Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

  • Semoga semua pihak tidak terkurung oleh kekerdilan emosi, nafsu subyektif yang tak dikasih helm oleh akal sehat, dan tetap percaya pada masa depan kemanusiaan dan kasih sayang Allah, yang jauh lebih besar disbanding presiden, MPR, DPR, dan Negara.
  • Betapa tak terhitung jumlah bahasa di negeri kita, sehingga betapa rawan pula itu semua dari disinformasi dan diskomunikasi.
  • Berapa puluh ribu bahasa etnik, dengan ratusan ribu macam dialeknya. Bahasa Indonesia yang seolah-olah merupaan bahasa pemersatu itu terbagi lagi menjadi bahasa politik, bahasa birokrasi, bahasa hokum, bahasa dagang, bahasa ilmuwan, bahasa seniman, bahasa artis, bahasa wadam, bahasa pasar, bahasa preman, juga bahasa prokem yang juga punya unikum sendiri-sendiri di setiap daerah. Ditambah lagi berkembang secara dinamis dari generasi ke generasi.
  • Kalau di suatu siang yang panas gerah selintasan angin menerpa badanmu dan mengusap rambutmu, maka angin menjadi bagian dari dirimu. Segala sesuatu yang kaupandang, kaudengar, kaurasakan, kaualami, apalagi memasuki dirimu, bagian dari ingatan dan kesadaranmu, bagian dari sejarahmu. Menjadi file hard disk-mu, hidden atau unhidden.
  • Soekarno, Soeharto, SBY, Hitler, Iblis, Malaikat, apa saja, tak bisa hilang dari komprehensif hidupmu. Semula ia sekedar kita sangka merupakan “bagian dari” dirimu, suatu saat engkau menemukan ia “adalah dirimu.
  • Setiap butir nasi dan tetes air yang memasuki tenggorokanmu, perhatikan asal-usul kebenaran dan kebathilannya, posisi halal haramnya. Sebab engkau sedang mengawali dan memproses takdir bagi anak-anak dan cucu-cucumu.
  • Jangan berfikir bahwa pelaku korupsi hanya koruptor saja, sebab mereka melakukan korupsi “berkat” adanya factor-faktor lain yang komprehensif yang memungkinkannya untuk melakukan korupsi. Tegasnya, kita semua “menanggung dosa” sistemik dan structural atas penyalahgunaan obat terlarang, atas korupsi, juga atas munculnya apa yang kemudian terpaksa kita sebut sebagai aliran sesat.
  • Para ilmuwan itu lebih tertarik kepada satu tikus yang sakit disbanding jutaan tikus yang sehat. Ini hokum alam. Sakit lebih menonjol dibanding sehat. Kacau lebih menggairahkan disbanding damai. Buruk lebih laku dibanding baik. Jahat lebih sensasional dibanding mulia. Hancur lebih mudah dipasarkan dibanding bangkit. Curang lebih nendang dibanding jujur. Bentrok lebih nikmat dipergunjingkan daripada rukun.
  • Kalau member karena diminta apa hebatnya?, tetapi kalau tidak diminta kita tetap member, itu baru nikmat.
  • 10.  Tak ada hak saya untuk tidak suka kepada pengemis atau apa saja dan apa pun saja, karena mereka semua ciptaan Tuhan. Mana berani saya tidak suka karya Allah.