NABI MUHAMMMAD DAN PEMBEBASAN UMAT MANUSIA
Oleh: Ali Syariati

Seperti yang telah saya sebutkan, bahwa revolusi Ilahi yang dilakukan oleh para nabi sepanjang sejarah dapat dikelompokkan berdasarkan nilai-nilai yang dikandung oleh agama tersebut. Padanya mereka berada dalam sebuah lapisan masyarakat menyaksikan kelahiran mereka lahir darinya dan mewadahi
hubungan serta pergaulan sosial mereka, ataupun bentuk dan haluan dakwah
yang mereka lakukan.
Secara umum, founding fathers perubahan besar dunia dapat diklasifikasikan
kepada dua kelompok: Kelompok Pertama, ialah  kelompok yang dipelopori
oleh Nabi Ibrahim as. begitu juga para nabi yang datang setelah beliau,
sebagaimana yang telah  kita kenal mengingat akrabnya sejarah mereka
dengan kita. Mereka semua adalah para nabi yang lahir dari lapisan bawah
masyarakat mereka. Sesuai sabda Nabi kita saww, bahwa mayoritas mereka itu
adalah  penggembala kambing. Pun sejarah mencatat bahwa pekerjaan mereka
tidak dapat mencukupi kebutuhan keseharian mereka, kecuali sebagian kecil
dari mereka.
Kelompok Kedua, yaitu kelompok yang diprakarsai oleh mereka memiliki kelas
sosial yang berbeda jauh dengan kelompok pertama. Mereka adalah jiwa-jiwa
revolusioner dan para penggagas aliran pemikiran dan etika, baik dari yang
(berkulit) kuning seperti: Cina, Iran, Yunani, atau selain mereka yang
tidak termasuk dalam agama Ibrahimian. Mereka secara keseluruhan tanpa
terkecuali muncul dari lapisan atas masyarakat; putra para raja, darah
biru, rohaniawan dan saudagar kaya, dari jalur ibu,  ayah, ataupun dari
kedua-duanya. Begitu pula kaitannya dengan Konfusius, Lautze, Zoroaster,
Maniy, Muzdak, Socrates, Plato dan Aristoteles.
Menelaah lapisan masyarakat dalam sejarah memberikan cacatan kepada kita
bahwa di dalam masyarakat primitif, para raja, saudagar dan rohaniawan
membagi-bagi kekuasaan politik, ekonomi dan kepercayaan di lingkungan
mereka, baik dalam situasi damai maupun tegang. Sementara itu, rakyat
biasalah yang malah menampung (limbah busuk) kedamaian dan ketegangan
mereka. Sekali lagi, lapisan bawah ini sama sekali tidak mendapatkan
keuntungan di tengah persatuan ataupun perseteruan mereka.
Ketika Al-Quran menyebutkan kata al-Ummiyyin seperti dalam ayat: “Dialah
yang mengutus d iantara orang-orang yang ummiy seorang rasul …” (Q.S.
62/2), kata tersebut menunjuk lapisan bawah dan rakyat jelata. Sedangkan
rasul yang dimaksud adalah rasul ibrahimian. Artinya, utusan Allah ini
ialah manusia biasa, bukan seorang raja. Ia layaknya kebanyakan manusia
yang hidup dalam kesusahan, bukan dari kelompok elit masyarakat.
Di tempat  lain, Al-Quran menerangkan: “Dan kami tidak mengutus seorang
rasul, melainkan dengan bahasa kaumnya. Hal itu untuk menerangkan kepada
mereka, maka Allah menyesatkan siapa yang Ia kehendaki dan memberi
petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan Dialah Allah Yang Maha Mulia
dan Maha Bijaksana” (Q.S. 14/4).
Ayat ini tidak dalam rangka menerangkan bahwa Nabi Musa as. berbicara
dengan bahasa Ibrani (Hebrew), dan bahwa Nabi Muhammad saww. itu berbicara
dengan bahasa Arab sebagai dipahami oleh umumnya umat Islam. Kenyataan
inilah yang tidak perlu lagi  penjelasan; bahwa nabi yang diutus kepada
bangsa Arab tidak akan berbicara dengan bahasa MAndarin atau Latin.
‘Bahasa kaum’ yang dimaksudkan di sini yaitu bahasa lapisan (masyarakat)
yang di dalamnya seorang nabi dilahirkan. Yakni bahasa yang dapat
mengungkapkan kesulitan dan harapan mereka. Dan, ‘berbicara dengan bahasa
mereka’ artinya menolak bahasa kalangan intelektual yang hidup dahulu itu
ataupun pada hari ini, dimana mereka berbicara dengan bahasa elit yang
tidak lagi dimengerti oleh mayoritas bangsa.
