oleh:
Yeti Heryati

I. Pendahuluan
Suatu hal yang sangat menyentuh, tatkala seorang Megawati Soekarnoputri hendak mencalonkan diri menjadi presiden, banyak orang menentang dengan beragam argumentasi. Alasan pendidikan, kecakapan, hingga dalil pengharaman menjadi pemimpin (presiden) dan sebagainya, hanya karena dia perempuan.
Karakteristik pasif, submisif, inferior, dan irasional yang distereotipkan pada perempuan bagaikan sesuatu yang given dan final, padahal itu merupakan hasil konstruksi budaya yang disosialisasikan dalam lingkungan keluarga dan komunitas masyarakat secara luas. Dengan kata lain, justifikasi semacam itu bukan sesuatu yang kodrati, melainkan hasil buatan karya dan karsa manusia.
Budaya negara -Indonesia misalnya- yang tegas-tegas membedakan laki-laki dan perempuan secara hierarkis, laki-laki ditempatkan pada posisi di atas sementara perempuan berada di bawahnya sangat mewarnai pemahaman-pemahaman sosio-kultural yang sangat menguntungkan laki-laki. Termasuk dalam hal pendidikan sekolah sebagai salah satu instrumen atau sarana yang memungkinkan perempuan bisa berdiri sama tinggi dengan lak-laki.
Tidakkah berlebihan bila R.A. Kartini menganggap bahwa pendidikan sekolah bisa menjadi sarana pembebasaan perempuan dari kungkungan budaya patriarkhi? Pendidikan sekolah bagi Kartini merupakan pembuka jalan yang memungkinkan perempuan dapat berkiprah di dunia yang luas, bisa mengikuti perubahaan yang terus menerus berlangsung, dan memiliki posisi non marginal serta peran intelektual dan sosial tanpa dikotomi.
Mungkin dalam pikiran Kartini, pendidikan sekolah akan dapat menetralisir perbedaan sifat kelaki-lakian dan keperempuanan yang merupakan hasil rekayasa budaya tersebut. Pendidikan berfungsi sebagai alat transformasi sosial, demikian Jhon Dewey menyatakan, tak jauh berbeda dengan pikiran Kartini.  Terlalu idealkah konsepsi Dewey dalam melihat pendidikan sekolah yang dianggapnya memiliki daya dorong untuk mengubah sistem masyarakat ke arah yang lebih demokratis?
Memang ditemukan fakta yang mencengangkan mengenai kondisi pendidikan sekolah kaum perempuan. Banyak perempuan yang telah lulus Perguruan Tinggi. Namun di beberapa wilayah belahan dunia tetap terjadi kesenjangan gender pada pendidikan sekolah itu sendiri. Di negara-negara Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika Sub-Sahara masih sangat sedikit anak perempuan yang terjun ke dalam bidang pendidikan. Anak perempuan yang bersekolah lebih rendah 75 juta orang daripada anak laki-laki. Karena itu tidaklah mengejutkan bila dua pertiga penduduk buta huruf adalah perempuan.
Jenjang pendidikan juga menunjukkan perbedaan gender yang signifikan. Untuk kasus Indonesia umpamanya, tingkat pendidikan perempuan secara umum lebih rendah dibandingkan laki-laki. Di samping itu, bila dilihat proporsi gender dari siswa yang bersekolah, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah rasio gendernya. Artinya, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin sedikit proporsi anak perempuan bersekolah.
Untuk mengakomodasi perubahan dan tuntutan global, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional berupaya menjawab berbagai permasalahan, seperti isu demokrasi, hak asasi manusia, dan gender melalui perubahan kurikulumnya. Isu-isu tersebut sudah mulai terakomodasi dalam kurikulum 2004. Permasalahannya adalah bagaimana menerapkannya dalam bahan ajar, terutama masalah gender. Hal tersebut pun membawa dampak negatif bagi upaya pembangunan sumber daya manusia yang unggul di segala bidang tanpa memandang jenis kelamin.
