Kosmologi menurut pengertian kamus bahasa sunda adalah ilmu yang menyelidiki asal-usul , struktur dan hubungan ruang waktu dari alam semesta. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu objek. Kata Kosmologi sendiri sebenarnya berasal dari kata “Kosmos” yang berarti susunan, tatanan, dan ketertiban. Dalam kosmologi manusia mencari struktur-struktur dan hukum-hukum yang paling umum dan mendalam dalam kenyataan duniawi sebenarnya. Dalam kosmologi manusia bertanya: dunia ini apa? materi itu apa? perubahan itu apa? ruang dan waktu itu apa? penyebaban atau kausalitas itu apa.? Pertanyaana pertanyaan itu mendorong manusia memikirkan dunia sebagai suatu keseluruhan menurut dasarnya, menurut intinya dan tempatnya dalam keseluruhan. (Anton baker ).

Pandangan Fa Hsien Terhadap Kosmologi Sunda

“Di Ye-po-ti (Tolomo/Taruma) jarang ditemukan penganut Buddhisme, tetapi banyak dijumpai brahmana dan orang-orang beragama kotor)”.

Keterangan Fa Hsien memberikan gambaran bahwa pada masa kerajaan Taruma di daerah Taruma sudah ada agama atau semacam kepercayaan yang di anut oleh masyarakat setempat yang berbeda dengan agama/kepercayaan yang Ia kenal selama ini. Hal ini memberikan beberapa kemungkinan yaitu,  bahwa kebudayaan yang ada pada masa Taruma bukan merupakan kebudayaan Budhis yang baru ada menjelang abad ke 4 Masehi, bisa saja Kebudayaan yang berkembang di Batujaya atau Tarumanegara merupakan Kebudayaan Asli bangsa Indonesia, akan tetapi, dari berbagai bukti yang ada saat ini menunjukan bahwa Hindu-lah yang berperan dalam pembentukan kebudayaan pada masa itu.

Orang Sunda memiliki kosmologi dan kepercayaan tersendiri, kosmologi Sunda sudah meyakini adanya Sang Hyang Tunggal, yang menciptakan Alam Niskala dan Alam Sakala (sudah dijelaskan di atas). Memiliki sebuah Kosmologi dan akhirnya melahirkan sebuah kepercayaan bukan hal yang mudah, sehingga orang atau suku bangsa yang memiliki itu termasuk ke dalam suku bangsa yang memilki peradaban besar. Kebudayaan manusia sebenarnya sudah memiliki sebuah unsur-unsur yang universal. Orang atau suku bangsa yang berkebudayaan harus memiliki, yakni sistem religi, kemasyarakatan, pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian dan sistem peralatan hidup. Ketujuh unsur kebudayaan diatas jelas sudah dimiliki oleh orang-orang sunda. Pandangan yang ada dalam kitab jantiningrat dan orang-orang Baduy itu asli padangan orang Sunda tanpa dipengaruhi oleh pandangan dari luar, kalaupun ada kecil kemunginan pengaruhnya.

Setiap suku bangsa memiliki kosmologi masing-masing, dan itu semua merupakan sebuah bentuk jawaban terhadap tantangan alam yang di alaminya. Dari kosmologi yang muncul dalam masyarakat akhirnya menjadikan sebuah kepercayaan. Kepercayaan inilah yang akhirnya menjadi sebuah tuntutan hidup msyarakat sunda, mereka bersatu dengan alam dan menjadikan alam ini bagian dari hidupnya, sehingga harus dijaga dengan baik.

Kosmologi Sunda dan Jatiraja.
Menurut Edi S. Ekadjati didalam Islam jagat raya terdiri dari 5 alam, yaitu alam roh, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Kosmologi menurut konsep Islam didasarkan pada kronologis kehidupan manusia (dan makhluk lainnya). Sedangkan Naskah Kosmologi Sunda membagi menjadi 3 alam, yaitu bumi sangkala (dunia nyata), buana niskala (alam gaib), dan buana jatiniskala (dunia atau alam kemahagaiban sejati).

