Syair Asmaul Husna

Emha Ainun Nadjib

Allah, Allah
Waktu kau sebut Allah
Hanya Dia-lah Ilah
Waktu kau sebut Ilah
Hanya Allahlah Dia
Waktu kau ucapkan Segalanya
Waktu tak kau ucapka apa-apa
Tetap jua: Ilah hanya Allah
Allah jua yang Ilah
Kita ada atau tidak ada
Kita durhaka atau mematuhi-Nya
disebut satu atau pun tiga
Allah Mutlak Tunggal Ada-nya
Selebihnya: hanya bayangan hampa
Dikejar orang berjuta-juta
kecuali saudara kita
Yang jujur memandang cakrawala
Ar Rohman
di siang benderang
matahari luput dari ingatan
Sebab hanya digulita malam
Kau dambakan pencahayaan
rahmat Sang Rohman
Pada kita bergelimang
Tenggelam seluruh waktu dan ruang
dalam anugrah tak terumuskan
Tataplah
Bumi langit cinta-Nya!
Namun betapa sukar, betapa sukar
Kita begitu nekad pada-Nya
tak ada jarak untuk menatap-Nya
Maka alpa kita
akan kasih-Nya
Justru karena tak pernah
Ia tinggalkan kita!
Hanya sembahyang sejauh usia
Membuat dzikir, tak sempat lupa
Menghindari mati-mati kecil
Yang berkeliaran manaburkan setannya
Sebelum akhirnya tiba: maut besar
Yang menjelaskan segalanya
Hanya sujud, sungguh
Hanya sujud
Mengambil jarak rohani
Dari dunia maya
Ar Rohiim
Tidak setiap orang mengetahui, bahwa
jauh di dalam jiwanya, setiap hari bergaung
selaksa doa tanpa kata
“Wahai Sang Maha Penyayang, jangan
sampai hari ini aku tak makan, jangan sampai
tak minum, jangan sampai patah tangan,
jangan sampai jiwa linglung, jangan sampai hari
berantakan, jangan sampai lepas napas dihidung,
jangan sampai kehabisan pakaian, jangan sampai
tidur tak bangun, jangan sampai menyerbu
banjir bandang, jangan sampai meledak gunung
jangan sampai pecah bintang, jangan sampai
matahari turun………”.
Dan Allah Maha mengabulkan, namun
teramat sedikit yang orang rasa dan pikirkan
Selaksa doa yang diam, selaksa penghargaan bisu
diucapkan oleh kesunyian:
Allah Maha Meniti dan Mendengarkan, kasihnya
tak terumuskan, di mulut-Nya sukma orang
orang bergelantungan
Di malam yang sepi, orang mengucapkan
permintaan-permintaan tambahan,
sebab segala telah dijamin Tuhan, terkubur
di tanah bisu kealpaan.
“Kenapakah saudaraku–demikian engkau
mengatakan–kenapakah selalu hanya kita
ingat satu diantara seribu: yakni anugrah
Allah yang ditunda, atau ia balik warna
kejadiannya–sedang dengan itu kita diajari
bagaimana membaca rahasia?”
Al Maalik
Yang memimpin alam semesta
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin bumi dan matahari
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin bintang gemintang
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin gunungdan pembukitan
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin lahar dan kawh
Di dalam dan di luar dirimu
Yangmemimpin kerajaan dan hutan
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin angin dan hujan
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin salju dan api
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin sungai dan lautan
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin ladang dan pepohonan
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin mendung dan pelangi
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin hewan dan nafiri
Di dalam dan di luar dirimu
Yang memimpin segala misteri
Yang memimpin getaran para Nabi
Yang memimpin bisikan malaikat
di batin sepi
Yang memimpin isyarat
dari hari ke hari
di dalam dan
di luar
dirimu
Al Quddus
Air murni
Tak mewakili
Sang Maha Suci
Langit biru
Tak melambangkan
Kekudusan itu
Logam paling bening
Hanya pantulan kasar
Dari Yang Maha Bening
Allah Jernih
Sang Maha Jernih
Pengetahuanku atas-Nya
Tak membenih
Penglihatanku pada-Nya
Hanya buih
Wahai!