Melalui berbagai kegiatan sosialisasi, pemerintah terus berupaya mengarusutamakan gender, seperti yang diamanatkan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 yang berbunyi: “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Setiap warga negara berarti warga negara laki-laki dan warga negara perempuan. Bukan laki-laki saja seperti selama ini terasa lebih diprioritaskan oleh keluarga untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi dibandingkan perempuan.
II. Ketimpangan Gender dalam Buku Teks
Adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh perlakuan lingkungan terhadap individu dan interaksi individu dengan lingkungan. Masyarakat umum cenderung menerima perbedaan ini sebagai sesuatu yang wajar, alamiah dan jarang menghubungkannya dengan perlakuan yang dibedakan terhadap anak laki-laki dan perempuan. Padahal ucapan-ucapan seperti “Anak laki-laki jangan suka menangis” atau “anak laki-laki jangan cengeng” merupakan bagian dari suatu proses social conditioning yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian individu.
Dalam dunia pendidikan, ada satu stereotip yang juga sudah dianggap sebagai suatu perbedaan kodrati antara laki-laki dan perempuan. Jurusan-jurusan teknik mempunyai lebih banyak peminat laki-laki daripada perempuan sedangkan jurusan-jurusan seni dan bahasa dianggap sebagai teritori perempuan. Kecenderungan ini diasumsikan sebagai manifestasi perbedaan minat dan kemampuan laki-laki dan perempuan yang kodrati.
Laki-laki dianggap mempunyai kemampuan dan minat yang besar terhadap bidang studi yang berhubungan dengan fisika dan matematika daripada perempuan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa laki-laki mempunyai “otak matematika” yang lebih besar dibandingkan perempuan. Sejauhmanakah kebenaran anggapan umum tersebut? Benarkah anak laki-laki mempunyai kemampuan matematika yang lebih besar dibandingkan anak perempuan karena adanya perbedaan genetik/biologis? Ataukah ada faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi perbedaan kemampuan?
Penelitian Elizabeth Fennema  menguatkan pandangan umum bahwa anak laki-laki cenderung lebih berprestasi dalam bidang matematika daripada perempuan. Satu hal yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa perbedaan kemampuan antara anak laki-laki dan anak perempuan ini mulai nampak pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan dasar dan makin meningkat selama sekolah menengah dan sekolah lanjutan. Yang lebih menarik lagi, walaupun ada anak perempuan yang memiliki kemampuan yang setara dengan laki-laki, tetapi banyak di antara mereka mempunyai rasa keyakinan diri yang rendah terhadap kemampuan mereka sendiri dan sikap yang cenderung negatif mengenai pelajaran matematika. Akibatnya, mereka kurang mempertimbangkan karir dalam matematika sebagai pilihan yang ideal.
Dunia pendidikan yang seharusnya steril dari bias gender dan dapat melakukan perubahan karena berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change), ternyata justru menjadi “tempat pelestarian” bias gender itu. Fenomena adanya bias gender dalam dunia pendidikan tampak antara lain dalam wacana buku teks, suatu media transformasi informasi akademis yang utama.
Ibu Negara Sinta Nuriyah saat membuka seminar tentang perempuan di Yogyakarta Juli tahun 2000 lalu menyatakan, pemahaman yang keliru terhadap agama dan pranata yang ada termasuk di dalamnya sistem pengajaran menimbulkan penderitaan bagi perempuan secara luas.
Pemahaman yang keliru tentang perempuan (bias gender) itu tidak hanya terjadi dalam masyarakat, tetapi juga -malah terkesan “dipelihara”- dalam buku-buku pelajaran di sekolah. Sering kali dijumpai gambar ilustrasi dalam buku pelajaran, yang menyapu atau mencuci pasti seorang ibu, sementara di suasana kantor gambarnya harus seorang bapak.
Banyak buku pelajaran memanipulasi kenyataan peran perempuan. Kita mungkin masih ingat, ketika masih duduk di bangku SD, guru memberikan pelajaran yang secara tidak kita/guru sadari berbias gender. Misalnya, “Ibu pergi ke pasar. Bapak pergi ke kantor.” Atau seperti, “Budi bermain bola. Ani bermain boneka.”