Bumi sangkala, alam nyata di dunia tempat kehidupan makhluk yang me miliki jasmani (raga) dan rohani (jiwa), yakni manusia, hewan, tumbuhan, dan benda lain yang dapat dilihat baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Buana niskala, alam gaib tempat tinggal makhluk gaib yang wujudnya hanya tergambar dalam imajinasi manusia, seperti dewa-dewi, bidadara-bidadari, apsara-apsari, dll. Jumlah dan ragam makhluk tersebut banyak dan bisa bergabung satu dengan lainnya serta berkedudukan lebih tinggi dari manusia. Buana niskala, merupakan katalain dari surga dan neraka”.

Kosmologi Sunda membicarakan tata dunia menurut pandangan masya¬rakat Sunda. Karena masyarakat Sunda itu berubah sepanjang sejarah keberadaann ya, make pandangan dunianya juga berubah-rubah. Dengan demikian terdapat berbagai kosmologi Sunda sesuai dengan perubahan masyarakatnya. Tetapi perubahan itu dapat dijelaskan penyebabnya atau difahami kausalitasnya, sebab perubahan adalah sesuatu menja¬di sesuatu yang lain dari sesuatu itu sendiri. Sunda menjadi Sunda yang baru deri kesundaan itu sendiri. dengan demikian perlu dicari pengetahuan kosmologi sunda yang diduga monjadi kosmologi awalnya.

Naskah Kosmologi Sunda merupakan sebuah cerminan atau gambaran manusia penghuni dan tingkat kegaiban dari masing-masing alam. Digambarkan pula kedudukan masing-masing, baik makrokosmos (yang berhubungan dengan masalah Sang Hyang Tunggal/ jatiniskala) yang menciptakan batas, tetapi tidak terkena batas, maupun penghuninya yang disebut bumi niskala. Namun naskah tersebut tidak mengungkapkan adanya alam yang dihuni oleh roh manusia sebelum lahir ke alam dunia (bumi sakala).

Jatiniskala ini merupakan ruang dn waktu zat yang tunggal, Jatiniskala menjadikan dirinya Sang Hyang Tunggal yang dikenal manusia selama ini. Sang Hyang Tunggl “Menjelma keluar dari ketiadaan” bersama munculnya tekad, ucapan dan tenaga dari ketiadaan.

Teks buhun umumnya mengabarkan perihal cita-cita urang sunda buhun jika meninggalkan alam dunya, yakni “balik ka Hiyang, lain ka Dewa”. Namun yang menentukan tempat seseorang sesudah kematian adalah sikap, perilaku, dan perbuatannya selama ia hidup di dunia. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya buruk dan bertentangan dengan ajaran agama, maka akan kembali lagi ke alam dunia dalam wujud yang lebih rendah derajatnya (kepercayaan reinkarnasi) atau masuk ke dalam siksa neraka. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya baik ia (rohnya) akan naik menuju alam niskala yang menyenangkan (surga). Mungkin masalah ini lebih jelas diuraikan didalam Naskah Sewakadarma, sebagaimana yang dijelaskan Ayatrohaedi. Pada intinya menguraikan cara persiapan menghadapi maut dengan cara yang indah, serta bagaimana ketika jiwa setelah meninggalkan raganya.

Lebih jauh Edi S. Ekadjati menjelaskan tentang makna Kosmologi Sunda yang terkandung dalam naskah, bahwa : konsep kosmologi Sunda Kuna bukan hanya dimaksudkan untuk pengetahuan semata-mata mengenai struktur jagat raya, melainkan lebih ditujukan sebagai media agar kehidupan manusia jelas tujuan akhirnya, yaitu kebahagiaan dan ketenteraman hidup di buana niskala dan buana jatiniskala yang abadi.