Semoga jika telah kubuang sampah
Jika sirna aku yang serakah
Bisa sampai kangenku
Kepada Yang Tak Terbayangkan itu
As Salam
Kalau keselamatan
Ialah butiran air utama dari tangan-Nya
Kenapa dari lidah kita pancarkan api
Yang menghanguskan?
kalau kesejahteraan
Ialah inti dari tawaran surga
Kenapa hati menggumpal jadi batu benci
Yang mencelakakan?
Jiwa tersenyum kepada segala yang baik
Agar datang para malaikat dengan sukaria
Kita berdzikir sembahyang bersama mereka
Jiwa tersenyum kepada segala yang buruk
Agar para iblis terbakar
oleh tenaga ragasianya
Tinggal roh badan manusia
direbut kembali oleh-Nya
Al Mu’min
Meskipun bumi ini tak ada pijakannya
Melainkan terletak di ruangan hampa
Tapi syukur bisa kita berdiri
Dan tidur senyenyak-nyenyaknya.
Meskipun matahari bisa menggeser tubuhnya
Dan menindih keberadaan kita sampai tiada
Tapi syukur ia yang tak punya pikir dan rasa
begitu patuh kepada hukum-hukum-Nya.
Meskipun Malaikat bisa meraih bintang
Dan melemparkannya beberapa ke kening kita
Tapi syukur mereka hanya mengerjakan
Hal yang diperintahkan oleh-Nya.
Meskipun roh kita teramat sulit diterka
Bahkan hidup denannya tanpa kenal rahasianya
Tapi syukur rasa aman selalu kita dapatkan
Cukup dengan mempercayai jaminan-Nya.
Biji buah kepercayaan itu, saudaraku
Ingin kutabur dan kutanam
Pada pagi, pada siang, sore dan malam
Agar tumbuh menjadi pepohonan
Yang sulur dahan dan daun-daunnya
Merambat ke pintu sorga.
Al Muhaimin
Ketika lapar
Alangkah pentingnya Tuhan
Ketika kenyang
Kita hilang ingatan
Nasib ayam
sangat Ia perhatikan
Nasib kita, hamba yang dimuliakan
Jangan lagi dibilang
Namun mata rabun dan keserakahan
Membuat kita tak sesetia binatang
Kepada yang lain kepercayaan kita tumpahkan
Diam-diam kita ragu bahwa Allah memberi
jaminan
Sungguh, kemana lagi mata diarahkan
Selain memperhatikan Tuhan
Sungguh,
ke mana lagi kaki dilangkahkan
Selain memelihara pengabdian
Allah tidak gila perhatian
Tetapi itulah satu-satunya jalan
Untuk menjaga seluruh isi kehidupan
Untuk mewujudkan segala mimpi kebahagiaan
Al ‘Aziiz
hendak kau harumkan nama Allah?
Jangan!
Ia sudah Maha Harum, dan keharuman-Nya
sedemikian tak terberikan sehingga
hidung dan angkasa jiwamu sekedar
mampu menangkap pantulan-pantulan-Nya
Tentulah engkau khalifah: haramkan namamu
sendiri, dan itu hanya bisa engkau
lakukan dengan meminjam keharuman-Nya
yang engkau peroleh di segala
perbuatan bauk.
Hendak kau bela nama Allah?
Jangan!
Ia bukan pelengkap penderita, sungguh
Ia terlampau perkasa dan engkau terlampau kerdil
untuk mampu menambah lagi
keperkasaan-Nya.
