Nabi dan para sahabat melakukan perjalanan jarak jauh. Karena kemalaman ditengah jalan, Nabi kemudian menghentikan perjalanannya dan terpaksa bermukim ditempat itu. Seketika saja, para sahabat bergegas mendirikan tenda disana. Karena lokasinya masih banyak ditumbuhi pepohonan, para sahabat terlebih dahulu membersihkan dan menebangi pohon yang ada di sekitar tempat itu.
Tak disangka, kedatangan rombongan Nabi ini terasa mengusik kesenangan sejumlah hewan yang ada di situ. Terlebih lagi spesies burung dan semut. Soalnya, para sahabat menebang dan membakar pohon yang masih dijadikan tempat bersangkarnya burung dan semut merah. Disekitar batang pohon itu, tentu saja, juga dilalui banyak jenis semut. Karena itu pula, banyak semut ikut terbakar oleh panasnya kobaran api.
Melihat kejadian ini, Nabi kemudian mendatangi para sahabat yang sedang sibuk, Nabi menampakan wajah yang sedih dan tak senang dengan apa yang mereka lakukan. Lalu Nabi bertanya kepada para sahabat,
”siapa yang sengaja membakar semut-semut itu.?” ”kami ya Rasulullah” jawab para sahabat.”hanya Allah yang memiliki api,dan yang berhak menghukum dengan api.” Seketika itu para sahabat kemudian menghentikan aktivitasnya dan merasa bersalah. Lalu mereka memisahkan hewan-hewan itu dari pohon yang akan dibakar. Bahkan mereka mengembalikan sangkar-sangkar burung yang mereka rubuhkan. Mereka tahu bahwa Nabi tidak setuju dengan membunuh hewan-hewan yang ada disekitar itu.