Rasulullah adalah orang yang sangat tawadhu’ dalam ketinggian nasabnya. Ibnu umar berkata, “aku pernah melihat rasulullah melempar jumroh diatas unta, tanpa bersama pasukan, tanpa membawa senjata, dan tanpa ada yang mengawal. Beliau juga pernah mengendarai keledai yang memakai kain buludru. Beliau sering menjenguk orang yang sakit, mengikuti jenazah, menghadiri undangan daris seorang budak, memperbaiki sandalnya, menjahit pakaian, mengerjakan pekerjaan rumah bersama istri-istrinya, dan para sahabat tidak pernah berdiri ketika beliau dating ke majlis, karena mereka tahu bahwa Rasulullah tidak suka diperlakukan seperti itu.

Suatu hari beliau lewat didepan anak-anak dan mengucapkan salam. Pada kesempatan lain, beliau pernah bertemu dangan seorang laki-laki, dan orang itu gemetar karena kewibawaan Rasulullah, lalu lalu beliau berkata, “tenanglah, aku bukan seorang raja, tetapi aku hanyalah anak dari wanita Quraisy yang makan daging kering (dendeng)

Rasulullah sering duduk dengan para sahabatnya. Ketika itu beliau tidak menonjolkan diri. Sampai ketika seorang tamu dating dan ia tidak dapat membedakan mana Rasulullah dintara mereka. Dan akhirnya orang itu bertanya kepada para sahabat, mana Rasulullah?

Beliau juga tidak pernah makan memakai piring sampai meninggal dunia, tetapi memakai nampan bersama para sahabat lainnya.

Apabila berbicara tentang akhirat, maka beliau mendominasi diantara para sahabat, sedangkan apabila berbicara tentang masalah dunia, beliau berbicara dengan lemah lembut dan tawadhu’, ketika para sahabat membacakan syair-syair jahiliah atau tertawa dihadapannya, maka beliau hanya tersenyum.