise F. Fitzgerald, The Career Psychology of
Women, Academic Press, Inc. Harcourt Brace Javanovich, Publisher, Orlando, San Diego, New York, Austin, Boston, London, Sydney, Tokyo, Toronto, 1997.

Boisard, Marcel. A, Humanisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1979

Daradjat, Zakiah, Islam dan Kesehatan Mental, Cet. VI, CV. Haji Masagung,
Jakarta, 1991

———, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, CV. Ruhama,
Jakarta, 1994

Daud Ibrahim, Marwah, Teknologi, Emansipasi dan Transedensi, Wacana
Peradaban dengan Visi Islam, Yudi Latif (Ed.), Mizan, Bandung, 1994

Fahmi, Musthafa, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan
Masyarakat, Jilid I, Diterjemahkan oleh Zakiah Daradjat, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

Gowzy Al Albany, Wahaby Sulaeman, Al Mar’ah Al Muslimah, Daarul
Qalam, Beirut, 1975.

Huzaemah, T., “Konsep Wanita menurut Qur’an, Sunah, dan Fikih, dalam
Wanita Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual, Lies M. Marcoes Natsir dan Johan Hendrik Meuleman (Red.), INIS, Jakarta, 1993.

Juynboll, G.H.A, “Beberapa Metode Analitis Isnad Digambarkan Atas Dasar
Ungkapan-Ungkapan Merendahkan Wanita dalam Sastra Hadits”, dalam Beberapa Kajian Indonesia dan Islam, W.A.L Stokhof dan N.J.G. Kaptein (Red.), INIS, Jakarta, 1990.

Kartini, R.A. Habis Gelap Terbitlah Terang, Diterjemahkan oleh Armijn Pane,
PN. Balai Pustaka, Jakarta, 1972

Kartono, Kartini, Psychologi Wanita, Gadis Remaja & Wanita Dewasa,
Alumni, Bandung, 1981.

Marimba, Ahmad, D, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, P.T. Al Ma’arif,
Bandung, 1980

Muhammad Ibnu Isa, Ibnu Saurah, Abi Isa, Al Jami’us Shahih Sunan At
Tirmidji, Juz III, Darul Fikri, Tanpa Tahun dan Nama Tempa.

Muhammad Ibnu Yazid Al Qazwiny, Abi Abdillah, Sunan Ibnu Majah, Juz I,
Daru Ihyail Kutubil ‘Arobiyah Isa Al Baby Al Halaby Wa Syurakahu, Tanpa Nama Tempat dan Tahun.

An Nahlawi, Abdurrahman, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam,
dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat, C.V. Diponegoro, Bandung, 1989

Al Naquib Al Attas, Syed Muhammad, Konsep Pendidikan dalam Islam,
Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Mizan, Bandung, 1992

An Nasa’i, Al Hafidz Abi Abdurrahman Ibnu Syu’aib, dan Zahrur Ruba Ali Al
Mujtaba, Sunan An Nasai’I Al Mujtaba, Juz VIII, Syirkah Maktabah Wa Matbah’ah, Musthafa Al Baby Al Halaby Wa Auladuhu Bi Misra Mahmud Nassar Al Halaby Wa Syurakahu—Hulafahu, tanpa Nama Tempat, 1383 H/1964 M.

Naufal, Abdul Razaq, Al-Qur’an dan Masyarakat Modern, Mutiara, Jakarta,
1981
Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial Suatu Teori
Pendidikan, Edisi IV, Cet. I, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1987

———, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1989.

El Quurssiy, Abdul Aziz, Kesehatan Jiwa / Mental, Jilid I, Diterjemahkan oleh
Zakiah Daradjat, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

Quthub, M. Islam di Tengah Pertarungan Tradisi, Mizan, Bandung, 1984.

Saksono, Lukman, dan Anharudin, Pengantar Psikologi Al-Qur’an,
Grafikatama Jaya, Jakarta, 1992.

Shah, Nasra, M., (Ed.), Pakistani women, Pakistan Institute of Development
Economics, Islamabad, dan East West Population Institute, East West Center, Honolulu, Hawaii, 1996.

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu
dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Bandung, 1992.

———, “Konsep Wanita Menurut Qur’an, Hadist dan Sumber-sumber Ajaran
Islam”, dalam Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Konstekstual, Lies M. Marcoes-Natsir dan Johan Hendrik Meuleman (Red.), INIS, Jakarta, 1993.

Sukarno, Sarinah, Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik
Indonesia, Panitya Penerbit Buku-buku Karangan Presiden Sukarno, Tanpa nama Tempat, 1963.