Tentulah engkau khilaf: bela dirimu sendiri,
dan itu hanya bisa engkau lakukan
dengan memelihara kehendak-nya atas
derap kereta dunia di mana engkau
berjuang mengendalikan
kuda-Nya
Hendak kau tegakkan nama Allah?
Jangan!
Ia adalah Maha Tegak itu sendiri,
sehingga tiada tegak lain yang engkau
mampu dirikan.
Tentulah engkau khilaf: Tegakkan dirimu
sendiri, dan itu hanay bisa engkau
lakukan dengan menggenggam erat
irodat-Nya di setiap detak-detik
dan di setiap jengkal
tanah.
Al Jabbaar
Orang memanjangkan tangannya
untuk memetik bumi, dibawa pulang
ditaruh di piring buat menu di meja makan
Wahai terletak di rumah
Siapakah meja makan itu dan ia sangka
tidurkah Penguasa Perkasa yang di telapak
tangan-Nya tertulis perbuatannya?
Ia memakan apa yang takkan
mampu ia makan, ia membangun penderitaan
yang akan dengan luka parah ia tanggunggakn
Kenyangnya bakal sirna sebelum
usai hari, tapi sakit kehidupannya bakal abadi
Di muka bumi, tak seorang
pun bisa, menciptakan keperkasaan sendiri,
kecuali ia tiru dari Sang Maha Perkasa dengan
ramuan kegagahan seperti mau-Nya.
Al Mutakabbir
Orang menyematkan tanda kebesaran di dada,
Orang menancapkan tonggak kekuasaan
yang memenuhi dunia, orang mengantongi sejarah,
orang menjaring berjuta-juta kepala manusia
untuk ditimbun di keranjang hari depannya,
orang menumpuk modal dan mencengkeramkan
cara-cara,orang
menjala nasib ribuan saudara-saudaranya, orang
berlomba memanggul beban-beban yang ia sangka
berisi buah kebahagiaan, orang menciptakan
bayangan demi bayangan, impian demi impian,
yang selalu memakan diri mereka sendiri akhirnya.
Orang-orang buta itu mengira Tuhan gagu
dan buta, mereka tumpas suara lembut hati kecil
mereka dengan makanan-makanan maya, bagai
pengembara yang kelaparan, tiba di tepi danau biru
yang kemilau airnya, rontok jiwa mereka
maka terjunlah ke dalamnya, gagal menemukan
seteguk air yang lebih menyimpan tenaga
Allah saja yang memiliki kebesaran: orang yang
menyangka bahwa ia juga memilikinya,
sesungguhnya sedang menggali sendiri
lobang kuburnya
karena tak sedebu kebesaran-Nya
pun yang ia bersedia meminjamkan kepada kita
apabila kita tempuh perjalanan tidak ke istana-Nya
Al Baari’
Dikirimkan-Nya sakit
kepadamu, Ia maksudkan untukmu atau barangkali
untuk saudara-saudaramu yang membiayai
deritamu
Dihadiahkan-Nya kesehatan
kepadamu, agar takut engkau pada sakit atau
barangkali supaya engkau lupa bahwa engkau sakit
Dianugerahkan-Nya kemelaratan
kepadamu, agar ujian kecil untuk kematanganmu
atau barangkali itu adalah rahmat yang jauh
lebih besar yang tak mungkin engkau peroleh kalau
engkau bergelimang harta benda, atau barangkali
kemelaratan adalah kekayaan itu sendiri
Ditumpahkan-Nya kekayaan
kepadamu, buat mesejahterakanmu atau
barangkali untuk meladangi kesengsaraan
hari esok yang
dikehendaki oleh rasa mabukmu
Dipancarkan-Nya rasa bahagia
kepadamu, agar engkau bersyukur, atau barangkali
untuk membuktikan bahwa engkau akan lupa
karena tak mampu menyangga
Ditindihkan-Nya derita
kepadamu, untuk melatih sorga atau barangkali
hendak ditunjukkan-Nya bahwa engkau gampang
berputus asa
Allah Yang Mencipta, Allah Yang Memberi,
Allah menyimpan makna: Kita berkeringat mencari
Antara sakit dan sehat, antara miskin dan kaya
antara derita dan bahagia, antara gelap
dan cahaya, berlangsung denyutan-denyutan
makna, dua sisi nilai yang bertegur
sapa
Itulah lorong gelap kehidupa
Ia, Sang Maha Pencipta
Menyediakan obor di depan pintu-Nya
Al Mushowwir
Para pelukis meniru alam
Yaitu kulit dari maha lukisan Tuhan
Tapi belakangan mereka tinggalkan
Sebab sebaik-baik lukisan, hanya tiruan.