Contoh kalimat tersebut secara simultan telah membentuk peran sosial yang dianggap pantas oleh (anak) laki-laki dan (anak) perempuan. Anak laki-laki akan dianggap pantas ketika sedang bermain bola dan dianggap tidak pantas ketika bermain boneka. Begitu juga sebaliknya, perempuan akan dianggap pantas ketika sedang bermain boneka dan dianggap tidak pantas ketika sedang bermain bola.
Penanaman posisi yang keliru demikian (bias gender) diacu oleh peserta didik perempuan maupun laki-laki sebagai sesuatu yang lumrah, wajar, dan kodrati. Bahkan, hal ini ditanamkan sejak dini di rumah, sekolah, lingkungan masyarakat, media massa, buku-buku pelajaran, buku bacaan, dan peraturan-peraturan. Akibatnya ketidakadilan atau ketimpangan gender terus berlangsung sampai sekarang dan perempuan lebih banyak berada pada posisi dirugikan.
Dalam tulisan berjudul “Ke Bank Bersama Ayah”  misalnya, dikisahkan bahwa Firman diajak ayahnya ke bank. Firman disuruh membawa buku tabungannya. Sepulang dari bank, Firman diajak singgah ke toko buku untuk membeli buku dan keperluan sekolahnya. Sementara itu, Indri, saudara Firman, sedang asyik membersihkan singkong dan ubi di dapur ketika mereka berangkat. Ketika di bank, pak Karman, ayah Firman, berdoa dalam hati agar Firman kelak gemar menabung demi masa depannya.
Pertanyaannya, mengapa hanya Firman yang diajak, atau mengapa bukan Indri? Tidak bisakah pekerjaan Indri membersihkan singkong dan ubi ditinggalkan sejenak agar bisa ikut ke bank? Mengapa dalam tulisan itu Indri digambarkan sedang asyik membersihkan singkong dan ubi, suatu hal yang kontras dan berbeda dengan yang terjadi pada Firman?
Dalam tulisan lain, diceritakan bahwa Musa dan Ani berkunjung ke rumah pamannya. Sang paman sudah berangkat ke kantor. Karena itu bibi yang akan mengajaknya bertamasya ke taman kota lalu ke pantai.  Di sini terlihat apa yang diperankan paman dan bibi sangat kontras dan tidak relevan dengan zaman sekarang. Mengapa bertamasya pagi hari dan bukan sore hari, hal itu lebih umum sehingga keduanya bisa digambarkan usai kerja?
Ekstrakurikuler di sekolah pun dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki diberi ekstrakurikuler silat, dengan harapan laki-laki lebih percaya diri kelak jika jadi pemimpin. Sementara perempuan diberi ekstrakurikuler memasak atau menari, karena mereka diharapkan kelak menjadi penghibur selain akan menjadi ibu rumah tangga.
Dalam draft “Pedoman Penulisan Bahan Ajar Berwawasan Gender” yang dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat, Departemen Pendidikan Nasional (2003) terdapat beberapa faktor yang mengharuskan bahan ajar harus berwawasan gender. Di antaranya pertama, stereotip gender atau bias pelabelan yang terkandung di dalam bahan ajar dapat berdampak jauh, terutama untuk mencapai keadilan dan kesetaraan gender. Kedua, data menunjukkan di bidang pendidikan, seperti juga halnya di bidang lainnya, terjadi ketimpangan antara laki-laki dan perempuan.
Sebagai contoh, masih banyak kalimat atau ilustrasi yang memberikan gambaran yang keliru tentang perempuan dan laki-laki. (Anak) perempuan misalnya, sering digambarkan sebagai makhluk yang tergantung, penakut, lemah dan beraktivitas di rumah, sedangkan (anak) laki-laki digambarkan sebagai makhluk yang agresif, pemberani, pemimpin, dan beraktivitas di luar rumah.
Meskipun di Indonesia sudah ditekankan akses pendidikan yang sama terhadap perempuan dan laki-laki, masih banyak studi menunjukkan adanya kontradiksi dalam bahan ajarnya (khususnya untuk sekolah dasar). Berbagai bahan ajar itu masih kental bias gendernya. Bahkan, ada kecenderungan peran stereotip gender terlembaga dari generasi ke generasi melalui bahan ajar dan proses sosialisasi di sekolah.