Poin yang bisa kita tarik dari uraian di atas ini ialah bahwa membahas
para nabi ibrahimian berarti membahas mayoritas manusia, sekuat adanya
perbedaan yang mencolok antara kehadiran mereka dengan kehadiran selain
mereka. Sementara yang belakangan ini mengerahkan kekuatan dalam
menyebarluaskan keyakinan dan maksud mereka, para nabi itu mengandalkan
basis rakyat umum dalam menghadapi kekuatan lawan. Tampak bagaimana Nabi
Ibrahim as. bangkit dengan tongkat di tangannya. Atau Nabi Musa as. yang
memasuki istana kebesaran Firaun dengan tongkatnya, sampai beliau berhasil
menenggelamkannya bersama bala tentaranya di Nil, sama berhasilnya dalam
membenamkan Qarun dan harta kekayaannya ke dalam tanah.
Dan yang terakhir ialah Nabi Muhammad saww. sebagai barisan mutakhir yang
hidup yatim dan serbapas-pasan, namun beliau berhasil menyusun berbagai
pasukan jihad. Sejarah mencatat, hampir setiap lima puluh hari terjadi
peperangan yang jumlahnya mencapai enam pulu lima kali pertempuran dalam
waktu tidak lebih dari dari sepuluh tahun. Itulah mukjizat para nabi.
Sebuah mukjizat yang relevan dengan misi mereka masing-masing; membubarkan
kekuatan sihir dengan tongkatnya, menumbangkan Firaun dari tahta
kekuasaannya. Dan akhirnya, inilah keterangan Al-Quran yang amat penting,
bahwa Islam dan Al-Quran bukanlah produk Muhammad saww.
Muhammad sebagai Harapan Kaum Lemah
Sebuah kenyataan yang mau tidak mau kita akui bahwa ada satu agama
sepanjang sejarah yang tidak kekurangan relevansinya dengan perkembangan
zaman, kondisi dan lingkungan.  Itulah Islam. Al-Quran telah menekankan
keunggulan fenomenal ini dan menggambarkannya sebagai pandangan historis
yang komprehensif dan mencakup seluruh gerakan perubahan yang akan selalu
berbenturan dengan kesyirikan dan orang-orang kuat dunia dalam rangka
membela para dhu’afa. Al-Quran mengangkat semua benturan itu  sebagai
sebuah peperangan di sepanjang zaman dan di belahan bumi manapun.
Sebagian ayat menjelaskan pandangan sejarah Al-Quran secara gamblang,
bahwa ia menganggap semua peperangan ini merupakan sebuah garis silsilah
yang saling terkait utuh. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan
apa yang diturunkan oleh Allah dari Al Kitab dan menjualnya dengan harga
yang murah, mereka tidak makan di dalam perut mereka kecuali api neraka
dan di hari kiamat nanti Allah tidak akan mengajak mereka berbicara serta
tidak akan mensucikan mereka, namun bagi mereka siksa yang pedih”
(Q.S.2/174)
Ada tiga hal yang kita temukan dari dalam ayat di atas ini yang saling
bertalian erat;
Ayat-ayat Allah
Para nabi
Orang-orang yang menyerukan keadilan
Ayat tersebut menimbang mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah sama
dengan pembunuh para nabi dan para penegak  keadilan. Sesuai ayat di atas,
hukum pengingkaran dan pembunuhan itu sama. Inilah konsep sosial; filsafat
sejarah kemanusiaan dan makna seluruh revolusi sepanjang sejarah,
sebagaimana diterangkan Al-Quran.
Nabi kita, Muhammad saww, adalah nabi terakhir agama ini. Melalui para
nabi, agama ini  mengajarkan kepada manusia butir-butir kebijakan, wahyu
dan keadilan.  Al-Quran menjelaskan bahwa mereka mengemban satu  misi
(risalah), yang obornya berpindah utuh dari satu nabi ke nabi yang lain,
dari satu rasul ke rasul lainnya. Sampai saatnya datang guru penutup para
nabi yang telah berjuang untuk membebaskan manusia dari perbudakan sambil
mengajak mereka menyembah dan menghamba pada Tuhan yang satu. Dia sanggup
merealisasikan konsep kemanusiaan yang komprehensif yang muncul dari
kesatuan sejarah kemanusiaan di dalam gerakan perubahannya yang besar. Dia
telah mempersembahkan persatuan kepada seluruh bangsa dan etnis dengan
berbagai warna kulit, darah dan status atau kelas sosial yang berbeda-beda
serta aneka cara pandang. Beliau telah berhasil memporakporAndakan
kesyirikan yang merupakan  sumber  berbagai perpecahan.
Sesungguhnya kalimat Tauhid dalam Islam merupakan slogan pembebasan.
Sebelum Nabi kita Muhammad saww. menyampaikan kalimat ini kepada para
filsuf, intelektual, orator, terpelajar, dan orang-orang kaya, beliau
telah menyampaikannya kepada para hamba sahaya; orang-orang mustadh’afin
(lemah)  yang hidup dalam penderitaan, penyiksaan, kelaparan di tengah
lapisan bawah masyarakat Mekkah. Sementara itu, para kalangan elit di sana
senantiasa mencemooh beliau dengan mengatakan, bahwa para pengikut
Muhammad tidak lain adalah orang rendahan. Padahal,  cemoohan itulah yang
menjadi syahadah (kesaksian) terbesar yang dapat mengharumkan nama Islam
dan misi perubahannya.
