Rasulullah saw. Adalah seorang yang paling pasih bicaranya dan paling indah tutur katanya. Perkataannya tidak berbelit-belit. Aisyah r.a berkata, “tutur kata rasulullah tidak sama dengan tutur kata kalian” para sahabat berkata, “pembicaraan rasulullah sangat ringkas. Oleh karenanya ketika dating jibril, mereka berdua berbicara dengan pembicaraan yang ringkas, sehingga menghasilkan pembicaraan yang banyak”

Beliau berbicara tidak bertele-tele dan tidak terlalu singkat, tetapi pembicaraannya sedikit namun mengandung makna yang luas. Beliau berbicara dengan perlahan-lahan dan terkadang berhenti sejenak hingga orang yang mendengarnya mudah memahami dan meng hafal pembicaraannya. Pembicaraannya sangat indah dan intonasinya sangat indah

Beliau orang yang banyak diam, tidak bicara kecuali diperlukan. Beliau tidak pernah bicara tentang hal yang mungkar. Beliau sering menegur orang yang pembicaraannya tidak baik, apabila beliau diam maka para sahabatlah yang berbicara. Beliau tidak pernah membantah pembicaraan para sahabat, tetapi hanya menegur dengan teguran yang baik, seperti para sahabat yanmg berselisih paham tentang bacaan al-qur’an, lalu beliau berkata,
“janganlah kalian memaksakan bacaan al-qur’an antara satu dengan yang lain, sesungguhnya al-qur’an diturunkan dalam beberapa corak bacaan.”

Beliau adalah orang yang banyak tersenyum dan terkadang tertawa. Akan tetapi, beliau tidak pernah tertawa dengan terbahak-bahak, kecuali hanya terlihat gigi gerahamnya. Para sahabat apabila mendengar hal yang lucu dan ingin tertawa, mereka melakukan dengan tersenyam karna menghormati keberadaan rasulullah dihadapan mereka. Para sahabat berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling banyak tersenyum, dan paling mulia hatinya, kecuali ketika turun ayat al-Qur’an menjelaskan keadaan hari kiamat, dan memberikan nasihat. Beliau apabila merasa berbahagia dan senang atas suatu hal, maka terlihat dia orang yang paling indah rupanya (tampan). Akan tetapi, apabila beliau menyampaikan nasihat, maka terlihat keseriusan diwajahnya. Begitu pula ketika beliau marah karena Allah.