Pendidikan termasuk salah satu pranata sosial yang paling bertanggung jawab dalam melestarikan ketimpangan-ketimpangan gender. Materi pengajaran agama yang berkembang juga merupakan salah satu faktor yang mungkin banyak mempengaruhi budaya patriarkhal. Materi-materi ini harus dikaji ulang dan disusun kembali agar ketimpangan-ketimpangan tersebut tidak lagi terjadi, dan keadilan bagi perempuan -yang berarti keadilan bagi semua- akan terwujud.
Jika dibandingkan dengan Al-Quran, lebih banyak teks-teks hadis yang dimaknai ulama dengan cara yang timpang dan tidak adil dalam kaitannya dengan relasi laki-laki dan perempuan. Dari sebagian teks-teks hadis, kita mengenal ajaran bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok, perempuan adalah fitnah, kurang akal dan kurang agama, sebagai penghuni neraka terbanyak, tidak layak menjadi pemimpin, tidak sah mengawinkan dirinya atau orang lain, tidak sah menjadi saksi, tidak diperbolehkan bepergian kecuali dengan kerabat muhrim, harus tunduk kepada aturan suami, bahkan ada pula yang menyatakan bahwa perempuan adalah sumber kesialan. Pemaknaan terhadap teks-teks hadis bias gender tersebut harus dikaji ulang, bahkan sebagiannya harus ditolak karena sanadnya lemah, atau karena maknanya bertentangan dengan ayat Al-Quran atau dengan hadis lain yang lebih kuat sanadnya.
‘Aisyah binti Abi Bakar ra. telah mencontohkan bagaimana beliau mengkritik hadis tentang kesialan perempuan, yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra. dan disahkan oleh Bukhari dan Ibn Hajar al-‘Asqalani. Ia tidak mau menerima teks hadis ini karena maknanya bertentangan dengan ayat Al-Quran: “Tiada bencana pun yang menimpa muka bumi ini dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah” (QS. Al-Hadid, 57: 22). Katanya, tidak mungkin teks hadis yang menyatakan bahwa perempuan adalah sumber kesialan, ia keluar dari mulut Rasul Saw., suaminya.
Kasus bias gender dalam wacana buku teks amat banyak. Hal itu mengisyaratkan bahwa, pertama, lemahnya pemahaman penulis buku teks terhadap konsep gender. Kedua, ada sosialisasi terselubung terhadap pelestarian bias gender. Ketiga, masalah gender belumlah menjadi perhatian.
Bagaimana pun, realitas itu harus segera diatasi karena jika tidak, akan muncul berbagai dampak negatif. Misalnya, siswi yang bercita-cita menjadi bankir terpaksa “membunuh” cita-citanya karena dalam persepsinya hal-hal yang berhubungan dengan bank adalah dunia laki-laki. Dunia pendidikan dalam kaitan ini berwenang menata persepsi subyek didik agar tidak salah dalam memahami hal-hal yang berperspektif gender.
Dalam hal ini, pemonitoran buku-buku teks yang dipasok ke sekolah perlu diintensifkan. Dinas Pendidikan perlu turun tangan secara serius. Karena, materi kurikulum sebenarnya tidak bias gender. Bias itu muncul ketika sudah dalam tahap implementasi kurikulum. Kesadaran guru tentang dampak negatif bias gender juga perlu dibangkitkan, misalnya melalui pembinaan periodik. Jangan sampai yang sensitif terhadap masalah bias gender tersebut hanya guru wanita. Bagaimana pun, kemitrasejajaran pria-wanita harus disosialisasikan. Dunia pendidikan idealnya mengambil peran. Jika tidak, justru akan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya wacana bias gender.
III. Bahan Ajar yang Berwawasan Gender
Upaya untuk menghilangkan bias gender perlu disosialisasikan secara komprehensif, salah satunya lewat bahan ajar yang berwawasan gender. Bahan ajar yang berwawasan gender adalah bahan ajar yang sensitif terhadap isu gender, yaitu mengajarkan keadilan dan kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, manfaat, partisipasi dalam berbagai segi kehidupan serta penguasaan terhadap sumber-sumber teknologi, ilmu pengetahuan, dan informasi; menggambarkan potret perempuan dan laki-laki yang dinamis dalam setting budaya yang relevan; dan meninggalkan stereotip gender yang timpang dan keliru.