Muhammad saww. telah hadir dari orang-orang yang lemah untuk orang-orang
yang lemah, pada saat tokoh-tokoh Budha di India dan Cina tampil sebagai
golongan elit di tengah masyarakat mereka. Pada hari inilah nilai-nilai
kemanusian berbaur bersama Islam. Nabi kita Muhammad saww, sang Rasul
Islam, telah menjadi harapan besar  para hamba sahaya di saat mereka
berfikiran bahwa perbudakan adalah takdir  abadi,  di saat mereka hanya
tahu bahwa mereka selamanya akan berada di bawah eksploitasi politik,
budaya, ideologi serta militer para penguasa. Muhamaad  adalah manusia
harapan yang dinantikan oleh kaum  jelata yang hidup untuk harus
dikalahkan, tunduk dan selalu patuh mengabdi pada mereka. Muhammad  saww.
merupakan sosok perwujudan janji bagi kaum yang lemah, yang telanjur
menganggap bahwa Tuhan, sebagai musuh para penguasa, telah menakdirkan
mereka sebagai budak dungu yang harus melayani kepentingan orang yang
kuat.
Tidak akan jauh berbeda sekiranya kita memulai singgungan dari keyakinan
orang yang kuat. Ketika Manie berbicara tentang peta ‘Kegelapan dan
Cahaya’, ia menempatkan orang-orang miskin dan lemah itu di gerbong
“Kegelapan”, sementara kekuatan dzalim yang menang didudukkan di kelas
“Cahaya”.
Dalam pada itu, apa yang bisa kita simak dari tanggapan para pemikir
nonibrahimian? Aristoteles dan Plato pernah mengatakan bahwa Allah telah
menciptakan alam semesta ini ke dalam dua golongan; golongan hamba sahaya
dan golongan tuan, yakni orang yang merdeka. Golongan tuan ini mesti
adanya guna membangun peradaban yang diwujudkan dalam bentuk seni, musik
dan sastra, sedangkan keberadaan golongan budak berfungsi untuk dapat
mengabdikan dirinya dalam rangka melayani golongan tuan dengan melakukan
tugas-tugas yang hina.
Adapun Muhammad bin Abdullah saww. telah mendeklarasikan  bahwa semua
manusia itu satu; satu jenis, satu keluarga dan satu makhluk Tuhan yang
satu. Berdasarkan prinsip kesamaan inilah beliau membangun masyarakat baru
yang berlandaskan pada ideologi yang kuat dan konsep pembangunan ekonomi
serta sosial yang kokoh.
Oleh karena itu, bukanlah hal yang aneh jika masyarakat Madinah telah
mengembalikan Bilal –seorang budak yang hina- pada posisi dan kedudukannya
sebagai manusia yang mulia. Begitu pula Salim, budak Hudzaifah, tidaklah
membuat orang Arab dan Yahudi kebingungan tatkala ia menjadi imam sholat
mereka di masjid Quba, padahal dia terkenal di kalangan bangsawwan Quraisy
sebagai budak yang sangat hina. Ketinggian derajat kemanusiaan dan
kemuliaan Bilal sungguh telah diakui oleh para elit dan  tokoh Arab,
sebagaimana Salim yang paling hina di tengah mereka itu telah dikedepankan
sebagai imam para pembesar itu dalam pelaksanaan ibadah dan  sujud di
hadapan Allah Yang Maha Besar.
Ini semua merupakan revolusi besar dalam meletakkan arti kemuliaan dan
kepemimpinan di tengah masyarakat. Rasulullah  pun menyuruh mereka untuk
memendekkan jenggot yang panjang dan pakaian yang panjang, karena demikian
itu menAndakan kesombongan. Namun sebaliknya, beliau mengajarkan agar
setiap orang berjalan di atas muka bumi dalam keadaan penuh ketenangan dan
kerendahan hati. “Jika salah seorang di antara kalian sedang mengendarai,
maka hendaklah mengajak saudara seagama untuk naik di belakangnya”, begitu
titah Nabi.
Lebih dari itu, Rasulullah saww. tidak kurangnya memberikan pentauladanan
praktis, sampai menjadikan keledai biasa sebagai tunggangannya, dengan
maksud menghilangkan image yang masih mengakar di benak setiap sahabatnya
bahwa kemuliaan itu ditentukan dengan kendaraan yang indah dan mewah.
Beliau pun senantiasa menanamkan persamaan di antara para sahabatnya. Jika
ada di antara mereka yang merasa ketakutan melihat kebesaran dan
kewibawaan status kerasulan Muhammad saww, segera beliau meyakinkannya:
“Tenangkan dirimu! karena sesungguhnya aku tidak lain adalah anak seorang
perempuan yang makan daging cincang”.
Inilah garis haluan perjuangan Islam yang dijejaki sang cucu Al-Husein
setelah kepergian sang kakek Muhammad saww. Inilah misi Islam yang dibawa
oleh para Nabi, yang mayoritas mereka adalah pengembala. Dan, inilah Islam
yang dibawa oleh rasul terakhir yang lahir di tengah padang pasir yang
tandus, untuk kemudian berhadapan dengan pusat-pusat kekayaan dan
kekuasaan dunia, sebelum akhirnya meluluhlantakkan mereka