Sekaranga alam harus diingkari
karena kehidupan tidak berharga mati
warna langit tak mesti biru
Air jadi salju, udara pun membeku.
Para pelukis masuk lebih ke dalam
Digambarnya bayangan dan bayangan
Garis dan warna dicuatkan
seolah menangkap inti
Yang gagal digenggam.
Di puncaknya:
Lukisan hanya kosong dan hampa
Tak ada seniman, hanya ruh buta
Berwujud di telapak kaki-Nya.
Allah,
Seniman satu-satunya
Menggambar tidak dengan warna
Inti karya-Nya
tidak untuk ditatap
dengan mata.
Al Ghoffaar
Tak satu dua kali
Kulompati pagar nilai-Mu
Namun kembang anugerah itu
Terus menabur
Terus menabur
Sampai aku malu!
Tak kutahu apakah dengan begitu Engkau
telah mengampuni dosa-dosaku
namun perwujudan cinta kasih-Mu, yang
lebih luas dari samudara,
mengajariku berpuasa
Justru karena permaafan-Mu yang tak berbatas,
maka kini ingin kuhajar diriku
dengan membuang segala pantangan-Mu
secara tuntas.
Al Qohhar
Bahkan kepada para penyihir, diberikan-Nya
kekuatan ala kadarnya, namun tak seorang
penyihir
pun tahu bahwa tak pernah ia menyihir siapa
pun kecuali dirinya sendiri.
Bahkan kepada para penguasa, dianugerahkan-Nya
jua pedang dan ilmu untuk menebaskannya,
namun tak seorang penguasa pun mengerti bahwa
tak pernah ia menguasai siapa pun kecuali ia
dikuasai oleh kekuasaannya sendiri.
Bahkan kepada para penindas, penipu, penjilat
serta sekalian penjahat, ditaburkan-Nya jua
segala batu panah api dan kebusukan yang
diperlukan mereka, namun tak seorang pun dari
mereka menginsafi bahwa tak siapapun bisa
mereka
pecundangi kecuali mereka rajam
diri mereka sendiri.
Orang-orang yang disihir
tidaklah tersihir
Orang yang dikuasai
tidaklah terkuasai
Yang tertindas tidaklah tertindas
Juga yang ditipu, dikelabuhi, dipecundangi
dan dilempari dengan ludah busuk
dan panah-panah api: serbuan itu
ialah piutang demi piutang,
yang membuat derajat
mereka makin meninggi.
Bertaburan di atas kepala mereka kupu-kupu
dari surga, dan mereka syukuri anugerah
rahasia itu, yang berasal
dari Allah mereka:
Yang Maha Gagah Perkasa.
Al Wahhaab
Apa alasanku untuk durhaka
kepada-Mu, Allahku
Di malam dan siang telingaku mendengar desir
lembut suara malaikat-Mu yang mendendangkan
nyanyian-Mu yang melezatkan jiwaku
Di siang dan malam mripatku menyaksikan
rahmat-Mu bertaburan dari langit-langit beribu penjuru.