Perlu diingat pula bahwa penyajian bahan ajar yang berwawasan gender adalah penyajian yang berimbang dan holistik, artinya jangan sampai terjadi salah kaprah dalam mengartikulasikan konsep gender. Bisa-bisa semua narasi atau ilustrasi, karena dianggap bias gender dibalik atau diganti tanpa mempertimbangkan keseimbangan isi buku secara keseluruhan. Peran-peran yang dimiliki laki-laki diganti menjadi peran-peran yang dimiliki perempuan. Misalnya, semua kalimat yang sejenis, “Ibu sedang pergi ke pasar. Bapak pergi ke kantor” diganti menjadi, ”Ibu pergi ke kantor. Bapak sedang pergi ke pasar.” Sebaiknya kalimatnya diganti seperti, “Ibu sedang memasak di dapur. Bapak sedang membersihkan bak di kamar mandi”.
Ilusrasi atau gambar pun demikian, tidak semua ilustrasi atau gambar yang bias gender harus diganti semua. Misalnya pada satu buku ada gambar ibu yang sedang mengasuh anaknya dan di halaman yang berbeda ada gambar bapak yang sedang mengasuh anaknya, tidak berarti gambar ibu yang mengasuh anaknya dihilangkan atau diganti. Atau gambar (anak) perempuan yang bermain boneka diganti menjadi bermain bola dan (anak) laki-laki yang bermain bola diganti menjadi bermain boneka. Justru keseimbangan dan kesetaraan inilah yang perlu dimunculkan karena dalam realitas ada laki-laki yang mengasuh anak dan ada juga perempuan yang mengasuh anaknya.
Jika yang terjadi sebaliknya, dalam arti gambar atau ilustrasi yang dianggap bias gender diganti semua tanpa memperhatikan keseimbangan secara menyeluruh, akan terjadi bias gender dimana peran laki-laki mungkin yang lebih banyak dirugikan. Jadi, penyajian bahan ajar yang berwawasan gender harus dipandang secara holistik sehingga terjadi keseimbangan gender, baik narasi maupun ilustrasinya.
Tinjauan atas kurikulum pendidikan sekolah, terutama di tingkat dasar, juga menunjukkan adanya kekentalan dalam perbedaan gender. Buku-buku teks pelajaran di Sekolah Dasar menggambarkan kegiatan ibu dan bapak secara berbeda, ibu biasanya digambarkan tinggal di rumah, memasak, mengasuh anak, dan kalaupun keluar rumah sekedar berbelanja ke warung atau ke pasar; sementara bapak pergi ke kantor.
Demikian pula dengan adanya aktivitas bermain anak laki-laki dan perempuan digambarkan dengan pemisahan yang tegas, umpamanya anak laki-laki bermain mobil-mobilan, sepak bola, berlari, dan naik-naik ke pohon; sedangkan anak perempuan gambaran aktivitas bermainnya adalah main boneka-bonekaan atau masak-masakan. Dalam buku-buku pelajaran itu permainan anak laki-laki digambarkan dengan kegiatan fisik yang aktif dan mobil, sebaliknya anak perempuan dengan gambaran aktivitas fisik yang cenderung lebih pasif.
Kate Young dalam Mosse,  menjelaskan lebih jauh, bahwa kurikulum pendidikan yang demikian itu sebenarnya lebih merupakan perluasan stereotip dari kegiatan laki-laki dan perempuan yang berlangsung di dalam masyarakat. Implikasi dari model kurikulum tersebut malah lebih menunjukkan adanya pembakuan peran sosial antara kaum laki-laki dan kaum perempuan, karena dalam kaitan itu sangat ditekankan proses sosialisasi pengetahuan mengenai pekerjaan kerumahtanggaan dan kemampuan perempuan lainnya ketimbang pengetahuan keilmuan dan keterampilan teknik. Karena itu, kurikulum tersebut lebih mempersiapkan perempuan untuk bekerja pada bidang produksi subsistensi dan reproduksi di lingkungan keluarga.
