Dikala Rasulullah menginginkan seorang putra lagi, maka Allah menganugrahkan seorang anak yang diberi nama Ibrahim, beliau sangat gembira karena anak ini merupakan pengganti dari yang hilang, dan beliau mengharapkan agar Allah memberikan usia yang panjang baginya, agar menjadi kebahagiaan bagi beliau pada hari tua, yang akan menjadi penerus perjuangan beliau. Tetapi Ibrahim sebelum mencapai usia 16 atau 18 bulan menderita sakit. Ketika ia dalam sakaratul maut, Rasulullah diberi tahu, lalu beliau bersandar kepada Abdurrahman bin Auf karena sangat sedihnya, kemudian beliau menyaksikan sendiri ketika Ibrahim dipangku ibunya sedang menghembuskan nafasnya yang terakhir.lalu diambilnya dan diletakannya di atas pangkuannya dengan penuh prihatin seraya berkata:”Hai Ibrahim, sesungguhnya aku tidak berdaya menghalang-halangi kehendak Allah swt.” kemudian beliau diam dan menangis
Setelah beliau yakin bahwa putranya telah meninggal dunia, maka bercucuranlah air matanya yang bagai mutiara sambil berkata:”Hai Ibrahim. Kalau saja ini bukan perkara yang haq dan janji yang benar, dan orang yang datang kemudian akan menyusul orang-orang terdahulu, tentulah aku akan merasakan kesedihan yang lebih dalam dari kesedihanku ini.”Lalu Abdurrahman bin Auf berkata:
”apakah anda juga berbuat seperti ini wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab ”Hai putra Auf, itu karena rahmat dan kasih sayang,”
kemudian Abdurrahman mengulangi lagi kata-katanya, maka Rasulullah berkata,”sesungguhnya mata memang mencucurkan air mata, dan hati memang sangat sedih, namun kita tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah, dan sesungguhnya kami dengan perpisahan ini hai Ibrahim sangat sedih dan berduka cita.”