Jika Engkau bukan Sang Maha Tanpa Pamrih
pastilah bangkrut aku
Jika atas segala anugerah-Mu harus
kupersembahkan balasan, maka tiadalah
yang akan mampu aku persiapkan
Segala yang tergengam di tanganku adalah
milik-Mu, bahkan tak juga kumiliki diriku sendiri,
karena Engkaulah Maha Empunya semuanya ini
Maka jika kupasrahkan seluruh jiwa ragaku
bukanlah aku memberikan sesuatu kepada-Mu,
melainkan sekedar menyampaikan hak-Mu
Dan jika aku memberikan sesuatu kepada
keluargaku, kepada para tetangga dan sekalian
orang di dalam jangkauanku, tak lain itu hanyalah
menyalurkan milik-Mu agar sampai pada
akhirnya keharibaan-Mu
Apa alasanku untuk durhaka
kepada-Mu, Allahku
Engkau Maha Memberi, tanpa meminta: akulah
yang membutuhkan penyerahan segala
sesuatu ke hadapan-Mu.
Ar Rozzaq
Andaikan cukup banyak orang yang bersedia
mengisi kehidupan dengan setia mencari
bahan untuk mensyukuri kemahakayaan Tuhan
Tentulah tak perlu kita bangun gedung
yang terlalu tinggi, mesin-mesin industri,
alat-alat muluk, konsusi-konsumsi mewah
yang hanya akan menjerat leher sendiri.
Namun inilah aman dengan peradaban paling
tinggi, di mana kebahagiaan dan kesejahteraan
makin jauh untuk bisa digapai
Inilah abad dengan kebudayaan paling gemerlap
Di mana kesengsaraan manusia telah sampai
pada titik paling mutlak dan rohani
umat memasuki ruang yang paling gelap
Inilah kurun sejarah di mana rembulan telah
bisa dijadikan layang-layang, di mana bumi
digenggam cukup dengan alat satu
dua inchi, di mana kemampuan perhubungan
telah menjadi luas dunia
menjadi satu mili, sehingga memungkinkan
segala kebobrokan ini
ditutup-tutupi.
Al Fattaah
Pintu alam semesta
Pintu tanah dan samudera
Pintu kayu dan udara
Pintu matahari
Pintu burung-burung
Pintu hati
Pintu jantung
Pintu ubun-ubun
Pintu daging dan tulang
Pintu rasa dan pikiran
Pintu rohani
Pintu kundalini
Pintu segala nilai
Pintu pengetahuan
Pintu lapar dan kenyang
Pintu sedih dan senang
Pintu waktu dan ruang
Pintu rahasia
Pintu rahasia dalam pintu rahasia
Pintu dalam pintu dalam pintu
Pintu di balik pintu di balik pintu
Engkau yang membukakannya
Dan kami berebut masuk
Lupa mengucap salam
Lupa ingatan
Al ‘Aliim
Segala peristiwa, bagiku, hanya hampa
Engkaulah yang mengajarkan
Apakah ia rejeki atau bencana
Dungu atau berilmu, bagiku, hanya bisu
Engkaulah yang memberitahu
Apakah ia sejati atau semu
Miskin atau kaya, itu fatamorgana
Engkaulah yang membukakan mata
Untuk tahu harta yang baka
Engkau ….
Gusti ….
Bertanya ….
Kenapa rejeki disebut bencana ?
Kenapa celaka dipujipuja ?
Kenapa ilmu menelan manusia ?
Kenapa miskin dianggap kaya ?
Kenapa oleh maya
terbelalak mata ?
Beribu orang
Gagal memahaminya
Aku juga, Gusti, aku juga
Namun ada
Satu ilmu nyata
Jika kepada-Mu kutumpahkan jiwa raga
Tak ada bencana
tak ada miskin papa
Tak pernah sedih, tak sempat sia-sia
Sebab Engkaulah
Guru Yang Maha.
Al Qoobidl
Dalam sekejap
kalau Engkau mau
Matahari akan lenyap
Bintang gemintang sirna
Bumi gugur
Menjadi onggokan
Kayu panas neraka.