Dalam konteks persoalan itulah, dapat dilihat bahwa pendidikan sekolah tersebut sangat berprasangka gender, dan lebih mengekalkan peran berbias gender ketimbang menolaknya. Pendidikan yang semacam itu memiliki kecenderungan untuk menghadapi kegagalan dalam mempersiapkan potensi dan kemampuan kaum perempuan kecuali perannya sebagai seorang istri dan ibu. Pendidikan sekolah yang demikian itu, yang bergabung dengan prasangka-prasangka umum mengenai inferioritas perempuan, akan memperkuat keyakinan mengenai adanya perbedaan pembawaan sejak lahir dalam kemampuan-kemampuan kedua jenis kelamin.
Kritik yang diberikan ‘Aisyah binti Abi Bakar ra. atas hadis kesialan perempuan pada pembahasan sebelumnya, mengajarkan kepada kita bahwa pemaknaan hadis haruslah tidak bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran. Beberapa prinsip relasi laki-laki dan perempuan yang telah digariskan Al-Quran adalah; [1] bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dari unsur yang sama (QS. An-Nisa, 4:1); [2] bahwa kehidupan yang baik (hayatan thayyiban) bisa dibangun dengan kebersamaan laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan-pekerjaan amal saleh (‘amalan shalihan) (QS. An-nahl, 16: 97); [3] perlu kerelaan kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan dalam kontrak perkawinan (taradlin) (QS. Al-Baqarah, 2: 232-233), [4] independensi ekonomi dan politik masing-masing (QS. Al-Baqarah, 2: 229 dan an-Nisa, 4: 20), [5] kebersamaan dalam membangun hidup yang tenteram (sakinah) dan penuh rasa cinta kasih sayang (mawaddah wa rahmah) (QS. Ar-Rum, 30: 21), [6] perlakuan yang baik antarsesama (mu’asyarah bi al-ma’rûf) (QS. An-Nisa, 4: 19), [7] berembug untuk menyelesaikan persoalan (musyawarah) (QS. Al-Baqarah, 2: 233, Ali ‘Imran, 3: 159 dan Asy-Syura, 42: 38). Prinsip-prinsip ini menjadi dasar pemaknaan ulang terhadap beberapa hadis yang secara mendasar dimaknai secara tidak adil terhadap perempuan.
Pemaknaan ulang juga dilakukan dengan penelusuran terhadap asbab al-Wurûdl guna mengaitkan teks dengan konteks. Misalnya hadis tentang kewajiban bagi perempuan yang hendak bepergian untuk mengikutsertakan kerabatnya. Hadis ini tidak semestinya dipahami sebagai pelarangan perempuan untuk pergi melakukan aktivitasnya. Melainkan merupakan sebuah konsep perlindungan terhadap perempuan, yang pada masa Nabi diserahkan kepada keluarga masing-masing. Saat ini perlindungan merupakan kewajiban masyarakat atau lebih tepat lagi adalah kewajiban negara. Perempuan harus diberikan kesempatan melakukan aktivitas dalam kerja-kerja positif, dan untuk itu semua komponen harus memberikan perlindungan. Nabi Saw. sendiri setelah mengungkapkan kewajiban mahram itu, ketika ada seorang sahabat yang menanyakan bahwa isterinya pergi sendirian menunaikan haji, Nabi tidak melarang atau menyalahkan perempuan itu, tetapi balik menyarankan: “Pergi susullah isterimu dan temani ia menunaikan hajinya”. Padahal laki-laki itu awalnya ingin pergi berhaji bersama Rasul.
Di samping pemaknaan ulang terhadap beberapa teks hadis yang bias gender, pengajaran juga harus diperkuat dengan teks-teks yang secara jelas dan tegas memperkuat posisi sosial-politik perempuan. Seperti teks-teks tentang perjuangan Siti Khadijah ra. dan beberapa sahabat perempuan yang lain, tentang kemitraan antara laki-laki dan perempuan, tentang hak-hak perempuan dalam perkawinan dan perceraian, tentang aktivitas sosial perempuan yang hidup pada masa Nabi Muhammad Saw., tentang kehidupan surga yang berada di telapak kaki perempuan, dan beberapa teks yang lain mengenai hak-hak perempuan.