Kosmologi Masyarakat Baduy
Dalam Kosmologi dikisahkan, munculnya keberadaan ini pada awalnya sebelum apa yang disebut ada adalah tidak ada. Kosmologi Baduy menyebutkan tidak ada itu sebagai awing-awang uwung-uwungan. Itulah kosong yang mutlak. Sedangkan dalam bahasa sunda yang kita kenal sekarang adalah Ayana Aya, Ayana Euweuh. Euweuh teh Aya, Aya teh Euweuh ). Suatu pernyataan yang seolah-olah tanpa makna dan arti. Kita tidak banyak tau apa arti dari pada “tida ada itu” atau kosong mutlak tersebut. Carl Gustav Jung, menjelaskan paradoks Sunda ini, “Saya mulai dengan kekosongan, kehampaan”. Kosong yang dimaksud disini sama dengan kepenuhan. Kekosongan adalah kedua hal tersebut, kosong dan penuh. Sesuatu hal yang tidak terbatas dan abadi tidak membawa sifat, karena dia memiliki semua sifat.

Kekososngan yang dimaksud dalam kosmologi masyarakat Baduy muncul keluar dari tiga batara, yaitu Batara Keresa, Batara Kawasa, dan Batara Bima Maha Karana. Ketiga Batara ini sebenarnya menyatu atau satu yang disebut Sang Hyang Tunggal.

Keresa adalah kehendak, rasa dan nurani. Kawasa adalah kekuasaan, kekuatan dan tenaga. Mha karana adalah penyebab utama yang berarti ucapan, pikiran dan kata-kata. Dengan demikian Sang Hyang Tunggal adalah entitas tunggal dari entitas sebelumnya, meloncat keluar dari tidak ada menjadi ada. Itulah awal mula terjadinya segala sesuatu ini atau munculnya  bumi sangkala dan buana niskala.

Hakikat Kosmologi Sunda
Keberadaan yang tidak mungkin didekati oleh manusia adalah alam kekosongan, yang dalam kitab jatiraga disebut alam ketiadaan yang ditempati oleh Sang Hyang Tunggal. Dalam Kosmologi Baduy dan jatiraga selain kehendak secara serentak juga bereksisteni pikiran ( Ucapan, logos) dan tenaga (kekuata, kawasa, kuasa, perbuatan lahir). Ketiganya ini menyatau atau ada dalam Sang Hyang Tunggal. Penataan dunia Sunda dimulai dari munculnya keberadaan empirik yang pertama yaitu munculnya Sang Hyang Tungga. Karena Sang Hyang Tunggal ini muncul dari tiga kemampuan atau potensi, yakni Keresa, Kawasa dan Karana (kehendak, kuasa dan sebab). Maka sekarang mucul sebuah pertanyaa bagaiman sistem hubungan ketiganya itu yaitu, hokum sebab akibat atau kausalitas.

Sebagian orang menggap bahwa apa yang ada sekarang ini hanya merupakan sebuah kebetulan saja, sebab awalnya adalah karena kebetulan atau hukum alam, tidak ada yang menciptakan atau mengendalikan. Apakah itu semua dibenarkan dalam kosmologi sunda? Sebelumnya telah dibahasa bahwa dalam kosmologi sunda mengenal adanya awing-awang uwung-uwung (kosong) yang di dalamnya ada kehendak, pikiran dan kekuata ketiganya ini ada dalam satu kesatuan yaitu Sang Hyang Tunggal. Dalam kitab jatirasa sendiri mengenal adanya Alam Jati Niskala (Sang Hyang Tunggal/Si Ijuna Jati), Alam Niskala (Alam Kedewaan) dan alam sakala (Alam manusia).

Dari keterangan yang sudah dijelaskan diatas ini jelas bahwa dunia ini muncul dari sebuah kekosongan, kosong ini muncul karena dirinya, kemudian dia mengadakan alam Niskala dan alam Sakala. Ini semua menandakan bahwa apa yang ada, dimunculkan atau berasal dari sebuah kekosongan (tidak ada) dan kekosongan itu sendiri sebenarnya yang benar-benar ada (mutlak keberadaanya).