Jangan lagi sirnanya satu dua nyawa
Atau tercampaknya raja-raja dari Istana
Pun yang kecil dan sederhana: tak akan
ada rejeki bagimu hari ini, tak di Timur
tak di Barat, tak di Selatan atau
Utara.
Kalau Engkau bersabda, sungguh,
tercincanglah kami semua, terlempar dari bumi
jatuh ke kobaran api yang tak pernah
terbayangkan panasnya, kemudian Engkau
hadirkan makhluk yang baru, yang runduk
mukanya, karena mau belajar berkaca.
Kami sungguh amat lancang!
namun hanya Engkau sendiri yang
tahu, adegan apa yang Engkau rencanakan.
Al Baasith
Anak-anak berdesakan antri di gerbang
sekolahan, agar jangan sampai kelaparan
di hari mendatang
Bapak Ibu membanting tulang, agar
memperoleh jatah rejeki yang lumayan
Orang-orang menyogok untuk mendapatkan
pekerjaan, hati kecut untuk jadi gelandangan
orang bergegas, orang berebut, orang
berperang, kendaraan mengerang-ngerang, pisau
mengancam di kiri-kanan, mesin berderak-derak
orang masuk ke dalam putaran, siapa yang lengah
akan tercampak, siapa yang lemah bakal
terdepak
Amoi! Apa gerangan yang terjadi ?
Terasa begini sempit di bumi, orang
melakukan segala cara untuk mendapat rejeki
Benarkah sumur bumi esok pagi akan habis,
Adakah kekayaan Allah makin menipis!
Aku tahu, Gustiku
Dunia kami dipimpin
Oleh para pencuri
Al Khoofidl
Allah merendahkan derajat manusia
Mungkin dengan menumpukkan harta di
rumahnya
Dengan menaikkan pangkat dunianya
Atau beribu kesukariaan yang membuat alpa
Burung dan kupu-kupu di udara
Gunung yang dari abad ke abad duduk bertapa
Boleh mensyukuri kehendak-Nya
Karena takkan ada padanya
Kedurhakaan yang mengundang-Nya murka
Orang yang meratap karena dibuat sengsara
Yang merasa tak beruntung karena miskin papa
Hendaknya sesekali menyimak cakrawala
Agar ia temukan rahasia kehendak-Nya
Ar-Raafi’
Bagi batu: batu hanya batu
Tapi engkau menyusunnya
Menjadi anak tangga
Untuk menaiki angkasa
Dan tetumbuhan: tidak beku diam
Ia meninggi dan berkembang
Tapi ia sendiri tak paham
Akan hal binatang
Hanya tahu bersetubuh dan makan
Karena terdiri dari nafsu dan badan
Adapun engkau:
Duduk setingkat di atasnya
Karena diselipi akal pikiran
Supaya cerdas memilih jalan
Allah berkisah tentang langit tujuh
Batu, tetumbuhan dan binatang
Membeku di tiga langit kodratnya
Tapi engkau bergerak naik, bergerak naik!
Kecuali yang turun
Ke sap binatang
Terarus oleh tatanan keadaan,
ombak zaman perilaku lingkungan
jual beli kesenangan,
Watak pemerintahan,
menu-menu kebudayaan
yang membinatangkan
Allah senantiasa meninggikan
Kecuali engkau memberi-Nya alasan
untuk merendahkan.