Salah satu buku terpenting dalam hal ini adalah apa yang ditulis oleh ‘Abd al-Halim Muhammad Abu Syuqqah; ‘Tahrir al-Mar’ah fi ‘Ashr ar-Risalah: Dirasah al-Mar’ah Jami’ah li an-Nushush al-Qur’an al-Karim wa Shahîhay al-Bukhari wa al-Muslim’ (Pembebasan Perempuan pada Masa Kenabian: Studi tentang Perempuan dalam Ayat-ayat Al-Quran dan Teks Hadis yang ditulis Imam Bukhari dan Muslim -telah diterjemahkan-). Buku ini bisa menjadi dasar pengajaran bagi penguatan terhadap perempuan melalui teks-teks hadis Nabi Muhammad Saw.
Pada dasarnya, sejarah perempuan Islam maupun non-Islam berada pada satu bangunan yang integral dan tidak bisa dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lain sebagai sebuah bangunan sejarah kemanusiaan perempuan. Dengan pandangan yang integralistik ini, diharapkan akan mendapatkan gambaran yang utuh dan relatif objektif mengenai kedudukan perempuan. Dengan pandangan ini, bukan berarti akan mengarah kepada hegemonisasi pandangan sejarah; ia tetap menghargai adanya nuansa-nuansa partikular yang mungkin terdapat di dalamnya.
Bagaimana pun, sejarah perempuan memang sebuah potret yang unik dan sekaligus kontroversial. Unik karena di dalamnya terdapat unsur dan sisi yang tidak seluruhnya objektif. Kontroversial karena kedudukan perempuan selalu dipersoalkan dan diperdebatkan di mana-mana. Hal ini sangat berbeda dengan kedudukan laki-laki dalam sejarah yang menjadi semacam grand  narrative dan pusat sejarah.  Hampir semua wacana sejarah agama-gama besar di dunia, termasuk Islam, memandang laki-laki dengan pandangan seragam (homogen), sebagai makhluk yang memiliki kedudukan istimewa dan terhormat.
Hampir di seluruh belahan dunia, sejarah memandang laki-laki sebagai manusia yang dijunjung tinggi dan tidak memiliki kecacatan, baik yang disebabkan oleh ajaran agama maupun oleh konstruksi sosial-budaya. Dengan demikian sejarah laki-laki adalah sejarah kebenaran universal. Untuk itu, dalam konstruksi kesejarahan sekarang, tidak dapat disangkal kalau laki-laki memiliki peran yang sangat vital dan menentukan dalam menciptakan wacana sejarah yang bias laki-laki. Pada sisi lain, pandangan seperti ini tidak terjadi pada diri perempuan.

Dalam wacana Islam sendiri, pembicaraan tentang perempuan merupakan hal yang cukup menyita perhatian, terutama dalam perkembangan akhir-akhir ini. Hal ini paling tidak, bisa dilihat dari banyaknya buku-buku yang ditulis secara khusus menyoroti kedudukan perempuan dalam Islam. Buku-buku ini tidak hanya tersebar di negara-negara Islam, tetapi hampir tersebar di seluruh dunia. Penulisnya pun tidak hanya dari kalangan Islam, tetap juga dari kalangan intelektual non-Islam (Islamisis) yang berminat mengkaji perempuan Islam. Terlepas dari apakah bermanfaat bagi upaya pemberdayaan perempuan atau justru kontradiktif, yang jelas gejala ini merupakan perkembangan yang baik bagi pengembangan studi tentang perempuan dalam Islam.
