Oleh : Sanghyang Mughni Pancaniti

  • Ada orang berjuang, berteriak-teriak, dan melaksanakan perjuangannya. Ada orang berjuang, tetapi tidak berteriak, karena teriakan mengganggu strateginya, namun mewujudkan perjuangannya. Ada orang berjuang dan tidak sibuk mengumumkan di Koran bahwa ia berjuang. Ada orang berteriak-teriak tetapi tidak berjuang. Ada orang yang tidak berteriak-teriak dan tidak berjuang… dengan berbagai variabelnya.
  • Ada orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti. Ada orang mengerti tetapi tidak mengerti bahwa ia mengerti. Ada orang tidak mengerti tetapi mengerti bahwa ia tidak mengerti. Ada orang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti… dengan berbagai variabelnya.
  • Perkara Pilkades, Pilkada, Pilpres itu membutuhkan pelaku-pelaku dengan tingkat kecerdesan intelektual yang tinggi, bahkan kecerdasan spiritual, juga mentalitas yang canggih.
  • Saya seorang munafik, anda pasti buan. Saya hamper tidak pernah melakukan perbuatan apa pun yang saya maksudkan benar-benar untuk perbuatan itu sendiri. Hati saya penuh pamrih tersembunyi, hati saya sarat strategi penipuan. Tak hanya kepada orang lain, tapi juga diri sendiri.
  • Kalau saya shalat, bukan saya benar-benar shalat. Itu saya ngakali Tuhan. Shalat saya hanya alat untuk kemungkinan tambahan agar tercapai kepentingan tertentu. Misalkan shalat saya bertujuan agar cita-cita saya tercapai, di bidang kekuasaan, kenaikan pangkat, atau pembengkakan deposito bank saya.
  • Kalau saya berbuat baik kepada masyarakat, misalkan bikin pengobatan missal, memacu pemberantasan narkoba, member bantaun dan santunan kesana kemari, jangan dipikir tujuan utama saya adalah deretan kebaikan-kebaikan itu. Ada yang lebih focus dikandungan hati saya, misalkan ingin jadi pemimpin.
  • Jangan percaya kepada saya dan apa pun yang saya lakukan. Belajarlah meningkatkan dan merangkapkan kewaspadaan intelektual maupun spiritual. Saya seorang yang fasih bicara, mampu memesonakan orang banyak dengan ayat-ayat Tuhan yang saya bacakan, mampu memukau public dengan uraian-uraian ilmu social aplikatif empiris, tetapi kalau indicator atau parameter yang anda pakai untuk menilai saya adalah ucapan-ucapan saya, maka anda orang dungu.
  • Maksiat kepada Allah tidak hanya dosa akidah dan akhlaq, tapi juga kebodohan, salah satu sandangan rutin bangsa Indonesia. Manusia itu ahsanu taqwiim, makhluk unggulan Allah, cirri utamanya adalah pernikahan antara otak (Hardware, system saraf kesadaran) dan gelombang elektromagnetik dari Allah yang Ia sebut akal (sowtware).
  • Salah satu jenis kebodohan bangsa Indonesia yang “saru” alias “gak ilok” adalah menjual hak demokrasi kerakyatannya dengan menerima atau menukarkannya dengan uang sogokan beberapa puluh ribu dari calon penguasa.
  • 10.  Manunggaling kawwulo lan gusti : Allah dan rakyat bersatu di dalam hati pemimpin. Kalau pemimpin mengingkari Allah, Rakyat yang menangis. Kalau pemimpin menyakiti hati rakyat, Allah yang Murka.