MAKALAH, KAMU, ENSIKLOPEDIA, JURNAL DAN PENERBITAN LEMBAGA PEMERINTAHAN

Arief Budiman, “Ketergantungan Perempuan dan Manifestasinya : Kajian
Pustaka”, Makalah dalam Lokakarya Nasional Citra Kemandirian Perempuan Indonesia, Kelompok Studi Wanita Pusat Penelitian Universitas Brawijaya, Malang, 1991.

Butler Kahle, Jane, dan Marsha K. Lakes, “The Myth of Equality in Science
Classroom”, dalam Journal of Research in Science Teaching, James A Shymansky (Ed.), Vol. 20, Issue 2, National Association for Research in Science Teaching, John Wiley & Sons, New York, Chichester, Brisbane, Toronto, Singapore, Februari 1983.

Daud Ibrahim, Marwah, “Pointers Trend Wanita Indonesia Masa Kini”,
Makalah”, Makalah dalam Seminar “Wanita Islam Indonesia”, yang Diselenggarakan oleh Jama’ah Shalahuddin, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 17 November 1991.

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, P.T.
Bumi Restu, Jakarta, 1975.

Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Balai Pustaka, Jakarta, 1990.

Ensiklopedi Nasional Indonesia, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1984

Hafidz, Wardah, “Apakah Gender Itu?”, Makalah Milik Lembaga Studi dan
Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA), Yogyakarta, 1993.

Hassan, Riffat, “Teologi Perempuan dalam  Tradisi Islam Sejajar di Hadapan
Allah?:, dalam Ulumul Qur’an, No. 4, Vol. 1, Januari – Maret 1410 H/
1990 M

———, “Women in Islam and Christianity, A Comparison”, Makalah Hasil
Diskusi Kiriman dari Redaksi Majalah Ulumul Qur’an, Jakarta, 1993.

Konferensi Pendidikan Islam Sedunia Pertama, Rekomendasi, Universitas
King Abdul Aziz, Jeddah dan Makkah Al Mukaromah, 1397 H/1997 M.

Langgulung, Hasan, “Pendidikan Islam” Diskusi pada Pertemuan dengan
Peserta Program Pascasarjana dan Doktor, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 22 April 1994.

Media Mitra, “Selintas Persoalan Perempuan”, Kalyana Mitra, Jakarta, 1990

Musnamar, Tohari, “Ciri-ciri Dasar Pendidikan Islami dan Barat”, Pertemuan
Perkuliahan pada Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta 22 April 1933.

Noeng Muhadjir, Dialog Penulis di Kediamannya, Yogyakarta, 4 November
1993.

——–, “Antisipasi Pendidikan Islam bagi Masa Depan Bangsa”, Makalah
Hasil Diskusi Dibagikan pada Peserta Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1994

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta, 1986.
Rabithah Alam Islam, Pernyataan Terakhir Konferensi Dakwah Islam Ketiga,
Maktab Jakarta, 1408 H.

Sadli, Saparinah, “Kemandirian Perempuan”, Tinjauan Psikologi”, Makalah
dalam Lokakarya Nasional Citra Kemandirian Perempuan, Universitas Brawijaya, Malang, 18-20 Juli 1991.

Sumardjono, Maria S.W, “Wanita di Mata Hukum dan Kenyataan dalam
Masyarakat”, Makalah Disampaikan dalam Diskusi Panel “Wanita di Mata Hukum dan Kenyataan dalam Masyarakat”, Diselenggarakan PP Persahi dan PP Wanita Persahi, Jakarta, 11 Juni 1991.

Tati Krisnawaty, “Peluang Kerja Perempuan Miskin dan Strategi Survive,
Beberapa Catatan,” Makalah dalam Seminar Nasional “Kemiskinan di Indonesia dalam Perspektif Perempuan”, Diselenggarakan oleh Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA), Yogyakarta, 21 Agustus 1993.

The Grolier International Dictionary, Vol. II, Grolier Incorporated, Daubury,
Connecticut, USA, 1987.

Yamin, Nani, Joyce Astuti Ichsan, dan Chile Rachman, “Wanita Islam dan
Masalah Pelaksanaan Hukum di Indonesia,” Makalah dalam Seminar “Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual” INIS, Jakarta, 9 – 12 Desember 1991.

Yohana E. Prawitasari, “Problema Psikologis Wanita Indonesia, Makalah
dalam Seminar dan Lokakarya Wanita dan Kesehatan, PPIP Duta Wacana, Yogyakarta, 2 Februari 1990.

———, “Problema Psikologis Perempuan dalam Upaya Pengembangan
Diri”, Makalah Diskusi di LSPPA, Yogyakarta, 20 Februari 1993.

Yusuf, Akmaliyah, “Kontribusi Pemikiran Wanita”, dalam Suara
Muhammadiyah, Yogyakarta, 1991.