Merujuk pada informasi dan penjelasan di atas, ternyata fungsi pendidikan khususnya bahan ajar berwawasan gender tidak sepenuhnya bisa mendorong pada percepatan emansipasi perempuan. Meskipun dalam perjalanan waktu nampak ada peningkatan jumlah perempuan bersekolah dan jenjangnya semakin tinggi, perbandingannya dengan laki-laki jauh dari kesetaraan. Di samping itu, pendidikan sekolah itu belum dapat mengeliminasi stereotipe gender, malah kecenderungannya mempertahankan dan memperkuatnya, karena dimasukkan ke dalam kurikulum bahan ajar itu sendiri. Dalam konteks inilah, pendidikan sekolah itu bahkan turut menyebarkan ideologi yang bias gender, bukannya mengkritisi dan mengubahnya. Sudah barang tentu implikasinya menjadi lebih jauh, sistem dan nilai patriarkhi tetap bercokol, malah kian meluas dan dominan, karena saluran sosialisasinya bertambah, yaitu melalui bahan ajar pendidikan sekolah itu, di samping tetap ditanamkan dalam keluarga dan lingkungan pergaulan sehari-hari.
IV. Penutup
Ketika konstruksi sosial dan struktur politik secara zalim meminggirkan perempuan atas pemihakan terhadapnya merupakan sebuah keniscayaan sebagai wujud pembelaan terhadap orang-orang lemah (al-Mustadh’afîn) dan perjuangan melawan kezaliman. Dalam sebuah hadis, Nabi Saw. menyatakan bahwa keadilan di hadapan penguasa yang zalim adalah sebaik-baik jihad; “Afdhal al-jihad kalimat ‘adlin ‘inda shulthânin jâ’ir” (HR. Turmudzi dan Abu Dawud).
Pendidikan adalah wilayah yang tepat untuk melakukan pembelaan terhadap perempuan dan upaya perjuangan menegakkan nilai-nilai keadilan, terutama bagi perempuan. Pendidikan merupakan alat utama untuk melakukan transformasi sosial. Melalui pendidikan, perempuan dapat mengenal kemampuan dan kekuatan dirinya, didorong mempertanyakan beberapa asumsi, terus-menerus mencari kebenaran, belajar mengartikulasikan dan memperjuangkan kebenaran.
Pendidikan sekolah itu bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, memang ia memiliki daya dorong pada perubahan, bisa melahirkan orang-orang kritis dan kreatif. Tetapi di sisi lain, ia pun mempunyai fungsi memperkuat dan melestarikan struktur masyarakat yang timpang. Di sinilah terjadi tarik menarik antara kekuatan yang mendorong pada perubahan dengan kekuatan yang mempertahankan status quo. Mana yang akan dominan, watak transformatifnya ataukah karakter konservatifnya?
Pendidikan akan menjadi basis kekuatan sosial dari perempuan. Pendidikan adalah media perjuangan ‘Aisyah ra., R.A. Kartini, Dewi Sartika, dan perempuan lain serta siapa pun yang ingin menegakkan keadilan bagi perempuan yang berarti keadilan bagi semua. Pendidikan formal mempunyai peran yang sangat besar dalam meningkatkan kesadaran gender dan mengurangi stereotip dan diskriminasi terhadap anak didik perempuan. Sadar ataupun tidak, selama ini guru bukannya membantu memberikan kesempatan kepada anak perempuan untuk mengembangkan potensi mereka sebaik-baiknya, bahkan makin meneguhkan stereotip dengan cara-cara pengajaran yang kurang menguntungkan anak didik perempuan.
Sejak lahir, anak-anak sudah mengalami social conditioning yang sering kali mengabaikan kemampuan dan potensi mereka yang sebenarnya. Di sekolah pun, social conditioning ini masih berlangsung terus dan bahkan mempertajam stereotip yang dimiliki oleh mesyarakat umum. Cara-cara pengajaran yang usang perlu dikaji kembali dan diperbaiki agar anak-anak didik baik laki-laki maupun perempuan juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan mereka sepenuhnya dan sebaik mungkin.
Hingga kini, stereotip gender pada pendidikan sekolah itu sendiri belumlah hilang. Kurikulum pendidikan masih cukup kental memisahkan peran perempuan dan laki-laki, perempuan digambarkan dengan kegiatan-kegiatan kerumahtanggaannya dan prasangka kerendahdiriannya. Demikian pula dengan pilihan jurusan dan spesialisasi keilmuan, kurikulum, bahan ajar, dan praktek pendidikan sekolah tetap mendorong perempuan supaya memilih jurusan dan ilmu yang dianggap sesuai dengan karakter keperempuanannya.