Al Mu’iz
Radar batin dihidupkan
Tumbuh kesiagaan
Menyalurkan Kemuliaan
Kaca jiwa dijernihkan
Hadir pengetahuan
Menyebarkan Kebijaksanaan
Kembang hati dibersihkan
Terbit kekuatan
Menghembuskan kasih Tuhan
Gerak pikir dibeningkan
Lahir kecerdasan
Memenangkan kebenaran
Al Mudzill
Kami menyebut
Kehinaan dengan kemuliaan
Kerendahan dengan ketinggian
Kemunduran dengan kemajuan
Kesempitan dengan keluasan
Penurunan dengan peningkatan
Penciutan dengan perkembangan
Kemiskinan dengan kekayaan
Kami simpang siur
Nilai malang mujur
Kami menyembah berhala
Bermacam-macam bentuknya
Kami bertualang
Entah kemana
Engkau tak meninggalkan
KAmi sendiri minggat
Ke ruang hampa
Kami nista
Kami hina
Engkau tak menghinakan
Kami sendiri bikin sia-sia
As Saami’
Ilmu Maha Mendengar yang Engkau miliki
Gusti, bukan sekedar tak tertandingi, sebab siapa
musuh yang brani datang kepada-Mu memerangi
sebab segala pendengaran, milik siapapun, hanya
Engkau jua satu-satunya yang memberi
Ilmu Maha Mendengar yang Engkau miliki
Gusti, bukan sekedar tak mampu kami pahami:
bahkan
hakekat pendengaran kami sendiri tak pernah
bisa kami telusuri
Dengan telinga kami mendengarkan semua
keributan dunia ini, tetapi sahabat-sahabat
kami yang tuli lebih mampu mendengar suara sejati
Dari saat ke saat kami setia mendengarkan
setiap bunyi, tetapi diam-diam Engkau mengajari
bahwa suara yang sesungguhnya terdapat
dalam sunyi
Gusti….
O….
Gusti
Betapa tuli pendengaran kami !
Perkenankan, jika mungkin, di hari nanti
kami bisa medengar tidk dengan telinga kami
yang amat terbatas ini, perkenanan juga kami
mendengarkan tidak hanya dengan suara-suara, yang amat
sering menjebak jiwa dungu ini, tetapi juga
mendengarkan apa pun saja” cahaya, inti warna,
sepi
atau bisikan-Mu yang tiada terperi
Al Bashir
Tiada hal yang perlu kuperlihatkan
kepada-Mu, Gustiku, karena Engkau adalah
Melihat itu sendiri, dan kalaupun aku bermaksud
memperlihatkan sesuatu kepada-Mu, maka daya
memperlihatkan itu pun tak lain
adalah milik-Mu
Tiada hal yang perlu kusembunyikan
dari-Mu, Gustiku, karena setiap ruang
persembunyian niscaya milik-Mu jua,
dan kalaupun sesekali aku berusaha
menyembunyikan sesuatu
maka daya menyembunyikan itu hanyalah
hasil pencurianku atas hukum-Mu.
Pernah kupasang topeng-topeng di
wajahku, kulapiskan pakaian di badanku,
kubungkuskan kepura-puraan dihamburan
kata-kata dan tingkah lakuku
Namun selalu, Gustiku, diujung kepengecutan
itu, akhirnya kutahu, bahwa kalau diantara
selaksa kemungkinan ilmu-Mu, Engkau sediakan
juga topeng-topeng penipu,
tak lain itu adalah petunjuk
agar aku berjuang melepaskan
dan mencampakkannya :
Supaya aku peroleh Engkau
Di akhir pengembaraanku.
Al Hakam
Hukum manusia seribu
Tak bisa jadi satu
Hukum Allah Satu
Berlaku seribu
Hukum manusia: Memenggal
Hukum Allah: Manunggal
Manusia bergantung pasal
Allah mengendong semua ikhwal
Hukum manusia pengap asap
Tak kekal sumbernya
Mata bisa kalap
Ngawur, palunya
Kalau satu sisi ditatap
Tangan keliru nangkap
Kalau muka licin bau bapak
Ia bebas tangkap
kebal asap
Adapun hukum Allah
Tahu sumur Api
Menguasai mata airnya api
Ngerti luka langit
Di ujung kobaran api
Bisa ngambil apinya salju
Bisa ngambil saljunya api
Menjagai lampu kelaknya api
Mencatati kutu mati
Maupun perang antar matahari