Emha Ainun Nadjib

“Cak, aku bukan buron. Semua kewajiban saya kepada keuangan Negara sudah saya bayar, bersama ini saya kirimkan berkas-berkas data yang membuktikan hal itu. Saya numpang hidup sementara di luar negeri memang karena saya lari, tetapi bukan lari sebagai buron, meskipun pada pengetahuan publik saya adalah buron.”

“Saya lari dari para pemeras, dari mereka yang berlagak menegakkan hukum tetapi sesungguhnya mengail di air keruh. Memeras kami sekeluarga terus menerus, dari hari ke hari, siang dan malam. Aku lemah, sekarang istri saya yang menghadapi pemerasan-pemerasan itu tiap hari ini tanah air.”

“Kalau Pak Presiden menjamin bahwa saya, keluarga dan perusahaan-perusahaan saya aman dan terlindung dari tindak pemerasan para pagar pemakan tanaman, maka sekarang juga saya balik ke kampung halaman saya. Karena, meskipun potongan dan wajah saya tidak memenuhi syarat citra nasionalisme, tetapi saya cinta Indonesia…”

*****

“Cak, Pasar Turi terbakar sebanyak 4 kali : 1. Thn 1969. 2. Thn 1978. 3. Tgl 26 juli 2007. 4. Tgl 9 september 2007. Yang ke 3 dan ke 4, oleh Kapolda Jatim dinyatakan dibakar, namun kami para pedagang tidak atau belum mendengar ada proses hukum yang menuju ke peradilan atas pihak yang membakar. Cak, bagaimana logika konstitusionalnya kalau Kepala Polisi bilang itu dibakar tapi kemudian tak ada proses hukum. Apakah Polisi bisa disebut telah menyebarkan kebohongan publik? Ataukah pihak pembakar adalah kakap raksasa ekonomi dan politik sehingga lembaga keamanan Negara tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya? Bagaimana kami orang kecil memasukkan hal seperti itu ke dalam nalar kepala kami? Apa lama-lama tidak pecah kepala ini?”

“Pada peristiwa dibakar yang terakhir kerugian yang bisa dicatat : 1. Dari total 2.350 stand yg terbakar, kerugian barang dagangan diperkirakan 1.7 trilyun. 2. Dari total stand yang tidak terbakar, di lokasi tahap II tidak dapat berjualan kembali hingga saat ini. 3. Dalam kondisi normal omzet perputaran transaksi perdagangan di pasar turi mencapai lebih kurang30 milyard per hari. Sedangkan dalam kondisi pemulihan yang sangat lamban seperti saat ini dan telah berlangsung selama 3 bulan, dapat dibayangkan berapa rupiah yg hilang.”

“Cak, kami para pedagang tidak menuntut yang aneh-aneh. Cak Nun mengatakan di forum Bangbang Wetan Surabaya bahwa Sohibul-Bait atau tuan rumahnya sawah adalah petani, tuan rumahnya laut adalah nelayan, tuan rumahnya pasar adalah para pedagang. Kami hanya berpendapat bahwa sebagai penghuni dan tua nrumah utama di Pasar Turi kami berhak disertakan sebagai salah satu subyek dalam proses pengambilan keputusan atas pembangunan pasar kembali oleh Pemkot Surabaya.”

“Tetapi sampai hari ini Walikota Surabaya Bambang DH tidak mau sekedar bertemu atau bertatap muka sajapun dengan kami para pedagang. Jangankan melibatkan kami dalam perundingan. Saya mendengar Cak Nun mencoba menempuh berbagai hal ke Depdagri sampai Mendagri agar hak-hak pedagang itu memperoleh perhatian, tetapi tidak ada tanggapan apapun. Bahkan pejabat Depdagri minta kami para pedagang membuat surat lamaran agar beliau-beliau hadir ke Pasar Turi. Cak Nun mengatakan kalau ada kambing terjepit di antara dua batu besar, mestinya Pamong Desa punya mekanisme untuk tahu ada kambing terjepit kemudian bersegera melakukan sesuatu untuk menolong kambing itu. Tetapi di Indonesia kambing terjepit harus menulis surat lamaran agar Pamong Desa datang kepadanya”.

“Cak, saya mendengar katanya Walikota Surabaya pernah dipanggil Presiden di Juanda dipertemukan dengan wakil pedagang Pasar Turi tapi sang Walikota tidak hadir. Apa itu artinya Cak? Presiden tidak punya kuasa atas Walikota? SBY tidak punya wibawa sehingga dengan mudah begitu saja dibokongi oleh bawahan jauhnya? Ataukan ada aturan Otonomi Daerah yang memberi peluang kepada Pejabat Daerah untuk menangani sesuatu secara mutlak dan tak bisa dicampuri bahkan oleh Presiden?”

“Cak, perwakilan pedagang sudah dua kali berusaha untuk bertemu walikota Bambang DH tetapi tidak pernah diterima. Ada yang menganalisis bahwa SBY tidak mampu melakukan apa-apa atas Pasar Turi karena kunci-kunci di strata bawahannya di Depdagri sampai Pemkot Surabaya semua adalah dari Parpol pesaing parpolnya Presiden. Sehingga semacam ada aroma konspirasi politik sangat menyengat sekali untuk menjatuhkan wibawa dan kekuasaan pemerintahan SBY. Apa itu masuk akal atau tak masuk akal Cak”.

Yang paling bahaya dari sms-sms yang saya terima semacam itu adalah karena membuat saya bergairah makan. Kenapa bahaya? Kata anak saya, ada seribu alasan kenapa orang minum air putih, dan di antara 1000 alasan itu di bawah seratus /100 yang relevan terhadap kesehetan. Kalau kita berkunjung ke kantor Bupati dan disuguhi air putih maka kita minum air putih. Air putih itu sehat, namun pada momentum itu kita teguk air putih tidak dalam skala pertimbangan dan disain kesehatan.

Kalau gara-gara sms-sms banjir tiap saat saya lantas merasa lapar lagi dan lapar lagi maka saya ketemu makanan karena kompensasi psikologis, bukan tarikat kesehatan, dan itu bahaya bagi badan saya jangka panjang. Kalau sms-sms harian sekedar minta nama bayi lahir 3-4x seminggu, suami punya masalah serius dengan istri atau sebaliknya, keluhan tentang lapangan kerja, minta modal, problem-problem rumah tangga, stress, gelisah, bingung menentukan pilihan atau apapun masalah per-manusia sehari-hari: saya masih belum terangsang untuk makan.

Tapi kalau masalah yang di-sms-kan begitu gede-gede: masalah Lumpur Sidoardjo yang sekamnya makin membara dan tak sampai setengah tahun lagi akan bisa ada yang terbakar kalau Pemerintah, Lapindo dan korban Lumpur tidak menemukan pemandu yang tepat untuk mengatasi benturan mereka….. Kalau yang di-sms-kan adalah potensi bentrok ribuan tani sawit di Bangka, tanah ratusan hektar penduduk yang dipakai Negara dan sampai 23 tahun belum dibayar….dan kalau semua itu coba saya tolong dengan menjumpai betapa pejabat dan birokrasi Negara kita hampir sama sekali tidak memiliki logika tanggung jawab, dialektika moral, kepatuhan konstitusi…maka sungguh-sungguh saya kawatir akan makan berlebihan dan besok pagi tatkala bangun akan muncul pikiran tertentu di kepala saya. Pikiran-pikiran yang selama bertahun-tahun saya pendam dalam kolam kearifan, saya simpan di laci kesabaran, saya sembunyikan di balik kerudung cinta…namun akhirnya tak mampu lagi saya meneruskannya….*****